
Kembali memulai hari baru, hati sudah bisa ikhlas menerima semuanya. Kini mereka bersiap menyambut harapan baru. Pagi yang cerah seakan ikut menyemangati Fahad dan Nayla.
“Jangan banyak gerak!” seru Fahad sebab Nayla tak mengindahkan ucapannya berkali-kali. “Udan diam aja, kamu mau apa? Aku ambilin.”
“Aku mau pulang.”
Ck!
Itu yang selalu Nayla katakan jika suaminya bertanya. Bosan, lelah, sudah tiga hari ia berada di atas ranjang rumah sakit dengan infus serta aroma khas rumah sakit yang menusuk indera penciumannya.
“Dokter belum kasih izin.” Fahad berujar ketus. “Sini, aku suapin. Makanannya hampir dingin.”
Membantu Nayla mendudukkan tubuhnya. Dengan perlahan dan telaten ia selalu membantu apapun yang istrinya itu lakukan. Nayla mengatakan bahwa ia sudah baik-baik saja, ya ... memang kekuatan tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tapi untuk aktifitas ringan, ia bisa melakukannya sendiri.
“Fahad?” panggil Nayla dengan mulut yang tak berhenti mengunyah.
“Jangan banyak ngomong. Nanti aku tanya ke dokter, kapan boleh pulang.”
“Fahad, aku—”
“Iya, Shona,” tukas Fahad. “Aku udah bilang, kan? Nunggu dokter dulu.”
“Bukan itu, Fahad!” jengah Nayla. “Aku mau nanya, kamu udah sarapan apa belum?”
Fahad terkekeh mendengarnya, memang salah ... ia tidak mendengarkan apa yang ingin istrinya itu ucapkan. “Oh, kirain. Iya, nanti aku sarapan.”
Andi datang dengan dua bungkus bubur ayam ditangannya. Satu ia berikan kepada Fahad, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Andi sudah diizinkan pulang sejak kemarin sore, dokter mengizinkan sebab luka Andi sudah terlihat menutup, hanya menunggu kering saja.
Semalam Andi pulang ke rumah Mas Arif. Ia tidak diizinkan tinggal sendiri, dan Mbak Indah sudah melarang Andi untuk pergi ke rumah sakit ... namun siapa yang bisa menghentikan Andi jika itu sudah menyangkut kakaknya, Nayla.
Sesudah sarapan, Fahad kembali sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali ia mendapat panggilan tentang pekerjaannya, ia lupa membawa laptop miliknya yang sewaktu pulang meeting dibawa oleh Sahil. Dan sekarang ia kesulitan mengatur pekerjaannya.
“Kamu ngusir aku?” tanya Fahad karena Nayla menyuruhnya untuk kembali ke India.
“Nggak gitu, Fahad, aku tahu kamu sibuk. Aku udah baikan, kamu bisa balik ke India.”
Fahad yang duduk di sofa bersama Andi itupun mendekat pada Nayla, “ada Sahil sama Alina yang ngurus urusan kantor, soal saffron juga ada Yasmin. Kamu tenang aja, jangan pikirin apapun. Yang penting kamu sehat dulu,” membelai lembut pipi Nayla. Fahad tahu, istrinya tidak bermaksud untuk mengusirnya. Nayla sangat mengerti dirinya yang sedang sibuk-sibuknya dengan urusan pekerjaan.
“Udah jam sepuluh,” kata Fahad. “Aku pergi keluar sebentar, ya?”
“Kemana? Kata dokter, sore nanti aku udah boleh pulang.”
Fahad mengangguk, “ya, makanya itu. Dokter udah kasih izin pulang, sekarang aku mau keluar sebentar. Sebentar aja, ada Andi di sini.”
***
Menolak untuk menggunakan kursi roda, Nayla berjalan ke arah lobby rumah sakit dengan dibantu Andi dan juga Mbak Indah. Matanya mencari sosok Fahad yang tak kunjung terlihat sejak suaminya itu berpamitan keluar sebentar.
__ADS_1
Ia sudah sampai di lobby, dan Fahad masih belum terlihat. Bahkan panggilan dan pesan yang ia kirim tidak dibalas oleh suaminya. “Andi, coba telpon Fahad lagi.”
“Nggak usah, bentar lagi sampai katanya,” jawab Andi.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di teras lobby. Benar saja yang dikatakan Andi, bahwa Fahad akan segera datang. Pria itu terlihat keluar dari mobil hitam tersebut. Melemparkan senyum kepada Nayla yang menatapnya penuh tanda tanya.
“Fahad beli mobil, Mbak,” ucap Andi yang tahu bahwa ada banyak pertanyaan dibenak kakaknya.
“Buat apa beli mobil?” tanya Nayla.
“Narik taksi!” seru Andi. “Ya, buat kebutuhan dia sama, Mbak, pakai nanya lagi.”
“Aku nggak butuh mobil, jadi buat apa dia—”
“Nay, udah nanti aja di rumah tanya dia. Sekarang ayo pulang.” Mbak Indah menimpali.
Fahad meraih tangan Nayla, membantunya untuk masuk ke mobil. Setelah Andi dan juga Mbak Indah masuk, Fahad segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah. Ia sadar, sedari tadi Nayla tak henti menatapnya.
Harus siap-siap jawaban yang sekali jawab buat dia nggak bisa nanya lagi. Fahad membatin. Ia sudah sangat hapal bahwa Nayla pasti akan bertanya sampai ke akarnya. Untuk apa ia membeli mobil, sebab istrinya itu sudah berpesan ... untuk tidak membeli apapun selama di Indonesia.
Bukan tanpa sebab Nayla melarang Fahad seperti itu. Ia takut, masih takut dengan perbedaan sosial yang membentang tinggi diantara mereka. Takut, takut ia dipandang sebelah mata oleh para tetangga. Takut jika ia akan dicemooh sebagai wanita yang menikah karena harta.
“Shona?” panggil Fahad sembari mengulurkan tangannya kepada Nayla.
“Iya? Udah sampai?” Nayla tersadar dari lamunannya.
“Turun.”
Fahad menggandeng tangan Nayla masuk ke rumah. Senyuman hangat dari semua kakaknya—menyambut kedatangannya. Duduk di sofa, Nayla pun membalas senyuman mereka.
Semua lega, Nayla dan Andi sudah kembali ke rumah. Bisa berkumpul bersama keluarga tentu menjadi anugerah bagi keduanya yang baru saja mengalami kecelakaan yang cukup mengerikan.
***
Bukan karena apa yang kamu punya, tapi karena kamu sendiri. Aku nggak tahu, kenapa aku bisa jatuh cinta sama orang yang sangat aku ingin jauhi. Ya, karena takut jatuh cinta, aku mencoba menjauhinya. Akhirnya, beginilah hatiku sekarang ... aku jatuh cinta.
Nayla memperhatikan Fahad yang tengah memakai kaos santai berwarna putih polos di hadapannya. Senyumnya mengembang, ia amat bersyukur mempunyai suami yang sama sekali tidak merasa jijik ketika membantunya mandi dan membersihkan pembalut.
Nayla sempat berpikir, bahwa suaminya itu akan merasa jijik. Pernikahan yang baru menginjak satu bulan itu belum bisa memperlihatkan semuanya, terlebih di hari ketiga pernikahan Fahad harus kembali ke India ... sudah tentu belum ada waktu yang cukup untuk keduanya saling mengenal lebih dalam. Fase pernikahan pasti berbeda dari fase hubungan sepasang kekasih, dan fakta itu sudah dapat dipastikan kebenarannya.
“Kok, diam aja? Ada yang sakit?” tanya Fahad seraya mendudukkan tubuhnya di samping Nayla yang duduk di atas ranjang dengan menselonjorkan kakinya.
Menggeleng, “nggak ada. Aku boleh nanya sesuatu sama kamu?” tanya Nayla.
“Apa? Soal mobil?”
“Oh, iya, aku sampai lupa mau nanya soal mobil. Jadi kenapa kamu beli mobil? Benar kata Andi, kalau kamu mau narik taksi?”
__ADS_1
Fahad tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia tahu, istrinya tidak sebodoh itu untuk bertanya dan berpikir seperti itu. “Aku beli karena butuh, kalau nggak butuh ngapain juga aku beli mobil? Buang-buang uang aja.”
Mencubit lengan Fahad, “udah tahu buang-buang uang, ngapain dibeli?!”
Fahad meringis kesakitan, “kok, nyubit, sih? Harusnya cium, dong.”
“Fahad!”
“Oke-oke, aku jawab. Aku butuh mobil buat ngantar kamu kemana-mana, masa kamu pulang pakai motor sport dari rumah sakit. Jadi, ya, aku beli. Iya, sekarang emang belum terlalu butuh, tapi kedepannya pasti dibutuhin, kan?”
“Tapi—”
“Shona, aku tahu apa maksud kamu. Aku nggak buang-buang uang, bukan juga buat pamer ke tetangga. Kalau aku nggak punya uang, aku juga nggak bakal beli mobil. Udah, ya? Jangan nanya soal mobil lagi. Aku nggak mau dengar apapun lagi dan nggak mau dibantah,” tutur Fahad panjang lebar.
Fahad keluar kamar menuju dapur. Ia melihat Andi yang tengah membuat kopi. “Kamu masih sakit, kenapa minum kopi?” tanyanya.
“Aku udah beberapa hari nggak minum kopi, dan sekarang mumpung nggak ada yang lihat dan ngelarang ... ya, udah aku minum kopi aja.”
Tawa Fahad disusul suara tawa Andi. Keduanya memutuskan untuk minum kopi bersama di ruang tv.
Sudah lama, namun Fahad belum juga kembali ke kamar. Nayla beranjak keluar kamar, melihat adik dan suaminya yang tengah asik mengobrol dengan ditemani dua cangkir kopi di meja.
“Ehhemm!” Nayla berdehem dengan kerasnya.
Sontak Fahad dan Andi kompak menoleh ke arah belakang mereka, melempar senyum semanis mungkin. “Shona, sini duduk, jangan berdiri lama-lama.” Fahad menuntun Nayla duduk di sofa—di sebelah Andi.
“Ini jam berapa?” tanya Nayla.
Fahad melihat jam dinding lalu menjawab, “jam sebelas malam.”
“Ini udah malam, kenapa kamu minum kopi? Ambil air putih, minum yang banyak,” kata Nayla.
Tidak membalas ucapan Nayla, Fahad beranjak ke dapur membawa cangkir kopi miliknya lalu mengambil air putih dan meminumnya—dua gelas air putih selesai ia minum.
“Kamu juga!” mengambil cangkir kopi di tangan Andi lalu meletakkannya kembali ke meja.
“Mbak, itu tinggal dikit kopi—”
“Apa? Kopinya tinggal dikit, mau kamu habisin?” tanya Nayla yang dijawab anggukan kepala oleh Andi. “Nih, habisin!”
“Mbak, Mbak!” Andi meraih tangan Nayla yang bersiap menyiram sisa kopi ke kepalanya. “Mbak, kira-kira, dong. Itu kopi bukan air putih, masa mau disiram ke kepala.”
Menaruh cangkir kopi ke meja, “kamu belum benar-benar sembuh, kamu masih harus minum obat. Jangan minum kopi dulu, Andi.” Nayla berucap dengan sorot mata memohon.
Sorot mata itu meluluhkan hati Andi, mana mungkin ia tidak menuruti ucapan kakaknya. “Iya, maaf, besok-besok nggak minum kopi lagi kalau masih minum obat.”
Nayla menyuruh Andi untuk meminum air putih, sama seperti Fahad. Lalu menyuruh adiknya itu untuk segera tidur. Juga ia dan Fahad yang kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
***