Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 54


__ADS_3

Hanya sebuah senyuman yang diberikan Nayla kepada Fahad. Bingung. Apa ia harus ikut ke India atau tetap berada di Indonesia. Setelah apa yang ia alami, Nayla paham betul bahwa Fahad sangat mengkhawatirkannya. Tapi, harus meninggalkan Andi seorang diri ... rasanya sangat berat, bagi Nayla.


Satu hal lagi. Nayla masih merasa takut. Takut jika suaminya itu akan merasa malu memiliki seorang istri yang tidak mempunyai gelar pendidikan yang tinggi.


Memang usia pernikahan mereka masih sangat muda. Tapi Nayla sudah mengenal betul bagaimana suaminya, yang pasti tidak akan membiarkan ia merasa seorang diri di India nanti.


Tapi, Nayla membatin.


“Jangan takut, ada aku.” Fahad berucap, ia genggam erat telapak tangan istrinya. “Kamu nerima aku sebagai suami apa enggak, sih?” tanyanya kemudian.


Kedua alis Nayla menyatu, “kok, nanya gitu?”


Mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, Fahad menghela napas lelah. Ada jeda sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan Nayla. “Aku, kan, udah pernah bilang, dan harus berapa kali lagi aku harus bilang ke kamu kalau aku pasti jagain kamu.”


Menatap wajah istrinya lama, ia sentuh puncak kepalanya dengan lembut. “Jangan takut, keluargaku itu nggak mandang seseorang dari status sosialnya. Kalau soal pandangan orang sekitar, orang lain ... jangan peduli dan jangan dengar apapun yang mereka katakan.”


Nayla menatap lekat-lekat kedua mata Fahad, ia tahu ... Fahad tulus mengatakan hal itu. Tapi, lagi-lagi rasa takut itu menyergap hatinya.


“Besok aku mau pesan tiket. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku balik ke India. Aku minta kamu pikirkan lagi soal ini. Mana yang baik buat kamu dan kita semua.” Fahad beranjak keluar kamar.


Memandang tubuh suaminya yang hilang dibalik pintu, Nayla dapat mendengar kekecewaan dari suara Fahad. Ia menunduk, mencoba memikirkan apa yang baru saja dikatakan suaminya. Mana yang terbaik untuk dirinya sendiri dan juga untuk semua orang.


***


Menghabiskan waktu bersama di ruang tv setelah makan malam usai. Andi duduk di bawah, menatap kakak dan juga kakak iparnya bergantian. Keduanya duduk berdampingan, tak ada satupun ucapan yang keluar dari mereka. Tentu Andi merasa aneh, tak seperti biasanya dimana hanya ada canda tawa dari keduanya.


Ini lagi puasa ngomong apa gimana, sih? Andi membatin.


“Mbak?” Andi memanggil.


“Hemm?” Nayla menoleh.


“Bisa minta tolong bikinin kopi, nggak?”


Nayla mengangguk, sebelum berdiri ia terlebih dahulu bertanya kepada Fahad, apakah suaminya itu juga menginginkan kopi. Fahad menjawabnya dengan anggukan kepala.


Semakin aneh. Perasaan dari tadi nggak kedengaran ada perang, tapi kenapa tiba-tiba diam begini?


Andi menggaruk kepalanya. Ia merasa aneh dan juga ... frustasi, berada di tengah-tengah pasangan yang tak saling bicara. Suasana rumah terasa lebih dingin dari dinginnya salju.

__ADS_1


“Ada apa?” Andi memberanikan diri bertanya kepada Fahad.


Fahad mengatakan kepada Andi bahwa ia harus segera kembali ke India. Andi mengira, Nayla tidak mengizinkan suaminya itu untuk kembali ke negaranya. Fahad segera membantah, ia menjelaskan bahwa istrinya itu masih takut untuk tinggal bersama di negaranya. Masih takut akan perbedaan sosial mereka.


Fahad ingin mengatakan lebih banyak lagi, namun ucapannya terhenti ketika melihat Andi memberinya kode dengan kedipan mata bahwa Nayla sudah datang.


Menyeruput kopi yang baru saja disuguhkan Nayla, Fahad beranjak masuk ke kamar. Meninggalkan Andi dan Nayla berdua, sebab adik iparnya itu tadi mengatakan akan mencoba berbicara kepada Nayla.


Andi yang tadi duduk di bawah—di lantai—kini beranjak duduk di samping Nayla. Ia berdehem sebelum memulai pembicaraan. “Mbak, Andi masih kayak anak kecil, ya?” tanyanya.


“Ngaco!” sahut Nayla. “Kamu, tuh, udah kuliah, nasi sebakul aja bisa kamu habisin sendiri.”


Andi terkekeh mendengarnya. “Berarti Andi udah bisa jaga diri sendiri, kan?”


Nayla mengernyit heran, “kenapa nanya gitu?”


Satu kakinya naik ke sofa, Andi menghadap Nayla agar lebih nyaman ketika berbicara. “Aku tahu, Mbak, nggak bermaksud ngebantah ucapan suami. Mbak, nggak perlu khawatir, aku baik-baik aja di sini.”


“Kamu ngomong apa, sih?” Nayla mencoba mengalihkan pembicaraan.


Berdecak kesal, namun Andi tak akan menyerah untuk membujuk serta menyemangati kakaknya tersebut. “Selain masih takut sama lingkungan keluarga dan status sosial kalian, Mbak, juga nggak bisa ninggalin Andi, kan?” to the point.


Mengatakan segala hal baik, Andi berharap Nayla tidak merasa bingung dan takut. “Mbak, itu udah masuk lebih dalam dan jauh di hati Fahad. Bukan cuma Fahad, Mbak, juga berjuang buat pernikahan kalian. Apa sekarang, Mbak, udah nggak mau berjuang lagi?”


Nayla tetap saja diam, mendengarkan semua yang adiknya katakan.


“Kalau Fahad udah seyakin itu, kenapa, Mbak, nggak bisa yakin? Jangan pernah takut sama pandangan orang lain. Mereka nggak berhak sama kehidupan kita, biarin aja mereka ngomong apapun, yang penting, Mbak, sama Fahad. Jangan pikirin hal lain lagi.”


“Tapi—”


“Nanti dulu, Andi belum selesai,” tukasnya. “Satu lagi. Aku udah gede, Mbak, percaya sama aku. Aku bisa jaga diri dan jaga kepercayaan, Mbak. Andi nggak sendiri di sini, ada saudara yang lain, kan?”


Nayla mengangguk, matanya mulai memerah, menahan air mata sebab rasa haru akan ucapan adiknya. Dengan segala tingkah Andi yang terkadang membuatnya kesal dan terkesan kekanakan, namun tetap ada sisi dewasa dari diri adik kecilnya itu. Ya, Andi tetaplah adik kecilnya. Tak peduli berapa usianya kini.


“Nggak harus selamanya, Mbak, tetap di sini sama Andi. Meskipun jauh, kita tetap bisa saling komunikasi. Kita nggak bisa tetap berada di satu situasi yang kita sukai dan nyaman kita tinggali. Suatu saat, kita akan berpindah ke suatu tempat yang sudah ditentukan. Baik—buruknya sudah diatur. Andi juga bisa ke India, kan? Jadi jangan khawatir, ikut Fahad ke India.”


Andi sudah cukup dewasa, ia bisa menasihati kakaknya yang tengah ragu untuk mengambil keputusan. Berat, itu sudah pasti. Tapi memang benar apa yang dikatakan Andi. Mereka masih bisa saling berkomunikasi.


“Jadi, mau ikut ke India, kan?” tanya Andi.

__ADS_1


Nayla mengangguk, “tapi kalau—”


“Tenang. Kalau Fahad nyakitin, Mbak, nanti Andi bakal hajar dia. Kalau perlu, Andi bunuh sekalian juga nggak apa.”


“Heh!” seru Nayla seraya melayangkan sebuah pukulan ke lengan Andi. “Jangan ngaco, ih!” imbuhnya.


“Sakit, Mbak,” rintih Andi. Meraih satu tangan Nayla, lalu menggenggamnya dengan erat. “Aku harap, Fahad nggak akan pernah nyakitin, Mbak. Semoga kebahagiaan selalu ada dalam rumah tangga kalian.”


Doa tulus Andi ikut diaamiin-kan oleh Nayla. Andi merasa lega, ia bisa membantu kakaknya menyingkirkan rasa ragu yang sudah membelenggu sejak pertama kali Fahad menyatakan perasaannya, dulu.


Dalamnya laut bisa diukur. Namun dalamnya hati, tak ada yang tahu.


Ya, Andi tidak tahu, masih ada rasa ragu di hati Nayla. Ragu ... bagaimana ia bisa jauh dari adiknya. Hatinya sangat berat untuk berpisah untuk waktu yang cukup lama. Juga jarak yang siap menghalangi rasa rindu—yang juga dibalut rasa cemas.


Dengan tiba-tiba, Fahad keluar kamar lalu duduk tepat di sebelah Nayla, memeluk istrinya itu dengan gemas. “Akhirnya,” ucapnya dengan lega. “Habis ini aku pesan tiket pesawat, kita ke India tiga hari lagi. Oke?”


“Kita? Kan, kamu sendiri yang ke India. Kenapa kita?” goda Nayla.


Fahad berdecak kesal, “aku ngerti, ya,tadi kamu ngomongin apa sama Andi. Aku udah lumayan jago Bahasa Indonesia.”


Nayla terkekeh mendengarnya. Memang, sedikit demi sedikit Fahad mengerti Bahasa Indonesia. Sekalipun bibirnya sulit untuk mengucapkannya, tapi ia mengerti secara keseluruhan.


“Andi?” panggil Fahad.


Andi menoleh, “apa?”


“Aku butuh berkali-kali membujuk kakak kamu yang satu ini. Tapi kamu sekali ngomong aja, dia udah langsung bilang iya. Kamu memang adik terbaik.” Fahad berucap dengan tulus.


Andi menepiskan sebuah senyuman untuk Fahad, lalu kemudian kepada Nayla. Sama seperti Nayla, Andi juga tidak ingin jauh dari kakaknya. Hanya Nayla tempatnya kembali ... hanya Nayla yang mengerti isi hatinya. Hanya Nayla yang mengenalnya lebih dari siapapun.


Tapi, ia tidak bisa seegois itu untuk memohon dan menahan Nayla agar tetap berada di sampingnya. Sudah pasti ... Nayla tidak ingin kembali berjauhan dari suaminya, setelah apa yang menimpa kakaknya itu.


“Aku udah berhasil bujuk Mbak Nayla, jadi ... sekarang kamu harus bayar di muka untuk itu semua.” Andi menengadahkan tangannya di depan wajah Fahad.


Fahad bertanya, apa yang Andi minta. “Bayar dengan kebahagiaan Mbak Nayla. Jangan buat dia nangis dan kecewa. Kalau sekali aja kamu buat dia sakit, aku pastikan kamu menyesal seumur hidup,” jawab Andi.


Andi berucap dengan tegas. Ia bersungguh-sungguh untuk itu. Tak peduli apapun, baginya ... Nayla adalah segalanya. Harta yang tak ternilai.


Fahad menaruh satu telapak tangannya di atas tangan Andi, ia mengangguk sembari menjawab, “pasti, aku nggak akan kasih kesempatan air matanya jatuh. Setetes pun.”

__ADS_1


***


__ADS_2