
Menutup sambungan telepon, mematikan layar laptop lalu menaruhnya di sisi tempat tidur yang lain. “Sayang,” panggil Fahad.
“Hemm?” sahut Nayla.
“Lusa aku harus balik ke India, ada sedikit masalah pekerjaan.”
Mata sendunya menangkap wajah Fahad. Nayla berusaha terlihat baik-baik saja, bersikap tenang lalu menepiskan senyumnya. “Iya. Maaf, aku belum bisa ikut sama kamu.”
Menyentuh pipi istrinya dengan lembut, “harusnya aku yang minta maaf. Kita baru nikah beberapa hari tapi aku harus balik ke India secepat ini.” Menyelipkan rambut Nayla ke belakang telinga, “aku usahain balik ke sini dalam waktu dekat.”
Nayla mengangguk, berhambur kedalam pelukan suaminya. Harus berpisah untuk sementara waktu sungguh menyiksa. Memang ini bukan kali pertama harus berpisah, tapi setelah berada dalam ikatan pernikahan ... kata berpisah itu seakan mencekik, membuatnya sulit bernapas.
Fahad harus segera kembali dengan alasan pekerjaan, juga ada Ammi beserta kedua adiknya yang menjadi tanggung jawabnya. Ia tak mungkin mengabaikan semuanya. Istrinya dapat memahami, ia bersyukur untuk hal itu. Nayla tak banyak menuntut, justru dirinya yang terlalu menuntut.
Ya, sebelum tidur ia meminta Nayla untuk berhenti bekerja. Bukan karena harus ikut bersamanya ke India, tapi karena ia tidak ingin istrinya itu terlalu dekat dengan Ryan. Fahad sangat tidak menyukai pria itu. Entahlah ... padahal Ryan tidak pernah bersikap kurangajar kepada istrinya. Pria itu hanya teman istrinya, sama seperti Doni. Bukan benci, hanya tidak suka saja.
“Please, Fahad, aku masih mau kerja. Kamu percaya sama aku, Ryan itu baik. Aku kenal dia lebih lama daripada kamu, nggak ada alasan yang buat aku harus ngejauh dari dia. Dia nggak pernah buat salah sama aku, sama kayak Doni. Percaya sama—”
Tak bisa melanjutkan ucapannya, sebab bibirnya sudah di bungkam oleh suaminya. “Aku percaya, aku cinta sama kamu.” Ucapnya sesudah mengakhiri ciuman.
***
Sama seperti biasanya, pagi menyambut Nayla dengan segala kesibukan di dapur. Ia memasak sarapan untuk adik dan juga suaminya. Andi duduk di kursi meja makan yang juga menjadi satu dengan dapur. Memperhatikan kakaknya mengaduk kopi.
Andi sudah tahu Fahad akan kembali ke India, ya ... Fahad sendiri yang memberitahunya. “Mbak?” panggil Andi dan Nayla pun mendongakkan wajahnya, menatap sang adik. “Kenapa, Mbak, nggak ikut ke India? Kan, udah jadi istri.” Andi bertanya.
Nayla diam sejenak, butuh waktu untuk mengatur jawaban agar Andi tak menaruh curiga—tentang apa alasan sebenarnya. “Mbak kan masih kerja,” hanya itu yang Nayla jawab. Karena memang itulah yang terlintas di pikirannya saat ini.
Menyuguhkan kopi susu untuk Andi, Nayla berbalik badan—menghadap kompor. “Sarapan nasi goreng aja, ya? Yang simple,” kata Nayla.
“Mbak?”
“Hemm?” sahut Nayla dengan tangan yang tetap sibuk menggoreng nasi.
Andi memutuskan menunggu Nayla selesai memasak, karena percuma saja ia bertanya jika kakaknya itu tidak serius merespon apa yang ingin ia tanyakan.
__ADS_1
“Mbak, aku mau ngomong.”
Nayla selesai memasak, ia menaruh nasi goreng tersebut di wadah besar lalu menyuguhkannya di meja makan. “Bukannya dari tadi kamu udah ngomong?” tanyanya.
Andi berdecak kesal. Ia menarik pergelangan tangan Nayla lalu menuntunnya untuk ikut duduk di sampingnya. “Aku serius, Mbak.”
“Mbak, nggak ikut Fahad karena Andi, ya?” tanyanya.
“Karena kamu?” Nayla balik bertanya, kedua alisnya saling bertaut. “Mbak nggak ikut karena belum siap berada di tengah-tengah dunia Fahad.” Nayla menjelaskan dengan lembut, agar Andi mengerti apa yang membuat ia menunda untuk ikut suaminya. “Kamu tahu, kan? Fahad itu pebisnis, dan udah pasti orang di sekitar dia itu orang penting semua. Berpendidikan tinggi. Terus Mbak ini apa? Mbak nggak mau Fahad malu, cukup mereka tahu Fahad udah menikah. Tapi jangan tahu siapa istrinya” tutur Nayla panjang lebar.
Ia terus berusaha meyakinkan Andi bahwa hanya itulah alasannya. Apakah adiknya itu percaya begitu saja? Tentu tidak. Andi sangat mengenal Nayla. Dari kecil, Nayla sangat mengerti dirinya. Pun dengan ia yang mengerti jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakaknya tersebut.
Andi kembali bertanya, “Yakin? Cuma itu alasannya?” ini kali ketiga ia bertanya seperti itu.
Tatapan mata Nayla terkunci oleh Andi, kamu juga alasan Mbak, Andi. Mana bisa Mbak pergi sedangkan kamu belum lulus kuliah, belum kerja. Nayla membatin sedih.
Kakak Andi yang juga peduli terhadapnya, mereka juga mengirim uang untuk keperluan kuliahnya. Tapi tidak rutin seperti Nayla yang akan memberi Andi separuh uang gajiannya. Nayla ingin Andi mempunyai masa depan yang cerah, bukan seperti dirinya yang hanya perlayan restaurant.
“Mbak.” Andi meraih jari jemari Nayla, menggenggamnya dengan erat. “Andi tahu, Mbak Nayla, bohong. Alasan utama, Mbak, karena Andi. Iya, kan?”
Andi meyakinkan Nayla bahwa ia akan baik-baik saja. Ia juga akan berusaha mencari pekerjaan. Ia berjanji akan menjaga kepercayaan kakaknya, berjanji akan menjaga diri dan tidak akan membuat kecewa siapapun.
“Andi udah gede. Sampai kapan, Mbak, mau jagain terus? Mbak, juga harus pikirin kebahagiaan, Mbak, sendiri. Udah cukup selama ini cuma Andi yang jadi prioritas utama, sekarang udah saatnya, Mbak, mikirin diri sendiri. Ikut Fahad, ya, Mbak?”
“Andi, Mbak udah bicarain ini sama Fahad. Dia udah setuju kalau Mbak nggak ikut ke India sekarang. Bukan Mbak nggak percaya sama kamu atau apa, Mbak cuma masih pengin di sini, sama kamu.” Nayla memberi pengertian.
Sudahlah. Andi tetap tidak bisa meyakinkan Nayla. Kakaknya memang berpendirian kuat, dan ia juga bersyukur ... Fahad sangat bisa mengerti apa yang diinginkan Nayla.
Berlalu pergi dari dapur, Andi berjalan ke arah teras—hendak membersihkan motornya. Tanpa Andi dan Nayla tahu, Fahad sedari tadi mendengarkan obrolan mereka. Sekalipun ia tidak mengerti, tapi Fahad tahu bahwa perbincangan mereka sangatlah serius.
Ingin bertanya kepada Andi, namun rasa sungkan mengurungkannya. Ia tidak ingin ikut campur lebih jauh, Fahad mengerti ... ada privasi diantara kakak adik tersebut. Namun ternyata salah, Andi justru memberitahunya.
Memberitahu alasan Nayla tidak ikut ke India. Ya, alasan takut jika Fahad akan merasa malu dan juga merasa tak pantas berada di tengah-tengah dunia suaminya. Alasan Nayla yang lain—tentang dirinya, Andi tak memberitahu Fahad. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara sepasang suami istri tersebut.
***
__ADS_1
Di bandara. Fahad menggenggam tangan Nayla. Ia mengingatkan istrinya itu untuk selalu menjaga kesehatan, juga ... jangan terlalu dekat dengan Ryan.
“Jangan lupa pakai kartu yang udah aku kasih, jangan dianggurin. Itu hak kamu, jangan buat aku merasa nggak berguna jadi suami.” Fahad berujar.
“Bukan gitu.” Nayla sedikit memiringkan tubuhnya, menatap wajah Fahad. “Emang aku lagi nggak butuh apa-apa, selama kamu di sini kan aku belanja pakaian uang cash punya kamu. Ke mall juga pakai kartu kamu. Nanti kalau butuh juga aku pakai,” kata Nayla.
“Iya, tapi—”
“Nggak usah bahas kartu kredit lagi. Iya-iya, nanti aku pakai.”
Fahad terkekeh, ia memeluk tubuh Nayla dari samping lalu memberi ciuman di puncak kepala istrinya tersebut. “Soal Ryan. Kamu jangan dekat-dekat sama dia.” Nayla mengangguk, mengiyani ucapan suaminya.
Tiba saatnya mereka untuk berpisah. Sebelumnya, mereka berpelukan cukup lama, Fahad mencium setiap inci wajah Nayla. Seakan tak ingin berpisah, Fahad memeluk istrinya lama.
Nayla pun sama, ia hirup aroma tubuh suaminya. Merasakan dekapan hangatnya, dan entah sampai kapan ia akan kembali ke pelukan itu—pelukan yang membuatnya sangat nyaman. Lambaian tangan serta senyuman Nayla mengantar kepergian Fahad hingga tubuhnya semakin jauh dari pandangan sang istri.
Menaiki taksi, Nayla langsung menuju ke tempatnya bekerja. Hari ini ia akan pulang dengan dijemput Andi. Memandang ke luar jendela taksi, air mata Nayla menetes dengan sendirinya. Ia tak sanggup lagi membendung telaga bening itu, sejak tadi ... saat bersama Fahad, ia berhasil menahannya. Tapi sekarang setelah berpisah, hatinya terasa sakit, jarak itu sangat menyakitkan.
Sesakit ini rasanya jauh dari saumi. Jauh dari pria yang sudah mengambil hati dan cinta. Stop Nayla! Jangan menangis, ini keputusanmu nggak ikut suami. Suatu hari nanti kalian pasti bertemu lagi.
Menghapus air mata, Nayla tersenyum untuk menyemangati dirinya sendiri.
***
“Kok, naik taksi, Nay? Nggak dianter?” tanya Sari setelah beberapa saat lalu melihat Nayla turun dari taksi.
“Kalau naik taksi ya berarti nggak dianter, Sar, lucu pertanyaan kamu.” Nayla menjawab.
Sari tertawa, ia menepuk bahu Nayla dengan gemas. “Ya, benar juga. Maksudnya suami kamu kemana?”
“Udah balik ke India.”
Sari terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu. “Kamu nggak takut dia diambil orang, Nay? Suami kamu kan ganteng,” ucapnya dengan serius. Belum Nayla menjawab, ia memekik kesakitan. “Aduh, duh!” rambutnya ditarik oleh seseorang. Ia menengok ke belakang, “Doni, kenapa rambutku ditarik?!” serunya dengan kesal.
“Lagian, mulut nggak bisa di jaga. Itu rumah tangga Nayla, jangan ikut campur dan jangan jadi kompor.” Doni menatap tajam pada Sari.
__ADS_1
***