
Udara malam hari ini terasa cukup dingin, ya ... New Delhi sudah memasuki musim dingin. Pukul delapan malam, Nayla berada di dapur, ia sedang membuatkan minuman hangat untuk Fahad dan juga adik iparnya.
Fahad yang tadinya berada di kamar, beranjak keluar untuk menyusul istrinya di dapur. “Kok, tiga gelas?” tanyanya kepada Nayla.
“Buat Yasmin, dia baru pulang.”
Ekor mata Fahad melihat ke arah kamar Yasmin yang tertutup. “Kapan dia pulang?”
Nayla menaruh sendok, memiringkan sedikit tubuhnya. “Kan, aku bilang dia baru pulang, Fahad,” ucapnya penuh penekanan.
“Oh.” Fahad tertawa kecil.
Nayla membawa nampan yang berisi tiga gelas coklat panas ke meja makan. Sementara Fahad berjalan ke kamar Yasmin lalu mengetuk pintunya. Mengajak adiknya untuk menikmati minuman yang sudah dibuatkan istrinya.
“Kak, Ammi nanya, kapan kalian pulang ke Srinagar.” Yasmin menyampaikan pesan dari Ammi, ia baru saja selesai menelpon Ammi.
“Mungkin seminggu lagi, Yasmin, hari rabu kakak dan kakak iparmu ada pemotretan. Kakak usahakan semua pekerjaan di sini selesai sebelum kita ke Srinagar.”
***
Hari yang ditunggu-tunggu Fahad untuk pemotretan pun tiba. Sejak semalam ia sudah mencoba membuat istrinya nyaman dengan apa yang sudah ia siapkan. Memiliki album foto pernikahan dengan konsep India sudah menjadi impiannya sejak mengenal pertama kali bertemu dengan Nayla.
Iya, nanti kamu ngomong aja sama MUAnya, bilang kalau kamu mau make up yang natural.
Nayla berkali-kali melayangkan protes kepada Fahad sebelum mereka tidur. Istrinya itu tidak suka make up berlebih. Alis mata yang terlalu hitam dan berukir, celak mata yang terlalu penuh, atau lipstik berwarna merah terang. Nayla sangat tidak menyukainya. Ya, Fahad tau itu. Nanti, saat pemotretan pun, ia akan membantu mengatakannya kepada MUA.
Saat Nayla menyiapkan sarapan, Fahad menanyakan perihal kantung belanja yang terdapat di pojok meja dapur. “Itu apa, Sayang?” tanyanya sembari menunjuk kantung.
Nayla menoleh, “oh, itu punya orang di lantai enam. Kemarin ketinggalan di toko, nanti aku antar ke rumahnya.”
“Orang lantai enam?” heran Fahad. Ia menarik pergelangan tangan istrinya agar ikut duduk di sampingnya. “Kamu kenal? Cewek atau cowok? Kenapa bisa kamu yang nganter?” cerca Fahad.
__ADS_1
Melihat raut wajah suaminya membuat Nayla sedikit takut, kemarin malam ia lupa mengatakan tentang Anand. Pria yang tidak sengaja meninggalkan belanjaannya. “Fahad, dengerin dulu. Aku—”
“Selamat pagi, Kakak ipar.” Yasmin ikut bergabung di meja makan. “Ada apa? Kenapa tegang semua?” heran Yasmin.
Fahad dan Nayla tidak menjawab pertanyaan Yasmin. Mereka kembali ke pembicaraan. “Aku ketemu di lift pas mau belanja, aku nggak kenal, kok. Cuma sekedar tau nama dia aja.”
“Terus, darimana kamu tau apartemennya ada di lantai enam?” tanya Fahad.
Yasmin seakan sulit menelan roti panggang yang sedang ia kunyah. Suasana rumah berubah mencekam dengan pembahasan sepasang suami istri di depannya ini.
Jari jemari Nayla saling meremas, sorot mata Fahad membuatnya ketakutan. Seolah ia telah tertangkap basah mencuri sesuatu. “A-aku tanya sama petugas keamanan kemarin.”
“Kakak, kakak ipar ketakutan. Jangan bertanya dengan sorot mata seperti itu.” Yasmin berujar dengan bahasa Kashmir yang tidak Nayla mengerti.
“Maaf.” Nayla menunduk.
“Nggak apa.” Yasmin benar, ia sudah membuat istrinya ketakutan. “Asal kamu tetap hati-hati sama siapapun.” Fahad menyentuh lembut puncak kepala istrinya.
Nayla mengangguk. “Aku nggak ada apa-apa sama dia, aku juga nggak kenal dia. Aku—”
Sesudah menyelesaikan perbincangan dan sarapan, Fahad dan Yasmin pun berpamitan berangkat ke kantor. Tadinya Fahad ingin mengantar Nayla ke lantai enam, ia ingin tau siapa pria yang membuat istrinya mengantarkan belanjaannya. Namun, Fahad dan Yasmin sudah terlambat, mereka harus ke pabrik terlebih dahulu.
Nayla memakai hijab, ia harus mengantar belanjaan Anand sebelum pria itu pergi. Pintu apartemen Anand terbuka setelah tak lama Nayla menekannya. “Nayla?” terkejut Anand melihat Nayla yang berdiri tepat di hadapannya.
“Maaf, aku mau mengantar belanjaanmu yang tertinggal kemarin.” Nayla menyodorkan kantung tersebut lalu berpamitan untuk pulang. Baru selangkah, pergelangan Nayla ditarik oleh seseorang. Sudah pasti Anand yang menariknya. Melihat hal tersebut, Nayla sontak menghempaskan tangan Anand dengan kasar sembari berteriak. “Tolong jaga tangan Anda!”
Melihat reaksi Nayla, sudah tentu Anand merasa terkejut, gadis berhijab itu terlihat pendiam dan lembut. Tetapi, begitu ia menyentuh tangannya, sisi kemarahan Nayla muncul dan itu sungguh diluar dugaannya. “Sorry, aku nggak sengaja. Aku cuma mau nawarin kamu buat mampir dulu.”
“Kamu bisa bicara baik-baik tanpa harus pegang tanganku. Tolong jaga sikap Anda!”
Nayla berdecak kesal. Melangkah pergi, ia masuk lift. Membuka kunci pintu apartemennya, Nayla membanting pintu dengan sangat keras. Melepas hijab lalu melemparnya ke sembarang arah. “Awas aja, sekali lagi dia sentuh tangan aku, aku bakal patahin tangannya!”
__ADS_1
***
Pemotretan akan dilaksanakan siang hari setelah jam makan siang. Fahad sudah mengatakan kepada Nayla bahwa ia akan pulang saat jam makan siang.
“Fahad.” Sahil masuk ke ruang kerja Fahad. Seperti biasa, Sahil masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Ini ada undangan reuni kampus.”
Fahad menerima undangan yang disodorkan Sahil, membaca namanya yang tertera jelas di sana lalu menaruh undangan tersebut di meja dengan kasar.
“Kamu nggak datang?” tanya Sahil yang sudah duduk di depan meja kerja Fahad.
“Setiap tahun pasti itu pertanyanmu. Sudah pasti aku datang. Nggak mungkin, aku nggak datang dan ribut sama—”
“Ya, bertengkar saja di depan istrimu. Tunjukkan ke Nayla kalau kamu itu preman kampus!” jengah Sahil.
Fahad tertawa, ia mengoreksi ucapannya. Ia berjanji tidak akan bertengkar dengan Ranveer di depan istrinya. Bukan ingin berpura-pura baik di depan Nayla, Fahad hanya tidak ingin istrinya masuk dalam permusuhan lamanya dengan Ranveer.
Sejak di bangku universitas, keduanya memang tidak pernah akur. Ada saja sesuatu yang membuat mereka bertengkar. Sampai saat ini, Fahad dan Ranveer tetap saja tidak bisa duduk bersama dengan tenang. Mereka akan saling menyindir yang berakhir dengan sebuah pukulan. Entah pukulan itu dimulai oleh Fahad ataupun Ranveer, yang jelas ... mereka berdua sudah pasti akan bertengkar.
Bukan karena ingin bertengkar dengan Ranveer yang membuat Fahad akan datang ke acara reuni tersebut. Akan tetapi, ia memang ingin bertemu dengan teman lamanya. Saling bertukar kabar agar pertemanan tidak pernah putus meskipun sudah jarang bertemu dan mempunyai jalan masing-masing.
“Nayla benar-benar kamu ajak, kan?” Sahil memastikan.
“Iya. Aku sudah punya istri, mana mungkin aku datang ke sana seperti seorang bujangan. Aku bukan Sahil yang nggak pernah ngajak Sanju ke acara reuni.”
“shit!” Sahil melempar pulpen ke arah Fahad yang tengah tersenyum meledeknya. “Sanju kuajak, dia mau ikut kalau istrimu juga ikut.”
“Oh.” Fahad mengangguk paham.
Sahil kembali berpesan kepada Fahad, agar nanti di acara reuni ia tidak bertengkar dengan Ranveer seperti sebelum-sebelumnyanya. “Perusahaanmu sudah mulai diperhitungkan, Fahad, begitupun namamu yang harus tetap kamu jaga. Selain itu, ada Nayla di sana, jangan membuatnya merasa sudah menikah dengan preman pasar.”
“Pagal!![¹]” maki Fahad. “Keluar! Aku mau melanjutkan pekerjaan.”
__ADS_1
***
[¹] gila