Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 29 S2


__ADS_3

Pintu gerbang terbuka saat Fahad menyalakan mesin mobil. Dia menyipitkan matanya, melihat ke arah gerbang. “Yasmin?” Fauad membuka pintu mobil lalu menghampiri Yasmin yang mengunci pintu pagar. “Dari mana kamu?”


Suara Fahad mengejutkan Yasmin. Kedua tangannya berada di dada, seakan mencegah jantungnya keluar. “Kakak! Kenapa bikin kaget, sih!” serunya kemudian.


“Dari mana kamu?” Fahad kembali bertanya, dengan sorot mata tajam.


Yasmin terdiam, mencoba menyusun kalimat untuk memberi alasan kepada kakaknya yang tak henti menyorot tajam ke arahnya. Wajahnya menunduk, “aku tadi —”


Fahad semakin kesal, tangannya meraih lengan Yasmin dengan kasar lalu membawanya masuk ke rumah. Gadis itu memekik kesakitan, namun Fahad tetap tak peduli.


Nayla mendengar suara Yasmin, langkah kakinya dia percepat untuk membuka pintu. “Fahad, kamu—”


“Diam! Kali ini aku nggak mau ada yang bela dia!” Fahad berseru sembari memberi isyarat dengan satu tangannya.


Nayla dapat melihat kemarahan Fahad. Suaminya tersebut membawa gadis berambut sedikit bergelombang itu masuk ke kamarnya.


“Kakak sakit,” pekik Yasmin.


Fahad melepas cengkeramnya begitu mereka sudah berada di kamar Yasmin. “Darimana saja kamu, hah?” tanyanya. “Kemana!” bentaknya karena tak kunjung mendapat jawaban.


“Fahad, jangan marah dulu, denger penjelasan Yasmin,” tutur Nayla. Ia mendekap tubuh Yasmin dari samping. Memberi sentuhan ketenangan dengan membelai lembut kepala adik iparnya itu.


“Penjelasan apa? Ini sudah jam sebelas malam dan dia baru pulang! Sebentar lagi dia mau tunangan, bagaimana kalau keluarga calon suaminya tau hal ini? Mereka pasti berpikir bahwa keluarga kita bukan keluarga yang baik.”


“Aku nggak mau tunangan!” Yasmin berteriak.


Nayla dan Fahad sontak memandang Yasmin dengan tatapan bingungnya. “Maksudmu apa? Tanggal pertunanganmu sudah ditentukan, jangan membuat malu keluarga, Yasmin!” suara Fahad menggelegar memenuhi kamar Yasmin.


“Fahad, ini sudah malam, jangan membuat Zia terbangun. Tenanglah, kita duduk dan bicarakan ini dengan baik-baik.” Nayla berkata dengan lembut, berusaha menjadi penengah diantara kakak dan adik tersebut.


“Kakak ipar, aku nggak mau tunangan, aku nggak mau.” Yasmin menangis, mengiba pada Nayla.


“Tenanglah, jangan menangis, sekarang pergilah membersihkan diri. Aku akan membuatkan susu untukmu.” Nayla menyelipkan rambut Yasmin ke belakang telinga.


Yasmin memandang Fahad, meminta ijin atas apa yang diperintahkan kakak iparnya. “Pergilah, bersihkan dirimu. Kakak tunggu di meja makan,” ucapnya.


Yasmin masuk ke kamar mandi, Fahad dan Nayla pun keluar lalu berjalan ke dapur. “Tanggal pertunangan tinggal seminggu lagi, dan dia bilang nggak mau tunangan. Sebenernya apa mau Yasmin?” Fahad berucap.


“Apa kamu juga mau susu?” tanya Nayla begitu suaminya sudah duduk di kursi meja makan.


“Sayang, aku sedang marah, jangan menawariku susu.”


“Aku tanya kamu mau susu apa enggak, bukan nanya kamu lagi marah apa enggak.” Nayla menjawab.


“Jangan bikin gemas! Aku beneran marah ini!” Ingin rasanya memeluk tubuh sang istri, untuk menghilangkan amarahnya.


“Iya, aku tahu kamu marah, tapi nggak seharusnya kamu marah-marah sebelum tahu yang sebenarnya. Tapi, itu sudah jadi kebiasaan kamu, sih. Terserahlah.”


Sepasang suami istri tersebut sedikit berargumen. Saling menyampaikan kemarahan di hati masing-masing.


“Sayang, aku pasti marah sama Yasmin, dia pulang jam sebelas malam, gimana kalau keluarga calon suaminya tahu? Mereka pasti berpikir kita ini bukan keluarga baik-baik.”


Nayla meletakkan sendok ke meja sehingga menimbulkan suara yang cukup keras antara sendok dan meja marmer tersebut. Ia menatap Fahad dengan tatapan yang tak bisa di artikan. “Jadi, lebih penting asumsi orang dulu daripada alasan dibalik Yasmin yang pulang malam?” Nayla berkacak pinggang. “Kamu 'kan bisa tanya dulu, dia tadi kemana, apa ada masalah dijl jalan, atau apapunlah. Kita nggak tahu, Fahad, dia dari mana dan apa yang terjadi sama dia.”


“Jadi, daritadi kamu tuh sebenernya nggak khawatir sama Yasmin, kamu lebih khawatir sama asumsi keluarga calon suaminya, gitu?” lanjut Nayla.


“Aku khawatir sama dia, Sayang, tapi masalahnya dia itu mau tunangan, nggak baik kalau sampai calon suaminya tahu,” kata Fahad.


“Ah, sudahlah, aku capek ngomong sama kamu.”


Ya, Fahad b memang seperti itu, marahnya akan berada di depan tanpa mau mendengar penjelasan. Nayla sudah cukup hapal. Tapi, sikap Fahad yang lebih mementingkan asumsi keluarga calon suami Yasmin, membuat Nayla jengah dengan suaminya ini. Bukan bertanya, apakah adiknya itu baik-baik saja, darimana dan kenapa bisa pulang terlambat, namun justru memarahinya.

__ADS_1


Tak lama, Yasmin datang lalu duduk di kursi meja makan di samping Nayla. “Minumlah, Yas,” Nayla mendekatkan segelas susu hangat pada adik iparnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Nayla yang dijawab anggukan kepala oleh Yasmin.


“Baiklah, bicaralah dengan kakakmu,” Nayla beranjak, ia ingin kembali ke kamar agar suami dan adik iparnya ini bisa berbicara empat mata.


“Kakak ipar,” Yasmin menghentikan Nayla dengan menarik pergelangan tangannya. Nayla tersenyum, ia tahu Yasmin takut akan kemarahan Fahad. “Yasmin, bicaralah dan katakan apapun yang mau kamu katakan, jangan takut,” ucap Nayla lembut.


“Kakak ipar ...,” rengek Yasmin. Ia ingin agar kakak iparnya berada di sampingnya.


“Duduklah, Sayang,” perintah Fahad dan Nayla pun duduk di samping Yasmin sesuai perintah suaminya.


“Oke, sekarang katakan, kamu darimana saja?” mode serius Fahad.


Yasmin memandang Nayla, “Katakan saja, jangan takut, kakakmu hanya bertanya,” tutur Nayla.


“Yas—”


“Aku nggak kemana-mana, aku cuma ke rumah Alina,” tukas Yasmin. Afsal dan Nayla mengerutkan keningnya, “Alina? Maksudmu, sekertaris kakak?” Fahad memastikan dan Yasmin pun mengangguk.


“Tanya aja sama Alina, aku nggak bohong.”


“Kenapa kamu ke rumah Alina? Apa rumah ini sedang pergi, sampai kamu harus kerumah Alina dulu.” Fahad bertanya lebih lanjut.


“Aku ... aku butuh teman, Kak. Aku bingung, kakak ipar nggak ada, aku harus bicara sama siapa?” Kedua tangan mencengkeram tangan Nayla.


“Bicara apa maksudmu? Kamu kan bisa menelpon jika kamu butuh teman bicara.”


Nayla masih diam, ia ingat ucapan Yasmin yang tidak ingin bertunangan. Mungkin hal itu yang ingin Yasmin bicarakan.


“Kak, aku nggak mau tunangan, aku nggak kenal dia, aku juga masih mau bekerja, kalau aku menikah, mereka pasti nggak akan kasih ijin aku untuk bekerja,” Yasmin berucap dengan Anda terendahnya, berharap Fahad bisa mengerti perasaannya.


“Kamu jangan macam-macam, Yasmin, jangan membuat malu Ammi. Pertunanganmu sudah ditetapkan dan kamu harus melakukannya!” bentak Fahad.


“Sudah, biarin aja dulu. Ini sudah malam, dia pasti capek, bicara besok saja.” Nayla menggandeng tangan sang suami, mengajaknya masuk ke kamar.


***


Shazia masih tidur, rasa lelahnya membuatnya terlambat bangun. Sementara Fahad, dia tengah bersiap berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan yang sudah menunggunya, dia tidak ingin menunda pekerjaan agar bisa tenang menyiapkan pertunangan Yasmin.


“Yasmin belum bangun?” Fahad mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


“Sudah, masih di kamar,” jawab Nayla sembari menyuguhkan segelas teh pada suaminya.


Fahad menyeruput teh tersebut, “Dia masih marah?” meletakkan cangkir tehnya ke tempat semula.


Nayla menaikkan bahunya, “entah.” Sepiring omelette dia suguhkan untuk suaminya. Nayla hendak memanggil Yasmin untuk sarapan, namun Fahad mencegahnya karena dia yang akan memanggil adiknya tersebut.


Ketukan pintu itu tidak Yasmin hiraukan


Seperti dugaan Fahad, adiknya itu masih marah padanya. “Yasmin, kakak masuk,” Fahad membuka pintu itu perlahan, dilihatnya Yasmin yang masih berbaring di tempat tidur. “Yas—”


“Aku nggak masuk kerja,” tukas Yasmin.


“Iya, tapi sarapan dulu, kakak iparmu udah masak omelette kesukaanmu.” Fahad membujuknya.


Mendengar omelette, mata Yasmin terbuka lebar. Ia beranjak bangun, berjalan keluar kamar tanpa melihat Fahad sedikitpun.


Kalau denger omelette aja, bangun.


Yasmin duduk, ia meminum teh buatan kakak iparnya. “Selamat pagi, pretty,” sapa Nayla yang dibalas senyuman oleh Yasmin.

__ADS_1


“Kakak ipar, apa Shazia belum bangun?” tanya Yasmin.


“Belum, masih capek dia.”


Fahad menyentuh lembut puncak kepala Yasmin lalu duduk di sampingnya. Yasmin hanya melirik kakaknya tersebut, dia masih kesal dengan pembicaraan pertunangan.


Nayla mengantar Fahad hingga ke teras rumah.


“Aku berangkat, katakan pada Yasmin untuk memikirkan ucapannya semalam, aku percaya sama kamu.” Fahad mencium puncak kepala Nayla lama.


“Iya, kalau dia ngomong sama aku, kalau enggak, mana bisa aku bujuk dia, aku nggak mau dia mikir aku terlalu ikut campur urusan dia.”


“Dia pasti ngomong sama kamu, kamu 'kan kakak iparnya. Malah, dia lebih terbuka sama kamu daripada aku,” tutur Fahad, Nayla pun mengangguk.


“Anak mama udah bangun, ya?” ucap Nayla saat melihat Shazia sudah duduk di kursi makannya bersama Yasmin.


“Kakak,” panggil Yasmin, Nayla menoleh dan duduk di samping adik iparnya itu.


“Kak, aku nggak mau tunangan, bilang sama Ammi dan kak Fahad, aku masih mau bekerja,” ucap Yasmin penuh harap jika kakak iparnya ini mau membantunya.


“Apa aku bisa tanya sesuatu?” tanya Nayla, Yasmin mengangguk, “apa kamu punya pacar?”


Yasmin menggeleng.


“Apa ada pria yang kamu sukai?” tanya Nayla lagi.


“Nggak ada, Kak, aku cuma mau fokus bekerja. Aku belum mau menikah.”


Nayla menggenggam jari jemari Yasmin, tersenyum sembari menyentuh lembut pipi adik iparnya itu.


“Yasmin, nggak ada salahnya 'kan, mencoba mengenal calon suami kamu. Ammi pasti memilih calon suami yang terbaik buat kamu, nggak ada orang tua yang bakal jodohin anak gadisnya sama pria yang nggak baik, Ammi pasti udah tau bibit, bebet, dan bobotnya. Tugas kamu cuma mengenal dia lebih dekat, masih ada waktu seminggu sebelum tanggal pertunangan. Kamu bisa gunakan waktu itu untuk lebih dekat sama calon suami kamu itu,” tutur Nayla panjang lebar. Yasmin mendengarkan dengan seksama.


“Apa dia nggak pernah nyoba lebih dekat sama kamu?” tanya Nayla.


“Dia ngirim pesan ke aku, dia bilang juga mau mengenal aku lebih dekat,” jawab Yasmin.


“Nah, dia saja mau mencoba deket sama kamu. Jadi, kamu juga harus gitu, 'kan ada pepatah yang bilang, tak kenal maka tak sayang. Jadi, kenali dia dulu, lama-lama rasa sayang dan cinta itu bisa tumbuh.”


“Nggak ada salahnya menerima perjodohan, Yasmin” imbuh Nayla.


“Tapi, Kak Fahad?” Yasmin mengingat hancurnya rumah tangga Fahad yang pertama, rumah tangga karena perjodohan.


“Itu bukan salah sebuah perjodohan, Yasmin, itu memang sudah jadi cerita hidup Fahad dan Mahira. Jodoh mereka cuma sampai disitu,' ungkap Nayla.


“Kalau masalah pekerjaan, kamu bisa bicarakan itu sama calon suami kamu, InshaAllah dia juga bisa mengerti,” imbuhnya kemudian.


Yasmin menatap Naylaz menimbang apa yang diucapkan kakak iparnya.


 ***


Tidak ada yang salah dari sebuah perjodohan, baik buruknya pernikahan itu tergantung dua insan itu sendiri. Bagaimana mereka menyikapi setiap perbedaan yang ada di dalam sebuah pernikahan, entah dengan kepala dingin atau dengan emosi. Jika pasangan yang dijodohkan untukmu itu adalah pria atau wanita yang buruk, maka itu bukan salah dari perjodohan atau orang tua, namun karena takdir dan nasib yang sudah Allah tuliskan. Allah tidak akan pernah menguji hambaNYA di luar batas kemampuannya. Pasti akan ada suatu hikmah di setiap musibah dan cobaan yang datang kepada kita.


Lagi juga, sebelum adanya pernikahan ... lebih baik membahas apa rencana kedepannya setelah menikah nanti. Misal, masalah pekerjaan, masalah tempat tinggal, juga masalah hati. Kesepakatan seperti apa yang akan mereka ambil jika terjadi sedikit pertengkaran, karena sesungguhnya, pernikahan itu adalah seni mengalah.


Jika suami istri tidak ada yang mengalah, maka pernikahan itu akan mudah hancur tanpa adanya rasa sayang dan cinta diantara mereka. Mengalah bukan berarti kalah atau bodoh, mengalah ialah bagaimana kita saling menghormati keputusan dan pemikiran pasangan kita yang berbeda. Bagaimanapun kita mencoba dan berusaha menyatukan prinsip serta ketidakcocokan, sampai kapanpun itu tidak akan pernah bisa bersatu.


Watak iku bedo karo watuk, nek watuk iso di tambani. Nek watak, gak mungkin iso di rubah.


Sifat itu berbeda dari batuk, kalau batuk bisa di obati. Kalau sifat, tidak mungkin bisa di rubah.


Perbedaan prinsip dan ketidakcocokan itu pasti selalu ada, kedua hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk sebuah perceraian.

__ADS_1


***


__ADS_2