
Seusai menunaikan ibadah salat subuh, Nayla dengan dibantu Fahad ... melepas lalu melipat mukena dan menaruhnya di tempat semula. Mengajak Nayla untuk duduk di tepi tempat tidur, Fahad merapikan sebagian rambut istrinya ke belakang telinga.
Nayla berangsur mundur, namun Fahad dengan cepat menahan tubuh wanita itu agar tetap pada tempatnya. “Sayang,” tangannya menuntun wajah Nayla agar mata mereka bisa saling bertemu. “Sayang, aku—”
“Enggak, Fahad. Aku nggak kenal sama Anand.” Nayla menggeleng keras, sudut matanya kembali basah. “Tadi malam di kantor, aku nggak sengaja nabrak dia. Di sini, aku cuma kenal kamu. Aku nggak kenal siapapun lagi, aku nggak kenal.”
Ya Allah, aku menyakitinya. Aku menyakiti istriku, batin perih Fahad melihat istrinya yang menangis dan ketakutan. “Sayang, aku mau—”
“Maaf, Fahad, aku minta maaf.” Nayla tak kuasa menahan air matanya, ia tumpahkan semua rasa yang menjadi satu di setiap bulir bening tersebut.
Fahad hendak memeluk Nayla, namun istrinya itu kembali memundurkan tubuhnya seraya menggeleng keras. “Sayang, jangan takut, aku mohon. Maafin aku.”
Mendengar permintaan maaf yang terlontar dari bibir Fahad, Nayla pun berhenti memundurkan tubuhnya. Meski masih merasa takut, ia berusaha memberanikan diri menatap kedua mata Fahad, mencari ketulusan dari apa yang sudah suaminya itu ucapkan.
“Aku mohon, jangan takut, Sayang.” Fahad menarik tubuh Nayla, mendekapnya dengan sangat erat, ia takut jika istrinya akan menjauh lagi. Ia terus meminta maaf.
“Aku nggak bohong, Fahad, aku nggak kenal dia,” tangisan Nahla pecah, ia membalas pelukan suaminya. “Aku nggak bohong, Fahad.”
Fahad mengurai pelukannya, ia menghapus air mata Nayla dengan kedua ibu jarinya. “Aku yang salah, Sayang, aku minta maaf.” Mencium setiaoni ci wajah istrinya, ia sungguh menyesali apa yang sudah ia lakukan semalam. Rasa cemburu terlanjur menguasainya, hingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Fahad lupa, bahwa Nayla bukan sosok wanita yang dengan mudahnya akan berkenalan dengan pria asing. Bukankah ia sendiri sudah membuktikannya? Membutuhkan perjuangan dan waktu yang lama untuk mendapatkan hati serta cinta Nayla.
Permintaan maaf yang diucapkan Nayla semakin membuatnya merasa bersalah, ia masih bisa melihat ketakutan dari sorot mata sang istri. “Nayla Anjani, hukum suamimu ini yang sudah sangat menyakitimu. Hukum aku, Sayang.” Fahad berujar.
Nayla menggeleng, “aku nggak bisa hukum kamu. Semalam, aku udah dapat hukumanku, maafin aku.”
“Jangan minta maaf lagi, aku nggak bisa dengar kamu mengatakan maaf.” Fahad kembali mendekati Nayla, ia daratkan ciuman di puncak kepala istrinya. Mengusap lembut rambut panjangnya, menghapus air mata yang tidak berhenti menetes dari sudut mata Nayla. “Aku percaya sama kamu, aku yang terlalu cemburu, aku minta maaf.”
“Jangan diam lagi, aku bingung, Fahad, aku takut.” Nayla memohon. Hidup di negara baru, hanya suami yang ia punya ... sangat menyakitkan saat Fahad mendiamkannya. Tidak ada lagi tempat ia berpulang jika Fahad menghindarinya.
__ADS_1
Fahad mengangguk, ia tidak berjanji ... tapi ia mengatakan tidak akan melakukannya lagi. Ya, Fahad hanya manusia biasa, tempatnya salah, tentu ia takut jika mengutarakan janji yang ternyata ia ingkari.
“Kok, nggak janji?” protes Nayla.
“Bukannya kaum istri itu nggak suka dikasih janji? Jadi aku nggak janji, tapi aku pasti kasih bukti kalau aku nggak bakal diam lagi kalau ada masalah. Kita duduk berdua, bicara dari hati dan dengan kepala dingin, menyelesaikan masalah yang ada.”
Nayla mengangguk, memang benar apa yang dikatakan suaminya. Lebih baik tidak berjanji jika hanya akan diingkari. “Tapi, aku nggak ada apa-apa sama dia, aku cuma sebatas tau namanya aja, Fahad. Aku nggak bohong.” Nayla kembali menjelaskan, ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi.
“Iya, Sayang, aku tau. Aku yang terlalu cemburu sampai-sampai lupa kalau kamu itu nggak mungkin kayak gitu. Maafin aku, Sayang.” Fahad masih mendekap tubuh Nayla agar istrinya merasa nyaman dan tidak ada lagi ketakutan saat menatapnya.
Fahad mencoba membuat Nayla berhenti menangis, namun setiap berbicara ... tangisan istrinya itu semakin pecah, hingga membuat ia merasa kebingungan. Ucapan maaf yang ia lontarkan ternyata tidak cukup untuk menghentikan air matanya. “Sayang, bisa tolong berhenti sebentar nangisnya?” tanya Fahad.
Nayla mendongakkan kepalanya, menatap wajah Fahad. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku mau ganti kemeja, ini udah basah kena ingus kamu.”
Fahad tertawa, usahanya kini berhasil membuat tangisan Nayla berhenti. Jari-jarinya membersihkan sisa air mata sang istri di setiap sudut mata sendunya. “Maafin aku, Sayang,” mencium kedua pipi Nayla. “Hukum aku sesuka hati kamu, tapi tolong jangan pergi ... jangan tinggalin aku.”
Mata Nayla menyipit, memperhatikan wajah suaminya yang memintanya untuk tidak pergi. “Boleh aku tau alasannya?”
“Aku udah nyakitin kamu, aku takut kamu pergi. Aku tau, wanita pasti akan pergi kalau prianya sudah menyakitinya ... sampai ke relung hati. Semalam,” ada jeda sejenak sebelum Fahad melanjutkan ucapannya. Kedua matanya menelusuri setiap inci wajah Nayla dengan seksama. Ia mengambil napas panjang, “semalam, nyakitin kamu lahir dan batin. Aku salah, Sayang, aku minta maaf.”
Satu tangan Nayla menyentuh pipi Fahad dengan lembut, ia tersenyum, “sampai detik ini, aku nggak pernah ada pikiran buat ninggalin kamu. Buat aku, apa yang kamu lakukan semalam itu bukan siksaan, tapi memang kewajibanku sebagai seorang istri. Hanya saja ...”
“Sakit?” Fahad bertanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. Kembali, Fahad menarik tubuh Nayla kedalam pelukannya. “Maaf, maafin aku. Tapi, aku mohon, jangan pergi. Jangan!” semakin erat ia mendekap sang istri.
Isakan kembali terdengar dari Nayla, seketika Fahad menjauhkan tubuh Nayla darinya. “Tunggu! Jangan nangis dulu, aku ganti baju sebentar!” ucapnya menggoda Nayla.
__ADS_1
“Ya, udah sana!” usir Nayla sembari mendorong tubuh Fahad.
“Istriku menggemaskan begini, jadi mana bisa aku pergi?” Fahad mencubit kedua pipi Nayla dengan gemas. “Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi.”
“Jangan pergi, jangan pergi, tapi daritadi bikin nangis terus!” sembur Nayla yang seketika mendapat ciuman singkat di bibirnya dari Fahad.
Fahad bersyukur, ketegangan diantara dirinya dan juga Nayla sudah mencair. Rasa takut kehilangan setelah apa yang ia lakukan semalam menyergap hatinya. Setelah sekian lama, ia bisa jatuh cinta setelah Nayla berhasil meruntuhkan dinding kekecewaan di dalam hatinya. Kedepannya, Fahad bertekad tidak akan dikuasai oleh rasa cemburu—ia akan bertanya kepada Nayla sebelum bertindak diluar batas. Cukup. Sudah cukup kesalahan yang ia lakukan semalam.
Maafkan aku, Ya Allah ... aku menyakiti seseorang yang sudah Kau kirimkan kepadaku. Dengan tanganku sendiri, aku menjadikan dia sebagai istri, dan dengan tanganku sendiri, aku menyakitinya lahir dan batin. Maafkan aku.
***
“Kakak ipar!” Yasmin turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. “Kenapa aku bisa ketiduran, sih?!” keluhnya. Semalam, ia larut dalam pikirannya sendiri tentang apa yang dilakukan Fahad kepada istrinya.
Yasmin berjalan menuju kamar kakak dan kakak iparnya, ia mengetuk pintu dengan keras sembari memanggil-manggil nama Nayla.
Fahad segera membuka pintu sebelum adiknya membuat keributan. Yasmin mendorong tubuh Fahad begitu pintu terbuka, ia menerobos masuk lalu mendekati duduk di tepi tempat tidur—di samping kakak iparnya. Menanyakan apa yang kakaknya lakukan, “Kakak ipar, nggak diapa-apain, kan? Kak Fahad nggak mukul, kan?” cerca Yasmin.
Nayla menggeleng sembari menepiskan senyumnya, “enggak, kakak baik-baik saja.”
Yasmin kembali bertanya, memastikan keadaan kakak iparnya memang baik-baik saja. Mengingat suara dan wajah Fahad yang menakutkan semalam, berbagai pikiran jahat berkeliaran memenuhi pikirannya. Namun, begitu ia melihat senyuman dari Nayla, semua kekhawatirannya seketika musnah.
Fahad memperhatikan istri dan adiknya. Hatinya kembali merasa sakit begitu ia mendengar jawaban Nayla saat Yasmin melontarkan pertanyaan. Kata ‘baik-baik saja’ seolah menghujam jantung dan hatinya. Istrinya menutupi kesalahan yang sudah ia perbuat. Padahal, jika mau, istrinya itu bisa mengatakan semuanya kepada Yasmin. Fahad pun tidak akan merasa keberatan, karena ia memang bersalah. Namun, nyatanya tidak, istrinya menutupi aib dan kesalahannya. Fahad merasa beruntung, Nayla tau bagaimana menjaga nama baiknya.
Maaf, Sayang, suamimu ini sudah keterlaluan.
***
__ADS_1