Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 74


__ADS_3

“Kamu menceraikan Mahira yang berpendidikan, yang pantas diajak ke tempat seperti ini dan malah menikahi Nayla yang,” ada jeda sesaat sebelum Ranveer melanjutkan kalimatnya.


Mahira? Mantan istri Fahad bernama Mahira? Nayla membatin.


“Menikahi Nayla yang seharusnya lebih pantas di rumahmu sebagai—”


Belum selesai Ranveer berbicara, pukulan dari Fahad sudah lebih dulu mendarat di wajahnya. Fahad sudah tidak bisa menahan kemarahannya kali ini, ia memukuli Ranveer tanpa jeda sedikitpun. Beberapa orang yang berusaha melerai pun dibuat kewalahan dengan keduanya.


Begitu mendapat kesempatan, Ranveer pun membalas pukulan Fahad. Ia merasa tak terima mendapat perlakuan seperti itu dari Fahad.


“Fahad, kendalikan emosimu, jangan seperti ini. Ingat, ada Nayla di sini.” Sahil Mash tetap mencoba menenangkan Fahad. Namun, Ranveer masih saja melontarkan kata yang tidak pantas, menghina Fahad dan Nayla.


“Istrinya tidak berpendidikan, suaminya juga sama. Mental rendah!” hina Ranveer.


Lagi. Fahad berontak dari pegangan tangan Sahil dan petugas keamanan. Pukulan demi pukulan ia layangkan untuk pria yang sudah menghina istrinya. “Jangan sebut nama istriku dengan mulut kotormu itu!”


Nayla menyaksikan semuanya, ia berdiri mematung—tubuhnya seakan terkunci mendengar sekaligus melihat pertikaian dua pria dewasa dihadapannya ini. Nayla memilih pergi, ia tak sanggup melihat Fahad bertengkar hanya demi namanya. Sanju yang melihat Nayla pergi pun segera mengatakannya kepada Sahil, lalu kemudian ia mencoba menyusul istri dari sahabat suaminya itu.


“Fahad, stop! Nayla pergi, cepat cari dia!”


Pukulan itupun berhenti, Fahad yang tadinya berada diatas tubuh Ranveer yang sudah terlihat lemas itupun sontak berdiri. Matanya mencoba mencari keberadaan Nayla di sekitarnya, namun nihil ... istrinya tidak ada di sana.


Sahil mendekati Fahad, ia mengatakan Nayla sudah keluar dan Sanju sedang mencoba menyusulnya. Fahad segera berlari keluar dari ballroom hotel. “Nayla.” Ia masih mencari Nayla di sekitaran hotel, namun tak juga menemukannya.


Sanju datang, ia mengatakan kepada Fahad bahwa Nayla sedang mencoba mencari taksi. Mendengar hal tersebut, Fahad berlari ke arah jalan raya, ia mendapati Nayla yang akan naik ke mobil taksi. “Sayang.” Fahad berhasil mencegah Nayla, ia menyuruh sopir taksi tersebut untuk pergi. “Ayo, kita pulang.”


Sahil dan Sanju melihat Fahad menggandeng Nayla ke area parkir. “Lagi. Fahad dan Ranveer bertengkar, aku muak dengan mereka berdua!” Kedua tangan Sahil berada di pinggang, ia mendesah kesal akan pertengkaran yang selalu menjadi jembatan Ranveer dan Fahad untuk bertemu.


Di sepanjang perjalanan, Nayla tidak menjawab satupun pertanyaan ataupun permintaan maaf suaminya. Pun, saat Fahad mencoba menyentuh tangannya, Nayla tetap tidak meresponnya. Ia memalingkan wajahnya ke kiri, memandang jalanan kota yang cukup ramai.

__ADS_1


Sampai di apartemen, Nayla keluar dari mobil lebih dulu. Ia berjalan cepat, tak peduli Fahad memanggil-manggil namanya. Nayla melihat jam di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ia berharap Yasmin sudah tidur ... agar adik iparnya itu tidak melihat apa yang sudah terjadi kepada Fahad.


Lift sampai di lantai tujuh, Nayla membuka pintu. Sebelum masuk, ia meraih tangan Fahad lalu menuntunnya masuk ke kamar, mendudukkan tubuhnya suaminya di sofa.


“Sayang, aku—”


“Tunggu sebentar.” Nayla keluar, ia pergi ke dapur untuk mengambil es batu.


Baskom kecil berada di tangan Nayla, ia meletakkannya di meja sofa lalu pergi mengambil h


kain lap handuk di lemarinya. Fahad dibuat bingung dengan sikap istrinya yang sejak tadi hanya diam.


Nayla bertumpu pada lututnya dan berdiri di hadapan suaminya. Ia mengobati luka suaminya dengan perlahan. Fahad mendesis perih ketika kapas yang sudah diberi cairan pembersih luka itu menyentuh ujung bibirnya yang berdarah.


Selesai mengobati luka di wajah suaminya, Nayla hendak pergi mengembalikan baskom ke dapur. Namun, Fahad sudah lebih dulu mencegahnya. Tatapan mata keduanya terkunci, sorot mata bingung terpancar dari Fahad. Sementara Nayla, sudut matanya sudah terlihat berair. “Maaf.” Nayla berucap lirih.


Fahad mengernyit heran, “maaf untuk apa, Sayang?”


Fahad merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukannya. “Sayang, aku yang seharusnya minta maaf. Aku nggak bisa—”


“Maaf, Fahad, aku udah bikin kamu malu. Di sana memang bukan tempatku, nggak seharusnya kamu ajak aku ke sana. Maaf, maaf.” Nayla tak mampu lagi membendung sungai air matanya. Ia semakin merasa hancur begitu tubuhnya sudah berada di dalam dekapan Fahad. “Maaf, aku minta maaf.”


Fahad memberi kesempatan Nayla untuk menumpahkan segala air matanya, ia tau ... istrinya itu pasti sangat hancur mendengar hinaan dari Ranveer. Fahad membantu Nayla untuk duduk di sampingnya, telapak tangannya menagkup kedua sisi wajah Nayla. Menyeka air mata yang masih saja membasahi pipi sang istri dengan kedua ibu jarinya.


“Kamu nggak pernah bikin aku malu, aku selalu bangga sama kamu.” Fahad memberikan sentuhan lembut di pipi Nayla, agar istrinya merasa lebih tenang.


“Teman kamu benar, Fahad, aku nggak pantas bergabung ke dunia kamu. Aku nggak ada apa-apanya sama kamu.”


“Sayang,” menarik tubuh Nayla kembali ke dalam pelukannya. Fahad semakin mengeratkan pelukannya begitu ia melihat Nayla menangis lagi. Hatinya terasa pilu melihat air mata sang istri. Sungguh, ia tidak merasa malu. “Sayang, sejak awal aku nggak pernah mempermasalahkan tentang status sosial, kamu tau itu. Aku cinta sama kamu, ya, karena diri kamu sendiri.”

__ADS_1


“Aku nggak sama kayak dia, Fahad, aku jauh ... jauh banget.”


Fahad mengurai pelukannya, menatap dalam kedua mata Nayla. “Dia siapa?” tanyanya.


“Dia ... Mahira.”


“Siapa dia?” Fahad kembali bertanya.


“Ya, Mahira. Mahira.” Nayla berseru kesal. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Fahad, membuang wajahnya ke sembarang arah. Menghindari tatapan mata suaminya yang sudah pasti berusaha mencari celah kecemburuan di matanya.


Fahad tertawa, ia menarik hidung mungil Nayla dengan gemas. “Nggak usah ditutup-tutupi, aku tau kamu lagi cemburu.”


Nayla berdecak kesal, ia hendak pergi meninggalkan Fahad. Tetapi, tangan suaminya dengan sigap menariknya untuk kembali berada di pelukannya. “Ternyata kamu memang dengar semuanya.”


Nayla mengangguk, hinaan Ranveer kembali terngiang di telinganya. “Maaf.”


“Lagi.” Fahad melepas pelukannya. “Kamu nggak salah, mau berapa kali lagi kamu minta maaf? Aku capek dengar kamu minta maaf terus. Apa nggak ada kata-kata lain lagi?” keluhnya.


“Aku nggak suka kamu selalu mikir kayak gini, pasti mikir kalau kamu ini bikin malu. Kamu nggak pantas buat aku. Kita beda, sampai kapanpun kita beda. Aku nggak suka, Nayla.” Fahad berujar.


Namanya sudah disebut, dapat dipastikan bahwa suaminya saat ini sedang marah.


“Aku nggak peduli omongan orang, siapapun kamu ... aku tetap cinta sama kamu. Soal mantan istriku dulu, kamu tau sendiri, kan? Aku dulu nikah sama dia karena dijodohkan.”


Fahad sekali lagi menjelaskan kepada Nayla. Kalaupun seluruh dunia menentang cintanya karena perbedaan status sosial, ia tidak akan menyerah begitu saja. Bagi Fahad, pendidikan memang penting, tapi semua itu tidak digunakan untuk bersaing, menjatuhkan satu sama lain. Nayla berpendidikan, meskipun istrinya tidak mendapat pendidikan di bangku universitas ... namun, sifat dan pemikiran Nayla sangatlah berpendidikan.


“Aku mohon, Sayang, jangan menyerah untuk terus di sampingku. Jangan mundur. Jangan ninggalin aku hanya karena perbedaan sosial, kita sama di mata Allah. Cuma Allah yang maha kaya dan tinggi.”


Sebuah senyuman terbit dari bibir Nayla. Benar. Kita manusia biasa, debu diantara banyaknya debu yang bertebaran di muka bumi ini. Setinggi apapun pendidikan, sekaya apapun seseorang ... di mata Allah semuanya sama. Hanya amal ibadah seseoranglah yang dinilai oleh Allah.

__ADS_1


***


__ADS_2