Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 43


__ADS_3

Sari terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu. “Kamu nggak takut dia diambil orang, Nay? Suami kamu kan ganteng,” ucapnya dengan serius. Belum Nayla menjawab, ia memekik kesakitan. “Aduh, duh!” rambutnya ditarik oleh seseorang. Ia menengok ke belakang, “Doni, kenapa rambutku ditarik?!” serunya dengan kesal.


“Lagian, mulut nggak bisa di jaga. Itu rumah tangga Nayla, jangan ikut campur dan jangan jadi kompor.” Doni menatap tajam pada Sari.


Sari dan Doni beradu argumen, Nayla meninggalkan mereka berdua. Kemana kakinya melangkah, semua itu tak luput dari sorot mata Ryan. Nayla berjalan mendekat ke arah Ryan, menyapa pria itu seperti biasanya.


“Pagi juga.” Ryan menyahut. Wajahnya sangat datar, pun dengan nada suaranya yang sangat dingin. Entahlah, Ryan tak tahu harus bagaimana.


***


Hari sudah siang, saatnya Nayla untuk pulang. Ia berdiri di pinggir jalan—tepat di depan restaurant, menunggu Andi yang masih dalam perjalanan.


Ia dikejutkan saat Sari menepuk bahunya, berbicara dengan hebohnya. “Besok masuk siang, kan? Yuk, ke mall? Sama Nita juga,” Ajaknya.


“Boleh. Tapi aku izin suami aku dulu, ya. Nanti aku kasih kabar kamu.” Fahad tidak ada, ia akan merasa kesepian sebab Andi juga pergi kuliah. Oleh sebab itu ia berpikir menerima ajakan temannya. Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu suka nongkrong di mall—jika tidak bersama Fahad. Tapi tidak ada salahnya bukan? Ia nongkrong bersama temannya, toh mereka juga wanita ... Fahad pasti memberikan izin, pikirnya.


Andi sudah sampai, pria itu terlambat dua puluh menit. Nayla menggerutu kesal, sebab Sari sudah pulang terlebih dahulu sejak tadi.


“Jadi mau pulang sama Andi apa jalan kaki?” Andi berujar dengan kesal.


Eh!


Nayla merasa heran, tak biasanya adiknya itu akan marah. Ya, baiklah ... ia juga bersalah sebab menggerutu tak jelas, mungkin saja Andi lelah. Nayla meminta maaf, “pulang sama kamu, maaf.”


Andi mengembuskan napasnya dengan kasar, ia memberikan helm kepada kakaknya seraya meminta maaf. Ia sadar, tak seharusnya ia merasa kesal dan marah kepada Nayla. Bukan kakaknya yang membuat ia kesal, tapi gadis lain. “Maafin Andi juga, tadi ada yang ganggu makanya Andi telat jemput.”


Nayla tak bertanya, ia memberi ruang pribadi untuk adiknya. Ia yakin, nanti Andi pasti akan bercerita juga.


Sebelum sampai di rumah, mereka mampir terlebih dulu ke sebuah minimarket. Membeli sedikit barang kebutuhan. Nayla teringat akan ucapan Fahad tadi sebelum suaminya itu berangkat terbang untuk ke India, jangan buat aku merasa nggak berguna jadi suami. Begitulah ucapan suaminya. Ia pun memakai kartu kredit pemberian Fahad untuk membayar belanjaannya. Itu haknya, dan itu adalah nafkah dari suaminya.


Sesampainya di rumah, Nayla segera memasakkan Andi makan siang—adiknya juga membantu. Lebih tepatnya menganggu dengan segala candaan yang dilontarkan. Oh, sorry ... bukan candaan, tapi olokan.


Nayla memutar bola matanya jengah, “Andi, udah! Mbak masakin kamu garam aja, nih!” serunya dengan kesal.


“Kasihan, ya. Yang baru beberapa hari nikah udah sendirian aja, nggak kayak Mbak Nita yang nempel terus sama suaminya.” Andi tergelak kencang, hingga sebuah sendok melayang tepat mengenai perutnya.


“Sana pergi ke depan! Ganggu terus dari tadi,” kesal Nayla.

__ADS_1


Andi tak mengindahkan perintah kakaknya, ia tetap berada di sana. Namun kali ini ia tak lagi mengolok. Mereka mengobrol santai, tentang apa yang dilakukan sejak pagi tadi. Aktifitas kuliah, hingga sebab apa yang membuat Andi terlambat menjemput Nayla.


“Dia ganjen, suka nempel terus. Kan, jadi risih, Mbak,” keluh Andi.


Nayla tersenyum, oh ... ia lupa, adiknya ini sudah cukup dewasa untuk memulai sebuah hubungan. Pasti ada rasa suka kepada lawan jenis. “Mungkin dia suka sama kamu. Kenapa kamu nggak deketin dia?” tanya Nayla.


Andi bergidik geli, “males, ah! Dia cari perhatian terus.”


“Bukan nyari perhatian, cewek emang suka diperhatiin. Mungkin kamu terlalu cuek, makanya dia penasaran terus nyoba buat nyari perhatian kamu.”


Ya, bukankah seperti itu? Seorang gadis pasti akan tertarik pada pria yang terlihat dingin dan cuek, itulah Andi. Tapi tetap saja, Andi tidak menyukai gadis seperti itu ... yang mencoba mencari perhatiannya, dengan berbagai obrolan yang ia rasa tak ada manfaatnya. Hanya membuang waktu.


Ia menyukai gadis yang bisa menjaga namanya sebagai seorang wanita. Cuek, atau bahkan terkesan jual mahal. Andi akan tertantang untuk mendapatkannya—mungkin kebanyakan pria memang seperti itu. Ia akan merasa ilfell jika ada gadis yang terlalu agresif; dalam mendekati seseorang yang ia sukai.


Perbincangan selesai, makanan pun juga sudah matang. Membawa makanan ke ruang tv, duduk di lantai yang beralaskan karpet. Andi dan Nayla makan bersama ... tak ada Fahad, membuat suasana makan kali ini cukup berbeda. Sepi. Terasa kosong. Terutama Nayla. Mengembuskan napasnya dengan kasar, Nayla memakan makanannya dengan perasaan yang tak menentu. Rindu. Ia sangat merindukan suaminya.


***


Udara dingin pagi menyambutnya yang tidur seorang diri. Ia merindukan pelukan hangat Fahad, yang setiap pagi pasti menyambutnya jika udara dingin mulai menyentuh dirinya.


Andi ada di dapur, Nayla melihatnya tengah mengaduk dua cangkir teh. “Mbak, nggak usah masak, nanti aku beliin bubur ayam,” kata Andi dan Nayla pun mengangguk.


Terdengar nada panggilan dari ponsel Nayla. Wajahnya berbinar bahagia begitu melihat nama si pemanggil. “Fahad,” serunya. Segera ia menggeser icon panggil hijau tersebut.


“Hai, selamat pagi.” Fahad.


“Pagi.”


Sembari meminum teh buatan Andi, Nayla dan Fahad saling bertukar kabar. Menanyakan apa saja yang kemarin dilakukan, juga bertemu dengan siapa saja. Itu yang ditanyakan Fahad. Nayla sudah seperti seseorang yang didakwa atas kasus kejahatan, Fahad bertanya namun pertanyaannya itu seolah terdengar seperti sedang menginterogasi.


Nayla menjawab semuanya dengan jujur. Tak lupa ia juga meminta izin pergi ke mall bersama teman-temannya. Fahad tak mengizinkan, ia pikir ... ada Ryan di sana.


“Cuma aku, Sari sama Nita doang, Fahad. Nggak ada Doni ataupun Ryan. Ini acara cewek.” Nayla membela diri.


“Masa?” selidik Fahad. “Kamu biasanya nggak suka nongkrong di mall, ini kenapa pas aku udah nggak di sana kamu justru mau ke mall?”


Berdecak kesal, ia putar bola matanya jengah. Ingin, marah, tapi jika suami sudah tak mengizinkannya ... ia pun juga tak bisa pergi. “Ya, udah, aku nggak pergi. Aku di rumah aja,” lesu Nayla.

__ADS_1


Di sana, Fahad membayangkan betapa menggemaskannya wajah Nayla. Pasti lagi merengut, bibirnya manyun. Batin Fahad. Ah, ia ingin memeluk istrinya.


“Boleh, kok. Pergi aja. Tapi benar sama Sari dan Nita, kan?” Fahad memastikan.


“Iya.” Nayla mengangguk.


Begitu mendapat izin, senyum Nayla semakin melebar. Semua itu tak luput dari sorot mata Andi. Sedari tadi ia mendengar apa yang Nayla bicarakan. *L*ucu banget pasangan pengantin baru ini, yang harus berpisah untuk sementara waktu, batinnya. Ia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum geli.


“Jadi pengantin baru ternyata kayak gitu, ya? Gemes-gemes pengen nyubit ginjal.” Andi tergelak kencang akan ucapannya sendiri.


Nayla baru saja mengakhiri panggilannya, ia menatap Andi kesal. “Nanti tunggu giliran kamu. Giliran bikin gemes pengen nyubit ginjal juga!” serunya.


Bukan takut, Andi justru semakin tergelak kencang. “Ah, udahlah. Mau beli bubur ayam dulu.” Andi beranjak berdiri lalu mengambil kunci motornya


***


Sesuai rencana, Nayla dan Sari kini sudah berada di mall. Mereka masih menunggu Nita yang tak kunjung datang. Memesan camilan dan minuman terlebih dahulu sembari mengobrol santai, keduanya seakan lupa jika ada beban hidup yang berdiri tegak disamping mereka.


Memang seperti itu. Jika berkumpul bersama teman, semua beban ... apa yang membuat over thinking, akan terlupakan untuk sejenak. Tapi jika sudah kembali ke rumah, beban itu datang kembali dengan segudang masalah yang menumpuk penuh.


Nita datang, menyapa kedua temannya dengan hangat. “Maaf aku telat, tadi nunggu suami jemput.”


Sari melengos masam, “mentang-mentang yang udah punya suami. Nggak lihat apa? Aku yang masih sendiri, juga Nayla yang lagi jauhan sama suaminya.”


Nayla dan Nita tertawa mendengarnya. Tak ada candaan yang membuat ketiganya merasa tersinggung; mereka sudah biasa dengan segala olokan yang dibalut candaan. Ya, begitulah ketiga wanita ini.


“Hai, para wanita!” Doni datang, bersama ... Ryan.


Nayla tersedak begitu melihat ada Ryan di hadapannya. Hijabnya sedikit basah oleh minumannya yang tumpah. Matanya terkunci akan sorotan mata Ryan, menelan ludah pun rasanya sangat sulit.


Kenapa bisa ada Ryan di sini? Nayla bertanya pada diri sendiri.


Ryan tersenyum, menunjukan bahwa ia baik-baik saja. “Nggak apa, Nay?” tanyanya.


Menggeleng, lalu tak lama ia mengangguk. “Eh, maksudnya nggak apa, aku nggak apa.” Nayla menjawab.


***

__ADS_1


__ADS_2