
“Kamu pasti dan selalu sukses bikin minder aku. Kenapa muka kamu awet muda, sih? Kan, aku jadi kelihatan kayak om-om yang pacaran sama anak SMA!” cetus Fahad. “Kamu jangan pakai pakaian yang kayak gini, dong!” imbuhnya.
Sedikit ada perdebatan mengenai penampilan Nayla. Bukan. Bukan Fahad merasa Nayla sedang mempercantik dirinya dihadapan orang lain, namun style pakaian istrinya itu memang sangat kekinian. Sehingga menimbulkan rasa risih dengan perbedaan yang terlihat mencolok ketika berjalan beriringan.
“Fahad, jangan mulai, ya!” Nayla memperingatkan. “Bajuku ini nggak nunjukin lekuk tubuh, dada juga udah ketutup dengan baik. Aku harus pakai apa lagi?”
Bukannya marah, Fahad justru semakin gemas dibuatnya. Menurutnya, apapun yang dikenakan Nayla ditubuhnya itu pasti membuat ia terlihat sangat muda. “Kamu kelihatan muda, jadi aku—”
“Suamiku, kamu juga masih muda. Aku juga dandanin kamu dengan pakaian yang cocok di usia kamu. Bukan kelihatan tua ataupun muda. Ini memang style yang cocok buat kamu.” Nayla merapikan jaket yang membalut tubuh suaminya. “Jadi, stop bilang kamu kelihatan tua kalau lagi jalan sama aku.” Nayla menepuk pelan dada suaminya, tak lupa pula ia sematkan sebuah senyuman yang menenangkan hati Fahad.
“Apa aku hilangin brewok ini aja, ya? Biar kelihatan lebih muda.”
“Fahad, ih!” mencubit keras lengan suaminya. “Umur kamu berapa, sih? 80 tahun? Hah? Aku capek denger kamu ngeluh soal penampilan,” sembur Nayla. “Brewoknya jangan dikasih hilang, biarin tipis gini. Kamu nggak cocok tanpa brewok.” Membelai lembut salah satu pipi suaminya.
“Aku cakep ada brewoknya, ya?” goda Fahad seraya menaik-turunkan alisnya.
Nayla tidak menjawab, ia berlalu pergi dengan perasaan kesal ... namun juga malu, sebab secara tidak langsung ia sudah memuji penampilan suaminya yang semakin tampan berbrewok tipis tersebut.
***
Setelah puas menikmati keindahan Lodhi Garden, Fahad memutuskan mengajak Nayla ke salah satu bangunan bersejarah yang masih bertengger apik yang terletak di jalan Netaji Subhash, Chandni chowk. Red Fort, bangunan bersejarah peninggalan masa kejayaan kerajaan Mughal yang dipimpin oleh Sultan Shah Jahan.
“Harga tiket buat warga asing pasti lebih mahal. Menyebalkan!” keluh Fahad setelah membayar tiket.
Nayla tertawa mendengarnya, ia meraih jari jemari suaminya, “di negara manapun juga gitu, Fahad.”
__ADS_1
Fahad tersenyum, ia tidak mengeluh perihal uang yang ia keluarkan untuk Nayla. Baginya, harga tiket untuk warga lokal dan warga negara asing akan lebih bagus jika disamaratakan, atau kalau tidak ... hanya terpaut dua atau tiga rupees saja. “Nanti kalau aku jadi menteri pariwisata, aku bakal kasih harga tiket murah. Biar lebih banyak lagi yang datang ke India.”
“Jangan jadi menteri, cukup jadi suamiku aja.” Nayla berujar.
Fahad tersenyum simpul, ia mendaratkan ciuman singkat di pipi Nayla yang langsung mendapat protes dari bibir istrinya itu. Tidak peduli, Fahad kembali mendaratkan ciuman di pipi Nayla. “Mau protes lagi?” seru Fahad. “Kalau protes lagi aku cium di tempat lain lagi, nih!” ancamnya yang seketika membuat Nayla jengah.
Lagi-lagi, Nayla dibuat terkesima dengan bangunan yang berdiri kokoh—yang disetiap sudut terdapat sejarah tak terlupakan bagi semua warga India. Tak ada rasa lelah, keduanya menyusuri keindahan yang seakan tak ada habisnya itu.
Memasuki museum Nayla kembali terperangah kagum kagum melihat barang-barang peninggalan Kerajaan Mughal. Ia berlama-lama memandangnya, seolah tak ingin pergi untuk menikmati pajangan yang disuguhkan di kotak transparan tersebut. Suara dering ponsel dari Fahad, tertera nama Yumna di sana. Ia mengajak istrinya untuk keluar, menerima panggilan Yumna.
Nayla berdiri sedikit lebih jauh dari Fahad agar suaminya itu bisa leluasa berbicara dengan Yumna. Bukan ia tidak peduli, Nayla hanya tidak ingin ikut campur terlalu dalam jika Fahad tidak mengajaknya untuk masuk. Ia akan berbicara dan bertindak jika suaminya sudah mengajaknya bicara. Nayla berusaha menghormati keluarga suaminya, agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka.
“Sayang.” Fahad sudah selesai bertukar suara dengan Yumna dan Ammi. Ya, Ammi yang memang ingin berbicara dengan Fahad. “Ammi minta kita ke Kashmir secepatnya, tapi ...,”
“Aku nggak bisa ninggalin kantor, Sayang. Bukan aku nggak kangen ataupun nggak peduli sama Ammi, tapi aku benar-benar nggak bisa pergi. Perusahaan lagi nyoba buat nge-lobby negara tetangga biar produk kita bisa dijual di sana. Juga, ada beberapa perusahaan yang mau gabung sama kita.”
Mendengar penuturan Fahad, Nayla menangkap sesuatu dibalik percakapannya dengan Ammi tadi. Tidak berani bertanya, ia hanya bisa mencoba menenangkan suaminya agar jangan sampai ucapannya ada yang menyakiti hati Ammi. Nayla mencoba mengerti posisi Ammi dan juga suaminya. Sudah pasti Ammi sangat merindukan putranya, pun dengan Fahad yang terikat pekerjaannya.
“Kita pulang aja, yuk. Nanti kamu telpon Ammi lagi, nyari solusi gimana baiknya.” Ajak Nayla, Fahad pun mengiyani.
***
Sinar bulan masuk ke kamar Nayla melalui celah jendela yang sebagian tidak tertutup dengan tirai. Duduk bersama Fahad di sofa, Nayla menemani suaminya menyelesaikan pekerjaannya—agar keduanya bisa segera ke Kashmir secepat mungkin.
Mereka sudah memutuskan, lusa akan berangkat ke Kashmir. Nayla mengatakan kepada Fahad, tidak baik jika menunda untuk menemui Ammi. Saat ia keguguran, Fahad terbang ke Indonesia tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Ammi, kini ... mereka sudah di India, tapi belum juga menemui orang tua satu-satunya itu yang mereka miliki.
__ADS_1
“Yasmin udah tidur?” tanya Fahad tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer lipat di meja.
“Udah. Aku juga udah ngomong kalau lusa kita mau ke Kashmir.” Nayla menjawab. Rasa kantuk mulai menguasainya, matanya memerah. Namun, ia tidak ingin tidur terlebih dahulu jika suaminya juga belum tidur. Nayla berusaha membuat matanya terjaga, ia berniat membuat kopi. Akan tetapi, tangannya dicegah oleh Fahad.
Fahad melarang istrinya membuat kopi lagi, “kamu udah habis satu gelas, Sayang, jangan minum kopi lagi. Ayo, tidur aja.” Ia mematikan laptop lalu menuntun istrinya ke tempat tidur agar segera berbaring. “Sini, deketan, aku nggak mau udara dingin peluk kamu duluan.” Fahad berujar. Kedua tangannya sudah mendekap tubuh sang istri dibawah selimut. Ia daratkan ciuman lama di kening Nayla. Tak lama, keduanya pun sudah tertidur pulas karena rasa lelah yang memang mendera, ditambah udara dingin yang sangat mendukung.
***
Kemeja berwarna biru muda, dipadukan dengan celana berwarna mocca. Nayla mengancingkan satu demi satu kancing kemeja Fahad, namun suaminya itu justru menggigit pipinya dengan gemas. “Kamu nggak kira-kira, ya! Ini pipi, bukan ayam.” Nayla memrotes, ia mencebik kesal.
Fahad tertawa melihatnya, “siapa juga yang bilang pipi kamu itu ayam? Pipi kamu itu bakpau yang nggak ngembang, biarpun nggak ngembang ... tapi bagiku tetep enak, kok.”
Sebuah pukulan ringan Nayla daratkan tepat di dada kanan suaminya. “Bakpau nggak ngembang. Kenapa nggak sekalian bakpau nggak laku aja, hah?!” semburnya.
Nayla selesai membantu Fahad bersiap, ia membalikkan tubuhnya ... namun tangan suaminya itu lebih cepat daripada langkah kakinya. Kedua tangan Fahad mengunci tubuhnya, tak ada jarak diantara keduanya. Tanpa aba-aba, Fahad mengambil ciuman lama dari bibir Nayla—menikmati menu sarapan yang hanya bisa dimiliki—dan dimengerti mereka para sepasang suami istri.
***
Red Fort merupakan tempat wisata keempat yang dapat dikunjungi apabila Anda datang ke New Delhi, India. Red Fort atau Benteng Merah juga merupakan salah satu bangunan bersejarah di New Delhi, India, yang dibangun pada tahun 1638 oleh kaisar Mughal bernama Sultan Shah Jahan. Benteng ini dibangun sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dan juga merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Meski begitu, benteng merah ini sekaligus menjadi saksi bisu berakhirnya Dinasti Mughal di India. Padahal Dinasti Mughal sudah berkuasa selama tiga abad lamanya. Benteng ini dinamakan Benteng Merah karena memiliki dinding raksasa dengan bermaterialkan batu pasir merah yang melingkupi kedelapan sisinya. Dinding tersebut memanjang dari ujung kota Shah Janabad dengan panjang keseluruhan sebesar 2,5 km dan tinggi yang bervariasi antara 16 hingga 33 meter. Benteng merah ini sekaligus menjadi simbol kecemerlangan arsitektur dan kekuasaan Dinasti Mughal. Bangunan ini menunjukkan hasil karya seni tingkat tinggi peninggalan kesultanan Mughal.
Karya seni yang merupakan perpaduan sintesis dari karya seni Persia, Eropa, dan India ini dimajin akan membuat Anda terpukau apabila datang mengunjungi ke New Delhi, India. Gaya arsitektur yang merupakan perpaduan dari ketiga karya seni tersebut oleh seniman kerajaan Mughal pada saat itu dijadikan gaya arsitektur baru yang unik, kaya dalam bentuk, eskpresi, dan warnanya. Gaya perpaduan tersebut dikenal dengan gaya Shah Jahani. Wisata ke benteng ini seakan semakin lengkap dengan adanya dua gerbang utama, yaitu Lahore Gate dan Delhi Gate. Begitu pengunjung memasuki Lahore Gate yang merupakan gerbang utama, maka akan dijumpai Mina Bzaar yang dikenal dengan nama Chatta Chowk, yaitu sebuah pasar kecil serba ada. Kemudian terdapat pula Naubat Khana, yaitu ruang music yang memiliki empat lantai.
***
__ADS_1