Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 67


__ADS_3

Yasmin masih merasa kesal. Di kantor, ia tidak berbicara bahkan melihat sedikit saja wajah kakaknya. Saat meeting pun, ia hanya berbicara seperlunya saja. Para karyawan sudah hapal, jika ruangan meeting berubah sunyi dan menyeramkan ketika atasan mereka, Fahad dan adiknya bertengkar.


“Mereka berantem karena apa, ya?”


“Biasalah ... Pak Fahad, kan, suka marah sama hal yang sepele.”


“Iya, ya, Pak Fahad memang seperti itu.”


Bisik-bisik para karyawan seusai keluar dari ruang meeting.


***


Fahad melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan jam pulang karyawan. Ia menelpon Yasmin, namun panggilannya itu diabaikan oleh adiknya begitu saja. Melangkah keluar ruangan, Fahad melihat Alina yang bersiap akan pulang. Untuk kesekian kalinya, Fahad berpesan atau bahkan bisa dibilang memperingatkan Alina agar ia tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia sudah menikah.


Bukan Fahad ingin menutupi statusnya, ia hanya masih menunggu waktu yang tepat. Waktu dimana istrinya itu sudah merasa nyaman akan statusnya yang sekarang ini. Status sebagai istri dari seorang Fahad Malik Khan. Di perusahaan, selain Sahil, Fahad hanya memberitahukan pernikahannya kepada Alina. Tidak mungkin Fahad menyembunyikan alasannya yang sudah terlalu sering absen bekerja kepada Alina.


“Pak, maaf, sepertinya ini sudah yang ke 200, Bapak, mengatakan hal itu kepada saya. Kalau genap 300, apa saya bisa dapat hadiah, Pak? Tas atau jam tangan mewah, misalnya.”


Fahad tertawa kecil, “minta saja ke suamimu, aku hanya akan memberikan hadiah satu kotak manisan.”


Fahad pun pergi ke ruangan Yasmin, ia hendak mengatakan bahwa ia akan pulang terlambat. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Begitu ia membuka pintu, matanya tidak mendapati Yasmin di ruangan tersebut. Ia mengambil benda pilih di saku celananya, Fahad kembali menelpon nomor ponsel adiknya.


Lagi-lagi panggilannya tidak diterima. “Yasmin!” geram Fahad. Ia kembali ke ruang kerjanya, duduk di sofa dengan perasaan kesal. Kini Fahad mencoba menghubungi istrinya, menanyakan keberadaan Yasmin yang mungkin saja sudah di apartemen.


Ya. Benar saja, Yasmin baru saja sampai. Begitulah kata Nayla. Fahad lega, meskipun kesal, setidaknya ia sudah tau bahwa Yasmin sudah pulang dengan selamat.


Fahad pun melanjutkan pekerjaannya, ia sibuk dengan komputer lipat hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia bergegas untuk pulang. Jalanan ibukota India masih terlihat ramai. Meskipun begitu, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Istrinya selalu mengingatkan agar berhati-hati dalam berkendara.


Ingat, ada istri dan keluarga yang nunggu di rumah. Kalau nggak sayang sama nyawa sendiri, seenggaknya pikirin nyawa yang di rumah.


Begitulah kata Nayla. Fahad tersenyum sendiri ketika mengingat ucapan Nayla yang terdengar tegas, penuh ancaman, juga cinta tentunya.

__ADS_1


Semahir apapun seseorang ketika mengemudi, nasib dan takdir seseorang tidak ada yang tau kecuali sang pencipta. Bukan hanya diri sendiri yang berada dalam bahaya, melainkan juga orang lain selaku pengguna jalan.


***


Membuka pintu rumah dengan satu kunci yang ia bawa, Fahad melangkah masuk dengan perlahan. Lampu masih menyala, pun dengan suara televisi yang terdengar hingga ke ruang tamu. Kedua mata Fahad mendapati istri dan adiknya yang tengah tertidur di sofa panjang yang sekaligus bisa menjadi tempat tidur itu dengan nyenyaknya. Suara televisi sama sekali tidak mengamganggu tidur mereka.


Fahad mematikan televisi, ia menaruh jasnya ke punggung sofa lalu mengangkat tubuh istrinya ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu, ia kembali ke living room untuk memindahkan Yasmin ke kamarnya sendiri. Sesaat, Fahad berdecak kesal melihat meja yang berantakan dengan bungkus es krim, snack, dan juga piring bekas kue.


“Ini baru Yasmin, belum lagi kalau ada Yumna, ruangan ini bisa jadi pembuangan sampah akhir kalau mereka berdua ada di sini.” Fahad bergumam.


Fahad mengangkat tubuh Yasmin dengan berhati-hati, ia membawanya ke kamar. Namun sial, ia tak sengaja membenturkan kepala Yasmin ke tembok dengan sangat keras sebelum ia berhasil membuka pintu kamar.


Yasmin yang terkejut itupun sontak berteriak, mengaduh kesakitan. Fahad menurunkan Yasmin, ia menyentuh bagian kepala adiknya yang terbentur tadi. “Maaf, maaf.” Fahad berucap.


“Kakak!” seru Yasmin. Ia mendorong tubuh kakaknya, “ini kepala, bukan kelapa!” semburnya.


“Maaf, kakak nggak sengaja. Makanya diet, kamu itu berat.”


“Ruang tv berantakan gara-gara kamu, kakak mau bersihin, makanya kakak pindahin kamu ke kamar. Apa kamu mau sekalian kakak buang?”


“Kakak ipar!” Yasmin berteriak, belum sempat ia melanjutkan kalimat, Fahad sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan satu telapak tangan.


“Kakak ipar kamu udah tidur, Yasmin, dia capek, biarin dia istirahat.”


Fahad menurunkan tangannya, ia meminta maaf dan menyuruh Yasmin untuk melanjutkan tidurnya. Ia keluar, menutup pintu lalu beranjak pergi dari kamar Yasmin.


Fahad membersihkan meja living room, ia membuang semua sampah dan menaruh piring kotor di sink bowl. Setelah itu, iapun masuk ke kamar. Ia ingin segera membersihkan tubuh lalu menyusul istrinya tidur.


Fahad merasa lebih segar setelah mandi, ia naik ke tempat tidur lalu membetulkan selimut yang menutupi separuh tubuh Nayla. Membelai lembut puncak kepala sang istri lalu mencium keningnya. Wajah Nayla terlihat sangat lelah, Fahad melihatnya.


Semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri oleh istrinya. Fahad sudah menyarankan untuk mencarikan seseorang yang bisa membantu membersihkan rumah, namun istrinya itu menolak. Nayla beralasan, ia akan sangat bingung dan bosan jika pekerjaan rumah dikerjakan oleh jasa pembantu.

__ADS_1


***


Sudah berkali-kali Fahad membangunkan Nayla, sebab waktu ibadah salat subuh sudah hampir habis. Istrinya itu hanya menggeliat tanpa membuka matanya sedikitpun.


Ide usil Fahad pun muncul, ia membisikkan kepada Nayla bahwa Ammi datang mengunjungi mereka. Mendengar itu, Nayla segera bangun lalu turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Ia hendak keluar kamar, namun lututnya tidak sengaja menabrak meja dengan keras. Ia terjatuh, mengaduh kesakitan.


“Sayang.” Fahad mendekati Nayla dengan wajah yang khawatir. “Kaki kamu nggak apa, kan?” Fahad duduk di samping Nayla, melihat lutut istrinya yang memerah. Fahad memijat sembari meniupnya.


“Fahad, Ammi—”


“Ammi nggak ada,” tukas Fahad. “Ammi di Srinagar, Kashmir.”


“Kata kamu Ammi ada di sini.”


Mengangkat wajahnya, Fahad menatap wajah Nayla dengan seksama. “Ammi nggak ada, Sayang, aku bohong tadi.”


Mendengat penuturan suaminya, Nayla pun melayangkan sebuah pukulan ke lengan sang suami dengan keras. Ia menggerutu kesal. “Aku bercanda, Sayang, kenceng banget lagi mukulnya.” Fahad berhenti memijat lutut Nayla, kini ia meringis kesakitan merasakan pukulan dari sang istri.


“Nggak lucu bercandanya!” Nayla berseru.


Fahad mengangkat tubuh Nayla, ia mendudukkannya di tepi tempat tidur. Meminta maaf karena sudah keterlaluan, Fahad pun membenamkan tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Membelai lembut rambut terurai milik sang istri sembari mencium puncak kepalanya.


“Maaf, kamu susah banget dibangunin, waktu salat subuh udah hampir habis, Sayang.”


“Ya, kan, nggak perlu bilang kalau ada Ammi di sini. Aku panik, Fahad, aku nggak nyambut dan nggak nyiapin apapun buat Ammi.” Sesal Nayla. Ia benar-benar berpikir bahwa Ammi memang ada di New Delhi, dan betapa bodohnya jika ia sebagai menantu tidak menyambut mertuanya.


Merenggangkan pelukannya, Fahad merapikan sebagian rambut Nayla lalu menyelipkannya ke belakang telinga. “Iya, Sayang, maaf ... lain kali aku nggak gitu lagi.”


Nayla pun masuk ke kamar mandi, ia membersihkan tubuh lalu mengambil air wudhu untuk menunaikan salat subuh.


***

__ADS_1


__ADS_2