Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 1 S2


__ADS_3

Hai. Ketemu lagi, nih, sama Fahad dan Nayla.


Terima kasih buat kalian yang sudah dukung Fahad dan Nayla dari bab satu sampai bab terakhir di season satu. Sekarang, season dua sudah dimulai. Kalian bisa menikmati kisah mereka lagi. Juga, kalau mau ... kalau mau, loh, ini. Kalian bisa klik suka dan juga vote untuk Fahad dan Nayla. Dan buat Shazia tentunya. Saya nggak maksa. Tapi, kalau bisa sih ya divote dan klik suka. Haha. Untuk visual, saya nggak bisa kasih. Karena ini novel, jadi terserah kalian saja mau ngebayangin siapa yang jadi Nayla dan Fahad. Sekali lagi, terima kasih atas dukungan kalian untuk Fahad dan Nayla.


Oke. Happy reading guys ❤️


***


Ah, sangat bahagia sekali keluarga kecil itu. Kehadiran Shazia—putri kecil Fahad dan Nayla, mampu membuat cinta keduanya bertambah besar. Kini, keluarga kecil itu baru saja sampai di Indonesia. “Zia, gendong mama, ya?" tanya Nayla. Sejak turun dari pesawat, gadis berpipi gembul itu selalu ingin berada di gendongan papanya.


“Nggak mau!” seru Shazia sembari mempererat pelukannya pada Fahad.


“Papa capek, Jaanu. Gendong ma—”


“Nggak apa, Sayang,” tukas Fahad. “Aku bisa, kok, gendong Zia dan bawa koper ini. Aku juga bisa gendong kamu sekalian.” Kelakar Fahad yang berhasil membuat Nayla tersenyum simpul.


Nayla melipat stroller Shazia lalu menaruhnya di atas tumpukan koper yang berada di trolly. Kemudian, Nayla mengambil alih trolly tersebut dari tangan suaminya. “Aku saja yang dorong.” Nayla juga membawa satu tas punggung yang berisi perlengkapan kecil sang putri—berupa minyak kayu putih, bedak, beberapa popok dan juga baju ganti. Perjalanan yang cukup jauh membuat Nayla harus memisahkan kebutuhan penting putrinya itu dalam satu tas punggung berukuran sedang. Akan sangat kesulitan jika menaruh semua barang itu di dalam koper.


Nayla dan Fahad mengedarkan pandangannya, mencari Andi yang akan menjemput mereka. Tak lama, Andi yang baru keluar dari mobil itu memanggil nama kakaknya sembari melambaikan tangan. Seulas senyuman ia sematkan. Mempercepat langkah kakinya, memeluk tubuh Nayla dengan sangat erat. “Satu tahun, Mbak Nayla tambah sehat, ya.” Ujar Andi, ia mengurai pelukan.


“Maksud kamu gendut? Berat badan tetap 51 kg gini dibilang gendut!” Nayla berujar. Lebih tepatnya, ia tak terima jika ada yang menyebutnya gendut. Nayla selalu menjaga berat badannya. Buktinya, baju-bajunya yang dulu masih cukup muat ditubuhnya.


Fahad tertawa. Pria itu sudah cukup mengerti dengan bahasa Indonesia. Sebab, istrinya itu tetap saja menggunakan bahasa Indonesia ketika sedang marah kepadanya. Dari situ, Fahad lebih mudah belajar dan mengerti.


Andi beralih menyapa Fahad dan juga keponakannya. Si pipi gembul yang cantik dan menggemaskan. Shazia tidak merasa takut dengan Andi. Karena wajah omnya itu setiap hari selalu menyapanya lewat panggilan video. Shazia mengulurkan tangannya, hendak meminta gendong omnya. Andi juga ingin sekali menggendong Shazia, namun ia mengurungkan niatnya dan memilih memasukkan koper-koper yang dibawa Nayla kedalam bagasi. “Nanti di rumah, Zia, main sama om.” Andi mendaratkan ciuman di pipi kiri Shazia.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Shazia dipangku Nayla di kursi belakang. Matanya berbinar melihat lalu lalang kendaraan yang membelah jalanan ibukota. Rencananya, Nayla akan stay di Indonesia kurang lebih selama sebulan. Atau bahkan bisa lebih—jika Fahad memberinya izin untuk tinggal lebih lama. Fahad hanya seminggu berada di Indonesian, pekerjaannya tidak bisa ditinggal untuk waktu yang lama. Daur bukan lalu, Fahad disibukkan dengan nilai saham perusahaannya yang menurun. Semua itu berimbas dengan hasil produksi dan penjualan. Namun, beberapa hari lalu ... Fahad bisa kembali tersenyum lega. Perlahan, harga saham perusahaannya kembali naik. Fahad bersama Yasmin dan Sahil, berusaha tetap menjaga harga saham dan juga hasil produksi agar tetap stabil. Banyak keluarga yang bergantung pada perusahaannya.


Fahad tidak pernah ingin memecat karyawan, biarkan mereka yang mengundurkan diri dengan sendirinya. Jika seperti itu, berarti karyawannya sudah mendapat pekerjaan yang lebih bagus lagi. Fahad merasa bahagia jika karyawannya bisa satu tingkat lebih baik dalam pekerjaan. Ada satu dua karyawan yang mengundurkan diri, itupun bukan karena alasan gaji atau pekerjaan. Namun, karena harus kembali pulang ke kampung halaman untuk menemani dan mengurus orang tua yang sudah lanjut usia. Juga, karyawan perempuan yang mengundurkan diri karena pernikahan. Suami dan keluarga mertua mereka tidak mengizinkan untuk bekerja.

__ADS_1


Fahad sebenarnya menantang alasan yang satu itu. Menurutnya, setelah menikah, perempuan tidak masalah jika masih tetap ingin bekerja. Mereka bekerja untuk memenuhi keinginan diri sendiri. Jika ada lebih, itu bisa untuk membantu pemasukan keuangan keluarga bukan? Tapi, itu yang Fahad pikirkan. Tidak semua orang bisa mempunyai pemikiran sama sepertinya. Yang menasehati akan kalah dengan yang menjalani.


Mobil berhenti di halaman rumah. Nayla tersenyum, ia sangat merindukan rumahnya. Banyak kenangan yang berlarian di depan matanya. Kenangan saat ia kecil dulu bersama orangtuanya. Juga, kenangan menyebalkan yang penuh kasih sayang antara dirinya dan juga Andi.


“Mas Arif sama Mbak Indah nanti malam baru ke sini.” Andi berucap sembari menurunkan koper bersama Fahad. “Katanya, kalau ke sini sekarang ... yang ada kalian nggak bisa istirahat.” Imbuhnya.


“Iya. Besok-besok mbak juga mau ke rumah Mas Arif dan yang lain.”


***


Cuaca pagi ini sangat cerah. Shazia sedang bersama Andi di teras, keduanya bermain sembari menunggu sarapan yang masih disiapkan Nayla. Andi merasa emas dengan suara Shazia yang ia rasa sangat imut. Ucapan yang belum jelas sepenuhnya, ekspresi wajah yang selalu bersemangat saat menanyakan sesuatu—atau saat Andi menggoda. Shazia menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Di India, hampir semua orang, bahkan kebanyakan, bisa berbahasa Inggris. Akan lebih mudah jika Shazia mengerti bahasa Inggris. Untuk bahasa Hindi, Fahad dan Yasmin juga selalu mengajak berbicara menggunakan bahasa tersebut. Mereka tidak memaksa, seiring berjalannya waktu ... Shazia pasti bisa mengerti tiga bahasa yang selalu ia dengar setiap hari. Shazia lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, karena waktunya lebih banyak dihabiskan bersama sang ibu, Nayla.


“Ayo, sarapan.” Nayla memanggil Andi dan Shazia.


Andi berdiri, menggendong Shazia lalu mengajaknya masuk. Susah ada Fahad di sana. Duduk lesehan menjadi pilihan Nayla. Karena tidak ada kursi makan untuk Shazia, jadi akan lebih mudah jika makan lesehan. Nayla akan lebih mudah menyuapi anak putri. Dengan menaruh beberapa mainan di depannya, Shazia akan lebih tenang, dan Nayla bisa menyuapinya dengan mudah.


Andi menaruh cangkir kopi yang baru saja ia seruput sedikit. “Kirain tadi masak makanan India. Ternyata nasi goreng sama sayur kangkung.” Andi berujar. Ia mengambil satu centong nasi putih.


“Jangan!” seru Andi. Membuat Fahad dan Nayla tertawa bersama. “Nanti malam masak makanan biasa saja, Mbak. Jangan makanan India.” Andi tidak terlalu suka makanan India. Baginya, bumbu rempah itu terlalu menyengat di indera penciumannya. Membuat ia sedikit tidak berselera makan.


“Mbak sama Fahad juga jarang makan makanan India. Sesekali saja, kalau lagi pengin.” Nayla berujar.


Ada sedikit obrolan yang menemani sarapan mereka. Obrolan usaha yang didirikan Andi setelah lulus kuliah. Meksipun studio photonya terbilang baru, namun Andi sudah mempunyai kontrak dengan salah satu wedding organizer baru. Andi merintis semua itu dari bawah. Keterampilannya memotret, mengambil video serta mengedit video, membuat namanya diperhitungkan di dunia photography. Andi dibantu Reza—teman SMKnya dulu—untuk menangani semua tawaran yang datang kepadanya.


Nayla merasa bangga. Adiknya bisa mengatur keuangan hingga bisa mendirikan sebuah studio dengan hasil kerjanya sendiri. Setelah pulang dari India—saat Shazia baru lahir—Andi melamar pekerjaan part time di sebuah cafe. Dari situ, Andi menyisihkan sebagian gajinya. Andi sendiri yang mengatakan kepada Nayla.


“Kalau aku nggak gini, lulus kuliah aku bisa jadi pengangguran, Mbak. Jadi, daripada numpuk lamaran di sana sini, lebih baik aku bikin kerjaan sendiri. Alhamdulillah, Reza juga mau bantuin. Jadi nggak terlalu bosan kalau ada temannya.”


Studio photo itu memang tidak terlalu besar. Hanya ada satu ruang tamu, atau ruang kerjanya bersama Reza, studio di mana ia mengambil gambar dari seorang model, ruang ganti dan juga satu toilet. Apalagi, sekarang ini orang-orang lebih suka berfoto mengunakan konsep outdoor. Hal itu mengharuskan Andi dan Reza lebih banyak menghabiskan waktu diluar.

__ADS_1


Menyalakan mesin motor, Andi melambaikan tangan kepada Shazia. “Bye, Gembul. Nanti malam, om bawain boneka.”


***


Sepulang dari rumah Mas Arif dan Mbak Indah, Nayla dan Fahad menyempatkan diri bermain di taman. Tempat di mana Nayla dulu suka menghabiskan waktu seorang diri. Taman itu sedikit berubah, jauh lebih hijau dan fasilitas bermain untuk anak-anak pun juga semakin banyak. Di sisi lain, taman dibiarkan dengan rumput yang luas serta beberapa ada gazebo. Motor matic yang dikendarai Fahad dan Nayla berhenti di area parkir. Shazia mengedarkan pandangannya, menyapu setia sudut taman. Bukan hari weekend, taman tidak terlalu ramai. Nayla suka suasana sepi seperti itu. Sangat tenang.


Keduanya memilih mengajak Shazia untuk duduk di gazebo. Akan lebih mudah mengawasi sang putri bermain di tempat yang luas. Fahad menunjuk sebuah bangku tanpa menghentikan langkahnya. “Sayang, kamu ingat bangku itu, nggak?” tanyanya.


Nayla menoleh. Ia tersenyum, mengingat hal gila yang pernah ia lakukan di sana. “Iya, aku ingat.”


“Di sana dulu kamu nangis karena aku mau balik ke India,” kata Fahad. “Sekarang, mau nangis lagi nggak?” Fahad menggoda. Ia mengambil alih Shazia dari gendongan Nayla.


“Fahad!” protes Nayla. Bibirnya mencebik.


“Jangan gitu, Sayang, aku gemas sama kamu.” Fahad berujar. “Kalau gemas, kamu tau sendiri aku bisa lakuin apa aja.”


Memutar bola matanya jengah. Nayla berjalan mendahului suaminya. Bukan marah, namun merasa malu dengan apa yang sudah ia perbuat di bangku itu—berlari, menjauhi Fahad. Menangis dibawah guyuran hujan deras sembari mengungkapkan rasa cinta kepada Fahad. Ah, Nayla benar-benar malu jika mengingat semua itu.


Shazia berlari, bermain bersama papanya. Nayla memperhatikan putri dan juga suaminya dari gazebo. Helaan napas lega, rasa syukur yang selalu Nayla sematkan dalam sujudnya, dalam doa-doanya—setelah apa yang harus ia lalui dalam menjalani rumah tangganya bersama Fahad. Air mata itu sudah terbayar dengan senyuman dan tawa. Sama seperti keinginan Fahad. Nayla tidak merasa dendam pada keadaan, ia berlapang dada menerima semua rasa sakit itu. Semua sudah berlalu, Allah sudah memenuhi janji-NYA. Akan ada kebahagiaan dibalik tangisan itu.


“Mama ...” Shazia menghampiri Nayla. Merentangkan kedua tangannya saat Nayla mengulurkan tangan kepadanya. “Mama, pulang.” Ucapnya dengan suara yang kurang jelas. “Zia mau main sama om!” serunya sembari melonjak-lonjak dipangkuan mamanya.


Fahad datang, ia duduk disamping Nayla. Menyentuh lembut puncak kepala istrinya, seulas senyuman ia berikan untuk sang istri. “Kamu bahagia banget,” ucapnya.


Nayla mengangguk, tangannya sibuk membuka tutup air mineral botol untuk putrinya. “Iya, aku bahagia. Punya suami yang sedikit galak, punya anak yang pintarnya Masya Allah sekali.”


Fahad menarik hidung mungil Nayla. Kebiasaanya yang satu itu tidak pernah ia tinggalkan. Tangannya akan terasa gatal jika sehari saja tidak mencubit pipi atau menarik hidung istrinya. “Galak darimana, sih? Aku, kan, cinta ... makanya galak.” Tepatnya cemburu. Sifat itu tentu tidak bisa diubah. Fahad bersyukur, ada Nayla yang selalu mengingatkannya jika hati dan pikirannya dikuasai oleh rasa cemburu. Fahad sadar, ia akan sangat menyeramkan jika rasa cemburu itu datang.


Ingatannya tentang malam itu—karena rasa cemburu Fahad kepada Nayla dan juga Anand—yang jelas-jelas tidak terjadi apapun diantara istri dan karyawannya tersebut. Tubuh istrinya memang sakit, karena ia terlalu memaksa berhubungan badan. Namun, luka di hati Nayla jauh lebih lebar dan dalam. Air mata Nayla, Fahad masih bisa melihatnya dengan jelas. Penyesalan itu tetap ada di relung hati Fahad. “Maaf, aku sudah banyak menyakiti kamu. Malam itu, aku paksa kamu—”

__ADS_1


“Fahad,” menyentuh punggung tangan suaminya. “Sudah, ya. Jangan bahas tentang malam itu lagi. Sudah tiga tahun, tapi kamu masih saja bahas tentang malam itu. Aku baik-baik saja, kemarin ... besok, lusa, dan seterusnya, aku sudah memaafkan kamu. Jadi, sekarang giliran kamu. Kamu harus bisa memaafkan diri sendiri.”


 ***


__ADS_2