
Hari sabtu memang sedang ditunggu oleh Fahad. Ia akan memanfaatkan hari itu untuk menghabiskan waktu bersama istrinya. Seharian di apartemen pun tidak masalah bagi Fahad. Asal ia bisa tetap bersama Nayla.
Seusai menunaikan ibadah, Nayla pun bersiap sibuk di dapur. Memasak sarapan dan menyiapkan kopi untuk suami dan juga adik iparnya.
“Sayang, boleh minta tolong?” Fahad menghampiri Nayla yang berada di dapur.
“Iya, apa?”
Fahad meminta Nayla untuk memasak nasi goreng lengkap dengan ayam dan sayuran. Fahad merindukan masakan itu. Nayla awalnya ragu, takut jika Yasmin tidak menyukai nasi goreng. Namun, Fahad meyakinkan istrinya bahwa Yasmin pasti akan menyukai apapun yang dimasakkan oleh kakak iparnya.
Begitu sarapan yang diinginkan Fahad siap, Nayla pun memanggil adik iparnya. Pintu masih terkunci dengan rapat, Nayla tau ... adik iparnya sudah bangun. Namun, entah mengapa Yasmin belum keluar kamar sejak tadi pagi.
Setelah beberapa saat ia mengetuk pintu, Yasmin pun keluar sembari menyapa Nayla dengan ramah. “Kakak ipar, apa aku boleh sarapan di kamar aja?”
“Kenapa?” Masih berdiri di tempat yang sama, Yasmin mengatakan bahwa ia sedang malas melihat wajah kakaknya, Fahad.
Tidak. Itu tidak benar. Nayla membujuk Yasmin untuk sarapan bersama di meja makan. “Jangan buat kakak kamu nunggu, Yasmin, dia nggak mau makan sebelum kamu gabung di meja makan.”
Meskipun masih kesal, Yasmin pun menuruti ucapan Nayla. Ia berjalan ke ruang makan, duduk lalu meminum teh yang sudah disiapkan kakak iparnya.
Kali ini bukan Nayla yang mengambilkan nasi, melainkan Fahad yang sibuk menuang nasi di piring istri dan adiknya. “Ini namanya nasi goreng, kesukaan kakak. Kamu coba, ya?” ucap Fahad kepada Yasmin. Mengambil sesendok nasi, Fahad hendak menyukai Yasmin. Cukup lama sendok itu di depan mulut Yasmin, namun tidak sedikitpun bibirnya terbuka.
Bukan karena itu nasi goreng, tapi karena Fahad menyuapinya. Yasmin hendak menolak, namun isyarat mata dari kakak iparnya membuat ia membuka mulut dan menerima suapan dari kakaknya.
Fahad kembali meminta maaf atas kejadian semalam, di mana ia membenturkan kepala Yasmin ke tembok. “Maafin kakak, nanti siang kakak beliin es krim, mau?”
Mendengar kata es krim, wajah Yasmin yang semula murung itupun terlihat sumringah. Ia mengangguk antusias lalu memakan nasi goreng dengan lahap.
Fahad mengatakan kepada Nayla dan juga Yasmin, sebelum membeli es krim ... mereka akan ke butik terlebih dahulu, mencoba gaun yang akan Nayla kenakan di pemotretan nanti.
“Kok, mendadak?” tanya Nayla.
“Enggak, Sayang, desainernya udah ngabarin dari beberapa hari yang lalu. Tapi, aku yang lupa ngasih tau kamu.” Fahad memberi penjelasan.
__ADS_1
Nayla mengangguk, tanda ia mengerti. Seusai sarapan, Fahad bersantai di ruang tv sembari menunggu jam untuk pergi ke butik. Sementara Nayla dan Yasmin, keduanya tengah membersihkan meja makan lalu mencuci piring.
Yasmin sejak tadi tidak berhenti berbicara, ia mengeluhkan sikap Fahad di kantor kepada Nayla. Mulai dari Fahad yang suka marah dengan hal kecil, suka mengancam akan memecat salah satu karyawan, juga sikap dinginnya yang membuatnya menjadi bahan perbincangan di kalangan karyawati.
Nayla merasa heran, benarkah suaminya seperti itu? Sungguh sangat bertolak belakang dengan sikap Fahad yang ia ketahui. Suaminya itu tipe pria yang ramai, memang ... Fahad juga termasuk sosok yang tegas. Namun, apapun itu, Nayla tau bahwa Fahad mempunyai rasa kepedulian yang tinggi kepada siapapun.
“Kakak ipar, lain kali datang aja ke kantorihay gimana dingin dan galaknya Kak Fahad.” Yasmin berujar.
Nayla duduk di kursi meja makan, ia sudah selesai dengan pekerjaan dapurnya. “InsyaAllah, kapan-kapan.” Mendengar pernyataan Yasmin, Nayla sama sekali tidak tertarik untuk datang ke kantor. Apapun itu, Nayla tidak butuh dikenal oleh orang lain.
Sudah tentu, Nayla masih merasa takut akan status sosial mereka yang berbeda. Fahad menyayangi, melindunginya, dan bertanggungjawab saja sudah lebih cukup bagi Nayla.
***
Sedari tadi, saat mereka keluar dari apartemen, Yasmin tidak pernah melepas gandengan tangannya dari Nayla. “Kakak ipar, kita duduk di belakang, ya?” Yasmin hendak menarik tangan Nayla untuk duduk di kursi belakang, namun Fahad sudah lebih dulu menjentikkan jari tengahnya dengan keras, di keningnya. “Kakak!” protes Yasmin.
“Kamu kenapa, sih?” Nayla ikut memrotes, ia menyentuh kening Yasmin yang memerah.
“Dipikir aku ini sopir, apa?! Seenaknya nyuruh kakak ipar kamu duduk di belakang.” Fahad menarik pergelangan tangan Nayla, satu tangannya membuka pintu samping kursi kemudi untuk istrinya.
Fahad melajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena jalanan yang cukup ramai dan suara klakson terdengar dimana-mana membuat Nayla sedikit pusing dengan keadaan seperti itu. Entahlah, untuk yang satu itu, Nayla belum bisa menyesuaikan diri. Mungkin karena baru sebentar ia berada di India, jika sudah lama ... bisa jadi ia sudah terbiasa.
Sesampainya di butik, desainer segera menunjukkan hasil gaun yang Nayla dan Fahad pesan. Nayla pun masuk ke ruang ganti untuk mencobanya. Sembari menunggu istrinya, Fahad melihat koleksi gaun panjang sederhana yang terpajang rapi di sana. Tangannya mengambil salah satu gaun yang berwarna merah, gaunnya cukup tertutup, hanya saja di bagian punggung terbuka sedikit.
“Kak Fahad,” panggil Yasmin begitu kakak iparnya sudah keluar dari ruang ganti.
Fahad menoleh, ia mendapati istrinya yang melihat cantik. Tubuh mungilnya tertutup dengan sempurna, sungguh ... Fahad tak henti memandang sang istri penuh kekaguman. “MasyaAllah,” ucapnya sembari berjalan mendekat kepada Nayla. “Kamu cantik, cocok pakai gaun ini. Ada yang kurang, nggak? Yang bikin kamu nggak nyaman, mungkin.”
Nayla menggeleng, ia sudah merasa nyaman memakai gaun yang tidak terlalu membentuk lekuk tubuh itu. Pun saat gaun kedua yang ia coba, ia merasa puas dengan hasil gaunnya. Begitupun dengan Fahad, kurta dan jas yang ia coba juga sangat pas di tubuh, ia tak kalah puas, sama seperti Nayla.
“Kalau aku nikah nanti, aku mau bikin gaun kayak kakak ipar gini, ah. Sederhana, nggak terlalu ramai tapi tetap kelihatan elegan.” Yasmin berujar.
“Mau nikah sekarang?” tanya Fahad yang melepas jas yang baru saja ia coba.
__ADS_1
Yasmin menggeleng keras, “nggak mau, aku masih mau kerja. Kapan-kapan aja.”
Fahad mendekati Yasmin, tangannya mengacak-acak rambut panjang adiknya. “Lagian, udah mikirin gaun buat pernikahan. Kalau mau nikah sekarang, kakak bisa cariin calon suami buat kamu, kakak beliin gaun yang kamu mau.”
“Nggak mau, Kak!” protes Yasmin, tubuhnya berangsur mendekati Nayla, ia mengadukan apa yang sudah Fahad katakan. Kakak adik tersebut mengobrol dalam bahasa Hindi, sudah pasti kakak iparnya itu tidak mengerti.
“Eh! Kamu protesnya udah telat.” Fahad mengolok Nayla yang juga melayangkan protes kepadanya.
Nayla berdecak kesal, “kamu, ih!” bibirnya mengerucut, membuat Fahad sangat gemas.
“Jangan bikin gemes di tempat umum, Sayang.” Fahad mendekat, satu tangannya menyentuh pinggang Nayla.
“Fahad!” Nayla menjauh, ia menggandeng tangan Yasmin keluar butik setelah sebelumnya mereka berpamitan kepada Simran, pemilik sekaligus desainer butik tersebut.
Fahad menepati janjinya, ia mengajak istri dan adiknya ke sebuah mall untuk menikmati es krim. Sebenarnya tidak masalah jika menikmati es krim di kedai pinggir jalan, hanya saja, Fahad merasa tidak nyaman dan tidak suka jika istri mungilnya ditatap oleh banyak orang.
“Kak, aku sekalian beli sesuatu, ya?” tanya Yasmin kepada Fahad sembari menunggu es krim pesanan mereka datang.
“Beli apa?” Fahad bertanya.
“Tas sama sepatu, aku udah lama nggak beli.”
Tatapan tajam Fahad membuat Yasmin menciut, ia menunduk, tidak lagi mengatakan keinginannya untuk berbelanja. Tak lama, pesanan es krim mereka sudah datang, dua es krim dan satu kopi untuk Fahad.
“Kalau belanja jangan lama-lama, Yasmin. Nggak perlu muterin satu mall.”
Yasmin yang mendengar pun tersenyum senang, ia meminta kakak iparnya membantu memilihkan sepatu dan tas yang cocok untuknya dan Yumna.
“Eh, kok, nama Yumna juga dibawa?” tanya Fahad.
“Iyalah, Kak, masa aku nggak beliin Yumna. Dia pasti seneng banget dibeliin tas sama sepatu.”
“Perasaan, belinya pakai uang kakak, bukan uang kamu.” Fahad membela diri.
__ADS_1
Yasmin dan Nayla tertawa mendengarnya. Mereka segera menghabiskan es krim lalu beranjak pergi ke toko sepatu.
***