
Di perjalanan, tatapannya lurus ke depan. Nayla diam, ia tidak merespon apapun yang dibicarakan suaminya. Kata-kata ibu balita tadi masih terngiang jelas di telinganya.
Kenapa? Kenapa aku belum hamil lagi? Udah lama. Apa aku udah nggak bisa punya anak lagi? Nayla bertanya kepada dirinya sendiri.
Sesekali, Fahad menoleh ke arah Nayla, memperhatikan istrinya yang sejak pulang dari mall terlihat sangat murung. Candaan yang ia lontarkan tidak dibalas oleh Nayla. Sesampainya di parkiran apartemen, istrinya berjalan mendahuluinya. Fahad berusaha keras mengingat sesuatu, mungkin secara tidak sadar ia menyakiti hati Nayla. Tapi, tidak ... ia tidak berbuat sesuatu yang membuat istrinya itu marah ataupun kesal.
Yasmin membuka pintu setelah mendengar suara bel beberapa kali. “Kakak ipar?” panggilnya. Namun Nayla hanya tersenyum tanpa berkata sepatah katapun. Fahad dan Yasmin memandang Nayla yang masuk ke kamar. “Ada apa dengan kakak ipar?” tanya Yasmin kepada kakaknya.
Fahad mengedikkan bahu, “kakak juga bingung, tadi pas belanja dia baik-baik aja. Kita makan, habis itu ada balita yang ...,”
“Yang apa?” tanya Yasmin.
Fahad menyadari sesuatu, ia tau hal apa yang membuat istrinya itu murung. “Kakak tau, dia pasti sangat sedih.” Menyusul Nayla ke kamar tanpa mengatakan apapun pada Yasmin. Fahad menutup pintu dengan perlahan, ia menaruh belanjaan di sofa lalu menyusul Nayla di atas tempat tidur.
Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Nayla, matanya melihat sang istri yang tengah menangis. “Sini, aku tau kamu sedih karena apa.” Fahad menarik tubuh Nayla lalu mendekapnya dengar erat, ia berikan ciuman singkat di kening wanita yang semakin menangis itu. “Ucapan ibu tadi jangan terlalu dipikirin, Sayang, aku nggak—”
“Gimana kalau aku nggak bisa hamil lagi?” tukas Nayla, ia menarik tubuhnya ... lepas dari pelukan suaminya. Menatap kedua manik mata pria yang ia yakini sangat berharap seorang keturunan dari rahimnya.
Fahad menggeleng, tangannya menangkup kedua sisi wajah Nayla. “Nggak ada yang bilang kamu nggak bisa hamil lagi, Sayang. Yakin sama Allah, Allah pasti kasih kita anak.”
“Kalau ternyata aku tetap nggak hamil, gimana? Kamu ninggalin aku? Atau kamu—”
“Sayang.” Fahad kembali mendekap tubuh Nayla, menenggelamkan wajah sang istri ke dadanya. “Menukah itu ibadah, menikah itu untuk menambah keturunan. Kalaupun kita nggak punya anak, aku nggak bakal ninggalin kamu ... kamu tetap istri aku.” Fahad berujar pasti. Apapun keadaan Nayla, ia akan tetap berada di sampingnya, menggandeng tangannya dan selalu ada untuk Nayla.
Fahad mengurai pelukannya, ia melepas hijab yang masih menutupi kepala istrinya itu. “Sekarang salat, yuk? Habis itu tidur, besok jam sembilan pagi kamu harus berangkat ke Kashmir. Apa dibatalin aja? Berangkat nanti sama aku.”
Nayla menggeleng, “jangan, nanti Ammi gimana?”
Fahad menghapus sisa air mata Nayla, ia mencium kedua mata istrinya. “Jangan berpikir aku pergi, punya anak atau enggak ... kamu tetap istriku.”
__ADS_1
Menunaikan salat bersama, hati Nayla kini sudah tenang. Ia pasrahkan segalanya kepada sang pencipta. Sebagai manusia, ia akan tetap berusaha dan berdoa, Allah yang akan menentukan semuanya. Pun dengan rumah tangganya, ia pasrah. Bersama atau tidak, Allah tau mana yang terbaik.
Seusai salat, Nayla maish saja terlihat murung. Fahad memutar otak, ia mencari cara agar istrinya bisa kembali tersenyum, ataupun marah kepadanya. “Sayang, kamu tau nggak? Kalau dulu aku itu suka minum?” tanya Fahad, ia membaringkan tubuhnya di sisi kiri Nayla.
“Semua orang suka minum, Fahad. Kalau nggak minum bisa dehidrasi.”
Fahad berdecak kesal, bukan itu yang ia maksud. “Bukan itu, aku dulu pernah minum alkohol, loh. Kamu nggak tau kan?”
Sontak Nayla pun menoleh dengan tatapan horornya. “Kenapa kamu minum? Kok, nggak jujur sama aku?” cercanya.
“Nah, ini aku jujur, aku ngomong sama kamu. Sini, deketan, aku ceritain kenapa aku dulu suka minum alkohol.” Fahad menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Ia pun mulai bercerita sebab apa yang membuatnya menenggak minuman haram tersebut. Semua berawal setelah perceraiannya. Semua itu ia lakukan hanya untuk pelampiasan, Fahad benar-benar merasa frustasi. Kehilangan Aadil memang salah satu alasannya, tetapi yang semakin membuat ia hancur adalah rasa cintanya. Ya, rasa cinta yang tumbuh untuk mantan istrinya dulu, ibunya Aadil. Kecewa, karena istri yang ia cintai ternyata dengan mudahnya menghancurkan kepercayaan. Juga, mantan istrinya itu terlalu menyepelekan apa yang sudah terjadi.
“Kamu minum di mana?” tanya Nayla.
“Di Delhi, Sayang.”
Nayla kembali bertanya, sesering apakah suaminya itu pergi untuk minum alkohol. Fahad menjawab, seingatnya ... hanya dua atau tiga kali saja. “Habis itu, aku kenal kamu. Ya, udah aku tinggalin minuman itu.”
Fahad mengangguk, ia meyakinkan istrinya bahwa tidak akan menyentuh minuman haram itu lagi. Sudah cukup, ia tidak akan mengulangi dosa itu lagi.
“Awas aja kalau kamu minum lagi. Aku nggak mau—”
“Kalau ini mau, kan?” tangan Fahad mulai melepas kancing piyama Nayla, senyumnya penuh damba. “Besok kamu udah berangkat, jadi ...” Tidak butuh waktu lama lagi, Fahad mulai menuntut dan memberi. Malam yang dingin seolah mendukung kegiatan mereka. Sunyi, senyap, namun penuh gairah. Tubuh yang penuh peluh itu sudah bergelung dibawah selimut, Fahad membuat lengannya sebagai bantalan untuk Nayla. Matanya menyusuri wajah lelah sang istri yang selalu memberi—apapun yang ia perlukan dan ia minta. Mencium kening istrinya lama, Fahad ikut memejamkan matanya dan mulai berlayar ke pulau mimpi yang indah.
***
Duduk berdua di kursi tunggu, dengan tangan yang selalu menggenggam satu sama lain. Fahad seolah tidak tega membiarkan istrinya berangkat ke Srinagar seorang diri. Sejak pagi tadi, hatinya merasa sangat gelisah. Ia terus saja memandang wajah Nayla, bibirnya tak henti meyakinkan istrinya itu agar tidak takut jika bertemu Ammi. Ia berusaha akan segera menyusul secepat mungkin.
“Sayang, nanti kabarin aku kalau usah sampai. Yumna sama Paman Abdul yang jemput kamu di bandara. Kamu hati-hati, ya.” Fahad mencium punggung tangan Nayla.
__ADS_1
“Iya, kamu jangan telat makan, ya? Jangan marahin Yasmin terus.”
Fahad tertawa kecil, bukan inginnya untuk memarahi Yasmin. Namun, adiknya itu memang suka sekali dimarahi. Akan tetapi, bagaimanapun juga ... Fahad sangat menyayangi Yasmin. Itulah sebabnya ia selalu posesif dan memarahi adiknya jika pergi dan melakukan apapun tanpa sepengetahuannya.
Sudah saatnya Nayla masuk, ia mencium punggung tangan suaminya. Dengan cepat Fahad mendekap tubuh Nayla, sangat erat. Kegelisahannya seakan ingin memaksa membatalkan kepergian sang Nayla ke Srinagar.
“Udah, ah, mu dilihat orang.” Nayla berusaha melepas pelukan, namun Fahad justru semakin kuat memeluknya. “Fahad, aku cuma ke Srinagar, nggak kemana-mana.” Menepuk punggung suaminya.
Fahad pun mengurai pelukannya. Ia menarik hidung mungil Nayla dengan gemas. “Jangan bakal di sana, jangan keluar rumah sendirian, dan ... kabarin aku terus.”
Nayla mengiyani, ia takkan berani keluar rumah seorang diri. Juga, tunggu ... nakal? “Aku nakal gimana? Yang ada kamu, tuh, jangan nakal. Mentang-mentang istri lagi nggak ada, kamu bisa ngelakuin—”
“Ngomong sekali lagi, aku bungkam pakai mulut juga, loh!” ancam Fahad, ia sudah bersiap mendaratkan ciuman di bibir istrinya.
Melambaikan tangan, melempar sebuah senyuman, Fahad memperhatikan tubuh Nayla yang semakin jauh darinya. Ia berdoa, semoga Nayla merasa nyaman dan aman di sana. Kegelisahannya sangat membuat ia resah. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi pada istrinya. Fahad meraup kasar wajah dengan kedua tangannya, ia beranjak pergi dari bandara menuju kantornya. Memulai pekerjaannya lagi.
***
Udara dingin mulai menusuk tulang, Nayla keluar dari area bandara. Senyuman Yumna menyambutnya, adik iparnya itu melambaikan tangan dengan hebohnya. Terus saja meneriaki namanya, membuat beberapa orang menoleh ke arah dimana sumber suara tersebut berasal.
“Kakak ipar!” Yumna memeluk Nayla, “aku bisa peluk, Kakak ipar, aku bisa pamer sama Kak Yasmin.”
Selama di New Delhi, Yasmin memamerkan keseruannya bersama Nayla kepada Yumna. Membuat hati kecil Yumna cemburu. Namun, tak apa ... kini Nayla sudah bersama dirinya, sekarang ia yang akan memamerkan kebersamaanya bersama Nayla kepada Yasmin.
Paman Abdul membantu Nayla memasukkan koper ke bagasi, menyapa nona barunya tersebut lalu ia bukakan pintu mobil untuk istri dari Fahad tersebut.
Sampai di rumah, Nayla menginjakkan kaki untuk pertama kalinya sebagai seorang menantu. Jantungnya berdegup kencang, namun entah mengapa hatinya merasa sedikit hampa. Di teras, tidak ada Ammi yang menyambutnya dengan sebuah senyuman hangat seperti dulu. Nayla mencoba menyingkirkan berbagai pertanyaan aneh di benaknya.
Ammi mungkin lagi istirahat. Nayla meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
***