Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 30


__ADS_3

Shikara yang mereka tumpangi sudah menepi, Fahad dan Nayla pun turun lalu berjalan ke arah mobil. Keduanya masih saling diam. Nayla yang sudah duduk di dalam mobil itupun terus saja memandang ke luar jendela.


Fahad meminta maaf atas sikapnya tadi, dimana ia mendahulukan marahnya dan tak mempedulikan penjelasan Nayla.


“Kamu bisa nanya baik-baik, Fahad, semua pertanyaan kamu itu pakai marah, aku jawab gimanapun juga tetap salah di mata kamu.” Nayla menjawab dengan ketusnya.


“Maaf, Sayang. Aku nggak suka ada yang ngirim pesan sama kamu. Apalagi kalau sampai kamu balas pesan itu.”


“Tapi nyatanya aku nggak balas, kan?” seru Nayla. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, menghadap Fahad. “Alasan apa yang buat kamu nggak percaya sama aku? Kamu mau bawa handphone aku terus? Bawa aja! Aku nggak masalah nggak pakai handphone.”


Fahad menghela napasnya dengan panjang. Ia menyesali kecemburuannya yang berlebihan, juga ia yang menyingkirkan rasa percayanya pada Nayla begitu melihat pesan dari pria lain. Padahal, ia sudah tahu pasti bagaimana karakter dari Nayla.


Sejak pertama mengenalnya, kekasihnya itu sangat sulit untuk menaruh hati kepada pria yang mencoba mendekatinya. Ia sendiri sudah membuktikannya. Butuh perjuangan mendapatkan hati Nayla.


“Maaf, Sayang, seharusnya aku bisa lebih mengontrol rasa cemburu.” Fahad masih mencoba meminta maaf.


“Harusnya aku yang punya rasa cemburu yang berlebih sama kamu. Kamu kaya, berpendidikan, dan,” Nayla menjeda ucapannya.


“Dan apa?” tanya Fahad.


Nayla mendengkus kesal, “dan ganteng!” serunya.


Fahad terkekeh mendengar ucapan Nayla. “Aku bukan apa-apa tanpa kamu. Aku bakal lebih dan lebih kalau sama kamu.”


Nayla melengos, ia bergidik geli mendengar rayuan Fahad. “Udah, ah. Ayo pulang.”


Fahad mengangguk, ia menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan sedang.


***


Lima hari sudah Nayla berada di Kashmir, namun ia harus ikut bersama Fahad yang harus segera pergi ke New Delhi. Ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan oleh kekasihnya itu. Nayla tak tahu pasti, pekerjaan apa yang mengharuskan Fahad pergi ke New Delhi secara mendadak. Ia pun tak ingin bertanya karena itu memanglah belum menjadi haknya.


“Kakak ipar, mari kita mengambil foto bersama.” Yasmin menarik tangan Nayla untuk mengambil foto bersama dengan semua orang, termasuk Hannah dan Ibu Fatima.


Ammi mencium lalu memeluk Nayla dengan hangat, ia juga berpesan agar mereka segera menikah.

__ADS_1


Ammi, aku sama Fahad belum ada obrolan lagi soal itu.


Nayla membatin. Ia tersenyum dengan terpaksa. Melihat Fahad serta keluarganya—yang menurutnya—kaya, membuat ia tidak percaya diri. Ya, perbedaan status sosial itu semakin membuat Nayla takut untuk melangkah lebih jauh.


Seperti biasa, Fahad akan meninggalkan mobilnya di bandara. Sudah cukup satu mobil di rumah untuk mengantar Yasmin bekerja dan Yumna pergi kuliah. Paman Abdul yang bertugas mengantar mereka.


“Sayang, aku akan segera mengurus persyaratan untuk menikah, aku nggak mau nunda,” ucap Fahad setelah beberapa saat mereka duduk di kursi pesawat.


Nayla terkejut mendengar pernyataan Fahad. Matanya menelusuri wajah serta menyorot kedua manik mata Fahad—mencari keseriusan ataukah hanya candaan yang pria itu ucapkan. Nayla mendapati keseriusan dari Fahad. Logikanya ingin menolak, tapi hatinya ... entahlah, Nayla tak bisa menahan perasaan itu. Perasaan bahwa ia juga ingin menikah, menjadi istri dari seorang Fahad. Pria yang berhasil meraih hati dan juga cintanya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lima belas menit, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di Indira Gandhi internasional Airport New Delhi.


Sebuah taksi yang di pesan oleh Fahad sudah menjemput mereka. Keduanya kini tengah menempuh perjalanan menuju ke apartemen milik Fahad.


Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Nayla. Ingin ia menanyakan apa sebenarnya pekerjaan yang tengah di tekuni oleh kekasihnya itu—selain bisnis saffron keluarga Fahad.


Kini Nayla melangkah masuk ke sebuah apartemen minimalis namun tak meninggalkan kesan mewah pada desain di setiap sudut ruangan. Heran? Sudah pasti Nayla merasa heran. Takut? Ya, Nayla juga merasakan hal itu.


“Sayang, kamu tidur di kamar ini. Aku tidur di kamar sebelah.” Fahad mengajak Nayla masuk ke kamar yang baru saja ia tunjukan untuk kekasihnya itu berisitirahat selama mereka berada di New Delhi.


“Sekarang kamu istirahat dulu, nanti aku cerita semuanya.” Fahad memberi pengertian. Nayla mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang datar.


Setelah dirasa istirahatnya cukup, Nayla keluar kamar. Ia mencoba mengetuk pintu kamar Fahad dengan perlahan.


“Fahad,” panggil Nayla.


Tak lama, pintu itu terbuka dengan sempurna. “Iya. Kamu butuh sesuatu?” tanya Fahad yang dijawab gelengan kepala oleh Nayla.


“Aku mau tanya, kamu butuh sesuatu? Teh atau apa?” tanya Nayla. Fahad tersenyum sembari menyentuh lembut kepala kekasihnya tersebut. “Tapi aku nggak tahu di mana dapur dan semua bahannya,” imbuhnya.


Fahad pun mengajak Nayla menuju ke dapur, menunjukkan semua bahan serta segala peralatan yang mungkin Nayla butuhkan.


“Semuanya ada di kulkas,” kata Fahad. Ia duduk di kursi meja makan yang terhubung dengan dapur—masih berada dalam satu ruangan.

__ADS_1


Nayla membuka kulkas ... setelah melihat apa saja isi di dalamnya, ia mencebik kesal seraya melirik tajam ke arah Fahad. “Katanya semua ada,” dengkusnya. Menutup pintu kulkas lalu mengambil panci kecil yang tergantung di tembok—di sebelah sink bowl.


“Kulkasnya kosong, Fahad, cuma ada air mineral sama minuman soda.” Nayla menaruh panci yang sudah terisi air itu di atas kompor, lalu ia pun menyalakan api. “Kamu mau teh apa kopi?” tanya Nayla.


Fahaf terkekeh, ia baru ingat ... memang tidak ada apapun di kulkas miliknya. “Kopi aja, nanti kita belanja bahan yang kamu butuhin.”


***


Masih belum ada pembicaraan yang serius dari Fahad, tentang pekerjaan juga kehidupannya. Baiklah, Nayla sabar menunggu. Mungkin Fahad membutuhkan waktu untuk mengatakan semuanya kepada Nayla. Terlebih jika itu memang ada sangkut pautnya dengan kehidupan rumah tangga Fahad yang terdahulu.


Siang itu, Fahad mengajak Nayla untuk mencari makan siang. Mereka juga berencana pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang sekiranya dibutuhkan selama di apartemen, New Delhi.


Nayla sangat merindukan makanan Indonesia. Oleh sebab itu ia akan membeli sayur yang sekiranya akan ia masak menjadi masakan Indonesia.


“Aku nggak apa, ya? Masak masakan Indonesia? Aku kangen.” Nayla menatap Fahad dengan sorot mata yang penuh harapan.


“Wajahnya biasa aja, nggak usah di melas-melasin gitu,” kata Fahad yang tengah meniup kebab panas yang baru saja di antarkan oleh pelayan.


Nayla terkekeh, “selama di sini aku selalu makan makanan India. Aku juga kangen masakan negara aku.”


“Iya.” Fahad menyuapi Nayla kebab yang sebelumnya sudah ia tiup itu.. “Masak apa aja yang kamu mau. Besok aku harus pergi ke kantor, jadi kamu bisa ngapain aja sesuka kamu di apartemen. Biar kamu nggak bosan.”


Nayla menghentikan kunyahannya, ia menatap Fahad penuh tanda tanya. Besok? Ke kantor? jadi aku besok sendirian di apartemen?


Nayla berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, namun sayang ... Fahad bisa melihat itu semua. Wajah yang menyiratkan kebingungan akan semua yang memang belum sempat di jelaskan Fahad kepada kekasihnya itu.


“Iya, nanti malam aku cerita semuanya ke kamu. Buruan di makan, habis ini kita belanja.” Fahad kembali menyuapi Nayla.


Penjelasan. Nayla sangat membutuhkan penjelasan. Semua seperti sebuah kejutan yang entah seperti apa nanti akhirnya. Bahagia, ataukah sebaliknya.


Fahad mengerti apa yang sedang Nayla pikirkan. Ia memang tidak mengatakan semuanya kepada Nayla. Tentang pekerjaan dan lain sebagainya.


Bukan ia bermaksud membohongi Nayla, ia hanya tidak ingin ... gadis yang selama ini sangat sulit ia dapatkan, sangat sulit untuk menyentuh hatinya, berlalu pergi meninggalkannya begitu tahu status sosialnya, luar dan dalam.


Sudah bukan rahasia lagi jika Nayla sangat takut dengan perbedaan sosial di antara mereka. Oleh sebab itu, Fahad belum menceritakan semuanya. Ia takut jika Nayla akan menolak cintanya.

__ADS_1


Kini, setelah ia benar-benar berhasil mendapatkan cinta dan hati Nayla. Fahad akan menceritakan semuanya—tentang siapa dirinya, tanpa menutupi satu apapun dari calon istrinya itu. Nayla berhak untuk tahu.


***


__ADS_2