Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 39 S2


__ADS_3

Fahad menyusul Nayla, dia tidur di sampingnya. Melingkarkan satu tangannya ke perut sang istri. “Sayang. Aku nggak tahan kalau kamu seperti iini terus,” bisiknya.


Fahad diam sejenak, ia akan mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat Nayla lega dan tidak merasa tersakiti olehnya lagi. Meskipun akhirnya, dia juga akan terluka oleh keputusannya.


“Nayla. Aku sudah terlalu sering menyakiti kamu. Kamu benar, aku nggak bisa ngontrol emosi. Aku pasti marah lebih dulu sebelum denger penjelasan dan alasan. Apapun itu. Satu hal yang harus kamu tahu, aku selalu menghormati kamu. Ucapanku tadi pagi itu karena aku terlalu marah sama Yumna. Aku nggak sadar, aku berkata jujur, Nayla.” Fahad mengambil napas panjang. “Jadi, menutup matanya. “Sebelum kamu pergi ninggalin aku, aku yang akan pergi lebih dulu. Mungkin kalau seperti itu, kamu nggak akan merasa tersakiti lagi oleh sikapku.”


Seketika Nayla berbalik. Ia memukul pelan pipi Fahad. Suaminya itu pun membuka matanya sembari menyentuh satu sisi pipinya yang dipukul Nayla. “Terus saja ngomong seperti itu! Kamu nggak capek apa? Ngomong terus dari tadi,” kata Nayla.


Fahad tersenyum, dia kembali memeluk erat tubuh Nayla.


“Lepas!” seru Nayla.


Fahad menggeleng, dia menciumi puncak kepala sang istri. “Nggak mau. Aku nggak akan lepasin kamu.”


“Jangan diam seperti itu, aku bingung,” keluhnya kemudian.


“Makanya, jangan bikin kesel. Jangan bikin kecewa. Aku capek dengar permintaan maaf kamu.” Nayla berujar.


“Iya, aku salah.”


“Memang, kan!”


“Iya. Jadi, kamu nggak akan ninggalin aku, kan?” tanya Fahad serius.


Nayla mengangkat kepalanya agar matanya bisa menjangkau wajah sang suami. “Kamu kenapa mikir gitu terus, sih?” tanyanya.


“Kan, kamu sendiri yang bilang, kalau kamu akan pergi ninggalin aku kalau kamu merasa tersakiti dan aku nggak ngehargain kamu lagi. Aku sadar, aku sudah banyak nyakitin kamu. Tapi, aku nggak bisa kalau tanpa kamu dan Zia. Kebahagiaan aku cuma kalian.”


“Gombal banget, sih! Kayak anak umur dua puluh tahun aja.”


“Mana ada? Aku lebih cakep dan lebih sexy dari cowok umur dua puluh tahun,” ucap Fahad dengan percaya diri.


“Tapi, kamu serius?” tanyanya lagi.


“Apa?”


“Kamu serius, bakal ninggalin aku pergi ka—”


“Iya, memang!” tukas Nayla.


“Sayang!”


“Apa, sih? Sudah, ah. Aku mau tidur.”


“jangan pergi,” pinta Fahad tulus.


Nayla tersenyum, menyentuh lembut satu sisi wajah Suaminya. “Kamu juga. Kamu jangan pergi ninggalin aku sama Zia, aku nggak bisa tanpa kalian.”


“Berarti sebentar lagi harus ada Farhan, dong. Biar kamu tambah nggak bisa pergi." Fahad tersenyum penuh maksud.


“Nggak tau, ah.”


Fahad mencium bibir manis Nayla, mereguk manisnya cinta mereka berdua. Tangannya mulai kemana-mana. Namun Nayla segera memukul tangan itu.


“Stop! Libur dulu,” kata Nayla.


“Hah?” terkejut Fahad. Kedua bahunya merosot lemah begitu mendapati bahwa sang istri tengah kedatangan tamu bulanan.


“Kenapa harus sekarang, sih!” kesal Fahad.


“Ya, sudah. Ayo tidur,” Fahad memeluk Nayla, memejamkan matanya. Merasakan kehangatan diantara mereka berdua.


***


New Delhi


Fahad dan Nayla sudah kembali. Mereka hanya bertiga, sementara Yasmin masih berada di Kashmir. Fahad tengah berbaring di pangkuan Nayla yang duduk sofa. Mereka mengawasi Shazia yang bermain di atas karpet ruang keluarga.


Besok, Fahad sudah harus kembali bekerja. Banyak pekerjaan yang tertunda karena kesibukannya di Kashmir. Pertunangan Yasmin, mengurus bisnis saffronnya juga. Fahad seakan tak memiliki waktu untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


Namun, sesibuk apapun itu, Fahad akan selalu berusaha pulang tepat waktu. Makan malam di rumah adalah salah satu quality time yang tak boleh dia lewatkan sekalipun.


“Fahad.’ Nayla membelai rambut suaminya.


Fahad yang tadinya miring dan mengawasi Shazia itupun mendongak, menatap wajah Nayla yang juga menatapnya. “Apa?” tanyanya kemudian.


“Ya, sudah,” kata Nayla. Matanya kembali fokus menonton televisi.


“Ada apa?” Fahad mencubit hidung mungil Nayla.


Nayla meringis kesakitan. Dia menyentuh pangkal hidungnya. “Aku cuma pengin manggil doang, kok. Nggak boleh?” bibir Nayla mencebik, ia masih kesal karena cubitan Fahad yang terasa sakit di hidungnya.


“Boleh. Tapi, coba sini. Aku lihat mata kamu.”


Nayla diam, dia tau apa maksud Fahad.


“Sini!” perintah Fahad lagi.


“Nggak mau!” tolak Nayla.


“Kamu ini!” satu tangan Fahad meraih tengkuk Nayla, membuat istrinya itu menunduk. Mencium bibir manis Nayla dengan lembut. Nayla lebih dulu mengakhiri ciuman itu dengan memukul lengan suaminya.


“Kebiasaan! Ada Zia, Fahad!” Nayla memrotes.


Fahad menepiskan senyum jenakanya, dia memandang Nayla lalu Shazia yang masih sibuk bermain dengan bonekanya. “Cuma cium doang. Masa nggak boleh, sih?”


Nayla menjawab, “Boleh. Tapi, lihat tempat dong.”


“Ya, sudah. Ayo ke kamar!” ajak Fahad.


“Fahad, belum boleh!” seru Nayla. “Iya iya, tau. Belum boleh. Istriku ini, bikin gemes terus.”


Sejauh ini, rumah tangga Fahad dan Nayla berjalan dengan baik. Salah paham dan beberapa pertengkaran kecil selalu mampu mereka selesaikan bersama. Fahad bertekad akan lebih mengontrol emosinya. Jika boleh jujur, Nayla tidak bisa percaya sepenuhnya bahwa Fahad akan merubah sifatnya itu. Itu sifat, tidak akan bisa dirubah. Tidak bisa berubah, tapi setidaknya bisa mengontrol sedikit emosinya.


 ***


Usia Shazia kini sudah menginjak empat tahun. Putri semata wayang Fahad dan Nayla itu tumbuh menjadi anak yang pintar. Dia sangat menggemaskan bagi siapapun yang melihatnya. Siang itu, dia tengah berada dalam perjalanan bersama mamanya—Nayla.


“Ma, Zia mau telpon Om Andi,” pinta gadis berambut lurus itu.


Nayla menoleh sebentar lalu kembali fokus pada kemudinya. “Nanti kalau kita sudah sampai rumah, Zia. Ini masih di jalan, nggak boleh telponan,” ujar Nayla.


Shazia bersedikap sembari mengerucutkan bibirnya.


Nayla menyentuh lembut puncak kepala putrinya. “Zia, jangan cemberut gitu. Kamu mirip banget sama papa loh kalau seperti gitu.”


“No! Zia nggak mirip lapa. Zia mirip, Mama. Cantik!” serunya.


“Kalau mirip, mama, nggak boleh cemberut gitu, dong. Senyum dulu, nanti kalau nggak senyum kamu—”


“Aku bakal tumbuh jenggotnya seperti papa, gitu?” tukas Shazia.


Nayla tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


Ya, Shazia akan sangat kesal jika ada yang mengatakan bahwa dia mirip dengan papanya—Fahad. Sebab, dia tidak mempunyai buku halus di wajah. Dia cantik seperti mamanya—Nayla.


“Kita cari kado dulu buat papa. Habis itu, kita langsung ke kantor. Oke?” Nayla mengacungkan jempolnya pada sang putri..


“Oke, Ma!” teriak Shazia dengan riang.


Nayla melepas sabuk pengaman putrinya. Segera mereka masuk ke dalam mall untuk mencari kado ulang tahun untuk Fahad. Suami dan papa terbaik untuk mereka.


Nayla memilih membelikan jam tangan untuk suaminya. Nayla ingin, Fahad selalu mengingat waktu. Waktu untuk keluarga tentunya. Semetara Shazia, dia meminta untuk membeli sebuah kaca mata untuk papanya.


Nayla menuruti keinginan putrinya itu. Sesudah membeli kado, Nayla tidak membeli kue. Dia sudah membuatkannya dari rumah. Kue tart coklat berukuran sedang dengan topping buah strawberry dan Cherry itu terlihat sangat cantik serta menggunggah selera.


Nayla melajukan mobilnya menuju kantor Fahad. Sejak semalam dia memang sengaja tidak memberi kejutan ulang tahun untuk suaminya. Namun, sepertinya suaminya itu juga lupa hari ulang tahunnya sendiri. Sejak pagi tadi, Afsal bersikap biasa saja. Dia tidak marah atau menyindir tentang hari ulang tahunya.


Nayla menyerahkan kunci mobil kepada security lalu naik lift untuk menuju lantai empat di mana ruangan Fahad berada. Dengan satu tangan membawa kotak kue dan satu lagi membawa hadiah. Nayla dan Shazia berjalan keluar lift menuju ruangan Fahad.

__ADS_1


“Selamat siang, Bu,” sapa para karyawan.


“Siang,” balas Nayla lembut sembari menepiskan senyumnya. Shazia? Jangan ditanya lagi. Gadis kecil dengan rambut yang di kepang oleh Nayla itu melambaikan tangan serta menepiskan senyumnya pada siapapun yang menyapanya. Sikap ramahnya menurun dari Nayla.


“Hai, Shazia,” sapa Anand.


“Hai, Om!” sapa balik Shazia. Dia tetap berjalan di belakang mamanya.


Nayla tidak melihat Alina di meja kerjanya, Dia pun memutuskan untuk langsung masuk ke ruang kerja suaminya.


Tangannya mengetuk pintu tiga kali, membuka, dan,“Fa—”


Nayla mematung, terkejut melihat suaminya yang tengah berdekatan dengan wanita yang memakai saree sexy. Posisi Fahad yang duduk di kursi kerjanya serta wanita itu yang menundukkan separuh tubuhnya di samping sang suami, membuat pikiran Nayla berkecamuk hebat. Segala macam pikiran buruk muncul di kepalanya. Terlebih, saree wanita itu menampakan sedikit dadanya yang menyembul serta bagian punggung yang terbuka. Nayla tidak mengenal wanita itu. Dia baru melihatnya hari ini.


Fahad yang melihat Nayla datang, segera beranjak lalu menghampiri sang istri. Dia tau, Nayla sedang terkejut mendapati dirinya bersama wanita lain.


“Papa!” teriak Shazia. Fahad merentangkan kedua tangannya, memeluk lalu menggendong putri cantiknya itu.


“Priya, taruh saja berkasnya di meja. Nanti aku akan mempelajarinya dulu. Kamu bisa keluar sekarang!” perintah Fahad dan Priya pun mengiyaninya.


Nayla menggeser tubuhnya begitu Priya berjalan keluar.


“Sayang.” Fahad meraih pinggang sang istri.


“Hemm?” sahut Nayla. Dia menatap sang suami penuh kebingungan.


“Kamu nggak bilang kalau mau ke kantor, tau gitu kan aku—”


“Tahu gitu kamu pasti nyuruh dia sembunyi, kan?” tukas Nayla.


Fahad menautkan kedua alisnya. Bagaimana bisa istrinya ini mempunyai pikiran seperti itu. Nayla menaruh kue dan kado di meja sofa tamu ruang kerja Fahad. Dua duduk, diikuti Fahaf yang memangku Shazia.


“Kamu ngomong apa, sih?” bingung Fahad.


“Nah, itu tadi apa? Kamu masih mau ngelak?”


Ya Allah ... Istrinya ini sedang cemburu. Wajar saja, Fahad bisa memahaminya. Melihat sang suami sedang berduaan dengan wanita lain pasti akan menimbulkan rasa cemburu dan curiga. Perbedaan cemburu dan curiga itu sangatlah tipis.


“Sayang, dia itu sekertaris baru—”


“Jadi, Alina sudah nggak kerja sama kamu? Dia yang gantiin posisi Alina?” tukas Nayla yang sudah tak sabar.


“Zia. Zia main ke tempat Om Sahil dulu, ya?” Tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh putrinya. Fahad pun mengantarkan putrinya itu ke ruang kerja Sahil yang berada di sebelah ruang kerjanya.


Fahad kembali, menutup pintu rapat-rapat. Kembali duduk di samping Nayla yang tengah menyandarkan separuh tubuhnya pada sofa.


“Sayang.”


“Sayang.” Fahad lebih mendekatkan tubuhnya pada Nayla.


“Ck!” Nayla menyentak lengannya yang di sentuh oleh Fahad.


“Dengar dulu,” kata Fahad.


“Kamu tuh, ya! Karena semalem aku nggak ngasih kejutan ulang tahun, sekarang kamu mau balas dendam gitu sama aku? Jahat banget kamu!” seru Nayla.


Fahad semakin menautkan kedua alisnya dalam-dalam. Namun, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


“Ngapain kamu senyum seperti itu? Ini nggak lucu, Fahad,, kamu sudah ketahuan!”


“Sayang, kamu ini kenapa? Datang-datang malah marah. Kamu nggak mau dengar penjelasan aku dulu?”


Nayla menggeleng keras. Deraian air mata sudah tak sanggup dia bendung. Meluncurlah cairan bening itu membasahi pipinya.


“Sayang—”


“Memang, ya! Kamu pasti suka sama wanita sexy, yang dada dan punggungnya terbuka lebar. Aku tahu, Fahad, aku ini nggak cantik, aku nggak sexy, tapi setidaknya kamu jangan buat aku kehilangan rasa cinta aku ke kamu. Bilang kalau kamu mau sudah—”


Fahad membungkam bibir Nayla dengan sebuah ciuman lembut.

__ADS_1


 


***


__ADS_2