Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 87


__ADS_3

Nayla berdiri di balik jendela kamar, ia memandang keindahan Srinagar saat malam hari. Baru satu hari, tapi ia sudah harus mengalami keadaan yang sungguh diluar dugaannya. Nayla meyakinkan dirinya, suatu saat ... Bibi Farida pasti akan berubah, seiring berjalannya waktu, bibi akan mengenalnya lebih baik lagi. Pun, dengan Ammi, bagaimanapun juga Ammi adalah satu-satunya orang tua yang ia miliki sekarang. Sebisa mungkin ia akan menuruti apapun yang Ammi ucapkan selama ia sanggup. Tetapi, tuduhan dari ibu mertuanya tentang ia yang merebut Fahad itu tidaklah benar. Ia tidak ingin melakukan itu, tidak ingin dan juga tidak akan pernah.


Suara dering ponsel terdengar, nama Fahad tertera di sana. Nayla segera menerima sambungan telepon itu. Suaminya itu terdengar sedikit marah, karena sejak sore tadi Nayla mengabaikan semua pesan dan panggilan darinya.


“Bukan gitu, Fahad, handphoneku tadi ada di kamar dan aku ada dibawah sama Hannah.” Nayla menjelaskan. Ia meminta maaf sebab sudah membuat suaminya itu khawatir.


Aku juga minta maaf, aku udah marahin kamu. Besok-besok, handphonenya jangan ditinggal di kamar, dibawa terus, Sayang, biar aku nggak khawatir.


Nayla mengiyani, ia akan selalu membawa ponselnya kemanapun dan dimanapun ia pergi. “Kalau ke kamar mandi aku nggak bawa, loh!” kata Nayla.


Di seberang, Fahad tertawa mendengarnya. Ah ... ia sungguh merindukan istrinya. Ingin sekali ia menggigit pipi dan juga menarik hidungnya dengan gemas. Kursi pekerjaan masih menahannya untuk sementara waktu, Fahad berujar dalam hati ... begitu ia bertemu dengan istrinya lagi, ia akan mendekap lalu menggigit pipi Nayla itu dengan sangat keras. Sehingga istrinya akan marah lalu melayangkan pukulan di dadanya.


Panggilan lain masuk ke ponsel Nayla, Andi ... adiknya menelpon. “Fahad, Andi telpon. Boleh aku angkat?” tanyanya dengan lembut.


Fahad mengiyani, memang sudah cukup lama ia dan Nayla saling bertukar suara. Fahad kembali mengingatkan agar istrinya itu selalu membawa ponselnya kemanapun.


Menyudahi, kini Nayla menelpon adiknya. Tidak butuh waktu lama, Andi langsung menerima panggilannya. Suara Andi terdengar sedikit berubah, Nayla sudah bisa menangkap bahwa adiknya itu sedang tidak enak badan. Tadi, ia yang dimarahi oleh Fahad. Sekarang, ia yang memarahi adiknya.


“Kamu pindah ke rumah Mas Arif aja, Andi, kalau di rumah sendiri kamu pasti nggak jaga pola makan, tidur malem terus.”


Andi menyangkalnya. Untuk urusan makan, ia tidak pernah terlambat sedikitpun. Tapi, untuk tidur malam ... ia mengakuinya. Tapi, nggak terlalu malem juga, Mbak. Paling malem juga jam satu. Andi membela diri.


Nayla memarahi Andi lagi, jam satu sudah masuk waktu pagi, bukan malam. Belum lagi adiknya itu harus pergi kuliah pagi. Rasanya Nayla ingin sekali memukul adiknya tersebut. “Kamu nggak usah kerja, ah! Jadi sakit gini kamunya.”


Uluhh, uluhh, Mbak Nayla khawatir sama Andi. Gemoynya ....


Nayla tertawa mendengarnya, beban hatinya tentang perubahan sikap Ammi sedikit terlupakan setelah suami dan adiknya menelpon. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu India. Sebelum mengakhiri panggilan, Nayla kembali berpesan kepada Andi agar selalu menjaga kesehatannya. Jarak yang membentang diantara mereka kini cukup jauh, Nayla tidak bisa datang hanya dengan berjalan kaki.

__ADS_1


Mbak, juga, ya. Jangan lupa jaga kesehatan. Baik-baik di rumah mertua, kalau mertuanya jahat ... bilang sama Andi, nanti Andi labrak dia.


“Iya, mertua mbak baik, kok. Baik banget.” Nayla berkata jujur. Ammi memang baik, tapi entah mengapa hari ini mertuanya itu mengatakan hal yang membuatnya bingung. Tapi tidak, ia tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Cukup Allah yang tau.


***


Nayla membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya menggeliat merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Nayla segera beranjak duduk, ia hendak pergi ke kamar mandi, namun suara dering ponsel mengurungkan niatnya itu. Fahad memanggilnya, panggilan video. Dengan senyum sumringah Nayla segera menerima panggilan tersebut.


MasyaAllah, bangun tidur aja istriku masih tetap cantik. Rambutnya pakai digerai segala lagi, jadi pengen ngejambak.


Nayla tertawa kecil, ia menggeleng perlahan mendengar ucapan suaminya. “Kamu beneran mau ngejambak? Jahatnya ...”


*Ja*mbaknya pas malem aja, habis itu kita perang, deh. Fahad menyunggingkan senyumnya. Tak ingin menahan istrinya lebih lama agar Nayla bisa segera menunaikan ibadah salat subuh, Fahad mengakhiri panggilannya. Ia mengatakan akan menelpon siang hari nanti.


Sama seperti kemarin, Nayla memilih membantu Hannah dan Ibu Fatimah di dapur. Diluar terlihat salju sedang turun cukup lebat, Hannah mengatakan bahwa kuliah Yumna diliburkan. Entah sampai kapan hujan salju itu akan berhenti.


“Nona, lebih baik di kamar saja, di sini sangat dingin.” Hannah berujar.


Disela-sela kesibukan mereka memasak, Nayla, Hannah dan Ibu Fatimah saling bertukar adat serta tradisi India—Indonesia. Mereka bertiga terlihat sangat akrab. Hannah dan Ibu Fatimah menyukai kepribadian Nayla yang ramah dan mau menerima apapun yang ia dengar serta ia lihat. Tidak membandingkan kebiasaan orang India dan Indonesia, karena setiap orang dan disetiap negara pastilah mempunyai kelebihan dan kekurangan.


Yumna menyusul Nayla ke dapur, sebelumnya ia sudah datang ke kamar kakak iparnya tersebut untuk mengajaknya turun bersama. Namun, ternyata ia terlambat, kakak iparnya sudah turun lebih dulu dan sudah sejak tadi. Menu sarapan sudah matang, Nayla membantu Hannah menata meja makan.


“Yumna, bisa tolong panggil bibi? Aku mau panggil Ammi.”


Yumna mengangguk, mengiyani perintah kakak iparnya. Padahal sebenarnya ia sangat malas memanggil Bibi Farida. Ucapan bibinya kepada Nayla masih membekas di hati Yumna, ia masih tidak terima.


Nayla mengetuk pintu, ia memanggil ibu mertuanya, mengatakan bahwa sarapan sudah siap. Pintu kamar Ammi terbuka, ibu mertuanya itu tersenyum kepadanya.

__ADS_1


“Kamu udah bisa masak makanan Kashmir?” tanya Ammi sembari mengajak Nayla berjalan bersama menuju meja makan.


“Belum, Ammi, Nayla masih belajar sama Hannah dan Ibu Fatimah.”


Ammi mengangguk, ia menyentuh lembut punggung tangan menantunya. “Kamu pasti bisa cepat belajar, Ammi tau itu.”


Nayla memperhatikan wajah Ammi, ibu mertuanya sangat baik. Nayla tau itu. Membantu Ammi duduk di kursi utama, Nayla menuangkan teh hangat untuk ibu mertuanya. Bibi Farida datang, ia duduk di kursi samping kanan Ammi. Sama seperti kemarin, ia mengambil alih teko dari tangan Nayla. Belajar dari apa yang sudah ia terima kemarin, Nayla berusaha tidak menanggapi sikap Bibi Farida secara berarti—agar hatinya juga tidak merasa sakit. Sakit atau tidak, Nayla sendiri yang bisa memutuskan. Dan Nayla memutuskan untuk tidak sakit hati.


Nayla menyuguhkan segelas susu untuk Yumna, namun adik iparnya itu mengatakan sedang tidak ingin meminum susu. “Sekarang minum susu dulu, ya, minum tehnya nanti sore aja sama kakak.” Nayla tetap memberikan susu tersebut untuk Yumna.


Yumna menerimanya sembari menepiskan senyumnya, “terima kasih, Kak.”


Bibi Farida melirik sinis kepada Nayla. “Sudah berani memerintah. Yumna mau minum teh, kenapa kamu ngelarang dia?!” ujarnya dengan penuh penekanan.


Nayla kembali dibuat terkejut akan sikap dan juga ucapan Bibi Farida. Ia berusaha setenang mungkin, namun sorot matanya tidak bisa membohongi Yumna. Adik iparnya itu sangat mengerti.


“Bibi, jangan bicara gitu. Dia kakak iparku, dia berhak ngatur apa yang boleh dan nggak boleh aku minum. Kenapa, Bibi, yang—”


“Lihat, Kak, putrimu berani melawan orang yang lebih tua. Semua ini karena wanita ini!” matanya menyorot tajam kepada Nayla.


“Bibi—”


“Yumna!” tukas Ammi.


“Ammi, tapi bibi keterlaluan, dia—”


“Yumna!” Ammi kembali bersuara. Ia memerintahkan semua orang untuk diam dan menikmati sarapan dengan tenang. Ia menyuruh Nayla untuk duduk dan sarapan bersama.

__ADS_1


Masakan Hannah yang lezat itu terasa hambar di lidah Nayla. Jangankan menelan, untuk mengunyah saja rasanya ia tidak sanggup. Lidahnya terasa kelu. Nayla ingin beranjak pergi dan masuk ke kamar, namun ia tidak mungkin melakukan itu. Akan sangat tidak sopan jika meninggalkan meja makan sementara ada Ammi dan Bibi Farida di sana.


***


__ADS_2