Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 55


__ADS_3

Fahad bangun lebih awal, ia berniat membuatkan sarapan untuk Nayla. Omellete, hanya itu yang bisa ia buat dengan mudah dan cepat. Setelah perbincangan semalam, dimana Andi berhasil meyakinkan Nayla untuk ikut ke India ... suasana hatinya sungguh bahagia.


Ia sudah memesan tiket. Awalnya, ia akan memesan tiga karena—satu tiket ia maksudnya untuk Andi. Ia ingin Andi juga berada di India untuk beberapa waktu. Dengan alasan ia tidak bisa meninggalkan kuliahnya, Andi menolak ajakan Fahad.


Andi ingin Nayla dan Fahad mempunyai waktu yang lebih untuk berdua saja. Juga agar ia dan Nayla bisa saling terbiasa berjauhan. Semalam, saat ia sudah masuk ke kamar ... ia memandangi foto Nayla yang terdapat di galeri ponselnya. Air matanya memaksa untuk menetes, ia berusaha menghibur diri sendiri dengan senyuman. Namun rasa sakit mengetahui ia akan jauh dari kakaknya, membuat ia tak mampu menahannnya.


Saat menyiapkan sarapan, Fahad masih berusaha untuk membujuk Andi. Cuti kuliah tidak akan menjadi masalah, atau lebih baik jika Andi pindah kuliah ke India. Fahad menyarankan itu. Sekali lagi, Andi menolak itu. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin mengatakan iya.


“Aku nggak bisa maksa kamu lagi, Andi. Tapi kalau suatu saat kamu kangen Nayla dan pengin ketemu, bilang aja, ya? Kalian pasti segera ketemu.”


Andi mengangguk, mengiyani ucapan Fahad.


***


Ada perdebatan kecil yang terjadi setelah selesai sarapan. Dan Andi, ia memilih berpamitan lebih awal ke kampus karena tidak ingin melihat perdebatan yang akan ikut merusak suasana hatinya di pagi hari.


“Ke pasar?! Aku nggak mau!” tolak Fahad.


“Kita lusa berangkat ke India, loh. Jadi aku mau—”


“Kamu mau beli apa ke pasar? Sayur juga bisa beli di tukang sayur yang tiap hari lewat sini,” tukas Fahad.


“Iya, tahu. Tapi aku mau beli sesuatu, bukan sayur.” Nayla memohon dengan sorot mata sendunya.


Mendesah kesal, Fahad tak mampu untuk menolak. Malu. Sebab ia tidak pernah masuk ke sebuah pasar. Di India memang sudah menjadi hal yang umum atau wajar jika seorang pria pergi ke pasar untuk berbelanja, namun Fahad tidak pernah pergi ke pasar. Sebab ada asisten rumah tangga di rumahnya.


“Sebentar, ya? Jangan lama-lama di pasar. Aku nggak mau jadi tontonan.” Fahad memeringatkan, dan Nayla mengiyaninya.


Keduanya sempat berdebat karena masalah sepatu. Nayla ingin Fahad memakai sandal santai, namun suaminya itu tetap bersikukuh memakai sepatu karena tidak ingin kakinya kotor. Nayla pun kalah berdebat masalah sepatu.


“Ke pasar doang masa pakai sepatu? Di kira pergi ke mall apa?!” gerutu Nayla.


“Istriku ini benar-benar, ya.” Fahad mendengar. Ia melepas sepatu lalu menggantinya dengan sandal santai.


Selesai dengan sandal. Keduanya kembali berdebat tentang mobil. “Kita pakai motor matic aja, jangan mobil.” Nayla memaksa.


Menutup kembali pintu mobil, Fahad menatap Nayla dengan tajam. “Kamu benar-benar mau ngajak ribut? Kalau iya, ayo kita ribut di kamar aja. Nggak usah ke pasar.” Meraih pergelangan tangan Nayla, hendak kemudian masuk ke rumah.


“Eh, kamu lupa? Aku belum—”


“Shit!” Fahad menghentikan langkah kakinya. Ia lupa, Nayla belum benar-benar selesai nifas. Entah kenapa istrinya itu tak kunjung selesai. Padahal, untuk janin yang masih muda, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk nifas. Tidak seperti janin yang sudah terbentuk dengan sempurna—yang sudah pasti masa nifasnya sama dengan wanita yang baru saja melahirkan.


Mungkin karena Nayla terlalu syok atau, entahlah. Kata dokter, itu tidak masalah jika—tidak ada keluhan yang serius.


“Maaf,” kata Fahad. “Aku udah tarik-tarik kamu, kamu nggak apa, kan? Nggak ada yang sakit, kan?” khawatir Fahad.


Nayla menggeleng.

__ADS_1


Menyentuh lembut puncak kepala Nayla, sorot mata tajamnya sudah hilang. Terganti dengan tatapan yang lembut. “Kita naik mobil, ya?” tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.


Memeluk tubuh Nayla, ia cium kening istrinya lama. “Istri kecilku ini selalu berhasil buat aku jatuh cinta. Lagi dan lagi. Bikin gemas.” Fahad mencubit kedua pipi Nayla dengan gemasnya.


“Aku udah 23 tahun, ya. Kalau masih kecil, kenapa dinikahin coba?” sungut Nayla.


Fahad tertawa, kembali ia cubit pipi Nayla. “Kalau nunggu kamu besar, keburu aku tua.”


***


Sampailah mereka di pasar. Nayla turun terlebih dahulu. Fahad, ia masih duduk di kurmeskipun ia sudah membuka sedikit pintu mobilnya.


Nayla membuka lebih lebar pintu tersebut. Ia mengajak suaminya untuk turun. Fahad menggeleng, ia menolak dan mengatakan bahwa ia akan menunggu di mobil saja.


“Sebentar aja, Fahad. Ayo,” ajak Nayla lagi.


“Pasarnya rame banget, Sayang, aku tunggu di sini aja, ya?”


Nayla berdecak kesal. Lagi-lagi mereka harus berdebat. “Namanya pasar dari jaman Majapahit juga udah rame. Kuburan, tuh, sepi.”


“Kata siapa? Di sana lebih rame, pada ghibah dan duduk-duduk di batu nisan.”


“Fahad!” kekesalan Nayla berhasil membuat Fahad tertawa. Menggemaskan. Itu yang selalu ia lihat dari Nayla. “Ya, udah, aku masuk sendiri. Kali aja ketemu cowok India lain di dalam.” Nayla berbalik, ia hendak melangkah meninggalkan suaminya.


“Heh!” Fahad menarik jaket bagian belakang Nayla. Sudah pasti membuat tubuh Nayla tertahan lalu menoleh ke belakang. “Sekali lagi ngomong gitu, aku cabein mulut kamu!”


Tak ada pilihan, daripada harus merelakan istrinya pergi seorang diri dan menjadi pusat perhatian dari pria lain ... lebih baik ia ikut masuk ke pasar.


Melangkah masuk lebih dalam. Seketika, keduanya menyita perhatian semua orang. Bukan hanya ia, warga negara asing yang masuk pasar. Nayla dan Fahad yakin akan hal itu. Tapi entah mengapa mereka tetap menjadi pusat perhatian. Apa yang mereka pikirkan, Fahad tidak mengetahuinya.


Pandangan mata orang-orang membuat Fahad cukup risih. Ia menunduk, bersembunyi dibalik topi dan kacamata mata hitam yang ia pakai. Menggandeng tangan istrinya, ia mencengkeramnya dengan kuat, membuat Nayla meringis kesakitan.


Nayla berhenti sejenak, hendak melepas gandengan tangannya. Namun Fahad justru menjentikkan jarinya ke kening Nayla, membuat Nayla mengaduh.


“Sakit,” keluh Nayla sembari menyentuh keningnya.


“Makanya jangan dilepas gandengan tangannya, kalau aku hilang gimana?” Fahad mengada-ada.


“Aneh-aneh aja, sih. Nggak malu apa sama umur?”


Kan, istrinya itu memang selalu membuatnya gemas. Sebuah ciuman tiba-tiba mendarat di pipi kanan Nayla. Dari siapa lagi, jika bukan dari suaminya.


Matanya membulat seketika, dengan cepat tangannya mencubit perut Fahad dengan keras. “Malu, Fahad!”


Bukan protes ataupun marah, Fahad justru tersenyum dibuatnya. Tak peduli dengan tatapan sebagian orang yang mengintimidasi. Toh, yang ia cium adalah istrinya sendiri. “Apa? Kamu marah? Ya, udah ayo pulang. Atau kamu mau ditambah lagi ciumannya?” usil Fahad.


Kembali melanjutkan langkah kakinya dengan kesal, Nayla berhenti di sebuah tempat yang menjual berbagai bumbu dapur dan sayur mayur. Tangannya dengan cekatan memilih dan memilah sayur yang menurutnya bagus.

__ADS_1


“Tadi katanya bukan beli sayur, tapi sekarang malah—”


“Iya,” tukas Nayla. “Tadi niatnya nggak beli sayur. Tapi sayur bagus-bagus gini, kan, sayang kalau nggak dibeli.”


Wanita memang selalu benar. Niat dari rumah tidak membeli sayur, tapi begitu matanya melihat sesuatu ... pasti ujungnya dibeli juga. Tapi hanya sayuran, Fahad tidak merasa heran. Ia tidak mungkin lupa, istrinya itu bukan wanita yang akan dengan mudah menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting.


Melepas kacamata lalu menggantungkannya di kerah bajunya. Tersenyum, tangannya mengarah menyentuh puncak kepala Nayla, “beli apapun yang kamu mau.” Nayla mengangguk, kembali memilih sayur dan bumbu-bumbu.


Pedagang tersebut menghitung dan memasukkan semua yang dibeli Nayla ke dalam tas kain—yang sudah dibawanya dari rumah.


“Suami apa pacar, Mbak?” tangan pedagang tersebut.


“Suami, Bu,” jawab Nayla sembari tersenyum.


Ibu pedagang kembali bertanya, “ganteng, Mbak. Dapat suami dari mana, Mbak? Kok, bisa seganteng itu.”


Ada yang buang dipinggir jalan, makanya aku ambil dan jadiin suami. Batin Nayla kesal.


Nayla menggapinya dengan tersenyum. Selesai membeli sayuran, mereka berjalan ke arah deretan penjual baju.


“Kamu cemburu, nggak?” tanya Fahad.


“Cemburu karena apa?”


“Aku jadi pusat perhatian orang, kata ibu tadi aku ganteng, kan?”


Huuhh


Jengah Nayla. Ia tidak ingin menanggapi ucapan suaminya yang sudah pasti akan melebar kemana-mana.


Membeli daster. Ya, niat awal Nayla pergi ke pasar ialah; untuk membeli daster. Fahad berkata, mereka akan stay di New Delhi untuk beberapa waktu. Baru setelah itu mereka akan pulang ke Kashmir.


Suhu India yang cukup panas, sudah pasti akan lebih nyaman menggunakan daster—dan pakaian santai laninnya. Toh, hanya ada mereka berdua dan juga Yasmin.


“Kita bisa beli di mall, Sayang. Di sana pilihannya juga lebih banyak,” ujar Fahad.


“Di sini juga banyak pilihannya. Lagian, aku juga lebih suka beli di pasar, bahannya nggak kalah sama yang di mall.”


“Sayang, tapi—”


“Fahad,” keluh Nayla.


Tersenyum paksa, ia sentuh lembut puncak kepala istrinya. “Iya, iya, beli semuanya. Sekalian sama toko dan penjualnya.”


***


.

__ADS_1


__ADS_2