Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 37


__ADS_3

Semua orang saling memberi selamat serta pelukan hangat untuk Nayla. Andi, pria itu sedikit menitihkan air matanya ketika mendekap erat tubuh kakaknya yang sudah menjadi seorang istri tersebut. Ada sedikit rasa takut jika suatu saat Nayla akan melupakan dirinya. Andi sudah berusaha menepis pikiran tersebut, tapi entah mengapa ia selalu berpikiran seperti itu.


“Mbak, selamat, sekarang udah jadi seorang istri. Tapi, Mbak, jangan lupa kalau punya adik yang cakepnya melebihi Reza Rahadian ini,” ujar Andi yang membuat suasana haru seketika menjadi riuh karena suara tawa semua orang yang hadir.


“Ngawur kamu. Reza Rahadian cakepnya kelewatan, sampai kamu aja dilewatin.” Nayla mengacak-acak rambut Andi dengan gemasnya. Tubuh adiknya itu sedikit lebih tinggi sehingga membuat ia mendongakkan wajah untuk menatap kedua manik mata Andi dalam-dalam.


Sesudah mengambil foto bersama, pun dengan Ketua RT, penghulu dan Om Hendra yang berpamitan kepada kedua mempelai dan keluarga ... kini giliran Nayla dan Fahad yang berpamitan kepada semua keluarga.


Mereka berdua akan menaiki sebuah mobil untuk menuju ke hotel, dan besok mereka baru akan pulang ke rumah. Bahagia serta sedih mengantar kepergian Nayla dan Fahad memasuki gerbang pernikahan yang besar dan menjulang tinggi. Berbagai pesan dan saran Nayla terima dari semua kakaknya, juga Andi tentunya.


Fahad, ia menerima pesan dari semua saudara iparnya. Mereka berharap, Fahad bisa menjaga Nayla sepenuh hati. Selalu mencintainya dan menjaga kehormatannya. Mengingat sepasang pengantin dihadapan mereka berbeda kebangsaan, adat dan sudah pasti pemikiran yang berbeda ... harapan agar Nayla dan Fahad bisa mengatasi itu semua secara dewasa serta dengan hati dan pemikiran yang dingin.


Andi ikut berpesan sebelum Fahad dan Nayla masuk ke mobil. “Fahad, kalau suatu saat kamu udah nggak cinta sama Mbak Nayla, jangan bilang sama dia. Bilang sama aku, kembalikan Mbak Nayla sama aku. Jangan beri kesempatan air matanya jatuh. Jaga dan cintai dia.”


Fahad mengangguk, ia memeluk tubuh Andi seraya berjanji bahwa ia akan menjaga dan mencintai Nayla sekarang, besok, selamanya, dan nanti sampai di surga-NYA.


Nayla yang mendengar pun kembali menitihkan air matanya. Ia berhambur ke dalam pelukan Andi setelah Fahad. “Kamu yang terbaik, Andi, terima kasih buat semuanya.”


“Mbak juga yang terbaik, selamanya. Terima kasih, Mbak, aku sayang sama, Mbak.” Andi mendekap tubuh Nayla dengan erat, seolah tak rela jika pelukan itu terlepas.


***


Sampai di hotel, sapaan dari pegawai dan juga beberapa orang yang berpapasan memberi selamat kepada sepasang pengantin di hadapan mereka. Ucapan terima kasih, raut wajah bahagia serta senyuman yang menghangatkan dibalas oleh Nayla dan Fahad untuk mereka semua.


Kamar hotel sudah di dekor sedemikian rupa untuk nanti pasangan pengantin baru menghabiskan malam yang penuh keindahan serta keberkahan.


Setelah Fahad menutup pintu dan menguncinya, ia bergegas mengambil komputer lipat miliknya ... ia hendak menghubungi Ammi dan kedua adiknya melalui panggilan video. Dengan pakaian pengantin yang masih membalut keduanya, Fahad dan Nayla saling menyapa tiga orang yang menepiskan senyuman penuh kebahagiaan.


Telaga bening di lembah mata sayu milik Ammi menetes, melihat putra satu-satunya yang ia miliki kini sudah bahagia setelah memperistri wanita pujaan hatinya. Berbagai harapan Ammi sematkan dalam doa-doanya, agar masa kelam rumah tangga Fahad yang pertama tidak terjadi di pernikahan yang sekarang ini, bersama Nayla.


Yasmin dan Yumna tak kalah memanjatkan doa terbaik untuk kakak dan juga kakak iparnya, melihat kebahagiaan Fahad membuat dua gadis cantik itu ikut merasa bahagia. Berharap agar keduanya terus bersama, membina rumah tangga penuh cinta dan kasih sayang yang tak pernah lekang oleh waktu.


Fahad mengakhiri panggilan setelah setengah jam lamanya mereka berbagi kebahagiaan bersama keluarga. Nayla lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Fahad menanggalkan jas miliknya ke sisi sofa, ia tetap sibuk dengan komputer lipat ... memeriksa pekerjaannya yang tertunda.


Tak butuh waktu lama untuk Nayla membersihkan diri. Ia memakai baju handuk yang tersedia di dalam sana, ingin keluar ... tapi rasa malu mengurungkan niatnya tersebut. Ia meminta tolong Fahad untuk mengambilkan tas baju yang ia bawa dari rumah tadi.


Sebelum mengambilkan tas Nayla, Fahad lebih dulu menggoda istrinya, “keluar aja nggak apa, Sayang, kan udah jadi istri.”


Nayla berdecak kesal, “jangan bercanda, Fahad, tolong ambilkan tas bajuku!” ia sedikit berteriak.


***


Pukul delapan malam, sesudah menunaikan ibadah salat isya' bersama, keduanya kini tengah menikmati makan malam bersama—tetap di dalam kamar hotel.


Ada sedikit hadiah kecil dari pihak management hotel untuk Nayla dan Fahad, mereka mendapatkan service makan malam dan sarapan untuk esok hari, gratis.


Makan malam bersama, dengan status yang sudah berbeda. Setiap apa yang mereka lakukan kini bernilai ibadah di mata Allah. Sedari tadi mata Fahad tak lepas dari sosok Nayla yang tetap memakai hijabnya meskipun kini mereka sudah sah menjadi seorang istri.

__ADS_1


Jika ditanya, Nayla akan menjawab bahwa ia masih merasa malu melepas hijab. Ia masih merasa canggung menunjukkan rambutnya dihadapan Fahad. Ya, sejak tadi sore—sesudah membersihkan diri, Nayla tak pernah melepas hijabnya barang sedetikpun.


“Kamu nggak gerah?” tanya Fahad disela-sela aktivitasnya makannya.


Nayla menggeleng, “kan ac-nya nyala.”


Iya, juga, sih. Kurang kreatif pertanyaanku. Fahad membatin.


“Sayang?” panggil Fahad.


“Iya?” Nayla yang duduk di samping Fahad itupun menghentikan makannya lalu menoleh kepada sang suami.


“Bisa minta tolong suapin aku makan, nggak?”


Nayla tersenyum simpul. Tanpa menjawab, ia langsung menyendokkan makanan untuk Fahad lalu menyuapinya. “Kamu nggak dingin? Pakai kaos tanpa lengan gitu. Apa mau pamer?”


“Pamer? Maksudnya?” bingung Fahad.


“Itu.” Nayla menyentuh lengan Fahad dengan satu jarinya. “Mau pamer otot, kan?”


Fahad tergelak mendengar penuturan Nayla. Sungguh, sama sekali tak terbersit pamer otot seperti yang istrinya itu pikirkan. “Kamu mikirnya aneh-aneh. Ngapain juga aku pamer sama istri sendiri.”


Istri. Tubuh Nayla serasa meremang mendengar Fahad menyebutnya istri. Ia menatap Fahad yang masih tertawa itu dengan seksama. Ya, pria di hadapannya ini sudah menjadi suaminya.


“Kalau aku pamer, harusnya ke istri orang lain. Bukan istri sendiri.” Fahad menarik gemas hidung mungil Nayla.


“Sayang.” Fahad meringis kesakitan. “Bukan gitu, aku cuma bercanda.”


Nayla masih mencubit lengannya tanpa ampun. “Bercanda apanya? Wajah kamu aja serius gitu. Kalau mau pamer sekalian aja nggak usah pakai baju, sana keluar sambil telanjang dada!”


“Sayang, ini lepasin dulu! Sakit!” Fahad berseru dan Nayla pun melepas cubitannya.


Dengan mimik wajah cemberut, Nayla melahap makanannya dengan tergesa-gesa. Tanpa menoleh ataupun menyuapi Fahad lagi.


“Ya Allah, ternyata istriku ini tingkat kecemburuannya melebihi batas,” celetuk Fahad yang tak digubris oleh Nayla. “Makan yang banyak, biar cepet gede.” Imbuhnya.


Nayla menaruh sendoknya, matanya menatap Fahad dengan tajam. “Maksud kamu? Biar aku gendut, gitu? Terus kamu bosen sama aku, gitu?” cercanya.


Salah lagi. Fahad meraup wajahnya dengan frustasi. “Aku nggak ngomong gitu, Sayang. Istriku ini kenapa bikin gemes, sih?!” Fahad menangkup kedua sisi wajah Nayla, mencubit gemas pipinya lalu menciumnya lama.


“Istriku, kira baru nikah tadi pagi, loh. Kamu udah ngajak ribut aja, cuma masalah lengan aku lagi.”


Nayla memberengut, “aku nggak ngajak ribut. Emang kamu aja yang genit, pakai acara mau pamer ke istri orang lain.”


Pletak!


“Fahad, sakit!” seru Nayla.

__ADS_1


Fahad menyentil keras kening Nayla, “kamu nggak mikir ke arah lain? Kenapa aku pakai kaos tanpa lengan gini.”


Nayla menggelengkan kepala dengan satu tangan yang menyentuh keningnya. “Apa?”


“Ya, karena ini malam pertama kita, biar aku nggak kelamaan lepas bajunya.”


Jawaban Fahad membuat Nayla tersipu malu. Ia membuang wajahnya ke sembarang arah, agar Fahad tidak melihat wajahnya yang memerah.


Nayla berdehem untuk mengusir kecanggungan diantara mereka. “Kamu masih mau makan lagi?” tanya Nayla.


Fahad tersenyum, bagaimanapun istrinya itu mencoba menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena rasa malu, ia tetap bisa melihatnya dengan baik.


“Enggak, aku udah kenyang.”


Mereka berdua beranjak bersama menuju ke kamar mandi, mencuci tangan di wastafel. Kemudian, mereka mengambil air wudhu lalu menunaikan salat sunnah berjamaah.


***


Fahad duduk di atas tempat tidur dengan memangku komputer lipatnya. Ia sangat fokus terhadap pekerjaannya. Ya, walaupun ia sedang libur bekerja untuk menikah, bukan berarti ia akan menunda pekerjaan ataupun menyerahkan semuanya kepada Sahil dan juga Alina, sekretarisnya.


Perlahan, Nayla menyusul Fahad naik ke tempat tidur. Ia berpura-pura menguap lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya—masih dengan hijab yang membalut kepalanya.


Fahad tersenyum tipis, bahkan hampir tak terlihat. Segera ia mematikan laptop, turun untuk menaruhnya di atas meja sofa.


“Sayang, sini duduk dulu. Aku mau bicara sama kamu.”


Nayla tak mempercayainya begitu saja, ia tahu tidak ada yang suaminya itu ingin bicarakan. Sedikit takut, namun Nayla tetap menurut. Ia duduk menghadap Fahad.


“Aku boleh lepas hijab kamu?” tanya Fahad dengan sopan yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.


Kedua tangan Fahad melepas hijab istrinya, lalu melepas ikatan rambutnya—membuat rambut panjang itu terurai dengan cantik. Meskipun bukan yang pertama, Fahad tetap merasa sedikit canggung. Jantungnya berdegup kencang, senyum yang ia sematkan tak mampu menutupi kegugupannya.


Sama halnya dengan Fahad, jantung Nayla juga berdegup kencang layaknya genderang perang. Tubuhnya meremang tatkala Fahad menyentuh pipi lalu membelai rambutnya dengan lembut.


“Terima kasih, kamu udah mau jadi penyempurna separuh agama aku. Terima kasih kamu udah mau di sisi aku. Nerima aku, nerima cinta aku, dan juga nerima semua kekurangan aku. Aku bahagia bisa ibadah bareng sama kamu,” tutur Fahad penuh cinta.


“Jangan lelah buat ingetin kalau langkahku ada salah, jangan pergi ... tapi ingetin aku dengan caramu sendiri.” Imbuhnya.


Nayla mengangguk dengan senyuman tulus dari bibirnya. “Kita bareng-bareng, jangan jalan sendiri kalau salah satu dari kita ada yang salah. Kita harus saling mengingatkan, saling melengkapi. Bukan berlomba siapa yang paling berkuasa dengan ego, kita harus bisa menyelesaikan apapun masalahnya bersama.”


Keduanya saling terkunci pada tatapan mata yang menghanyutkan. Satu tangan Fahad menyentuh ujung kepala Nayla, dengan mengucap bismillah, ia berdoa ....


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Malam penyatuan keduanya yang bernilai ibadah itupun dipenuhi dengan kebahagiaan, saling melengkapi dan memberi akan kebutuhan pasangan. Berharap mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah, menjauhi segala yang Allah larang serta taat akan perintah-NYA.

__ADS_1


***


__ADS_2