Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 83


__ADS_3

Matahari sudah kembali keperaduan, kini bulanlah yang menggantikan sinarnya. Nyatanya, waktu seharian tidak cukup untuk Fahad menyelesaikan pekerjaannya. Berkali-kali ia mendesah frustasi, kepalanya benar-benar pusing. Pukul delapan malam, Fahad memutuskan untuk pulang. Tubuh dan pikirannya sudah tidak bisa dipaksa lagi. Ia sangat lelah.


Seperti biasa, Nayla menyambutnya dengan senyuman tulus. Duduk di sofa, istrinya itu pergi ke dapur untuk mengambilkannya air minum. Satu tangannya menepuk sofa, memberi isyarat kepada Nayla agar duduk di sampingnya.


“Kamu udah makan?”


Fahad dan Nayla melontarkan pertanyaan yang sama. Membuat keduanya tertawa lucu sendiri. Fahad menggeleng, ia melupakan makan malamnya karena sangat sibuk. “Mau aku buatin sesuatu?” tanya Nayla.


Fahad berpikir sejenak, “aku malas makan nasi, ada ayam nggak?” tanyanya.


“Ada. Mau dibikinin chicken steak mushroom sauce?” Nayla bertanya.


“Boleh. Oh, iya, Yasmin mana?” Fahad mengedarkan pandangannya. Adiknya itu pulang dari kantor lebih awal darinya, mengikuti jam pulang karyawan.


Nayla mengatakan bahwa Yasmin belum pulang, tadinya ... ia memang hendak menanyakan keberadaan Yasmin setelah melihat Fahad pulang seorang diri. Rasa khawatir mulai menyergap keduanya, Fahad menghubungi nomor ponsel Yasmin, namun panggilannya sama sekali tidak diterima.


“Coba telpon Sahil.” Nayla memberi saran. Mungkin saja Yasmin pulang bersama Sahil.


Mengikuti saran istrinya, Fahad menghubungi Sahil. “Shit!” ia mengumpat kesal setelah menutup panggilan suaranya bersama Sahil.


Dari reaksi Fahad, Nayla tau jika Yasmin tidak pulang bersama Sahil. Lalu, ke mana adik iparnya saat ini? Fahad beranjak berdiri, ia berpamitan kepada Nayla akan mencoba mencari Yasmin. Meskipun tidak tau ke mana tujuannya, Fahad tetap akan mencari adiknya. Ia membuka pintu, saat itu pula Yasmin terlihat keluar dari lift. Fahad menyorot Yasmin dengan tatapan tajam. Tangannya menarik Yasmin dengan kasar lalu mengajaknya masuk ke apartemen. Berbagai pertanyaan ia lontarkan kepada Yasmin.


“Aku tadi mampir makan malam sama Neha, Kak.” Yasmin menjawab dengan ragu. Lebih tepatnya, ia merasa takut melihat mata kakaknya yang menakutkan. Sebisa mungkin, matanya menghindar dari tangkapan mata Fahad.


“Neha siapa?” Fahad kembali bertanya.


Yasmin tidak menjawab, tubuhnya berangsur mendekati dan berdiri di belakang Nayla dengan tangan yang memegang ujung kaos lengan panjang kakak iparnya tersebut. “Kakak ipar,” lirihnya yang meminta perlindungan.


Fahad semakin emosi melihatnya, ia hendak menarik pergelangan tangan Yasmin, namun Nayla sudah lebih dulu menyentuh pergelangan tangannya. “Sayang, jangan—”


“Fahad,” tukas Nayla, ia lebih mendekat, menyentuh dada suaminya dengan lembut. “Kamu baru pulang, lebih baik kamu mandi dulu. Ayo, aku siapin baju ganti kamu.” Nayla mengapit lengan kanan suaminya, mengajaknya masuk ke kamar.

__ADS_1


“Selamat.” Yasmin menyentuh dadanya, jantungnya hampir saja keluar begitu ia diinterogasi oleh Fahad.


***


Duduk bertiga, di hadapan masing-masing sudah tersedia chicken steak mushroom sauce buatan Nayla. Yasmin menyantap makanannya tanpa mengangkat sedikitpun—ia menghindari kontak mata dengan Fahad. Sebelum makan, Nayla sudah memperingatkan keduanya agar makan dengan keadaan tenang tanpa ada pembicaraan apapun.


Fahad makan, sesekali ia melirik ke arah Yasmin. Adiknya itu mengatakan sudah makan malam bersama Neha, tapi mengapa sekarang Yasmin menyantap makanannya seolah memang belum memakan apapun.


“Ada yang mau tambah sausnya?” Nayla bertanya. Tapi, tidak ada satupun yang menjawab. “Kok, nggak ada yang jawab, sih? Enggak atau iya, gitu!” imbuhnya.


Fahad menaruh garpunya, “katanya nggak boleh ngomong, jadi ... aku nggak jawab apapun.” Pernyataan Fahad membuat Yasmin tertawa, memang tidak salah bukan? Kakak iparnya melarang berbicara, jadi sudah sewajarnya tidak ada yang menjawab pertanyaannya. “Ehhemm!” Fahad berdehem cukup keras saat mendengar suara tawa Yasmin, seketika adiknya itu diam dan melanjutkan makannya.


Nayla menggeleng heran, rasanya ... ia tengah berhadapan dengan dua anaknya yang sedang bertengkar. “Jadi, mau kayak gini terus?” Nayla kembali bersuara.


Fahad tersenyum, ia membelai lembut pipi istrinya. “Maaf, Sayang, aku boleh tambah sayurnya?” pinta Fahad yang dijawab anggukan kepala serta senyuman dari Nayla. Istrinya itu segera beranjak mengambilkan sayur yang ia inginkan.


Setelah makan malam, Fahad meminta istri dan adiknya untuk duduk di living room sebentar, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


Jantung Yasmin berdegup kencang, ia merasa akan masuk ke sebuah ruangan interogasi yang menakutkan. Ia bergidik ngeri membayangkannya. Steak ayam yang tadinya sangat lezat itu kini terasa hambar, lidahnya kelu ... ia sulit menelannya. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan memaksa makanannya masuk ke dalam mulutnya.


***


Awalnya, Yasmin merasa lega mendengar apa yang dibicarakan oleh Fahad—mengenai batalnya rencana mereka ke Kashmir. Tetapi, interogasinya ternyata baru akan dimulai. Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan kakaknya. Yasmin menatap Nayla, kembali meminta bantuan.


Nayla diam, ia harus mendengarnya terlebih dahulu, baru ia akan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi, jika dilihat dari sisi Fahad ... adik iparnya itu memang bersalah, karena tidak beramitan terlebih dahulu jika pulang terlambat. Dari sisi Yasmin, Nayla ingin mendengar alasannya terlebih dahulu. Alasan apakah yang membuat adik iparnya itu berbohong. Ya, Nayla dapat melihat kebohongan dari mata Yasmin.


“Kenapa nggak ngomong? Kakak mau dengar alasan kamu pulang terlambat?” tanya Fahad.


Yasmin tidak menjawab pertanyaan Fahad, ia ingin mengatakan alasannya kepada kakak iparnya ... Yasmin merasa lebih nyaman jika berbicara dengan Nayla. “Kakak, apa aku boleh bicara berdua sama kakak ipar?” ia meminta izin.


Fahad tidak memberikan izin, kali ini ia ingin mendengarnya secara langsung. “Ngomong, apa kakak kurung kamu di—”

__ADS_1


“Aku ke mall sebentar sama Neha, sama Virat juga!” seru Yasmin.


“Siapa mereka?” tanya Fahad.


Yasmin berdecak kesal, bagaimana bisa kakaknya tidak tau nama-nama dari karyawannya sendiri. Tidak ada rasa takut lagi, Yasmin kini justru mengolok Fahad dengan sebutan ‘atasan yang tak patut dicontoh’.


Fahad merasa kesal, “kamu, ya! Mau kakak apain, hah?!” ia menggelitik Yasmin. Membuat adiknya itu berteriak meminta pertolongan kepada Nayla.


“Kakak, stop! Perutku sakit.” Yasmin mendorong tubuh Fahad lalu beralih mendekat dan duduk di dekat kakak iparnya.


Fahad kembali memperingatkan, jika sekali lagi Yasmin tidak meminta izin darinya untuk pergi ke suatu tempat, ia pasti akan memecatnya sekaligus memulangkannya ke Srinagar, Kashmir. “Kamu nggak boleh kerja lagi, dan kakak bakal nyariin jodoh kamu.”


“Kakak!” Yasmin berseru. Ia sangat membenci kalimat itu. “Aku nggak mau dijodohin. Titik!” ia beranjak pergi, masuk ke kamar ... membanting pintu dengan sangat keras.


Nayla dan Fahad tertawa melihat tingkah Yasmin. Kini, giliran Nayla yang memarahi suaminya. Sudah berkali-kali ia mengatakan kepada Fahad agar tidak menyinggung perihal perjodohan, sudah pasti Yasmin akan sangat marah. Sekarang ini, gadis itu ingin fokus bekerja dan menikmati momen di mana ia bisa berkumpul bersama teman-temannya. Nayla sangat memahami adik iparnya. Bekerja, menghabiskan waktu bersama teman adalah saat yang paling menyenangkan.


Nayla merindukan itu semua. Tapi, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan karena Fahad melarangnya untuk bekerja. Di sisi lain, Nayla masih merasa bersalah karena dulu ia tidak memberitahu Fahad tentang kehamilannya, membuat suaminya itu harus mengetahui semuanya setelah ia mengalami keguguran.


***


Duduk berselonjor di atas tempat tidur, Nayla sibuk dengan ponselnya. Ia bertukar suara dengan Andi. Adiknya itu menceritakan kisah lucunya saat di kampus tadi.


Aku jalan sambil sibuk bales pesan, kan, eh taunya aku salah masuk kelas. Aku baru sadar pas aku udah duduk. Mana dosennya diam aja lagi, nahan tawa dia.


Nayla tertawa mendengarnya, “malu nggak?” tanyanya.


Bukan malu lagi, Mbak, mati gaya parahlah pokoknya. Mending kalau ditegur, dimarahin ... ini malah dibiarin aja.


“Bentar-bentar, mbak lagi bayangin gimana malunya muka kamu,” tawa Nayla memenuhi kamar, Fahad yang keluar dari kamar mandi itu segera menghampiri istrinya lalu berbaring dengan menggunakan pangkuan Nayla sebagai bantalan.


Biasa aja, kok, masih tetep cakep dan siapapun yang lihat pasti terpesona.

__ADS_1


Nayla kembali dibuat tertawa akan pernyataan adiknya. Rasanya, ia ingin sekali melayangkan pukulan di lengan Andi. Nayla rindu itu, sudah lama ia tidak melakukannya.


***


__ADS_2