
“Aku mau nyusul Zia”
Nayla beranjak, dia keluar kamar. Fahad menyentuh pangkal hidungnya, bingung harus bagaimana.
Nayla mengetuk pintu Yasmin. Kedua adik iparnya itu tahu yang datang adalah kakak iparnya, oleh sebab itu Yumna segera membuka pintunya. “Kakak ipar,” kata Yumna. Nayla tersenyum, ia masuk lalu mengambil Shazia tanpa berkata sepatah katapun. Untuk saat ini, hatinya benar-benar kacau.
Yasmin dan Yumna hanya bisa saling pandang setelah kepergian Nayla.
“Kita tidur, Zia mama capek banget,” kata Nayla. Nayla menuruni anak tangga, bermaksud ke dapur untuk membuatkan susu untuk putrinya terlebih dulu. Terlihat, Bibi Farida masih duduk di kursi meja makan. Nayla diam, dia berjalan ke dapur. Tak lama, Bibi Farida berlalu pergi ke kamarnya.
“Nyonya, ini susu Nona kecil,” kata Hannah sembari menyodorkan sebotol susu yang baru saja dia buatkan.
“Terima kasih, Hannah, aku baru akan membuatkannya,” Nayla menerima botol susu tersebut.
“Aku tahu, ini waktunya Nona kecil tidur siang. Jadi aku membuatkannya.” Hannah menjawil pipi gembul Shazia dan di balas senyuman oleh putri Nayla itu.
“Nayla,” panggil Ammi.
Nayla menoleh, “Terima kasih, Hannah, atas susunya,” ucapnya sebelum berjalan mendekat pada Ammi.
“Iya, Ammi, apa Ammi membutuhkan sesuatu?” tanyanya kemudian
Ammi menggeleng, “Sini, duduklah,” perintah Ammi sembari menepuk kursi di sebelahnya. Nayla duduk dan memangku Shazia. “Maafkan Bibi Farida, Nak, setiap kali kamu kesini, Bibi Farida selalu mengajak ribut,” tutur Ammi.
Nayla tersenyum. “Jangan minta maaf, Mi, Nayla yang salah, Nayla terbawa emosi, seharusnya Nayla nggak ngomong gitu sama bibi, apalagi di depan Ammi seperti itu. Maafkan Nayla, Ammi.”
“Ammi minta, jangan pernah pergi dari rumah ini. Ini pertunangan Yasmin, Ammi minta kamu juga ikut membantu.”
“Ini kewajiban Nayla, Ammi. Ammi nggak usah khawatir, Nayla nggak akan pergi kemanapun.” Nayla meyakinkan. Walaupun sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Nayla ingin sekali pergi, untuk menenangkan hatinya.
“Ammi takut, kamu kembali ke Delhi karena tidak tahan dengan sikap Bibi Farida,” ungkap ammi.
Nayla menggeleng seraya menepiskan senyumnya. “Enggak, Ammi, Nayla tahu sebenarnya Bibi Farida itu baik. Hanya saja, belum ada tempat di hati bibi untuk Nayla.”
Ammi tersenyum lega, dia sangat takut jika Nayla pergi. Dia tahu, kebahagiaan putranya ada pada Nayla. Sudah cukup dia pernah membuat putra dan menantunya menangis kala itu—rencana pernikahan kedua Fahad.
Nayla permisi kembali ke kamar karena putrinya sudah sangat mengantuk. Ammi mengangguk, menyentuh lembut kepala Nayla yang terbalut hijab itu. Tak lupa Ammi juga mencium cucunya. Setiap kali dia melihat cucunya itu, ammi selalu teringat pada Aadil—putra pertama Fahad.
Nayla masuk ke kamar. Melangkah menuju tempat tidurnya, dia membaringkan Shazia lalu memberinya susu. Nayla pun ikut berbaring di sampingnya. Fahad yang baru keluar kamar mandi itu, ikut berbaring tepat di samping sang putri.
Pandangan Fahad dan Nayla bertemu, satu tangannya mengelus lembut kepala Nayla. “Sayang, kok nggak dibuka hijabnya?”
__ADS_1
“Sstt...,” lirih Nayla sembari memberi isyarat dengan satu tangannya agar Fahad tidak berbicara lagi. Sebab putrinya itu sudah mulai tertidur, perlahan namun pasti mata bulat serta bening itu terpejam dengan bibir yang masih menyedot susu yang hampir habis itu.
“Ok.” Fahad mengangkat satu jempolnya.
Nayla turun dari tempat tidur secara perlahan. Dia duduk di kursi meja riasnya, membuka hijab yang masih melekat sempurna di kepalanya. Fahad menyusul, ia menyandarkan tubuhnya di meja rias.
“Sayang?”
Nayla yang sedang menyisir rambutnya itu melihat sang suami yang tersenyum padanya. “Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?” tanyanya.
“Biar tambah cakep,” jawab Fahad. Nayla tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Nayla berdiri hendak mengembalikan hijabnya pada gantungan. Namun Fahad mencegahnya dengan menarik satu pergelangan tangannya. Membuat Nayla ambruk di tubuh suaminya itu. Memeluknya dari belakang, “Sayang, maafin aku, maafiin bibi juga,” ucapnya.
“Kamu nggak salah, bibi juga nggak salah,” jawab Nayla yang masih didalam pelukan sang suami.
Satu tangan Fahad membelai lembut rambut hitam sebahu itu. “Aku tahu kamu nggak nyaman.”
Nayla berbalik, kedua tangannya menangkup wajah sang suami. Pandangan teduh itu selalu berhasil membuat hati Fahad merasa tenang. “Sudah, nggak usah dibahas lagi. Dia juga orang tua kita, dan kita sebagai anak harus bisa mengerti mereka yang sudah berusia lanjut. Di usia bibi, memang sudah wajar kalau sikapnya kadang kekanakan. Sama halnya seperti mereka yang selalu mengerti saat kita masih kecil, sekarang giliran kita yang harus mengerti mereka.”
“Kamu, ya. Pasti bisa kalau suruh bikin hati aku meleleh.” Fahad mencubit kedua pipi Nayla seraya menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
“Sini, aku mau kasih hadiah.” Fahad meraih tengkuk leher sang istri, memberinya ciuman singkat di bibir ranumnya.
***
“Nyonya, rombongan Tuan Adnan sudah datang.” Hannah memberitahu. Seketika ketiga perempuan yang berada di depan meja rias itu menoleh ke arah pintu. “Nyonya besar menyuruh Nyonya Nayla untuk turun, ikut menyambut mereka,” sambungnya.
“Iya, Hannah, aku akan segera turun,” kata Nayla.
Selangkah, Yasmin menahan Nayla. “Kakak ipar, aku sangat gugup, apa penampilanku sudah baik?” tanya Yasmin. Nayla dan Yumna mengerutkan keningnya. “Maksud ku, apa aku sudah terlihat—”
“Kamu cantik, Yasmin. Tanya saja sama Yumna. Kan, Yumna?” Nayla memandang Yumna, meminta persetujuan adik ipar bungsunya ini.
Yumna mengangguk, “Iya, Kak. Benar kata Kakak ipar. Kak Yasmin cantik, tapi tidak melebihi kecantikanku.” Yumna mengibaskan rambut layaknya iklan shampoo.
“Dasar!” cetus Yasmin.
“Yumna, temani Yasmin dulu. Nanti kakak akan memanggil kalian.”
Yumna mengangguk akan perintah Nayla. Nayla pun segera keluar kamar Yasmin, turun untuk menyambut keluarga Adnan.
__ADS_1
“Hai, istriku!” sapa Fahad. Satu tangannya ia ulurkan begitu Nayla sudah berada di undakan ketiga tangga bawah.
Nayla tersenyum, dia menyambut uluran tangan sang suami yang juga tersenyum padanya. “Dimana Zia?” tanya Nayla yang sudah berdiri di samping suaminya sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putri kecilnya.
“Dia aman sama Hannah,” jawab Fahad.
Fahad meraih pinggang Nayla, mengajaknya berjalan menuju pintu utama untuk menyambut Adnan dan keluarganya. “Fahad, kenapa aku yang merasa gugup?” lirih Nayla.
Fahad menoleh, “kenapa? Kamu mau tunangan lagi?"
Nayla berdecak kesal. “Fahad, aku serius. Aku gugup, semua teman ammi datang, teman kamu juga.”
Fahad berhenti sejenak, dipandangnya wajah sang istri yang jelas tersirat sebuah ketakutan di matanya. Ya, Fahad tahu, Nayla tetap merasa bahwa dia tidak pantas berada di sampingnya sebagai Nyonya Fahad Malik Khan. Oleh sebab itu, Nayla tidak pernah mau ikut jika ada undangan pesta dari rekan bisnisnya. Banyak yang belum tahu bagaimana sosok istrinya ini, yang mereka tahu istrinya adalah wanita Indonesia.
Menyentuh satu sisi wajah Nayla dengan lembut. “Sayang, jangan takut. Aku pasti di samping kamu. Aku mau, kamu usir jauh pikiran kamu yang tetap merasa nggak pantas berdiri di sampingku. Kamu istriku, kita ini satu. Sebenarnya apa yang kamu takutin? Kamu cantik, pintar, kamu juga peduli sama orang lain, kamu menantu kebanggaan Ammi,” tutur Fahad panjang lebar.
Nayla menatap kedua manik mata sang suami dalam-dalam, dia dapat melihat cinta dari sorot mata pria berhidung mancung itu untuknya.
“Fahad, tapi aku—”
Fahad memotong ucapan Nayla, “Sudah, aku nggak mau dengar kamu minder atau apapun lagi. Kamu istriku, kamu harus di sampingku.”
Entahlah. Nayla tetap merasa kecil diantara keluarga besar Fahad, terutama berada di dunia bisnis suaminya. Dia merasa tidak pantas jika turut hadir di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun Fahad mencoba menenangkan sekaligus memberikan keberanian pada hatinya, Nayla tetap akan merasa tidak pantas dan tidak pantas. Semua karyawan Fahad di kantor sangat menghormatinya, tapi itu tidak membuat Nayla berani tampil sebagai istri Fahad Malik Khan. Dia akan tetap berada di balik suaminya.
“Kamu senyum apa mau aku cium di sini?” Fahad mengamcamsembari menepiskan senyum penuh maksud. Dalam hitungan detik, Nayla pun tersenyum lebar pada sang suami. “Nah, kan tambah cantik kalau senyum gitu,” ucapnya kemudian.
“Kalian mau pacaran di sini?” celetuk Sahil yang datang bersama istrinya—Sanju.
Fahad dan Nayla menoleh sembari menepiskan senyum kepada sepasang suami istri di hadapannya ini.
“Hai, Sanju. Kamu semakin cantik, sepertinya anakmu juga perempuan,” kata Nayla seraya menyentuh perut buncit Sanju.
Sanju mengangguk, “Iya, banyak yang menebak kalau anak kami perempuan.”
“Fahad, kita masih jadi pria tertampan di rumah,” sahut Sahil yang berdiri di samping Fahad dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana.
Memandang kedua wanita tercantik di hati mereka masing-masing. “Iya, kamu benar. Tapi, sebentar lagi ada Farhan yang lebih tampan dariku,” ucap Fahad seraya memandang sang istri.
“Hah? Armaan? Kalian bahkan sudah menyiapkan namanya dari sekarang,” cetus Sanju.
“Jangan dengarkan dia, Sanju, lebih baik kita pergi ke depan menyambut keluarga Adnan.” Nayla menggandeng tangan Sanju, meninggalkan suami yang tersenyum penuh cinta untuk mereka.
__ADS_1
***