Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 30 S2


__ADS_3

“Yasmin, ini hidup kamu, kamu yang tentukan mau bahagia atau enggak. Aku cuma bisa kasih saran, selebihnya, itu terserah kamu.”


“Kakak ipar, aku boleh peluk nggak?”


“Ya, bolehlah, buat adik ipar cantik ini apa sih yang nggak boleh.”


Yasmin merasa kesepian ketika Nayla berada di Indonesia. Rumahnya untuk pulang seakan sudah tertutup. Ingin berbicara kepada ammi, Yasmin tidak akan melakukan itu. Seakan ada sebuah dinding yang menghalanginya untuk berbicara dari hati ke hati kepada wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Bukan Yasmin tidak menghormati ataupun menyayangi ammi, namun Yasmin hanya merasa bahwa ammi tidak mengerti perasaannya. Semua hal akan dibicarakan dengan kakaknya, Fahad, tanpa mau mendengarkan pendapat yang lainnya. Ya, semua keputusan hanya ada di tangan ammi dan Fahad.


Yasmin sangat bersyukur bisa berbicara dengan kakak iparnya, beban di hatinya seakan hilang. Benar kata Nayla, bahwa bahagia atau tidak itu diri kita sendiri yang tentukan. Semua keputusan bahagia ada di tangan kita.


“Kak, dia mengirim pesan,” Yasmin menunjukkan isi pesan dari Adnan.


“Oh,” Nayla membulatkan bibirnya. “Namanya, Adnan, eh cakep loh dia,” kata Nayla saat melihat foto profil Adnan.


Yasmin merenggut masam. “Dia ngajak keluar, Kak. Aku harus bagaimana?”


“Terserah kamu, Yasmin. Kalau kamu mau, ada waktu, ya keluar saja nggak apa. Mungkin dia cuma mau ngajak makan.”


“Tapi, Kak, aku belum siap.”


“Ya, sudah, bilang saja lain waktu. Jangan terlalu dipaksa, insyaallah dia bisa mengerti.” Nayla memberikan saran.


Sepanjang hari, Nayla membersihkan rumah dan menjaga Shazia dengan dibantu Yasmin. Keduanya kompak saling membantu dalam segala hal.


“Zia, jangan keluar, di luar panas!” teriak Yasmin saat keponakannya berlari keluar rumah. “Zia!” Yasmin berhasil meraih tubuh Shazia lalu menggendongnya kembali masuk ke rumah.


Shazia menangis, dia merengek minta diturunkan dan bermain di luar.


“Mama.” Shazia berlari menyusul Nayla di dapur begitu Yasmin menurunkannya. “Mama.” Diamenangis, mengadu pada mamanya.


“Kenapa, Jaanu?” Nayla mendudukkan sang putri di meja dapur, menghapus air mata yang membasahi pipi gembul itu.


“Tante, nakal!” Shazia menunjuk Yasmin yang sedang mengambil air minum di lemari pendingin. “Apa, nakal? Arish yang nakal, bukan tante,” protes Yasmin.


“Zia, mau telpon Om Andi?” tanya Nayla. Shazia kini tersenyum begitu mendengar nama Andi.


“Wah, gembul sudah lupa sama om, ya?” Andi bertanya begitu ia melihat Shazia yang berada dalam layar panggilan video.

__ADS_1


“Om, Tante Yas, nakal!” mengadu sudah.


“Ya Allah, Zia, masih kurang ngadu ke mama? Masih ngadu sama omnya lagi,” cetus Nayla.


Yasmin bertanya perihal apa yang diucapkan Shazia, Senna dia mendengar namanya disebut oleh bibir mungil keponakannya tersebut. “Dia ngadu?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. Yasmin berdecak kesal, “awas kamu, ya, nanti aku gigit!” tangannya mengacak-acak rambut Shazia dengan gemas.


Nayla dan Fahad .emang lebih sering mengajak Shazia berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun sesekali mereka tetap menyelipkan bahasa Inggris dan bahasa Hindi ketika berbicara.


Untuk bahasa Kashmiri, mereka tidak mengajarkannya, mereka tidak ingin membuat tumbuh kembang Shazia terlambat jika terlalu banyak bahasa yang mereka ajarkan. Mereka yakin, jika sudah memasuki masa sekolah nanti, Arishfa akan bisa berbicara dengan berbagai bahasa.


Andi tersenyum gemas melihat ekspresi kesal Shazia saat digoda oleh Yasmin, yang berujung tangisan.


“Hai, gendut, sudah diam, nangis mulu dari tadi,” sahut Andi. Seketika Shazia berhenti menangis, ia menghapus air matanya lalu tersenyum pada Andi.


“Hai, Andi, apa kabar?” sapa Yasmin pada Andi.


“Hai, baik, kamu apa kabar? Katanya mau tunangan, jadi apa batal?”


“Andi!” seru Nayla.


***


Fahad segera pulang begitu pekerjaannya sudah selesai. “Alina, aku lupa bertanya, apa Yasmin kemarin malam dirumahmu?” tanyanya yang baru keluar ruang kerjanya. “Iya, Pak, kemarin saya suruh menginap tapi Yasmin memaksa pulang.”


“Oh, ya sudah.”


Sesampainya di rumah, Fahad mendapati istrinya yang tengah berada di kamar seorang diri. Istrinya itu tengah menata baju yang baru selesai disetrika ke dalam almari. “Sudah pulang?” tanya Nayla.


“Belum.” Fahad menjawab.


“Fahad, jangan—”


Nayla tidak sempat melanjutkan kalimatnya, sang suami sudah lebih dulu mendaratkan ciuman ke pipinya. Mata Fahad menyusuri seisi kamar, putrinya tidak ada. “Zia mana?”


“Sama Yasmin. Kamu pergi mandi dulu saja, aku siapkan baju ganti dan teh.” Fahad mengiyani ucapan sang istri.


***

__ADS_1


Makan malam pun tiba, kali ini Nayla memesan makanan dari restoran langganannya. Nayla sudah sangat merindukan biryani kesukaannya.


“Yasmin.” Fahad membuka suara, Yasmin mengangkat kepalanya menatap wajah Kakaknya tersebut.


“Tadi Adnan meminta ijin kakak untuk mengajakmu makan malam,” kata Fahad.


Sontak Yasmin membulatkan matanya dengan sempurna, berharap telinganya salah mendengar. “Kenapa dia nggak ngomong sama aku?” herannya.


“Katanya kamu nggak angkat telpon dia.”


“Oh, iya. Aku nggak angkat tadi.” Yasmin bergumam.


Yasmin mengatakan, bahwa dia merasa sedikit takut untuk bertemu berdua saja dengan Adnan.


“Dia baik, Yas, kamu saja yang nggak mau kenal dia lebih dekat,” tutur Fahad.


“Aku mau, Kak, tapi nggak di luar rumah. Aku maunya disini,” kata Yasmin.


Fahad mengatakan untuk mengundang Adnan makan malam di rumah mereka, besok. Dengan begitu, Yasmin akan merasa aman dan nyaman.


“Telpon atau kirim pesan sendiri ke Adnan, dia pasti balas pesan kamu. Apalagi kalau kamu telpon dia, bisa senyum-senyum sendiri dia.” Fahad menggoda Yasmin.


Huh!


Perjodohan ini sungguh membuat Yasmin pusing. Memang, Adnan Wasem adalah pria yang tampan. Tapi, tampan saja tidak cukup untuk sebuah pernikahan. Tampan dan cantik itu relatif, tinggal bagaimana kita memperlakukan anugerah itu dan bersyukur akan nikmat fisik yang di berikan sang pencipta. Tampan dan cantik, tapi tidak mempunyai rasa tanggungjawab, sama saja seperti cangkang keong yang kosong.


Sesuai saran Nayla, Yasmin bersedia mengenal Adnan lebih dekat lagi. Agar nanti jika sesudah ada kata Qubool hai, mereka tidak lagi merasa canggung saat sudah menjadi suami istri.


***


Hai, buat yang belum tahu arti jaanu itu apa, saya kasih penjelasannya, ya.


Jadi, jaanu itu artinya seperti, cintaku, hidupku. Di India beberapa orang memanggil orang terkasih mereka dengan panggilan Jaanu. Sama seperti Fahad dan Nayla ini yang sering memanggil Shazia dengan sebutan jaanu.


Tapi, seiring berkembangnya jaman ... banyak dari mereka yang memanggil kekasihnya dengan panggilan beby, namun tak jarang juga masih ada yang memanggil jaanu.


Jangan lupa like dan votenya, syukriya 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2