Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 106


__ADS_3

“Gimana persiapannya?” Nayla bertanya. Ia menyuguhkan secangkir kopi hitam untuk suaminya yang baru saja pulang dari Kashmir, mengantar Yumna pulang.


Fahad mengambil cangkir tersebut, menyeruput sedikit cairan hitam pekat beraroma caffein yang seketika menyeruak di indera penciumannya itu. “Persiapan apa?” tanyanya. Menaruh cangkir, lalu menyalakan komputer lipat.


“Pernikahan kamu, sudah berapa persen?”


Pertanyaan Nayla membuat Fahad mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pekerjaan. Ia mematikan laptop itu, menutup lalu meletakannya di meja. “Kamu nggak ada pertanyaan lain? Jangan bahas apapun, Nayla!” nada suaranya meninggi. Fahad lelah dengan semua pembicaraan tentang pernikahan.


“Oh, iya. Nanti tolong bilang sama Ammi, ya. Aku nggak bisa datang ke pernikahan kamu, aku harap Ammi bisa mengerti. Aku lagi hamil besar. Kalau enggak, aku pasti datang ke pernikahan kamu.”


Fahad bingung, ia harus marah atau iba. Menghela napasnya dengan panjang, Fahad mencoba menahan amarah yang ada di dalam hatinya. Ia muak. Sangat-sangat muak. “Nggak ada persiapan, nggak ada pernikahan. Stop, Sayang, jangan bahas tentang pernikahan. Jangan buat hati aku semakin sakit dengan sikap kamu yang biasa saja seperti ini. Aku mau kamu marah. Kamu boleh maki-maki aku, kamu juga boleh mukul aku. Boleh. Boleh banget!” ucap Fahad penuh penekanan. Mata keduanya terkunci cukup lama. Sorot mata Nayla menunjukkan rasa sakit meskipun bibirnya selalu tersenyum, Fahad sangat tau akan hal itu.


“Fahad, tapi—”


“Sudah, Sayang, jangan bahas apapun lagi. Aku muak. Aku capek. Stop! Jangan—”


“Kamu ngomong apa, sih?” tukas Nayla. “Aku, kan, belum selesai ngomong. Aku itu mau ngajak kamu keluar, aku mau makan malam di luar.” Nayla memberengut kesal. Lebih tepatnya, ia sedang mengalihkan suasana sedih yang tercipta oleh pertanyaannya sendiri.


Fahad tersenyum simpul, ia membelai lembut rambut Nayla yang terurai itu. “Oh, kirain. Ya, udah ayo.” Beranjak berdiri. Keduanya segera bersiap. “Jangan make up cantik-cantik. Jangan sampai ada yang dekatin kamu terus minta nomor ponsel.” Fahad memperingatkan saat Nayla tengah memakai pasmina yang berwarna maroon itu.


“Mulai! Cemburu nggak jelas!”


***


Semakin hari, Fahad semakin posesif. Ia melarang Nayla keluar apartemen. Bahkan untuk belanja bahan kebutuhan dapur dan yang lainnya, Fahad akan meminta tolong kepada Alina—sekertarisnya—untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan dan istri. Berulang kali Nayla memrotes, ia merasa sungkan kepada Alina. Sudah terlalu banyak wanita itu direpotkan oleh segala perintah suaminya, Fahad.


“Aku mau belanja baju-baju bayi, Fahad, kandungan aku sudah jalan sembilan bulan. Aku nggak mau melewatkan keseruan berbelanja kebutuhan bayi. Alina sudah cukup banyak kamu repotkan, Fahad. Jangan jadi bos yang seenaknya sendiri, ya!” pillow talk, lebih tepatnya ... Nayla melayangkan protesnya, sama seperti malam-malam sebelumnya.


“Iya, tapi belanjanya sama aku. Jangan sendiri. Tunggu aku libur, ya?”

__ADS_1


Liburnya kapan? Kalau weekend, kamu lagi ke Kashmir. Terus kapan aku belanja kebutuhan bayi? Nayla membatin kesal.


Jika dulu Fahad selalu berada di Kashmir selama seminggu, kini ia berada di Kashmir hanya dua hari. Tidak peduli sekeras apapun Ammi memaksanya untuk tinggal lebih lama, Fahad tetap akan kembali ke New Delhi demi Nayla. Tanggal persalinan Nayla diperkiraan—kurang lebih satu bulan lagi. Fahad ingin selalu berada di samping sang istri. Menunggu hari itu tiba, hari dimana ia akan menjadi seorang ayah. Hari di mana sang istri harus bertaruh nyawa demi anak mereka. Fahad tidak akan melewatkan hari itu.


Sejak pagi, Nayla selalu sibuk seperti biasanya. Ia menyiapkan sarapan untuk Fahad. Suaminya itu tidak menuntut macam-macam, asalkan ada salad sayur di meja makannya. Fahad selalu menerapkan hidup sehat. Jarang memakan makanan yang berminyak, kini ... suaminya itu lebih suka makanan yang direbus atau dikukus. Di usianya yang saat ini, Fahad tidak ingin kesehatannya terganggu—sebagai kepala rumahtangga, Fahad selalu memikirkan keluarganya. Dia satu-satunya pria, dimana Ammi dan kedua adiknya bertumpu kepadanya. Adanya Nayla, justru memberi semangat untuk selalu menerapkan pola hidup yang lebih sehat. Istrinya itu tidak pernah lelah mengingatkannya agar mengurangi makanan yang berminyak.


“Loh, kamu nggak kerja? Ini masih hari kamis.” Heran Nayla. Suaminya keluar kamar dengan pakaian santai. “Kemeja kerja kamu sudah aku siapkan di tempat tidur, kamu nggak lihat?” tanya Nayla.


Fahad duduk, mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Mengembalikan gelas tersebut ke meja setelah isinya berkurang separuh. “Aku nggak kerja, Sayang, besok aja kerjanya.”


“Kenapa?”


Memakan roti sandwich isi telur, Fahad meminta Nayla untuk duduk. Ia menyuapi istrinya sandwich yang baru saja ia gigit. “Aku ada urusan diluar, makanya aku nggak kerja.”


Nayla tidak bertanya lagi. Ia penasaran, tetapi lebih memilih untuk diam. Urusan pekerjaan, tidak ada yang lain. Nayla meyakinkan dirinya sendiri.


***


Fahad membuka pintu apartemen dengan perlahan, ia tidak ingin Nayla mengetahui kejutan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.


“Darimana?”


Fahad berjingkat kaget. Rupanya Nayla berdiri dibalik pintu. “Sayang, kirain tadi lagi tidur. Makanya aku masuk pelan-pelan.” Tersenyum, menutupi kegugupannya.


“Kamu darimana? Kenapa baru pulang? Katanya sebentar, ini sudah lewat makan siang, Fahad!” Nayla berseru kesal. Entahlah. Sejak kemarin ia merasa sangat kesal akan sikap suaminya. Apapun yang dilakukan Fahad salah, semuanya.


“Ya ampun, diomelin lagi,” gumam Fahad. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba merayu sang istri agar tidak lagi marah. Ia berjanji, sabtu besok akan menemani berbelanja kebutuhan bayi.


“Nggak usah janji. Aku bisa beli sendiri, kok!” Nayla hendak pergi masuk ke kamar, namun matanya tiba-tiba saja ditutup oleh sepasang telapak tangan. “Siapa?” Nayla meraba tangan tersebut, senyumnya merekah tatkala ia mengenali gelang tali di pergelangan tangan kiri itu. “Andi?”

__ADS_1


“Kok, tau, sih?! Nggak seru, ah!” Andi menurunkan tangan. Tubuh Nayla ambruk di pelukannya. “Mbak, jangan nangis, aku datang malah disambut air mata gini.”


“Mbak kangen, Andi, kangen banget sama kamu.” Nayla semakin mengeratkan pelukannya. Kaos Andi basah oleh air mata. Nayla meluapkan segala rasa rindunya, mungkin juga ... rasa sakit yang selama ini ia bendung seorang diri. Nayla rindu. Rindu suara dan senyum sang adik yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik layar ponsel pintarnya. “Kamu nggak kasih kabar kalau mau ke sini? Kan, mbak bisa jemput kamu di bandara.”


Mengurai pelukan, Andi menghapus air mata Nayla dengan kedua ibu jarinya. “Kalau kasih tau, kejutannya gagal dong, Mbak.”


Fahad bahagia melihat kebersamaan Nayla dan Andi. Rasanya, sudah lama ia tidak melihat senyum kebahagiaan dari istrinya. Selama ini, hanya luka hati yang ia berikan. Fahad tau, Andi juga sumber kebahagiaan istrinya tersebut. Sudah lama ia meminta Andi untuk datang ke India, namun kesibukan sebagai mahasiswa dan pekerja paruh waktu di sebuah studio foto ... membuat Andi kesusahan mengatur jadwal liburnya. Barulah sekarang, adik iparnya itu bisa datang ke India. Tepat di hari ulang tahun Nayla.


***


“Selamat ulang tahun, Mbak.” Andi memberikan satu kotak sepatu kepada Nayla. Seusai makna malam, mereka bertiga duduk bersama di living room.


“Ulang tahun?” tanya Nayla. “Aku?” menunjuk dirinya sendiri. “Ini tanggal berapa, sih?”


“Tanggal 24 April. Mbak, lupa? Udah tua, sih!” ledek Andi. Sebuah pukulan melayang di lengannya, dari Nayla. Andi merindukan itu, merindukan pukulan sayang dari kakaknya.


Nayla dengan antusias membuka kotak sepatu itu, namun sesaat senyum manisnya itu pudar setelah mengetahui isi dari kotak tersebut. Bukan sepatu, tetapi mie instan dan juga sambal botol kesukaannya. “Kok, mie instan? Mana sepatunya?” protesnya kepada Andi.


“Mbak, kangen mie instan Indonesia, kan? Jadi Andi bawain itu. Sepatunya masih di Indonesia, koper Andi nggak muat.” Lagi, sebuah pukulan ia terima dari Nayla. “Mbak, rese!” serunya.


“Lagian, ngasih kado masa mie instan. Nggak ada yang lain?”


Andi tertawa kecil, “ada, Mbak, ada. Ini kado yang asli.” Andi memberikan satu kotak kecil bermotif kincir angin itu kepada Nayla.


Nayla tersenyum, alunan merdu dari kotak musik itu menyambutnya. “Cantik. Makasih, Andi.” Mendengarkan, memandang kincir angin mini di dalamnya yang berputar saat musik itu masih mengalun, juga ... ada sepasang burung—yang juga berputar—di samping kincir angin.


Nayla lupa akan rasa sakit di hatinya. Kedatangan Andi membuat suasana hatinya berubah. Ia lebih bersemangat dan lebih sering tersenyum bahagia. Fahad pun sama, ia merasa bahagia melihat sang istri yang juga bahagia. Fahad berharap, dengan adanya Andi, kesedihan istrinya itu bisa sedikit terobati. Dan juga, ia sedang mengobati rasa sedih di hatinya. Fahad ingin melupakan Kashmir, melupakan perintah Ammi dan hidup dengan tenang.


***

__ADS_1


__ADS_2