
Dengan memakai celana jeans dan baju tunik santai, Nayla kini sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Perlahan, lift turun dan berhenti di lantai dua. Pintu terbuka, terlihat seorang pria India masuk seorang diri.
Begitu melihatnya, Nayla mundur hingga ke pojokan. Nayla merasa takut. Pasalnya, hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Lift kembali berjalan turun. Nayla menunduk, ia tak berani melihat pria yang berdiri sejajar dengannya itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria tersebut.
“Hah?” Nayla mendongakkan wajahnya.
Terlihat jelas ketakutan di wajah Nayla, “tenang, aku bukan pria jahat.” Ucap pria tersebut.
Nayla mengangguk, ia menepiskan senyumnya dengan terpaksa. Lagi, pria itu bertanya dari mana asal Nayla.
“Indonesia.” Nayla Menjawab.
Pintu lift sampai di lantai dasar, Nayla keluar tanpa berkata sepatah katapun. Ia tak mempedulikan saat pria tersebut berteriak memanggilnya dengan sebutan nona.
Nayla berlari, menuju toko bahan kue yang tak jauh dari pandangannya.
“Aku lupa bertanya namanya. Lain kali saja kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan bertanya.” Ya, pria tersebut menyesal tidak menanyakan nama gadis tersebut.
Pria itu melihat Nayla masuk ke sebuah toko, ingin menyusulnya, namun ia ada urusan lain yang harus ia selesaikan.
Nayla bergegas pulang setelah selesai membeli bahan yang ia butuhkan. Ia berjalan dengan tas kain yang ia tenteng di tangan kirinya. Masuk ke lift, ia menekan tombol angka tujuh—karena apartemennya berada di lantai tersebut.
Pintu hampir tertutup dengan sempurna, namun ada satu kaki yang menghalangi pintu lift tertutup. Nayla melihatnya, ada seorang pria yang masuk seraya melemparkan senyuman kepadanya.
“Hi, kita bertemu lagi.”
Nayla tersenyum kaku, “hi, juga,” balasnya.
Ya, pria yang sama.
Tubuhnya mungil, dia terlihat sangat manis dengan penutup kepala itu.—hijab. Batin pria tersebut.
Nayla sedikit merasa tidak nyaman dengan pria tersebut. Pasalnya, pria itu terus saja memandanginya. Berharap lift meluncur secepat mungkin agar ia tidak harus bersama pria tersebut dalam lift yang sama.
Kedua tangannya meremas tali tas belanja, Nayla tidak berani mengangkat kepalanya. Hingga sebuah suara mengejutkannya yang sontak memandang si pria yang sedang bertanya di lantai berapa ia tinggal.
Sebuah keberuntungan, lift berhenti di lantai dua di mana pria itu tinggal. Sehingga Nayla tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut. Pria itu pamit, menepiskan senyumnya kepada Nayla. Setelah pintu lift tertutup dan berjalan naik lagi, Nayla mengelus dadanya, merasa lega.
“Gara-gara maksa keluar, pasti Fahad ngomel daritadi.” Nayla bergumam lirih.
__ADS_1
***
Setelah menaruh tas belanjaan di meja dapur, Nayla masuk ke kamar untuk mengganti bajunya dengan baju santai terlebih dahulu sebelum membuat kue. Mengeluarkan belanjaan satu persatu serta menyiapkan wadah yang ia butuhkan.
Ponselnya berdering, nama Fahad tertera di sana. Segera ia menerima panggilan itu setelah sebelumnya mencuci tangan. Seperti tebakannya, suaminya itu pasti mengkhawatirkannya.
Nayla menegaskan bahwa ia baik-baik saja, tidak ada satupun yang berkurang darinya. Melihat waktu sudah semakin sore, Nayla pun mengakhiri panggilannya agar kue sudah matang ketika suaminya pulang nanti.
Ponsel Nayla kembali berdering saat ia menuang tepung. Dengan bersemangat, Nayla menerima panggilan video dari Andi. Wajahnya berbinar bahagia melihat wajah adik yang ia rindukan. Pun sama, Andi tak kalah bahagia.
Andi meledek Nayla begitu mengetahui kakaknya itu sedang membuat kue. “Nanti ovennya bisa meledak, loh, Mbak.”
Bukan takut, Nayla justru merasa lebih percaya diri untuk membuat kue. “Mbak bisa, kok, buat kue, Mbak Indah yang ngajarin.” Nayla membela diri.
“Masa?” Andi tidak mempercayainya. “Kapan?”
“Ya, pokoknya pernah diajarin Mbak Indah.” Nayla menjawab dengan tangan yang tetap sibuk membuat adonan kue.
Andi memutus panggilan dengan Nayla sebab ia mendapat panggilan lain.
***
Langit sudah gelap. Para karyawan sudah pulang sejak tadi. Namun, berbeda dengan Fahad, ia masih sibuk di dalam ruangannya.
“Pak Fahad masih belum pulang, Pak,” jawab Alina sembari melihat ke arah pintu ruangan Fahad.
Sahil menyuruh Alina untuk pulang. Meskipun sedikit takut jika Fahad akan memarahinya, Sahil memaksa Alina untuk segera pulang. “Pulanglah, biar aku yang berbicara sama Fahad. Dia nggak akan marah.”
Alina pun pulang, dan Sahil masuk ke ruangan Fahad. Seperti biasa, ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Fahad Malik Khan,” suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Fahad sudah hafal dengan tingkah Sahil, ia pun tetap sibuk dengan komputer lipatnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Sahil sedikitpun.
“Bekerja saja sampai pagi, kalau perlu nggak usah pulang, tidur saja di kantor. Biar saja istrimu kabur dan pulang ke Indonesia.” Sahil duduk di kursi depan meja kerja Fahad.
“Oh, shit!” Fahad mengumpat dirinya sendiri. “Aku lupa,” mematikan laptopnya, berdiri lalu mengambil jas yang ia selampirkan di punggung kursi kerjanya. “Kenapa Nayla nggak telpon?” Fahad mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Dengan tergesa-gesa ia keluar ruangan.
“Fahad, berhenti.”
Fahad menghentikan langkahnya, ia berbalik, “ada apa? Aku bagus cepat pulang, Nayla menunggu—”
“Ini, antar aku pulang dulu.” Sahil melempar kunci mobil kepada Fahad.
__ADS_1
Kening Fahad berkerut dalam, ia melihat kunci mobil yang sudah berada di genggaman tangannya. “Aku sedang buru-buru, Sahil, pulanglah sendiri.”
“Kamu lupa lagi? Itu mobilmu, bawalah pulang, tapi sebelumnya antar aku pulang, aku nggak mau naik taksi ataupun bis.” Sahil berjalan mendahului Fahad.
“Aku lupa lagi.” Fahad tersenyum sendiri.
***
Melajukan mobilnya dengan kecepatan—yang cukup tinggi—Fahad membelah jalanan malam ibukota India. Berkali-kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Fahad terus saja mengumpat dirinya yang lupa bahwa ia bukan lagi seorang duda.
Ada istri yang menunggunya pulang, yang menunggunya untuk makan malam bersama. Kebiasaannya di India memang belum sepenuhnya hilang. Bekerja hingga larut malam tanpa mempedulikan kesehatan dirinya sendiri.
Fahad terlebih dahulu menelpon Nayla bahwa ia sudah berada di parkiran apartemen. Mempercepat langkah kakinya, masuk lift lalu menekan tombol angka tujuh.
Nayla duduk di sofa ruang tamu, ia beranjak berdiri setelah mendengar suara bel pintu. Menyambut suami dengan sebuah senyuman manis, Nayla mengambil jas Fahad di tangannya.
“Maaf, Sayang, aku banyak pekerjaan.”
Sedikit berbohong. Tidak mungkin Fahad mengatakan bahwa ia lupa ada istri yang sudah menunggunya pulang bekerja. Ia tidak ingin melukai perasaan Nayla.
“Iya,” berjalan bersama menuju kamar mereka, Nayla membuka lemari, hendak mengambilnya baju ganti untuk suaminya. “Kamu mau teh apa kopi?” Nayla bertanya.
“Nggak usah, Sayang, habis mandi kita pergi keluar. Kamu ganti baju aja dulu.” Fahad mendekati Nayla, menyentuh puncak kepala sang istri dengan lembut. “Kita makan malam di luar, kamu belum makan, kan?” tanya Fahad.
“Udah,” jawab Nayla.
“Makan apa? Kamu keluar sendiri lagi?” cerca Fahad.
“Enggak.” Nayla menggeleng cepat. “Aku makan kue, tadi aku buat chocolate cupcake.”
Fahad meraup wajahnya dengan kasar, lagi-lagi ia lupa bahwa istrinya tadi membuat kue. Sudah pasti kue itu Nayla buat untuk dirinya, suaminya.
Lebih mendekat, Fahad menangkap wajah Nayla dengan kedua telapak tangannya. Ia tatap wajah wanita yang seharian ini sudah menunggunya pulang bekerja, namun ia dengan bodohnya melupakan statusnya yang sudah menikah.
“Maaf, hari ini aku lupa kalau ...,”
“Apa?” tanya Nayla karena Fahad tidak melanjutkan ucapannya.
“Aku lupa kalau aku udah nikah lagi, aku lupa kalau ada istri yang nunggu daritadi. Maaf, Sayang.” Fahad tidak ingin berbohong lebih jauh lagi. Akan lebih menyakitkan jika istrinya tahu kebohongannya dari orang lain.
Nayla hanyalah manusia biasa, ia juga merasa kecewa mendengar penuturan Fahad—yang lupa bahwa ada seorang istri yang menunggunya di rumah. Nayla berusaha mengerti, ia tidak ingin marah, ia tahu bahwa pekerjaan suaminya banyak yang terbengkalai. Tak lain dan tak bukan semua itu dikarenakan dirinya, istrinya.
__ADS_1
Nayla tepiskan sebuah senyuman yang seketika menenangkan hati Fahad. “Iya, nggak apa. Kan, aku baru sehari di sini. Besok-besok kalau kamu lupa lagi, aku nggak jamin kalau nggak marah.”
***