
Fahad mengusir Yasmin, ia menyuruh adiknya itu untuk segera berangkat bekerja. Sudah pasti Yasmin menolak, ia tidak mau meninggalkan kakak iparnya. Fahad mendesah frustasi, ia menarik kerah baju tidur Yasmin agar adiknya keluar dari kamarnya.
“Kak Fahad! Aku bukan kucing, ya!” semburnya dengan tatapan marah. “Kakak ipar, Kak Fahad—”
“Mulut!” Fahad membungkam bibir Yasmin dengan telapak tangannya. “Suka ngadu banget, sih.”
“Fahad, jangan—”
“Ah, oke-oke, aku lepasin dia,” tukas Fahad begitu istrinya akan berbicara. Yasmin mencebik, ia keluar kamar kakaknya untuk bersiap berangkat bekerja.
***
Fahad hanya mengantar adiknya ke kantor, ia memilih tidak masuk bekerja karena ingin bersama Nayla, menjaganya sepanjang hari. Ia melakukannya karena ingin menebus kesalahan yang ia lakukan semalam, meskipun ia tau ... permintaan maaf serta apapun usaha yang ia lakukan tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu—untuk memperbaiki semuanya dari awal.
Sampai di apartemen, Fahad berjalan menuju dapur sebab ia mendengar suara istrinya yang sedang bernyanyi.
Toota jo kabhi taara, sajna ve~ [¹]
Tujhse Rab se, maanga ~ [²]
Rab se jo maanga, mileya ve~ [³]
Tu mileya to jaane na dunga mein~ [⁴] Fahad menyahut sembari memeluk tubuh Nayla dari belakang.
“Kamu udah pulang?” tanya Nayla yang terkejut.
Fahad mengangguk, ia melepas pelukannya lalu berdiri di samping istrinya yang sibuk membuat mie instan. “Istriku ini suka banget sama lagunya Atif Aslam,” tangannya sibuk merapikan anak rambut Nayla yang terurai. “Nggak ada penyanyi lain apa?”
“Ada, kok, banyak malah. Ada Arjit Singh, Jubin Nautiyal, Armaan Malik, Amal Malik, Tony Kakkar, Himesh—”
“Udah-udah, kenapa jadi bahas pria lain, sih?” tukas Fahad. Rasa cemburu mulai merasukinya lagi. Kali ini berbeda, tidak seperti kecemburuannya terhadap Anand.
Nayla tertawa, ia mematikan kompor lalu menuang mie kuah lengkap dengan sayur dan telur itu ke dalam mangkuk. Nayla hendak membawa mangkuk tersebut ke meja makan, namun Fahad sudah lebih dulu membawanya. “Jangan terlalu sering makan mie instan, Sayang, lebih baik bikin mie sendiri.” Fahad berujar. Ia mengambilkan segelas air minum untuk istrinya.
Nayla mengiyani, jika saja tubuhnya bisa diajak kompromi ... ia ingin sekali membuat mie ayam, tapi akan membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya, tubuhnya masih belum bisa berdiri terlalu lama. “Cuma mie instan yang bisa dimasak cepat, lain kali aku bikin mie sendiri.”
__ADS_1
Fahad menyentuh puncak kepala Nayla sembari menepiskan senyumannya. Ia menyuapi Nayla, sesekali ia juga memakan mie dari sendok dan mangkuk yang sama dengan istrinya. Keduanya menghabiskan waktu bersama, sesekali candaan dilontarkan Fahad dan Nayla—agar suasana diantara mereka bisa lebih dan lebih baik lagi.
“Andi kapan liburnya?” tanya Fahad.
Nayla mengedikkan bahunya, “dia belum ngomong sama aku. Kalaupun libur, dia kayaknya juga nggak bakal ke sini.”
“Kenapa?”
Nayla meneguk air putih, lalu menaruh gelas tersebut kembali ke tempatnya. “Dia kerja, di salah satu studio pemotretan yang dekat sama kampusnya.”
Fahad terkejut mendengarnya. “Kenapa dia nggak ngomong sama aku? Sejak kapan dia kerja?” cercanya.
“Belum lama, kok.” Nayla menambahkan, ia meminta Fahad untuk tidak lagi mengirim uang kepada adiknya. Biarlah Andi berusaha sendiri, adiknya itu memang meminta agar Fahad tidak lagi mengiriminya uang. Semua tabungan dari orang tua, serta penghasilan yang Andi dapat dari bekerja sudah cukup untuk mengisi perut dan kebutuhannya yang lain. Meskipun tidak seberapa, Nayla tau ... Andi pasti bisa mengatur keuangan dari apa yang sudah adiknya itu dapatkan.
Fahad melayangkan protesnya, ia merasa ikut bertanggungjawab terhadap hidup Andi. Semua saudara Nayla yang lain juga pasti bertanggung jawab, dan kini ... setelah ia menikahi Nayla, tanggungjawab sebagai kakak dari Andi juga sudah menjadi tanggungjawabnya. Di India, warga negara asing tidak bisa bekerja dengan seenaknya, ada ketentuan khusus bagi warga negara asing yang menikah dengan warga negara setempat. Kalaupun boleh, tentu Fahad tidak akan mengizinkan istrinya itu untuk bekerja. Sudah cukup Nayla berjuang sejak lulus dari bangku SMA. Biarlah kini ia yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup Andi.
“Sama seperti Yasmin dan Yumna, Andi juga adikku, Sayang.” Fahad menekankan kepada Nayla. “Aku nggak bisa diam aja, semua kakak-kakaknya harus bisa bekerja sama, termasuk aku,” imbuhnya kemudian.
“Tapi, Andi yang bilang sendiri, Fahad. Dia udah merasa cukup dengan apa yang dia dapat, aku yakin sama Andi.”
Fahad mencoba untuk mengerti. Sebagai seorang kakak, ia menyetujui keinginan Andi. Seorang pria, sebelum menikah, memang harus bisa berdiri di kakinya sendiri. Agar nanti ia bisa bertanggungjawab terhadap istri dan anak. “Tapi, kalau semisal ada apa-apa, aku dikasih tau lagi, ya? Aku nggak guna banget kalau nggak tanggungjawab sama Andi.” Fahad berpesan.
***
Matahari semakin tinggi, Nayla mengutarakan niatnya yang ingin berkeliling Kota New Delhi. Suaminya mengambil libur hari ini, akan sangat membosankan jika hanya menghabiskan waktu di rumah saja. “Aku udah nggak sakit, kok. Aku bisa jalan juga. Ya?” rayunya kepada Fahad.
Bukan Fahad tidak mau, ia tau ... tubuh istrinya pasti masih terasa sakit. Fahad tidak ingin kondisinya lebih buruk lagi, ia ingin menjaga Nayla seharian. Fahad tersenyum simpul melihat Nayla yang mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena keinginannya tidak dituruti. “Jadi pengin gigit.” Fahad lebih mendekat, “ah!” ia berteriak kesakitan, mengelus bagian perut di mana Nayla sudah mencubitnya. “Iya, iya, kita keluar. Tapi, kamu benar udah nggak apa, kan? Udah nggak sakit, kan?” Fahad memastikan.
“Iya, buktinya aku udah bisa cubit kamu, kan?” balas Nayla yang membuat suaminya itu tertawa.
Mereka segera bersiap. Fahad membantu Nayla memakai jaket tebal. Cuaca hari ini tidak terlalu dingin, tapi Fahad tetap memaksa istrinya memakai jaket.
Tujuan pertama keduanya ialah mengunjungi Lodhi Garden. Mata Nayla disuguhi dengan keindahan kawasan tersebut. Cuaca dingin tidak menghalangi warga setempat untuk menikmati taman yang selalu menjadi tujuan untuk bersantai sekaligus berkumpul bersama teman ataupun keluarga. Seolah lupa akan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Nayla terus saja berjalan menyusuri taman, “Masya Allah, cantik banget.”
Fahad menggandeng tangan Nayla, kemanapun istrinya itu menunjuk dan melangkah, ia tidak akan pernah melepasnya barang sedetikpun. Terukir sebuah senyuman tatkala melihat Nayla yang sangat bahagia. “Kita foto, yuk?” ajak Fahad yang langsung mendapat penolakan dari sang istri. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Aku lagi nggak pengin aja, nanti kalau pengin ... kita foto bareng. Oke?”
Fahad mengangguk.Sebenarnya, Fahad sudah bisa menebak bahwa Nayla akan menolak, istrinya tidak terlalu suka dengan kamera. Tidak masalah, mereka sudah mempunyai foto pernikahan, itu sudah lebih dari cukup bagi Fahad.
“Fahad, bisa minta tolong lepas tangan kamu sebentar?” Nayla bertanya.
“Nggak mau.” Fahad menggeleng keras. “Udah cukup pulang dari mall kemarin aku nggak gandeng kamu, sekarang aku bakal gandeng tangan kamu terus.”
“Aku mau benerin hijab dulu, ini mulai longgar jarumnya.” Nayla menjelaskan. Fahad tertawa lalu melepas tangannya agar Nayla bisa leluasa membetulkan hijab.
“Kamu pasti dan selalu sukses bikin minder aku. Kenapa muka kamu awet muda, sih? Kan, aku jadi kelihatan kayak om-om yang pacaran sama anak SMA!” cetus Fahad.
***
Lodhi Garden merupakan tempat wisata yang dapat dikunjungi apabila datang ke New Delhi, India. Lodhi Garden merupakan salah satu taman di New Delhi yang paling banyak digemari oleh penduduk setempat termasuk wisatawan untuk menikmati suasana taman sambil bersantai sehingga cocok untuk dijadikan pula sebagai tujuan wisata. Lokasi dari taman ini terletak di Lodhi Road, New Delhi.
Lodhi Garden sebenarnya merupakan makam dari Sikander Lodi, Mohamad Syah, Shees Gumbad, dan Bara Gumbad. Mereka adalah para penguasa Kesultanan Delhi pada abad ke-15. Makam tersebut memiliki arsitektur yang sangat indak dan menarik dengan bentuk bangunan kubah, di mana berusia lebih dari 700 tahun. Hamparan rumput yang hijau menjadikan taman ini sebagai salah satu alasan tempat favorit untuk rekreasi dan jauh dari kesan angker yang biasa memang identik dengan sebuah makam. Puluhan jenis burung, beberapa jenis tupai, dan pepohonan yang rindang juga menjadi pelengkap yang menghiasi Lodhi Garden ini sehingga makin menarik untuk dikunjungi.
***
[¹] Setiap kali aku melihat bintang jatuh, sayangku
[²] Aku memintamu dari tuhan
[³] Aku sudah dapatkan semua yang aku minta dari tuhan
[⁴] Jika aku mendapatkanmu, aku tak akan pernah membiarkanmu pergi
Musik: Sachin-Jigar
Lirik: Priya Saraiya
Label: Zee Music Company
__ADS_1
Singers: Atif Aslam & Sumedha Karmahe
Movie: A Flying Jatt (2016)