
“Apa?!” terkejut Yumna. “Bibi, bicara apa? Kenapa Kak Fahad harus menikah lagi?!” ia tak terima. Bagaimana mungkin dengan mudahnya Bibi Farida mengatakan bahwa kakaknya harus menikah lagi.
Fahad menatap Ammi. Terkejut? Sudah pasti. Ia maish diam, berusaha mencari jawaban dari mata Ammi.
“Tunggu!” Yumna teringat sesuatu. “Kemarin seharian kakak ipar ngurung diri di kamar, matanya sembab, wajahnya pucat. Jadi, itu semua karena berita ini?” bertanya kepada Ammi dan Bibi Farida, namun keduanya tidak menjawab apapun pertanyaan yang dilontarkan Yumna. “Kak Fahad?”
Fahad mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Yumna diam. “Ammi, apa semua ini benar? Ammi, mau Fahad nikah lagi?” tanyanya dengan lembut, ia berusaha tidak menyakiti hati ibunya.
Ammi mengangguk, ia mengatakan agar Fahad menikah lagi demi kelangsungan keturunan mereka. Akan lebih baik jika keturunan Fahad lahir dari seorang ibu yang juga berkewarganegaraan yang sama dengan mereka. Ammi menambahkan, ia tidak ingin melihat Fahad dan Nayla bercerai. Nayla akan tinggal di Indonesia, sementara istri kedua Fahad akan tinggal di Kashmir bersamanya—sebagai menantu tertua di rumah mereka. Dan juga, Ammi mengatakan kekecewaannya setelah putranya itu menikah dengan Nayla. Menurut Ammi, Fahad berubah ... putranya itu sudah tidak lagi meminta izin kepadanya. Semua keputusan diambil olehnya sendiri. “Kamu pergi ke Indonesia tanpa kasih tau Ammi, balik ke India juga nggak kesini buat ketemu sama Ammi. Kamu berubah, Nak.” Ammi berujar.
Fahad menghela napasnya dalam-dalam, ia menunduk bingung. Bagaimana memberi pengertian kepada Ammi tentang alasan yang membuatnya mendadak pergi ke Indonesia tanpa meminta izinnya terlebih dahulu. Nayla ... istrinya itu sudah memintanya berjanji untuk tidak mengatakan perihal kecelakaan yang merenggut calon anak pertama mereka. Istrinya tidak ingin membuat Ammi merasa sedih, sudah cukup dengan kepergian Aadil, sekarang ... tidak boleh ada kabar buruk yang didengar Ammi.
“Kenapa, Ammi, berpikir seperti itu? Nggak ada yang berubah, semua tetap sama. Fahad minta maaf, Ammi, kalau selama ini ada yang kurang dari Fahad. Tapi, semua itu nggak ada sangkut-pautnya sama Nayla. Dia nggak—”
“Yang jelas, kamu tetap harus nikah lagi, Fahad.” Bibi Farida bersuara.
Yumna menoleh, menyorot tajam Bibi Farida yang berdiri di belakangnya. “Bibi, nggak bisa maksa Kak Fahad. Kak Fahad udah punya istri, buat apa nikah lagi?”
Fahad beranjak berdiri, “aku nggak bisa.” Lirihnya, ia keluar kamar ... berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya. Nayla yang melihatnya pun segera menyusul suaminya dengan secangkir teh diatas nampan yang ia bawa.
Nayla menaruh nampan diatas meja, ia melihat Fahad masuk ke kamar mandi. Menyiapkan baju ganti suaminya, sesudah itu Nayla memilih membersihkan tempat tidurnya ... mengganti sprei dengan yang baru dan bersih.
Fahad keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada, udara dingin tak lagi ia pedulikan. Melihat istrinya, sudut hatinya merasa perih. Ia pun menghampiri Nayla, meraih pergelangan tangannya lalu mengajaknya untuk duduk ditepi tempat tidur. Nayla yang melihat suaminya bertelanjang dada itu segera mengambil kurta berwarna putih dan sweater rajut. “Dingin, Fahad, nanti kamu sakit.” Nayla berujar.
Fahad sudah selesai memakai baju, ia masih sibuk memperhatikan Nayla yang terus saja berjalan kesana kemari—mengeluarkan isi dari tas ransel yang berisi laptop beserta perlengkapannya dan juga satu jaket tebal—ia menaruhnya ditempat yang seharusnya. Selesai, Nayla kini menghampiri Fahad dengan secangkir teh di tangannya. “Ini, minum dulu.” Fahad tidak menerima teh tersebut, ia tetap memandangi wajah sendu istrinya. Nayla menyerah, ia menaruh cangkir itu di meja nakas.
“Mau sampai kapan kau diam aja kayak gini? Pura-pura nggak tau apa-apa, dan sekarang aku yang kayak orang bego di sini.”
__ADS_1
Nayla mengerutkan keningnya, ia bingung akan ucapan suaminya. “Maksud kamu apa, sih? Kayak orang bego gimana?”
“Soal Ammi yang nyuruh aku nikah lagi.” Fahad berujar penuh penekanan. “Kapan kamu tau semua ini?”
Nayla mengakhirinya matanya yang terkunci oleh pasangan mata suaminya. Ia menunduk, jari jemarinya saling meremas. “Kemarin. Aku nggak sengaja dengar Ammi dana bibi ngebahas soal pernikahan kamu.”
“Shit!” Fahad berdiri, ia meraup kasar wajahnya. Deru napasnya tak beratur, Fahad ingin sekali menghancurkan apapun yang ada di depannya. “Kenapa kamu nggak ngomong sama aku? Aku baru dateng dan harus denger semua ini. Sakit, Sayang, hati aku sakit!”
Nayla beranjak berdiri, ia tidak ingin Suaminya melihat airmatanya yang hampir jatuh. Namun, Fahad dengan cepat menarik pergelangan tangannya, menenggelamkamnya didekapan hangatnya. “Jangan hadapi semua ini sendiri, kita harus selalu berdua ... sampai kapanpun cuma kamu istriku.”
Sungai air mata itu sudah tak mampu Nayla bendung, tumpahlah semua rasa kecewa yang ia pendam. Menangis, Nayla dekap erat tubuh suaminya. “Jangan diam, Sayang, kamu boleh marah, boleh banget. Kamu punya hak. Aku mau bicara sama Ammi lagi.” Fahad mengurai pelukannya, ia hendak keluar kamar untuk menemui Ammi, namun Nayla segera menahannya. Istrinya itu menggeleng dengan air mata yang masih terus mengalir. “Aku nggak bisa diam kayak gini, aku harus bicara sama Ammi,” kata Fahad.
“Jangan sekarang, Fahad, waktunya nggak tepat.” Nayla berujar. Fahad ingin mengatakan alasannya pergi ke Indonesia beberapa waktu yang lalu kepada Ammi, ya ... perihal kecelakaan dan keguguran yang dialami istrinya.
“Kamu udah janji sama aku, kamu nggak bakal bilang apapun sama Ammi. Dan, janji itu masih berlaku, Fahad, jangan bilang ke Ammi. Jangan.”
***
Semua orang sudah duduk berkumpul di meja makan, Nayla dengan dibantu Hannah ... melayani semua anggota keluarga. Mata Fahad tak lepas dari Nayla, istrinya itu tidak marah kepadanya. Dan, itu semakin membuatnya merasa bersalah, akan lebih baik jika Nayla memarahinya ... memaki, atau bahkan memukul, ia tidak akan keberatan.
Selesai mengambilkan makanan di piring suaminya, Nayla hendak kembali ke dapur bersama Hannah. Namun, Fahad memanggilnya—memintanya untuk duduk bersama. Fahad mulai menyendok makanan ke mulutnya, begitupun dengan yang lain.
“Fahad, kamu sudah memutuskan?” tanya Bibi Farida.
“Jangan bahas apapun di meja makan, Bi,” ujar Fahad tanpa menatap bibinya.
Bibi Farida kembali bersuara, bibinya itu menginginkan Fahad mengambil keputusan sekarang juga. Fahad menjatuhkan sendok, menimbulkan suara nyaring di piringnya. “Bi, aku bilang jangan bahas apapun di meja makan!” ucapnya penuh penekanan.
__ADS_1
“Fahad, tapi—”
Kini bukan Fahad yang menjatuhkan sendok, namun Yumna. Ia merasa kesal terhadap Bibi Farida, “kenapa Kak Fahad harus nikah lagi? Kenapa nggak, Bibi, aja?” sembur Yumna.
Fahad melihat ke arah Nayla yang tengah menunduk. Ammi memarahi Yumna, meminta agar putrinya itu berbicara lebih sopan kepadanya Bibi Farida. “Kenapa, Ammi? Aku nggak salah, kan, bilang kayak gini? Emang nyatanya Kak Fahad udah nikah, jadi lebih baik bibi aja yang nikah lagi.”
Fahad berdiri, ia meninggalkan meja makan lalu kembali ke kamar dan disusul Yumna kemudian. Semua pergi satu persatu, tinggalah Nayla yang membereskan meja makan dengan dibantu Hannah.
“Nona, belum bicara sama Tuan muda? Soal sikap dan ucapan Bibi Farida?” Hannah bertanya.
Nayla yang sibuk mengelap meja makan itupun sontak menoleh lalu tersenyum kepada Hannah. “Enggak, Hannah, Fahad udah cukup pusing dengan semua pekerjaannya. Ditambah ...,” Nayla diam sejenak, ia menghela napasnya dengan berat. “Kamu tau sendiri, Hannah, ini mengejutkan semua orang.”
“Nona, jangan pergi. Tetap disisi Tuan Fahad, jangan sampai dia kembali seperti dulu.”
Nayla hanya bisa mengangguk pasrah. Ia permisi ke atas setelah mengambilkan makanan untuk suaminya—dengan nampan yang terdapat sepiring makanan, dan satu gelas air putih. Membuat pintu, ia dapati suaminya itu tengah duduk di sofa. “Kamu belum makan, sekarang makan ini dulu, ya. Aku mau antar makanan ke kamar Yumna.” Menaruhnya di meja, Nayla berbalik ... ia hendak keluar kamar.
“Ayo, kita balik ke Delhi.” Fahad bersuara. Memaksa langkah Nayla untuk berhenti lalu berbalik menatapnya.
“Kamu baru datang, Fahad, kenapa buru-buru balik?” Nayla bertanya, ia mendudukkan tubuhnya di samping Fahad.
“Aku nggak mau dengar apapun lagi, Ammi sama bibi pasti masih ngebahas soal itu.”
“Pergi dari sini bukan sebuah solusi, Fahad, yang ada semuanya tambah rumit.” Nayla berujar.
i
Fahad mendesah frustasi, ia tetap memaksa untuk kembali ke New Delhi esok hari. Namun, tetap saja ... Nayla menolaknya. Sudah cukup apa yang disangkakan oleh Ammi dan bibi, Nayla tidak ingin semuanya bertambah buruk.
__ADS_1
***