
Andi bukan hanya mengantar Dewi sampai di depan rumah. Dia masuk, mengatakan bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Dewi. Tak lupa, Andi juga meminta maaf kepada kedua orangtuanya Dewi, karena belum bisa memenuhi syarat yang diberikan kepadanya. Selepas mengatakan hal itu, Andi segera berpamitan untuk bergegas pulang. Sudah cukup. Biarlah, kisah cintanya berakhir seperti ini. Andi yakin, jika Dewi memang jodohnya, mereka pasti akan disatukan lagi oleh sang pencipta.
“Dewi yang kukenal bukan Dewi yang cengeng seperti ini.” Andi mengambil sapu tangan berwarna biru dari saku lalu memberikannya kepada Dewi. “Jangan takut atau ragu, orangtua kamu pasti mencarikan lelaki yang terbaik untuk jadi suami kamu.”
Dewi mengangguk, ia menghapus air matanya dengan sapu tangan tersebut. “Kamu tetap menepati janji, kan? Kalau kamu pasti menjaga aku, sebagai teman.”
“Pasti, De, kita masih bisa berteman.”
Dewi menatap mobil Andi yang semakin jauh. Setelah cukup lama, Dewi masuk ke rumah dengan mata yang sembab.
***
Andi dan Nayla sudah sampai di rumah Sari. Terlihat beberapa orang sibuk berlalu lalang. Ibu Sari yang melihat Nayla datang pun segera menghampiri dan menyambut teman putrinya itu.
“Nayla, sudah lama nggak ketemu. Sudah punya anak tapi tetap cantik saja kamu ... Masya Allah,” ucap Tante Hana, ibu dari Sari.
Nayla melihat sudah ada Nita dan suaminya yang duduk di salah satu kursi. Sementara Sari, ia masih ada di kamarnya tengah bersiap.
“Boneka India sdah datang.” Nita sangat antusias. Dia mengambil alih Shazia dari gendongan Nayla. Si pipi gembul yang memang mudah akrab itu tidak menolak ularan tangan Nita. Dengan senang hati ia duduk di pangkuan wanita yang memakai gaun batik berwarna cokelat itu.
Suami Nita mencubit pipi Shazia gemas. Senyum gadis mungil itu mampu menyihir siapa saja yang melihatnya. “Masya Allah, dia senyum.”
Nayla ke kamar Sari, ia hendak memberikan kado yang ia beli kemarin dengan Andi. Sekalian ia juga ingin menggoda temannya itu yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Doni.
Setelah beberapa saat berada di kamar Sari, Nayla keluar karena Doni beserta keluarganya sudah datang. Ia menghampiri Andi yang masih duduk bersama Nita dan suaminya. “Andi, Zia mana?” Nayla bertanya.
“Itu.” Andi menunjukkan dengan gerakan matanya. Terlihat seorang pria yang memang sedang menggendong putrinya. “Sama om favoritnya,” imbuhnya.
__ADS_1
Ryan. Siapa lagi, bukan? Nayla menghampiri Ryan, mengambil Shazia dari gendongan pria itu. Saat acara dimulai, Nayla memilih duduk menyendiri bersama sang putri. Dia tidak ingin putrinya merasa terganggu dengan banyaknya orang yang hadir. Shazia sangat banyak bicara, menunjuk apapun yang dirasa menarik perhatiannya. “Zia, makan kue ini, ya. Kalau sudah sepi nanti kita ke Tante Sari.” Suap demi suap berhasil masuk ke bibir mungil Shazia. Nayla membiarkan sang putri untuk berjalan-jalan di sekitarnya karena tempat itu memang cukup luas karena tidak ada kursi atau meja tamu.
“Nay.” Ryan datang menyapa. Ia mengambil satu kursi lalu menaruhnya di samping Nayla.
“Ryan, nggak duduk di sana?” Nayla bertanya. Canggung sekali rasanya. Bukan karena apa ... dia hanya sedang mengingat suaminya, Fahad.
“Sudah penuh, Nay.”
Nayla mengangguk. “Kamu datang sama siapa, Yan?” tanyanya.
“Sendiri, Nay,” tangannya menjadikan pipi gembul Shazia. “Mau datang sama siapa lagi? Masa sama kamu,” imbuhnya.
Nayla membalas senyuman pria tersebut. Hati Ryan merasakan kehangatan melihat senyum Nayla. Ia semakin terpesona melihat wanita cantik di hadapan ini. Tanpa ia sadari, sebuah pujian pun ia lontarkan. “Kamu cantik, Nay, pakai dress itu.”
Hah? Apa? Dia bilang apa tadi? batin Nayla.
“Nay, kenapa kamu nggak sadar?” Ryan bertanya. Nayla diam sejenak, ia memperhatikan wajah Ryan. Kedua manik mata pria itu menatapnya dengan dalam.
“Kamu kenapa nggak sadar sama perasaan aku?”Ryan yang tak mengalihkan pandangannya dari sorot mata Nayla.
“Kamu ngomong apa sih, Yan? Ayo kita kesana aja.”.Nayla hendak berdiri, namun pergelangan tangannya sudah lebih dulu diraib oleh Ryan. Tidak ingin ada keributan, Nayla terpaksa kembali duduk di samping tuan.
Andi datang lalu membawa Shazia bersamanya. Ryan memiliki kesempatan yang lebih baik lagi. “Aku masih cinta sama kamu, Nay.” Mata keduanya saling terkunci cukup lama.
Menarik tangannya dari genggaman tangan Ryan. Nayla beranjak berdiri, ia ingin pergi. Namun, tangannya kembali diraih oleh Ryan. Pria itu membawa Nayla masuk ke kamar Sari.
“Ryan, jangan seperti ini.” Menghempaskan cengkeram tangan itu. Nayla tidak bisa pergi karena Ryan berdiri dibalik pintu kamar tersebut. “Ryan, kamu tau sendiri kalau aku—”
__ADS_1
“Aku nggak bisa diam lagi. Aku sudah berusaha, Nay. Tapi semakin aku berusaha, cinta itu semakin kuat. Aku nggak bisa, Nay,” tukas Ryan.
“Aku sudah berubah, Ryan, aku bukan Nayla yang dulu. Aku sudah punya anak dan suami. Aku mohon jangan seperti ini.” Nayla mengiba. Tidak mungkin ia membalas semua ucapan Ryan dengan sebuah kemarahan. Dia tidak ingin menghancurkan hari bahagia temannya.
“Kenapa kamu nggak bilang sejak awal, kalau kamu mau diperjuangkan? Kenapa kamu selalu menghindar dan bilang kalau kamu belum siap untuk sebuah pernikahan. Tapi, setelah kamu bertemu lelaki itu, semua impian kamu berubah, Nay. Kamu lupa kalau kamu belum siap menikah.” Ryan menyesal. Dia tidak berjuang lagi setelah mendengar satu penolakan dari Nayla. Andaikan semuanya itu bisa diulang, tentu Ryan akan berjuang sepenuh hati untuk memperjuangkan cintanya. Tak peduli berapa kali Nayla menolak, dia akan tetap berjuang.
Nayla menunduk. Ya, dia ingat semuanya. Jangankan menikah, untuk menjalin sebuah hubungan saja Nayla tidak mau. Karena baginya, Andi adalah yang terpenting. Kedatangan Fahad, rasa cinta, semua itu jauh dari kendalinya. Hatinya tidak bisa berbohong.
“Ryan, dengarkan aku.” Nayla mencoba meredakan emosi di dalam hati lelaki itu. “Ini bukan soal kamu ataupun—”
“Nayla.” Ryan kembali menukas. “Apa ini semua karena dia kaya? Dia bisa mencukupi semua kebutuhanmu lebih dari cukup?”
“Kamu!” suara Nayla tertahan. Sudah pasti itu bukan alasannya. Andaikan Ryan tau, bahkan Nayla pernah menolak Fahad karena status sosial yang dimiliki pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. “Kamu nggak kenal aku?” tanyanya.
“Nayla ...”
Sorot mata itu menunjukkan betapa luka hatinya sangat dalam. Ryan menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam. “Aku sekarang juga sudah berubah, Nay, aku melakukan semua ini buat kamu. Aku membangun semua usahaku ini demi kamu.”
“Ryan ...,” panggil Nayla dengan suara terendahnya. “Aku minta maaf, dulu aku nggak bisa jatuh cinta sama kamu—”
Dekapan tubuh dari Ryan mengejutkan Nayla. Lelaki itu mendekapnya semakin kuat saat ia mencoba memberontak. Bahkan, Ryan menitihkan air matanya. “Aku mohon, Nay, jangan mengabaikan hatiku lagi. Sudah cukup, aku nggak bisa, Nay.”
“Ryan, aku nggak suka seperti ini!” geram Nayla.
Dekapan itu terlepas. Situasi macam apa ini? Nayla merasa terjebak. “Aku kira kamu mengenalku, tapi ternyata kamu nggak tau siapa aku yang sebenarnya.” Nayla masih mencoba memberi penjelasan. Tidak ingin menambah luka di hati lelaki yang menatapnya dengan mata yang penuh cinta itu. “Bukan karena siapa dia atau siapa kamu. Aku bisa saja menikah sama kamu kalau kita ini memang jodoh. Tolong kamu ingat, aku menikah dengan dia bukan karena dia kaya!” Nayla menekankan. “Stop, Ryan, jangan seperti ini, aku mohon. Sudahi ini semua. Kamu nggak mau aku sakit, kan?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Ryan. “Aku juga nggak mau kamu sakit, Ryan. Kamu temanku, aku menghargai kamu.”
“Terima kasih karena kamu sudah mencintaiku. Maafkan aku, maaf karena aku nggak bisa membalas cinta kamu.” Nayla menambahkan.
__ADS_1
Ryan mengangguk. Ia menggeser tubuhnya, mempersilakan Nayla untuk keluar. “Nayla,” panggilnya sesaat sebelum wanita di hadapannya ini membuka pintu. “Maaf, aku tetap nggak bisa. Aku tetap cinta sama kamu.”
***