
Andi mematikan mesin motor, ia baru saja pulang. Panggilan dari Shazia menyambutnya. Andi berpikir, apa ini ... yang sering diucapkan para ayah ketika mereka sudah pulang bekerja? Kalau sudah di rumah, lihat senyum anak, semua rasa lelah hilang seketika. Andi mengangkat tubuh mungil itu, mencium pipinya dengan sangat gemas. Senyum ceria Shazia seolah menyihirnya. Rasa lelahnya hilang.
“Baru pulang kamu?” tanya Nayla.
Andi mendudukkan tubuhnya di sofa,mengeluarkan boneka yang tadi pagi ia janjikan kepada Shazia. “Belum, masih di jalan.” Santai Andi tanpa mengalihkan pandangan dari Shazia.
Nayla berdecak kesal. Ingin sekali ia memukul lengan adiknya tersebut. Namun, ia urungkan niatnya, ada Shazia di sana. Tidak baik jika putrinya melihat apa yang ia lakukan kepada Andi. “Rese!” kesal Nayla.
Saatnya makan malam, semua berkumpul di meja makan. Andi sudah selesai membersihkan diri, keponakannya itu kembali duduk di pangkuannya. Andi menikmati momen tersebut. Kesibukannya membuat ia kesulitan untuk berkunjung ke India, hanya panggilan video yang mampu mengikis rasa rindunya kepada Nayla dan juga keponakannya.
“Mbak, aku pulangnya nggak tentu. Kalau makan malam nggak perlu nunggu aku pulang. Nanti takutnya kemalaman.” Andi berucap dengan lembut.
Nayla mengangguk. “Tapi, kamu jangan telat makan.”
Fahad memperhatikan istri dan juga adik iparnya. Keduanya selalu menunjukkan rasa sayang satu sama lain. Bahkan, orang sering mengira bahwa Nayla dan Andi adalah sepasang kekasih. Jika berjalan bersama, keduanya memang terlihat sangat serasi.
“Ah, lucunya. Imut-imut, cantik.”
“Iyalah cantik, ibunya saja cantik, ayahnya juga ... cakep.”
Kata-kata itu ditujukan kepada Shazia, Andi dan juga Nayla yang sedang berjalan bersama ke sebuah taman bermain—saat tidak bersama Fahad. Sesampainya di rumah, Nayla menceritakan hal tersebut kepada suaminya. Tentu, Fahad tertawa mendengarnya. Tak masalah jika orang mengira Nayla dan Andi adalah sepasang suami istri, yang penting bukan pria lain. Begitulah kata Fahad.
Seusai makan malam, keluarga kecil itu bercengkerama di ruang tv. Fahad dan Andi sibuk dengan komputer lipat yang berada di pangkuan mereka masing-masing. Nayla sibuk bermain bersama Shazia. Putrinya belum mengantuk sama sekali. Malah, Shazia terlihat mengajak Andi untuk bermain. Ia berjalan perlahan, mendatangi Andi lalu menyentuh pundak omnya tersebut.
“Om Andi.” Panggilnya dengan suara ikut sembari memiringkan kepalanya agar matanya bisa menjangkau wajah Andi dengan sempurna.
“Zia, sudah jam sembilan. Nggak ngantuk?” tanya Andi, ia menurunkan laptop lalu beralih memangku Shazia. Mencubit pipi gembul keponakannya, Andi sangat gemas. Sangat-sanvat gemas hingga ia ingin sekali menggibit pipi Shazia.
Ponselnya berdering, Andi mengambil benda pilih itu yang tergeletak di sampingnya. Tak lama, ia kembali menaruh ponselnya ke lantai setelah membaca nama si penelpon. Satu. Dua. Tiga. Sudah tiga kali ponselnya terus berdering. Namun, Andi sama sekali tidak mempedulikannya. Ia tidak membuat ponselnya dalam mode senyap, karena Shazia sangat menyukai suara lagu yang terdengar menghentak itu. Shazia menggoyangkan tubuhnya, mengikuti irama lagu tersebut.
“Angkat dulu, Andi, siapa tau itu penting.” Nayla bersuara.
“Salah sambung, Mbak.”
__ADS_1
Fahad ikut bersuara. Ia yakin, itu bukan salah sambung. Jika salah sambung, kenapa menelpon sampai tiga kali? Sangat lucu. “Pacar kamu?” tanyanya.
Andi menoleh. Ia terkejut mendengar pertanyaan Fahad. Menggeleng keras, membantah dengan cepat.
“Angkat dulu Andi, cewek kalau sudah ngambek itu bahaya. Bisa meledak seisi rumah.” Fahad berujar.
“Eh!” Nayla berdiri. “Kamu nyindir aku?” tanyanya. Namun, Fahad berkilah. Nayla yakin betul, bahwa suaminya itu sedang menyindir dirinya. Siapa lagi kalau bukan dirinya?
“Sayang, cewek di dunia ini banyak. Bukan kamu, kok.”
Nayla mengambil Shazia dari pangkuan Andi. “Kamu tidur di sini sama Andi.” Masuk ke kamar, mengunci pintu. Nayla kesal. Bisa-bisanya Fahad mengatakan hal seperti itu. Ia ngambek dan marah juga karena Fahad, suaminya. Siapa lagi jika bukan suaminya. Tidak mungkin suami orang.
Fahad menghela napas lelah. Benar, bukan? Akan mengerikan jika perempuan sudah marah. Mereka memang seperti itu, tapi tidak mau dikatakan seperti itu. “Andi, apa pacarmu juga sepeti kakakmu itu?”
“Hah?” Andi menoleh. Satu alisnya terangkat naik. “Pacar apa? Aku nggak punya pacar.” Bohongnya.
Fahad tertawa. Dari raut wajahnya saja, ia sudah tau bahwa Andi memang mempunyai pacar. “Oke, mau aku carikan istri, nggak? Atau nikah sekalian? Mumpung aku dan Nayla masih di sini.”
Andi muak mendengar ejekan itu. Menikah, dicarikan calon istri. Oh, itu benar-benar membuatnya kesal. Andi ingin fokus menggeluti pekerjaannya. Ia sama sekali tidak khawatir perihal jodoh. Jika sudah saatnya, pasti bertemu. Semua sudah ada yang mengatur bukan? Santai saja ... semua akan indah pada waktunya—dengan usaha juga tentunya. Tidak akan ada yang indah jika tidak ada usaha dan doa.
***
Memasaknya pun cukup mudah, tumis bayam dengan sedikit minyak sampai sedikit layu. Jika sudah, sisihkan dan mulai tumis bumbu-bumbunya. Satu yang tidak boleh ketinggalan dari sebuah masakan India ialah garam masala, bumbu rempah-rempah khas India yang Nayla bawa. Setelah bumbu harum, masukkan bayam, dan jika sudah matang ... blend bayam yang sudah dicampur bumbu tadi, ingin halus atau sedikit kasar itu tergantung selera. Nayla dan Fahad memiliki selera yang sama, tidak suka jika bayamnya terlalu lembut. Nayla hanya menghitung selama lima detik untuk proses penghalusannya.
Setelah itu, masukkan kembali ke dalam wajan dan masukkan beberapa potongan Paneer di dalamnya. Tambahkan garam dan penyedap rasa sesuai selera, jika merasa terlalu kental, boleh di tambahkan sedikit air lalu tutup wajan tersebut dan tunggu sampai mendidih. Nayla juga memasak beras basmati, beras khas India yang memiliki bentuk panjang-panjang dan aroma yang khas. Bahkan jika di lihat dari jauh, beras itu akan terlihat seperti bihun. Panjang dan kecil.
Andi yang tidak terlalu menyukai makanan India pun meminta Nayla untuk memasakannya nasi goreng.
Nayla sudah menata beberapa menu masakan di meja makan. Tidak sempat jika ia harus menatanya lesehan dengan ia yang masih menyelesaikan memanggang sedikit sisa adonan Allo parathanya. Andi sudah duduk di kursi meja makan sembari menyeruput kopi buatan sang kakak. Sementara Fahad, ia sibuk mengganggu putri kecilnya agar segera bangun. Hingga akhirnya terdengar suara tangisan dari sang putri yang mencari Mamanya. “Fahad!” geram Nayla yang sudah hapal apa yang dilakukan sang suami ketika putri mereka belum bangun.
Fahad keluar kamar menuju dapur dengan Shazia yang berada digendongannya. Gadis mungil itu menangis dengan kedua tangannya yang mengarah meminta digendong oleh Mamanya. Nayla mematikan kompor dan segera mencuci tangannya kemudian ia melepas apron yang melekat di tubuhnya.
“Kamu kebiasaan, pasti suka gangguin tidurnya Shazia,” ujar Nayla yang mengambil Arishfa dari gendongan papanya.
“Enggak ganggu, Sayang, aku tadi cuma cium pipinya dia.” Fahad membela diri.
__ADS_1
“Itu terus alasan kamu, nggak ada yang lain apa?” Nayla menepuk punggung Shazia agar putrinya itu berhenti menangis. “Mama bikinin susu, Jaanu. Dim, ya.” Nayla mengambil botol susu Shazia. Dengan satu tangan menggendong sang putri, Nayla sangat lihai menuang beberapa sendok bubuk susu lalu menuang air panas. Nayla mempunyai kesibukan lain, ia sudah memulai bisnis barunya di dunia clothing sejak setahun yang lalu. Awalnya, Nayla menolak memberi susu formula, namun Fahad yang memaksanya. Tidak masalah memberi susu formula. Toh, Nayla juga masih memberi asi eksklusif untuk sang putri. Fahad hanya tidak ingin Nayla kelelahan. Fahad mendukung penuh bisnis yang digeluti sang istri. Ia tau, Nayla mempunyai semangat dan juga passion di dunia bisnis.
“Sini gendong papa?” Fahad mengulurkan kedua tangannya, namun Arishfa menolak, Si pipi gembul tersebut melingkarkan kedua tangannya di leher Nayla dengan erat. Ia masih marah pada papanya.
Nayla berjalan ke arah meja makan, ia duduk agar Shazia lebih nyaman untuk meminum susu. Fahad juga mendudukkan tubuhnya di samping Nayla, ia mengambil cangkir kopinya lalu meminumnya.
“Sini pangku om.” Andi yang memberi penawaran pada Shazia, kedua tangannya segera mengangkat gadis mungil tersebut. Tidak ada penolakan, Shazia kini sudah duduk di pangkuan omnya.
“Sekarang apa-apa pasti sama omnya. Papa dicuekin ...” Kata Fahad.
“Makanya jangan digangguin terus dia. Masih enak-enak tidur malah kamu bangunin. Besok-besok gitu aja terus!” dengus Nayla. Ia kembali ke dapur, menyelesaikan memanggang Allo paratha.
“Masih marah.” Lesu Fahad yang kembali mendapat tawa ledekan dari Andi. Shaiza memegang botol susunya sendiri, ia sangat nyaman duduk di pangkuan Andi.
Nayla mengambilkan makanan di piring suaminya, ada selembar Allo paratha, sesendok Palak Paneer, sesendok nasi basmati, dan tentu kuah beserta ayam karinya. “Andi, bawa nasi bekal, ya?”
“Enggak usah, Mbak. Aku juga belum tentu bisa makan siang nanti,” jawabnya.
”Ya, justeru itu ... kalau kamu bawa makan siang kamu pasti makan.” Nayla berujar.
Andi diam sejenak lalu mengiyakan ucapan kakaknya. "Iya, tapi nasi sama ayam ini aja. Aku nggak mau itu, apa tuh namanya?" Andi menunjuk Palak Paneer. “Itu, si valak itu ... aku nggak mau.” Sambung Andi.
Fahad dan Nayla terkekeh mendengarnya. “Palak Paneer, Andi." Sahut Nayla.
“Ya, pokoknya itu lah.” Ucap Andi.
Selesai menyuapi Shazia, Nayla segera menyiapkan bekal makan siang untuk Andi.
“Bye, Om!” seru Shazia begitu ia melihat Andi yang naik motor seraya melambaikan tangan.
“Bye, Gembul.”
***
@ummy_wachida_
__ADS_1