Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 15 S2


__ADS_3

Fahad dan Nayla masih mengobrol, masih berada di dapur. Memang, kesalahpahaman diantara mereka sudah selesai, tetapi Fahad tak henti menggoda sang istri. Tuduhan yang dilayangkan Nayla terdengar tidak masuk akal dan sangat lucu. Istrinya itu tidak pernah menyimpulkan sesuatu dari apa yang terlihat dan terdengar. Nayla pasti akan bertanya terlebih dahulu. Fahad mengakui, dirinya sendirilah yang sangat suka menyimpulkan segala sesuatu tanpa menunggu penjelasan. Namun, sekarang, semuanya terbalik.


Mungkin, jarak dan rasa rindu menjadi penyebab utama semua itu. Fahad dapat mengerti, ketakutan yang dirasakan Nayla saat ada wanita lain menjawab panggilannya. Saat istrinya berada di Indonesia, rasa cemburu dan pikiran jahat terkadang sangat suka berlarian di benaknya. Terlebih, kepergian istrinya ke Indonesia kali ini memakan waktu yang lebih lama.


“Sayang, aku boleh tanya sesuatu?”


“Tanya apa?”


“Kenapa baru kali ini kamu curiga sama aku?”


Pertanyaan konyol! batin Nayla. Sudah pasti semua wanita akan curiga saat mendengar suara wanita lain dari ponsel suaminya.


Bukan tanpa alasan. Nayla baru saja mendengar kabar dari salah satu temannya, yang juga menikah dengan warga negara India. Ia mengenal wanita itu saat menghadiri acara di KBRI New Delhi. Teman Nayla tersebut baru saja mengajukan gugatan perceraian karena sang suami selingkuh saat dirinya berada di Indonesia. Setelah sepuluh tahun pernikahan, dianugerahi dua anak, nyatanya tak sanggup untuk membantu mempertahankan biduk rumah tangga tersebut.


“Itu suami dia, Sayang, bukan suami kamu. Aku mana mungkin selingkuh, punya istri seperti kamu ini nggak mungkin aku sia-siakan. Kamu, tuh, ibarat—”


“Mulai, deh!” tukas Nayla. Suaminya sedang dalam mode merayu. Menggelikan. Fahad tertawa mendengarnya.


“Ehhemm!” Andi datang, ia duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan Nayla. “Bikin tehnya di Texas apa di Meksiko?” sindirnya. “Lama banget.”


Nayla tertawa, ia menyuguhkan secangkir teh kepada adiknya tersebut.


“Eh, tunggu.” Andi menghentikan Nayla yang beranjak berdiri. “Mbak, kangen-kangenannya bisa pakai handphone sendiri, nggak?” menengadahkan satu tangannya di depan wajah Nayla.


“Iya, lupa.” Nayla mengatakan kepada Fahad untuk menelpon ke nomornya lalu mematikan sambungan telepon tersebut. “Ini, makasih, ya. Kamu sudah makan?” tanya Nayla.


Andi mengangguk, “sudah, tadi pesan makanan sama Reza.”


Nayla masuk ke kamar, ia menerima panggilan video dari Fahad. Mengarahkan layar ponselnya untuk menangkap Shazia. Nayla merasa bersalah, karena dirinya yang, seharian ini—oh, tidak! bahkan dari kemarin, Fahad tidak melihat dan berbicara dengan Shazia.

__ADS_1


Di kesempatan ini, di suasana hati Fahad yang cukup baik, Nayla ingin meminta izin suaminya untuk datang ke pernikahan Sari dan Doni. Mereka berdua adalah teman baiknya, tentu Nayla harus datang. “Aku sama Andi, kok.” Nayla tau, suaminya pasti memikirkan tentang Ryan. Lelaki itu pasti ada di sana juga.


Kedua sudut bibir Fahad terangkat naik. Wajah istrinya terlihat sangat menggemaskan saat meminta izin, seperti anak kecil yang tengah meminta izin ibunya untuk pergi bermain. “Sari sama Doni nggak mau nunda pernikahan dulu?” tanyanya yang membuat kedua alis mata Nayla menyatu.


“Kenapa harus ditunda?” Nayla bertanya.


“Ya, biar aku bisa datang sama kamu ke pernikahan mereka. Biar semua orang tau, kalau kamu itu istriku.”


“Besok jidatku ini mau aku kasih tulisan, ISTRINYA FAHAD!”


Tawa terdengar dari Fahad. “Dikasih gambar pemandangan juga, ya.”


Percakapan mereka masih berlanjut, Nayla juga tak lupa mengucapkan terima kasih atas bunga-bunga yang dikirim oleh suaminya itu. Fahad juga mengizinkan Nayla datang ke pernikahan Sari dan Doni. Dengan syarat, harus bersama Andi, jangan terlalu cantik, jangan melepaskan Shazia berdua saja dengan omnya. Fahad tidak ingin ada yang menganggap Nayla masih gadis—belum menikah.


***


“Kenapa, Mbak?” Andi bertanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop. “Daritadi kenapa lihat Andi sampai segitunya?”


Nayla tersenyum, ia memdekatkan posisi duduknya dengan Andi. “Kamu apa kabar?” tanyanya dengan lembut.


Menoleh sebentar, Andi tertawa kecil. Pertanyaan kakaknya ini terdengar sangat lucu. “Kelihatannya gimana?”


“Kalau dilihat dari mata sepertinya baik-baik saja. Tapi kalau pakai mata batin ... entahlah.”


Mematikan layar laptop lalu menaruhnya di meja. “Nggak sekalian pakai mata kaki, Mbak.” Andi berujar. Suara tawa terdengar dari keduanya.


Kenangan itu kembali melintas di mata Nayla. Dulu, dia dan Andi sangat sering bertukar pikiran dan mengobrol seperti ini. Suasana hangat sangat terasa. Awalnya, Nayla sangat mengkhawatirkannya Andi saat akan pindah tinggal di India bersama Fahad. Namun, adiknya itu mampu membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar sudah dewasa. Semua usaha dan jerih payahnya membuahkan hasil. Cara mengatur keuangan, mengurus diri sendiri, memegang kepercayaan yang sudah diberikan ... Andi mampu menjaga dan melewati itu semua dengan baik.


“Butiknya gimana, Mbak? Rame?” Andi bertanya.

__ADS_1


“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Nayla memukul pundak Andi. Tidak keras, adiknya itu tidak meringis kesakitan. “Hati kamu apa kabar?”


Menyandarkan kepalanya ke sofa, Andi menatap langit-langit rumah. Tidak munafik, tentu ada rasa sakit di hatinya. Bukan hanya karena orang tua Dewi, namun juga karena keputusannya sendiri. Andi merasa lelah dengan tuntutan tersebut. Untuk berjuang, rasanya tetap akan sia-sia saja. Menilai seseorang dari status sosialnya sangatlah tidak adil. Andi sangat membenci itu.


“Tapi, kamu juga salah, Andi.” Nayla berujar. “Kamu membuat Dewi dalam posisi serba salah. Dewi sudah menerima kamu apa adanya, tapi orangtuanya enggak. Kamu bisa merasakan apa yang Dewi rasakan? Dia pasti bingung, Andi, dia seperti terjebak diantara kamu dan orangtuanya.”


“Iya, Mbak, aku juga salah. Aku nggak jujur sejak awal sama Dewi dan orangtuanya.”


“Bukan itu saja,” tukas Nayla. “Kamu kenapa, sih? Pakai ngetes-ngetes segala? Kamu penipu, Andi!” Nayla geram.


“Maksudku bukan gitu, Mbak, aku—”


“Apa?” Nayla mencubit lengan adiknya tersebut dengan sangat keras. Hampir saja Andi berteriak jika tidak ingat bahwa Shazia sedang tidur.


Ucapan Nayla membuat Andi tersadar bahwa ia juga bersalah dalam hal ini. Keputusannya untuk menutupi pekerjaannya sebagai fotografer kini justru membuat hubungan cintanya berakhir begitu saja.


“Mbak nggak tau sejauh apa hubungan kalian, sedalam apa kamu cinta sama Dewi. Kalau masih bisa diperbaiki, coba diperbaiki. Kalau enggak, kamu harus bisa bertanggungjawab sama keputusan yang sudah kamu ambil. Kamu juga harus minta maaf sama Dewi, dia korban dari keegoisan kamu dan orangtuanya.”


Andi mengangguk. “Beberapa hari ini aku masih sibuk, belum tau kapan bisa ketemu sama Dewi. Tapi, aku pasti minta maaf sama dia, kalau bisa, ya ... diperbaiki, balikan. Kalau enggak, kita bisa berteman.”


“Nah, gitu, dong!” Nayla menepuk pundak Andi dengan sangat keras. “Ternyata, kamu belum cukup dewasa kalau berhadapan sama yang namanya cinta,” imbuhnya.


Menggeser posisi duduknya. Andi menyentuh pundaknya yang kesakitan. Tangan Nayla memang kecil, tapi kekuatannya sungguh tak terduga. “Aku belum dewasa? Mbak, sendiri apa kabar? Marah sama suami, handphone nggak aktif. Mbak, pikir itu nggak kekanakan?” sindirnya.


Nayla tertawa. memang benar, sikapnya itu sangat kekanakan. Ah, tapi tidak ada yang salah jika sedang marah dengan suami dan mematikan ponsel untuk menenangkan diri, menurut Nayla. “Iya, mbak tau. Besok-besok kalau marah, mbak bilang dulu sama Fahad. Biar nggak bingung kalau handphoneku nggak aktif.”


“dihhhh.”


***

__ADS_1


__ADS_2