
Nayla dan Fahad tengah bersiap untuk pergi ke pernikahan Nita. Mereka terlihat sempurna dengan busana sarimbit yang membuat aura mereka semakin terpancar.
Masih memakai pasmina, sedari tadi kedua mata Fahad tak lepas dari Nayla. Istrinya itu sangat cantik, bagi Fahad. Tubuh mungilnya tertutup oleh gaun batik semi brukat serta pasmina warna merah muda pekat—gaun itu sangat cocok dipakai Nayla.
“Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?” tanya Nayla. Ia merasa risih terus saja dipandangi.
Fahad yang duduk ditepi tempat tidur itupun beranjak berdiri, “aku lagi lihatin Nyonya Fahad.” Ujarnya sembari menyentuh lembut pipi Nayla.
“Kan, ngerayu lagi.” Nayla melengos kesal. Ia tidak suka mendengar rayuan, lebih tepatnya merasa sangat muak.
Fahad terkekeh, “nggak ngerayu. Kamu emang cantik pakai gaun ini.”
“Berarti gaunnya yang cantik. Kalau aku nggak pakai ini, aku nggak jadi cantik.”
“Kamu!” Fahad memeluk Nayla, “jangan bikin gemas, nanti kita nggak jadi ke pernikahan teman kamu, gimana?”
Ck!
Nayla memberengut kesal, “kamu pikirannya gitu terus, aku nggak suka!”
Fahad hanya bergurau, ia memeluk Nayla ... mencium puncak kepalanya lama. “Jangan berfikiran seperti itu, aku yakin kamu kenal aku dengan baik. Aku bukan pria mesum, aku aja nggak pernah ngapa-ngapain kamu pas masih pacaran. Kalau sekarang—”
“Udah-udah, jadi kemana-mana. Iya, aku tahu dan aku percaya kamu bukan pria nakal dan mesum. Pertahankan itu.” Nayla menenggelamkan wajahnya di dada bidang Fahad, mencium aroma tubuh suaminya yang sangat ia sukai.
Andi melihat kakak dan kakak iparnya keluar kamar, decakan kagum ia lontarkan begitu melihat Nayla begitu cantik. Wajahnya berseri penuh kebahagiaan, senyum serta keramahan yang disuguhkan menjadi point plus dari seorang Nayla, kakaknya.
“Ngapain kamu senyum-senyum gitu?” tegur Nayla pada Andi.
Andi menggeleng, tetap dengan senyum yang ia sematkan. Ia yang semula duduk di kursi ruang tamu itupun beranjak berdiri, menghampiri Nayla yang masih berada di depan pintu kamar.
“Mbak.” Andi merapikan pasmina Nayla, Fahad hanya memperhatikan kedua adik kakak tersebut. “Ada nggak, ya? Cewek yang kayak, Mbak Nayla, gini? Nggak harus 100%, 90% aja juga nggak apa. Biar aku tetap ngerasa kalau, Mbak Nayla, ada di samping aku terus,” ujar Andi.
Nayla terbaru mendengarnya, telaga bening mulai memenuhi mata sendunya. Merapikan rambut Andi lalu berucap, “cintai dia, siapapun itu ... karena dirinya sendiri. Jodohmu nanti pasti punya sesuatu yang buat kamu jatuh cinta, bukan karena dia mirip sama Mbak.”
Andi mengangguk, memahami penjelasan Nayla. “Semoga, Mbak Nayla, bahagia terus. Sehat dan dikelilingi sama orang-orang yang tulus.” Doa terbaik selalu ia ucapkan untuk kakaknya.
Kemesraan Andi dan Nayla membuat Fahad semakin merindukan kedua adiknya, Yasmin dan Yumna. Sikap manja keduanya sangat ia rindukan. Sama seperti Andi, kedua adiknya juga berharap mempunyai suami seperti dirinya ... Fahad mengetahuinya dari Sahil, sahabatnya yang juga membantu dirinya berkerja di perusahaan.
Yasmin selalu bercerita kepada Sahil bahwa ia sangat mengagumi Fahad, sosok kakaknya yang selalu bisa menjaga kehormatan wanita. Juga memberi kebebasan tentang apa yang diinginkan istrinya—tetap dengan syarat; tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai seorang wanita, seorang istri juga seorang ibu.
__ADS_1
“Andi, mau nikah sekarang? Biar aku cariin jodoh,” celetuk Fahad.
“Nggak, makasih. Aku bisa cari sendiri. Aku juga belum mau nikah, masih mau lanjut kuliah terus kerja. Punya studio sendiri.”
Nayla dan Fahad tertawa kecil mendengarnya. Mereka juga merasa bangga, di usianya yang terbilang masih sangat muda ... Andi sudah merencanakan masa depannya dengan sangat baik. Hobi photography Andi membuat ia terus menggali ilmu di bidang multimedia. Ya, ia mengambil ilmu tersebut di bangku universitas.
Nayla sangat mendukung apa yang Andi geluti, dan sekarang ... ada Fahad yang juga mendukungnya. Suaminya selalu menunjukkan bahwa ia juga peduli terhadap adiknya.
Fahad tidak sedang mencari muka untuk nama baiknya, ia benar-benar peduli terhadap adik iparnya. Ia sadar betul, istrinya menjadi sandaran bagi Andi—apapun keadaanya. Fahad tahu, Andi selalu membagi segala kebahagiaan serta keluh kesahnya kepada Nayla. Hubungan saudara Nayla dan Andi membuat Fahad kagum. Ia tak ingin menjadi tembok penghalang diantara keduanya. Meskipun sudah menjadi istrinya, ia tak boleh egois untuk menguasai Nayla seorang diri.
Nayla adalah seorang kakak, adik, bibi, istri, juga ibu dari anak-anaknya nanti. Fahad percaya bahwa gadis pilihannya itu pasti bisa melakukan semuanya dengan baik.
***
Semua pasang mata tertuju pada pasangan yang baru saja masuk dengan saling bergandengan tangan. Keduanya terlihat sangat serasi, Fahad pun tak sungkan menunjukkan kemesraannya di hadapan semua orang.
Sang pemilik acara belum terlihat keluar dari kamar, keduanya sedang mengganti busana. Sembari menunggu, Nayla dan Fahad duduk di kursi yang sedikit jauh dari para tamu yang lain.
Saling bertanya, menerka-nerka tentang siapakah pasangan yang mereka lihat. Datanglah Nita yang mendengar beberapa temannya menanyakan tentang hal itu. Ia menjelaskan tentang siapa pasangan serasi yang tak sungkan saling memberi perhatian—yang sedang mereka bicarakan.
Terkejut. Itu sudah pasti. Mendengar Nayla yang hanya seorang pelayan restaurant dan menikah dengan pria berkewarganegaraan asing membuat mereka terheran-heran. Bagaimana bisa? Pertanyaan yang kompak mereka lontarkan.
Nita mengajak suaminya untuk menemui Nayla dan Fahad. Tak lama, datanglah Doni bersama Ryan. Mereka berdua menghampiri Nita—memberi ucapan selamat. Tatapan mata Ryan dan Nayla saling terkunci, ada rasa canggung diantara mereka berdua. Ryan berusaha menetralkan perasaan tersebut, Nayla pun sama.
Ekor mata Fahad menelusuri kemana arah pandangan istrinya. Dan, ya ... Ryan. Fahad sangat tidak menyukai pria itu. Ia berdehem lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, lebih merapatkan jarak mereka.
“Doni, Sari nggak bareng kamu?” tanya Nayla mencoba untuk mencairkan suasana.
“Sari nggak bisa datang, mungkin besok dia ke sini.” Doni menyampaikan permintaan maaf Sari kepada Nita dan suami. Gadis itu tengah masuk sift siang, dan pagi tadi ibunya sakit ... dan Sari pun tidak bisa datang.
Ryan melihat tangan Fahad, dadanya bergemuruh, tangannya mengepal kesal. Tapi sebisa mungkin ia sembunyikan itu semua, ia tetap tersenyum ... berbicara seperti biasanya kepada Nayla dan yang lainnya. Biarlah ia menyimpan itu sendiri, entah sampai kapan pertahanannya sanggup menahan rasa yang selama ini ia rasakan.
Oh, shit!
Fahad mengumpat dalam hati. Ia muak berada dalam satu ruangan bersama Ryan. Ia masih ingat, malam itu Nayla hampir diantar pulang setelah bekerja oleh pria itu, Ryan. Fahad melihatnya sendiri, terlambat satu menit saja mungkin ia bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Nayla. Mungkin ... ia juga bisa memberi pukulan kepada Ryan, jika saja ia bertindak gegabah dan tidak memikirkan hati Nayla.
“Nay, suami kamu udah bisa Bahasa Indonesia? Dia ngerti?” tanya Nita.
Nayla menggeleng, lalu mengangguk. Membuat semua orang merasa gemas ketika melihat ekspresi wajahnya. Terutama Ryan, ia menepiskan senyumnya ... dan itu semua tak luput dari sorot mata Fahad. Lagi, ia mengumpat dalam hati. Memaki Ryan.
__ADS_1
“Iya apa enggak?” tanya Nita lagi.
“Dia cuma ngerti satu, dua kata. Selebihnya kayaknya enggak, deh,” jawab Nayla.
“Kok, deh?” kini Doni yang bertanya.
“Iya.” Nayla mengangguk. “Aku nggak pernah ngajarin ataupun ngomong kalimat itu di depan dia, tapi entah kenapa dia bisa ngomong gitu.”
“Ngomong apa?” penasaran Nita.
Nayla sedikit mendongakkan wajahnya, tersenyum melihat suaminya. “Dia ngomong, jangan ganjen, jangan gatel, jangan ngobrol sama teman cowok.”
Sontak semua orang tertawa, kecuali Ryan. Fahad yang mendengarnya, menatap Nayla yang tersenyum ... menampilkan deretan giginya yang rapi. “Mulai nakal!” Fahad menarik gemas hidung Nayla.
“Maaf,” ucap Nayla. Fahad semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Nayla. Ia sengaja melakukan itu sebab ada Ryan di hadapan mereka. Walaupun Nayla sudah berkali-kali mencubit pinggang Fahad, suaminya itu tetap tidak melepas ataupun merenggangkan tangannya.
Malu. Sudah pasti Nayla merasa malu, bahkan Nita dan suaminya kalah mesra dari mereka. Ia juga risih dibuatnya. Fahad memang keras kepala, percuma saja ia mencubitnya—berharap untuk tidak terlalu pamer kemesraan, yang ada justru tubuh Fahad akan biru lebam.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, para tamu juga sudah banyak yang kembali pulang.
“Don, kamu pulang nggak? Aku mau pulang.” Ryan bersuara. Ia sama sekali tak bisa memakan apapun di sana, hanya kopi yang disuguhkan keluarga Nita yang ia minum. Bukan tidak lapar atau apa, ia hanya tak bisa melihat Nayla bermesraan dengan suaminya.
Iya, Ryan tahu Fahad adalah suami Nayla. Rasa cemburunya menggebu, membuat lidahnya kelu ... ia sangat tak berselera melihat makanan yang disediakan.
“Iya, udah malam juga, tamu udah pada pulang.”
Ryan dan Doni berlalu pergi, sebelumnya mereka sudah berpamitan kepada kedua mempelai—juga kepada Nayla dan Fahad. Tatapan tidak suka Fahad menyorot tajam saat Ryan menjabat tangan istrinya. Baiklah, itu adalah resepsi pernikahan teman Nayla ... ia tidak mungkin membuat keributan di sana.
***
Sepulang dari pesta resepsi Nita, Nayla dan Fahad kini tengah duduk bersama di atas tempat tidur. Suaminya itu kembali sibuk dengan komputer lipat. Nayla juga melihat Fahad sedang berbicara lewat sambungan telepon dengan seseorang. Perbincangan mereka sangat serius, Nayla tahu itu. Terbaca dari raut wajah Fahad, sesekali pria itu memijat pelipisnya—merasa bingung, pusing, dan entah apa lagi.
Menutup sambungan telepon, mematikan layar laptop lalu menaruhnya di sisi tempat tidur yang lain. “Sayang,” panggil Fahad.
“Hemm?” sahut Nayla.
“Lusa aku harus balik ke India, ada sedikit masalah pekerjaan.”
***
__ADS_1