
Di pinggir jalanan, Wafa belum juga mendapatkan angkutan umum yang menuju kampusnya. Dia panik sendiri karena waktunya sudah mepet. Sahabatnya, Inneke datang tepat waktu dan mengajaknya untuk berangkat bersama.
"Sudah jam segini, kenapa kamu tidak menghubungi aku? Apa kamu sudah tak menganggap dirimu sebagai temanmu?" kesal Inneke.
"Ponselku mati," tunjuk Wafa. "Semalaman aku lupa ngisi daya," imbuhnya.
"Hadeh, ada-ada saja. Seharusnya kamu itu memperhatikan daya ponselmu. Bukankah zaman sekarang yaitu ponsel sangat penting sekali," celetuk Inneke.
"Iya, bawel!" sahut Wafa.
Saat ditengah perjalanan, Wafa melihat ada yang menjual nasi uduk. Dia pun meminta Inneke untuk berhenti tepat di depan penjual tersebut.
"Belum sarapan?" tanya Inneke.
"Kalau sudah, mana mungkin aku minta kamu berhenti di depan penjual nasi uduk," jawab Wafa.
"Tanya doang. Tumben sekali kamu ketus begitu. Apa yang membuatmu kesal ini, hah?" protes Inneke.
Wafa tidak menjawab. Dia segera turun dari mobil dan membeli nasi uduk yang di jual oleh anak kecil. Wafa menjadi iba dengan anak kecil yang harus jualan di mana dirinya harus sekolah.
"Loh, adek yang jualan, ya?" tanya Wafa.
"Iya, Kak. Hari ini saya jualan bersama dan Ibu saya. Tapi, Ibu saya sedang hamil. Jadi sering bolak balik ke kamar kecil," jawab gadis kecil itu.
"Oh, seperti itu …" angguk Wafa.
Dari dalam mobil, Inneke melihat Wafa sedang bercakap-cakap dengan anak kecil itu. Membuatnya tidak senang karena jika Wafa sudah berbincang dengan anak kecil, pasti akan lama.
"Haduh, gawat!" seru Inneke.
"Bisa-bisa dia abad lagi kelar ngomongnya tuh. Si Wafa kalau ketemuan dengan bocil, pasti langsung cosplay jadi ibu peri," celetuknya.
"Tidak, ini tidak bisa terjadi! Aku harus jadi penyihirnya!"
Inneke menyusul Wafa turun dari mobilnya. Dengan wajahnya yang ketus, Inneke berharap tegas dengan sahabatnya yang memiliki paras ayu itu.
__ADS_1
"Ck, bahaya ini orang kalau dah ketemu bocil. Harus diselamatkan dulu masa depannya!" Inneke terus menggerutu.
"Woy, ngapain lama-lama, sih? Jam terus berjalan ini. Ingat, kelasmu dosen itu, loh! Kamu mau kena omel lagi kalau terlambat," terang Inneke.
"Iya, ini juga sudah selesai. Kenapa kamu panik seperti itu, sih! Biasa saja kali." Wafa sedikit kesal.
Inneke melihat anak itu juga untuk membayar nasi yang di beli Wafa, Inneke salah fokus dengan gelang yang dipakai anak itu. Mirip dengan miliknya dan punya Wafa juga. Gelang itu adalah gelang yang dirinya buat untuk kedua sahabatnya.
Dua sahabat?
Ya, Wafa masih memiliki satu sahabat lagi. Inneke adalah sahabat yang dekat karena masih selalu bersama sampai saat ini. Tapi mereka sahabat yang satunya, menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada kabar apapun tentang dia setelah lulus sekolah menengah pertama. Itu tandanya, sudah enam tahun berlalu mereka tidak pernah ketemu lagi dengan satu sahabatnya.
"Sudah, ayo kita berangkat!" ajak Wafa.
Melihat Inneke terus memandang anak kecil itu, membuat Wafa menjadi heran. "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Bocah, umur berapa kamu?" tanya Inneke tiba-tiba.
"Um, Kakak bisa tidak jangan membentak saya? Saya berumur lima tahun," jawab gadis kecil itu.
"Apa sih kamu? Cosplay jadi sensus keliling? Sudahlah, ayo, katanya kamu ingin segera sampai kampus," sela Wafa.
"Nama saya .... Sabrina Elvira Khaira. Ibu selalu memanggil saya dengan nama Sabrina," jawab anak itu.
Wafa dan Inneke kompak menatap Sabrina yang saat itu usianya mau masuk enam tahun. Setelah melihat anak itu, mereka berdua saling bertatapan.
"Hanya kebetulan ini. Banyak sekali orang yang akan menamai anaknya dengan nama itu, 'kan?" bisik Wafa.
"Tapi gelang itu ... hanya ada 3 di dunia ini, Wafa. Aku hanya buat tiga!" Inneke mulai gemetar.
Inneke melepas tangan Wafa yang sedari tadi menggenggamnya. Kemudian, Inneke berjalan menuju ke Sabrina dan menatapnya dalam-dalam. Mengapa Wafa dan Inneke terkejut dengan nama Sabrina?
Mereka bertiga, Wafa, Inneke dan salah satu sahabatnya yang hilang kontak bernama Mutaqia, atau selalu di panggil Qia, pernah membahas sebuah nama anak. Mereka bertiga mencari 3 rangkaian nama anak, yang di mana mereka harus memberikan anak mereka ketika salah satu dari mereka memiliki anak duluan.
Wafa dan Inneke belum menikah, maka mereka belum bisa berikan nama Sabrina Elvira Khaira itu ke salah satu anak mereka. Tapi, dugaan Wafa dan Inneke adalah, Qia sudah menikah dan menepati janjinya memakai nama yang mereka bertiga buat untuk salah satu nama anak mereka yang lahir lebih dulu.
__ADS_1
"Siapa nama ibumu?" tanya Inneke lagi.
"Nama ibu ...." jawaban Sabrina terhenti kala seorang wanita dengan pakaian sedikit lusuh menghampirinya. "Sabrina, apa ada orang yang beli?" tanya wanita itu.
Terlihat, wanita itu sedang hamil karena sangat jelas perut membesarnya menonjol. Suara itu membuat Wafa dan Inneke merasa mengingat seseorang. Setelah menatap siapa wanita yang memanggil nama Sabrina, Wafa dan Inneke tercengang.
"Qia?"
Mereka seumuran, tapi Qia terlihat seperti seorang wanita yang sudah berkepala empat saja dengan tampilan yang berbeda jauh dibandingkan dia sahabatnya.
"Wafa, Keke?" Qia tetap tidak melupakan nama kedua sahabatnya.
Mereka kaku sekali kala saling melihat. Masih saling menatap dan Wafa lah yang membuat suasana menjadi haru. Dia langsung memeluk Qia dengan erat. Berbeda dengan Inneke yang masih enggan menatap sahabatnya karena merasa dilupakan olehnya.
"Qia, ini kamu? Kamu kemana saja? Kenapa kamu ngilang begitu saja, Qia," tanya Wafa, menangis.
"Aku ... aku ...."
"Mau jawab apa, hah? Tega kamu, Qia!" kesal Inneke.
"Apa dia anakmu?" tanya Wafa dengan lembut.
Qia mengangguk.
Karena waktu sudah mepet, Wafa memberikan nomor teleponnya kepada Qia. Tidak lupa juga menyuruh Qia untuk menghubunginya terlebih dahulu. Seperti biasa Wafa juga memberikan sejumlah uang kepada Sabrina untuk jajan.
Inginnya Wafa dan Inneke bisa berbincang-bincang lama dengan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Tapi mereka dikejar waktu ada kelas pagi jadi tidak sempat berbincang-bincang.
Dengan wajah lesunya, Wafa pergi meninggalkan sahabatnya dan juga anaknya dengan tatapan tidak tega. Sementara Inneke, dia masih saja kesal karena Qia sudah lama tidak ada kabar dan tiba-tiba saja sudah mempunyai anak bahkan sedang hamil anak kedua.
"Asem banget. Dia nikah aja nggak ngundang kita, Fa. Bener-bener tega! Ngelupain kita begitu saja!" kesal Inneke.
"Mungkin ada alasan mengapa dia menikah tanpa mengundang kita. Tapi anaknya sudah besar, Apakah dia nikah Setelah lulus SMP, ya?" Ucap Wafa.
"Aku rasa juga dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Terlihat jelas dari wajahnya dan juga fisiknya, kalau dia benar-benar tertekan," tebak Inneke, sembari menyalakan mobilnya.
__ADS_1
Wafa juga menduga jika sahabatnya itu hidupnya tidak bahagia. Berusia 20 tahunan tapi terlihat usia yang dua kali lipat lebih tua. Meskipun sudah memiliki anak, terkadang aura dalam diri tidak akan pernah hilang jika hidupnya bahagia.