
Bian mengatakan apa yang ia rasakan terhadap Wafa pada Zaka Yang. Saat itu Zaka Yang memberikan wejangan sebagai ahli cinta.
"Jadi, Tuan merasakan apa ketika bersama dengan Nona Wafa?" tanya Zaka Yang.
"Jika mengingat wajahnya, aku selalu terganggu. Tapi aku tidak marah, aku malah senang. Namun kesenangan itu berujung pada sebuah kegelisahan," ungkap Bian. "Belum lagi jika aku mendengar namanya disebut. Seolah-olah tubuhku ini jadi merinding," lanjutnya.
"Oh, mungkin saja Tuan ngeri ketika didekat Nona Wafa. Buktinya saja Tuan merasa ngeri," celetuk Zaka Yang.
Bian menatap asisten pribadinya itu. "Benarkah begitu?" tanyanya polos. "Ck, aku tidak yakin dengan itu." sambungnya.
Zaka Yang menepuk keningnya. Ia tak menyangka jika Tuannya tidak paham dengan perasaannya sendiri.
"Tuan, anda pernah jatuh cinta, bukan? Tak mungkin anda sepolos itu, pasti anda pernah jatuh cinta, bukan?" ucap Zaka Yang. "Perasaan itu, hanya Tuan sendiri yang tahu," imbuhnya.
"Masalahnya aku masih ragu jika jatuh cinta pada Wafa. Kamu pasti paham maksudku bagaimana, 'kan?" sahut Bian.
Zaka Yang menaikkan alisnya. Tak percaya jika Tuannya belum pernah jatuh cinta seperti saat itu. "Lalu, pada ibunya Nona Grietta?" tanyanya.
"Hm, kau sudah tahu segalanya tentang hidupku. Mengapa masih tidak percaya? Jika kau tidak memiliki saran untukku, lebih baik diam." Bian akhirnya kesal sendiri dengan asistennya.
Bian beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk ke kamarnya. Pria itu merebahkan diri ke ranjang, meraih ponselnya dari meja, kemudian membuka kunci layar ponselnya.
Jari jemarinya melangkah sesuai dengan isi hatinya. Bian masuk ke galeri, kemudian menatap satu persatu diri Wafa yang ia ambil ketika bersama dengan gadis mandiri itu.
Sudut bibirnya terlukis indah, tersenyum kala melihat potret Wafa saat itu. "Dia cantik sekali, wajahnya yang terlihat simetris membuatnya nampak sempurna. Senyum manis dan kulitnya yang putih bersih sang—" gumaman Bian terhenti.
"Hei, kenapa jantungku berdebar lagi?"
"Sepertinya aku benar-benar kena penyakit jantung. Ada baiknya aku membuat jadwal dengan dokter."
Bian keluar dari galeri, kemudian lari ke kontak dan menelpon dokter langganannya, yang termasuk kenalan sendiri juga.
"Selamat malam, dokter. Apakah besok ada waktu kosong?" tanya Bian, ketika dokter tersebut menjawab teleponnya.
'Selamat malam juga, Tuan Huang. Bagaimana bagaimana, apakah anda ingin mengajak saya liburan besok?'
__ADS_1
"Liburan pant*tmu! Aku ingin membuat jadwal," sahut Bian.
'Haih, kupikir anda ingin mengajakku liburan. Tapi ... apa kau sedang sakit, Jie Xi?'
"Entahlah, aku merasa tidak enak badan. Jadi, apakah kita bisa membuat jadwal? Setelah rapat besok, aku akan menemuimu. Tolong jangan terima pasien manapun di jam itu. Bye!"
Bian langsung menutup teleponnya.
Kemudian merebahkan tubuhnya lagi. Mencoba untuk memejamkan matanya.
Sementara itu, di pesantren, Wafa juga tidak bisa tidur. Ia masih menatap langit-langit kamarnya berharap bisa tidur nyenyak.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa tidak bisa tidur juga?" keluhnya.
"Allahumma gharatin nujum wa dahaatil 'uyun, wa anta hayyun qayyum, la takkhuzuka sinatun wala naumun. Ya hayyu ya qayyum, ahdi' laili wa anim'aini."
Sampai-sampai, Wafa berdoa supaya ia bisa tidur nyenyak dan tenangkan malam dalam tidurnya. Namun tetap saja tidak bisa tidur karena masih kepikiran tentan dirinya yang akan pergi ke luar negeri bersama dengan Bian.
"Ya Allah, aku harus bagaimana lagi supaya bisa tidur? Hari ini sudah sangat melelahkan, tapi kenapa malah mata ini tidak mau terpejam?"
Keesokan harinya, Wafa bangun kesiangan. Tidak ada yang berani membangunkannya jika belum waktunya sholat subuh. Ketika bangun, ia segera mencari ponselnya dan melihat jam.
"Astaghfirullah hal'adzim, jam berapa ini?" Wafa terbangun ketika santri-santrinya pujian sebelum sholat subuh jamaah.
"Kalian, kalian kenapa tidak membangunkan aku sejak tadi? Ini sudah mau sholat subuh, 'kan?" Wafa masih gelagapan.
"Sebenarnya tadi Ustadzah sudah membangunkan njenengan, Ning. Tapi njenengan tak kunjung bangun juga, jadi kami tidak berani membangunkan," jawab salah santri disana.
"Ck, panggil aku dengan sebutan, Mbak saja, jangan Ning."
Wafa segera beranjak. Biasanya sebelum shalat subuh Wafa akan mandi terlebih dahulu. Namun ketika ia keluar dari aula, barulah ia paham bahwa akan menyita waktu saja jika ia pulang untuk mandi dulu.
"Kehabisan waktu kalau aku mandinya di rumah," gumam Wafa.
Tepat sekali ada ustadzah yang hendak masuk ke aula. Wafa menebak jika Ustadzah itu tidak datang untuk melaksanakan sholat subuh, melainkan memantau beberapa santri muda yang sering sekali bolos sholat subuh.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ustadzah. Bolehkah saya bertanya, Apakah hari ini Ustadzah sedang uzur?" tanya Wafa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, benar Ning. Hari ini saya sedang uzur. Ada apa, ya?"
"Um, boleh tidak jika saya minta sabunnya Ustadzah untuk mandi? Kebetulan saya baru bangun, jika saya pulang dan mandi saya akan terlambat ikut jamaah," ujar Wafa.
"MasyaAllah, tentu saja boleh, Ning. Mari, saya akan antar njenengan ke kamar mandi. Kebetulan juga sabun mandi saya sabun cair, akan lebih leluasa memakinya!" seru Ustadzah cantik itu.
'Ning lagi, Ning lagi. Sebutan itu pantasnya panggilan untuk Mbak Sari. Kelakuanku yang minus seperti ini tidak terlihat seperti putrinya seorang Kyai.' batin Wafa.
***
Waktu yang dinanti telah tiba. Wafa dan Inneke sempat heran bagaimana bisa mereka mendapatkan Visa secepat itu. Selama di perjalanan keduanya selalu bersama, dengan Grietta juga.
"Buset, serius ini kita jalan-jalan ke luar negeri?" bisik Inneke.
"Buktinya?" sahut Wafa.
"Astaga, yang bener saja, anjiir. Aku mengurus Visa mau ke Thailand aja lama bener jadinya. Ini dalam waktu lima hari loh!" Inneke masih terheran-heran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Wafa terlihat tidak semangat.
Sementara Bian sedang berdiri bersama dengan asisten pribadinya. Mereka sedang membicarakan beberapa bisnis dan juga hal lainnya.
"Baik, semua pekerjaan sudah selesai. Berharap saja sampai waktunya kita kembali nanti semuanya baik-baik saja," kata Bian.
"Semoga saja, Tuan." sahut Zaka Yang. "Um, Tuan," panggilnya.
"Hm?" Bian menyahut.
"Beberapa hari lalu, saya melihat anda bertemu denganmu dokter Zian. Apakah anda memiliki suatu penyakit atau memang anda sedang sakit?" Zaka Yang bertanya dengan was-was.
Bian menatap asistennya dengan pandangan yang heran juga. "Aku tidak mengerti apa yang kamu tanyakan ini, Zaka. Bisakah kamu bertanya dengan bahasa manusia?" tanya sang duda.
"Tu-Tuan, mohon maaf jika anda tidak mengerti apa yang saya tanyakan. Maka saya saja juga tidak paham kenapa saya bertanya seperti ini. Um, apakah anda sakit, saya harus datang ke dokter Zian?"
__ADS_1
Dengan polosnya Bian memeriksakan diri karena perasaannya terhadap Wafa. Seketika Zaka Yang langsung mengusap dadanya. Antara tidak percaya dengan kepolosan tuannya dan kurang yakin jika tuannya belum pernah jatuh cinta.