Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Sepenggal Kisah Sari


__ADS_3

Masih di kisah Sari.


Malam telah tiba, pasangan baru ini masih saja diam-diam saja sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sari sibuk dengan usaha barunya yang diberikan oleh adiknya yang di mana memang Wafa memiliki usaha konveksi kecil yang ada di daerah tempat tinggal ustadz Zamil.


"Bagaimana caranya aku desain baju? Kuliahku di pendidikan agama Islam. Tapi Wafa malah memberiku usaha seperti ini. Lagi pula aku juga baru tahu juga Wafa memiliki usaha seperti ini," Sari mulai pusing malam-malam.


Masih dengan kebingungan membuat desain baju baru, Wafa sampai menghabiskan banyak kertas yang terbuang berceceran di ruang tamu malam itu. Ustadz Zamil tersadar kala dirinya tak sengaja terkena lemparan kertas tersebut. Beruntung saja kedua orang tua Ustadz Zamil tidak tinggal bersama dengannya.


Di pesantren milik Ustadz Zamil ada beberapa rumah tua yang memang dihuni oleh saudara-saudara Ustadz Zamil dan juga orang tuanya. Hari ini juga diperlakukan dengan baik oleh keluarga ustadz Zamil.


"Astaghfirullah hal'adzim. Dek, kenapa kamu buang-buang seperti ini kertasnya?" tanya Ustadz Zamil dengan memungut satu persatu kertas tersebut.


"Eits, jangan dipungut, Ustadz. Biarkan saya saja yang memungutnya. Jangan, ya ..." ucap Sari merebut kertas itu dari tangan suaminya. "Nanti Saya yang akan membereskan segera. Sebaiknya Ustadz lanjutkan saja pekerjaan Ustadz. Saya akan buatkan teh hangat dulu untuk, Ustadz, ya," Sari langsung pergi ke dapur membuatkan teh hangat dan mengambilkan camilan untuk suaminya.


Setelah Sari pergi, Ustadz Zamil melihat kertas gambar yang sebelumnya istrinya tinggalkan di atas meja. Ustadz Zamil melihat desain gagal milik sang istri dan tersenyum dibuatnya. Bagaimana tidak tersenyum, desain yang di gambar oleh istrinya sangat jauh dari ekspektasi. Karya tangan Sari tak jauh dari gambar anak taman kanak-kanak yang baru saja masuk sekolah.


"Ternyata Dek Sari ini juga lucu, ya. Aku kira karena dia bukan kakak kandung Wafa dan menghabiskan waktunya untuk belajar terus, dia akan kaku dan sulit diajak bercandaan," gumam Ustadz Zamil.


"Gambar bajunya kenapa begini, ya? Wafa kalau gambar sangat bagus, tapi—" kembali Ustadz Zamil membolak-balikan kertas tersebut.


Tiba-tiba pandangan Ustadz Zamil menjadi berubah ketika menyebut nama Wafa. Gadis yang selalu mengaji dengannya itu kini juga sudah dewasa. Pernah mendengar beberapa orang mengatakan bahwa Wafa menyukainya, membuat Ustadz Zamil menjauh dari Wafa karena tidak ingin merasa kecewa dengan perasaannya. Tak mungkin baginya menikahi muridnya sendiri, apalagi muridnya itu adalah anak dari gurunya.


Satu persatu kertas yang dibuang itu dipungut oleh Ustadz Zamil. Sebelum di masukkan ke keranjang sampah, Ustadz Zamil melihat dulu gambar yang dibuat istri itu. "Semua mengarah ke bentuk bunga. Apakah dia suka sekali dengan bunga?"

__ADS_1


Ketika Sari keluar, dia berteriak, "Jangan!" bergegas Sari menaruh teh dan camilan-nya di atas meja, kemudian merebut kertas yang ada di tangan suaminya.


"Maaf, bukannya saya ing—"


"Jangan bicara lagi. Saya hanya malu saja dengan gambar saya yang sangat buruk ini. Ustadz bisa lanjutkan pekerjaan Ustadz saja. Nanti, saya yang akan membereskan semuanya," ucap Sari mendekap gambar yang gagal itu.


Ustadz Zamil juga tidak ingin membuat istrinya semakin malu, jadi dirinya segera menyelesaikan pekerjaannya. "Tadi itu … kamu mau gambar apa, Dek? Bunga, kah?" tanyanya, karena pertanyaan itu mengganggu pikirannya.


Sari menatap Ustadz Zamil dengan sinis, "Siapa bilang bunga? Wong ini saja orang lagi ...," jawab Sari gugup.


"Wong? Wong apa, ya?" tanya Ustadz Zamil bingung.


Sari menjadi terdiam, bingung hendak mengungkapkannya bagaimana, karena yang dimaksud memang bukan hal memalukan, hanya saja, Sari sendiri belum pernah melakukan itu. Gambar yang Sari desain ini menggambarkan sekuntum bunga mawar tanpa duri tali terlihat seperti lubang anu.


Ada pesanan baju yang membuatnya pusing ketika hendak menggambarnya karena tidak tahu harus bagaimana cara menggambar. Apalagi pesanan baju tersebut harus berbentuk orang yang sedang berciuman membawa sekuntum bunga mawar. Sari sungguh tidak sanggup melakukan itu, jadi dia menggambar bunganya terlebih dahulu.


Sari masih ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan desain yang ia gambar dengan menggunakan tangannya. "Um, boleh saya lihat lagi tidak? Kali saja saya bisa membantu kamu, Dek," lanjut Ustadz Zamil.


Sari menceritakan jika dia mendapatkan pesanan yang seperti itu. Lalu malah klien tersebut bermesraan didepannya dan menginginkan bunga mawar itu berada di tengahnya. Ustadz Zamil semakin bingung dengan penjelasan istrinya. Akhirnya mau tidak mau, Sari harus mempraktekkan.


Perlahan Sari nerangkulkan tangannya ke leher suaminya. Lalu memberikan bulpen ke tangan satunya, yang dimana itu bayangannya adalah sekuntum bunga yang dimaksudkan. Kemudian, tiba-tiba mencium bibir suaminya dengan lembut, dimana adegan itu adalah adegan kliennya sebelumnya. Setelah di rasa cukup, Sari segera melepaskan pelukan dan ciumannya. "Nah, itu maksud dari gambar yang saya buat," jelas Sari tanpa rasa bersalah.


"Saya akan ke dapur dulu. Pengen sekali makan pisang goreng, semoga saja saya bisa buatnya dengan rasa yang Ustadz suka," celetuk Sari masih tanpa merasa jika dirinya baru saja melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Um, Ustadz juga mau pisang goreng, 'kah? Saya akan buatkan sekalian untuk Ustadz, bagaimana?" kegugupan Sari membuat wajahnya memerah.


"Em, itu …," Ustadz Zamil sampai salah tingkah, merasakan bibirnya yang kelu karena sapuan bibir Sari. Keduanya baru mengalami ciuman pertama. Tapi tak disangka, Ustadz Zamil malah teringat dengan Wafa.


Belum juga Ustadz Zamil menjawab iya, seseorang datang membawakan makan malam untuk mereka. Seperti biasa layaknya pesantren, pasti ada yang bekerja di bagian dapur. Atau kalau tidak, ada santri yang piket.


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam santri tersebut.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Biarkan saya saja yang membuka pintu. Ustadz fokus saja selesaikan pekerjaannya dulu, hm?" ucap Sari dengan lembut.


Masih merasa bersalah dengan Sari karena ketika Sari mencium dirinya membayangkan Wafa, Ustadz Zamil hanya diam saja.


Sari membuka pintu. Ternyata memang santri piket dapur yang membawakan makanan untuk mereka. Akan ada acara sebentar yang dilakukan oleh Ustadz Fauzi di pesantren.


"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu. Ini, Ustadz Fauzi yang mengirimkan ini," ucap santri itu sedikit gemetar.


"Wa'alaikumsallam, terima kasih sebelumnya. Kok jadi repot-repot seperti ini?" ucap Sari dengan senyuman. "Um, kalau boleh tahu, tangan kamu kenapa gemetar begitu?" tanya Sari kembali.


"Um, anu ... mboten. Itu, saya senang bisa lihat istri Ustadz Zamil di sini," jawab santri itu.


"Kalau memang mau bertemu dengan saya, datang saja. Kapan saja, pokoknya pintu selalu terbuka buat siapa saja yang mau bertemu dengan saya. Kamu, baik-baik saja 'kan?" Sari sangat ramah.

__ADS_1


"Nggeh, Ustadzah. Kalau begitu, saya pamit dulu, assalamu'alaikum," santri itu langsung kabur.


"Ustadzah? Eh, mbak, saya bukan ustadzah, saya—"


__ADS_2