
Malam hari, barulah nanti Bian bisa menengok Wafa di rumah sakit. Wafa juga sudah membaik dan terlihat bugar. Hanya saja, Wafa memang belum diperbolehkan pulang sampai oleh pihak rumah sakit tanpa persetujuan dari Bian.
"Apa katamu? Pihak rumah sakit ingin aku tetap di sini? Hei, bagaimana bisa? Aku sudah baik-baik saja. Kamu sendiri yang menerjemahkan ucapan dokter tadi jika aku sudah baik-baik saja, 'kan?" protes Wafa.
"Hmm, seharusnya kamu tidak perlu bertanya seperti itu, Wafa. Kamu sendiri juga tahu siapa yang membawamu kesini. Jadi ... memang alangkah baiknya kamu menunggu orang itu supaya kamu bisa pulang," jelas Inneke, wajahnya menunjukkan ketidakberdayaan.
Wafa terdiam sejenak. Tak disangka bisa sakit dalam keadaan jauh dari keluarga, lalu tak bisa berbuat apapun karena berada di negara orang. Hanya istighfar dan helaan nafas lembut yang selalu keluar dari mulutnya.
"Aku keluar bentar, ya. Kamu tunggu disini, sebentar, kok!" kata Inneke, memberikan ponsel Wafa padanya.
"Kamu mau kemana? Tega sekali meninggalkan aku sendirian. Aku mana bisa bicara bahasa Mandarin, Ke. Bagaimana jika nanti ada yang masuk?" Wafa menahan lengan baju sahabatnya.
"Sebenarnya saja, ini urgent banget, Fa. Aku harus keluar sebentar saja. Aku janji, setelah selesai, aku langsung balik lagi," Inneke sampai mengangkat dua jarinya.
"Memangnya kamu mau kemana, sih?" tanya Wafa lirih.
Inneke menjawab, "Mau beli pembalut."
Jika soal itu, Wafa tak bisa menahan Inneke lebih lama. Akhirnya dia setuju untuk menunggu Inneke kembali.
"Tapi jangan lama-lama!" pinta Wafa, seperti anak kecil.
Inneke mengangkat jempol tangannya. "Itu hp-mu sudah bisa digunakan. Tadi Pak Bian mengganti kartu dan juga mengisi kuota, bye!"
Wafa tersenyum tipis.
"Sudah bisa digunakan, ya? Lebih baik aku kabari dulu Mbak Nur supaya minta Mbak Sari ambilkan uang," gumamnya.
Begitu ponsel dinyalakan, banyak sekali pesan dan notifikasi lainnya yang masuk sampai berisik. Ujung-ujungnya ponsel Wafa ngeblank.
"Haih, menunggu lagi. Kenapa sampai blank, sih?"
Setelah beberapa saat, barulah ponsel Wafa bisa digunakan dengan normal. Rupanya dia sudah mendapatkan transferan juga dari Bian ke rekening yayasan. Jumlahnya lumayan dibandingkan dengan jumlah bulan lalu.
__ADS_1
"Ini ... ini apa Pak Bian tidak salah kirim uangnya? Kelebihan banyak sekali ini nolnya," gumam Wafa.
"Aku harus bertanya," lanjutnya.
Segera Wafa mengirim pesan pada Bian. Meski Wafa sadar jika Bian tidak mungkin langsung membalasnya, yang terpenting dia sudah bertanya lebih dulu begitu melihat notifikasi uang yang masuk ke rekening yayasan.
Di bawah kontak Bian, ada kontaknya ustadz Lana yang juga mengirim pesan padanya.
Begitu terus pesan-pesan berikutnya dari ustadz Lana. Pria sholeh itu selalu saja mempertanyakan keadaan Wafa. Tapi Ustadz Lana tidak menceritakan tentang lamaran kedua dan juga pembicaraan pernikahan yang dibicarakan dengan Pak Kyai.
'Aku jadi merasa tidak nyaman. Di sisi lain aku malah dekatnya dengan Pak Bian. Tapi Ustadz Lana begitu baik padaku, Kenapa aku tidak bisa menerimanya?' batin Wafa.
Saat itu Wafa pun menelepon ustadz Lana. Tapi sayangnya ustadz Lala tidak menjawab telepon darinya. Wafa yakin jika ustadz Lana masih dalam keadaan sibuk hari itu.
Wafa menyandarkan tubuhnya kembali. Gadis itu kembali membuka-buka ponselnya dan bermain game supaya tidak jenuh.
***
Selama meeting, Bian sama sekali tidak fokus. Bagaimana tidak? Duda keras kepala itu fokusnya hanya pada dunia Wafa saja. Beruntung saja saat itu Bian bersama dengan Zaka Yang, jadi ada yang menghandle jika Bian memang tidak bisa.
"Tuan, meeting kali ini benar-benar membosankan. Bagaimana bisa mereka menawarkan idol mereka pada kita. Mereka rupanya menganggap rendah agensi kita, Tuan!" bisik Zaka Yang.
"Siapa artis yang mau mereka tukar itu?" tanya Bian, wajahnya yang bosan itu sangat jelas terlihat.
Zaka Yang membisikkan jawabannya. Usaha lain Bian di bidang plywood, garmen dan properti memang dia menjadi pemilik agensi yang bergengsi di kotanya. Banyak artis dan juga penyanyi rekrutannya yang sukses dan diterima baik oleh masyarakat.
Duda kaya ini benar-benar sangat kaya. Itu sebabnya tak sedikit wanita yang selalu mengejar posisi sebagai Nyonya Bian.
__ADS_1
Ketika sedang bosan, ponsel Bian berbunyi. Notifikasi pesan itu tentunya dari Wafa.
'Eh, Wafa? Dia menghubungiku? Apa dia sedang ada masalah?' gumam Bian dalam hati.
Segera pria itu membuka pesan yang Wafa kirimkan.
'Aku pikir dia menanyakan diriku. Rupanya uang yang dia tanyakan. Baiklah, aku jawab saja meski sedikit kecewa,' batin Bian lagi.
balas Bian.
Bian merasa sedikit kecewa pada Wafa yang tidak basa-basi menanyakan dirinya, malah langsung bertanya perihal transferan.
'Menyebalkan sekali, dia ... Eh, dia sudah sadar? Ah, kenapa aku tidak ada di sana?'
Pesan itu terkirim satu menit yang lalu. Baru semenit berlalu saja Bian sudah kesal sendiri karena Wafa tak kunjung membalasnya.
'Astaga, kenapa dia tidak membalas pesanku? Ini sudah hampir dua menit pesanku terkirim, tapi belum dibuka. Keterlaluan!' kesal Bian.
Meeting masih terus berjalan. Di dalam keadaan yang sangat penting, Bian check terus ponselnya. Berharap segera mendapatkan balasan dari Wafa. Sebelumnya memang sudah tak fokus dalam meeting tersebut, kini Bian semakin tidak fokus ditambah gelisah pula perasaannya.
'Wafa, kenapa kamu tidak segera membalas pesanku? Ini sudah lewat lima menit, apakah kamu baik-baik saja? Ahhh, sialan! Kenapa juga meeting ini belum selesai?!'
Hari Bian terus mengetuk-ngetuk meja. Terlihat jelas jika pria yang menyandang status duda itu.
"Ashh, kenapa kalian lama sekali. Sudahi segara meeting ini!" Bian sudah sangat tidak sabaran.
"Saya akan menerima artis dari anda, Tuan Cha. Silahkan bicarakan dan menandatangani kontraknya dengan Zaka Yang, dia yang akan mengurus segalanya," ujar pria itu.
"Kalian bekerja sangat lambat. Apakah tidak tahu jika aku harus pergi secepatnya?" Bian menggerutu.
__ADS_1
Pria itu terus bergeming di tempatnya serta memandangi ponselnya. "Sial, dia bahkan tidak membalas pesanku sejak delapan menit yang lalu."