
'Ini ustadz Lana ngapain telfon, sih? Ada-ada saja, deh!' gumam Wafa dalam hati.
"Kamu bisa jawab dulu teleponnya. Sementara itu, saya akan membuatkanmu teh hijau," Bian pengertian sekali, dia sampai minta Wafa menjawab teleponnya.
Diberi kesempatan, Wafa segera keluar dan menjawab telepon dari ustadz Lana.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Wafa.
'Wa'alaukumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Wafa, bisa saya bertanya? Ini saya posisi sedang bersama Pak Kyai, Abi kamu,'
"Eh, iya, ustadz. Gimana? Ustadz sedang bersama dengan Abi? Ada keperluan apa, ya?" tanya Wafa.
'Alhamdulillah, usaha kami bersama dengan Mas Reyhan sudah clear. Ini kami sedang mau masak. Pak Kyai bertanya, apa kamu bisa pulang lebih awal supaya bisa makan bersama dengan kita semua?'
Deg!
Seketika jantung Wafa hampir berhenti. Di dalam sana, Bian juga sedang menyiapkan makan untuknya. Di rumah, Ustadz Lana dan keluarganya juga sedang masak hendak makan bersama. Wafa pun dilanda dilema.
'Assallamu'alaikum, Wafa, bagaimana? Apa kamu bisa pulang lebih awal?'
Kembali ustadz Lana bertanya, tentunya dibalik pertanyaannya itu, ada seseorang yang sedang memintanya bertanya ini itu.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, Ustadz. InsyaAllah, saya pasti akan pulang lebih cepat. Tapi mungkin agak terlambat, apa bisa?" Wafa hanya bisa berusaha.
'Alhamdulillah, insyaAllah kami di sini akan sabar menunggu. Kami juga baru mau rajang-rajang ini, belum siap masak.'
Setelah mengucapkan salam, Wafa langsung menutup teleponnya. Bernafas sebentar supaya pikirannya lega. Wafa tahu, keputusan yang telah ia ambil ini pasti akan merepotkan dirinya. Memilih makan dulu bersama dengan Bian, dan akan segera pulang malam bersama dengan keluarga.
Gadis ini masuk ke ruangan Bian lagi, makanan sudah tersedia dan Wafa hanya tinggal makan. Nasi, sayur beserta lauk sudah ada di satu mangkuk dan teh hijau. Duduk dengan perlahan, sambil berpikir bagaimana bisa makan dengan cepat dan langsung pulang.
"Ayo, kita makan," ajak Bian. "Setelah makan, kita bersama membahas Grietta. Gadis cilik itu semakin lama menyebalkan sekali. Hanya kamu yang disebutnya," sambungnya.
__ADS_1
"Kau tahu? Grietta sudah mulai bicara setelah mengenalmu. Terima kasih, Wafa. Saya sangat bahagia sekali melihat kondisi putri saya semakin baik," ucap Bian lirih. "Kehadiranmu memang baru satu bulan dalam kehidupan kami. Tapi dalam satu bulan terakhir ini, putri saya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya," imbuhnya.
"Semua itu berkat kamu."
Kata-kata lembut yang keluar dari mulut duda kayak itu membuat Wafa tersenyum tipis. Bian memberikan lauk lagi di mangkuk Wafa dan memintanya untuk mencicipinya.
Sedikit terbata-bata, Wafa mencicipi dengan penuh hati-hati. Dia masih harus makan bersama dengan keluarganya di rumah. Tapi juga tidak ingin merusak makan malam yang sudah disiapkan oleh Zaka Yang.
Makan malam bersama dengan Bian berlangsung dengan khidmat. Setelah makan mereka juga berbincang-bincang sebentar. Sampai ponsel Wafa kembali berdering. Kali itu telepon dari sepupunya, Zira.
"Jawab saja. Siapa tahu penting," pinta Bian, penuh perhatian.
Wafa menyudutkan bibirnya, senyum terpaksa itu sangat jelas terlihat.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Zira, kenapa kamu menelponku?" tanya Wafa.
'Sudah 20 menit dari Ustadz Lana tadi menelepon. Sudah sampai mana kamu pulangnya? Apakah harus melewati kutub selatan dulu baru sampai ke rumah?'
"Astaghfirullah hal'adzim, Zira. Aku tetap akan segera pulang, tunggu saja di rumah, jangan bawel deh!" seru Wafa. "Katakan kepada Abi dan yang lainnya kalau aku sudah di jalan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Tumben sekali? Bukankah biasanya kamu akan pulang ke yayasan dulu?" tanya Bian.
Wafa tidak langsung menjawab, dia menunduk terlebih dahulu dan menghela nafas pelan. "Ustadz Lana datang ke rumah, jadi ... saya harus ...."
Antara kejujuran atau kebohongan membuat Wafa ragu.
"Siapa Ustadz Lana?" tanya Bian. "Apa dia pria yang melamarmu waktu itu?"
Mendengar ucapan Bian, membuat Wafa tertegun. Wafa tidak tahu mengapa Bian sampai tahu tentang lamaran saat itu. Diamnya Wafa, sudah menjawab pertanyaan dari Bian. Duda kaya itu pun hanya tersenyum tipis.
"Sudahlah, kamu tidak perlu menjawab. Itu urusan kamu, jadi aku tidak perlu ikut campur. Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
Ada sedikit kekecewaan dalam hati Bian. Namun dia sendiri saja juga tidak mengerti mengapa dirinya kecewa. Dengan ringan hati Bian mengantar Wafa pulang.
Sebelum itu, ketika keduanya keluar dari ruangan, Sadana sudah menghadang mereka di depan pintu. Kedua tangannya memegangi nampan dan di atasnya ada sebuah mangkuk yang berisikan seperti potongan daging.
"Selamat malam, Pak Bian," sapa Sadana.
"Malam. Ada apa, ya?" sahut Bian.
"Saya dengar dari orang kantor tadi, Pak Bian belum makan malam, ya? Ini saya membawakan daging kesukaannya Bapak. Daging pork di semur, saya yang memasak sendiri. Bisa Bapak cobain?" Sadana menyodorkan makanan tersebut.
Wafa melihat wajah Sadana yang merona. Akhirnya gadis berusia 20 tahun itu sadar jika Sadana memiliki perasaan pada Bian. Yah, Sadana menyukai duda kaya itu.
'Hm, roman-romannya ada yang sedang berjuang dalam mengejar cinta. Kita lihat saja, Apakah Pak Bian mau memakan makanan itu.' batin Wafa.
Apa yang dipikirkan Wafa ternyata benar. Bian menolak makanan dari Sadana dan memintanya untuk makan sendiri.
"Bawa pergi makanan itu." perintahnya.
Sadana tidak terima Bian menolak apa yang sudah ia berikan padanya. "Pak, ini makanan kesukaan Bapak, loh! Tumben sekali Bapak menolaknya."
Bian malah melirik ke arah Wafa. Seolah meminta tolong kepada gadis itu untuk membantunya bicara dengan Sadana. Wafa yang memiliki kepekaan tinggi langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan, karena jangan sampai tahu sadana mengerti bahwa mereka berdua sedang saling kontak mata.
"Bu, maaf sebelumnya ... Saya tidak bermaksud untuk ikut campur dalam permasalahan daging anu ini," Wafa mulai bicara. "Tapi Pa ... um, calon suami saya, Tuan Huang-ku tidak makan seperti ini lagi," imbuhnya, begitu manis.
"Tuan Huang-ku?" Sadana tercengang.
Sadana menatap Bian. Langsung Bian melorotkan matanya, seolah ia juga terkejut dengan tatapan Sadana.
"Pak Bian, Anda yakin mau menikah dengan orang yang berbeda keyakinan?" tanya Sadana. "Bukankah anda seorang Buddhis?"
Sadana begitu yakin jika Bian dan Wafa tidak mungkin bersatu. Apalagi gadis seperti Wafa bagi Sadana sendiri tidak sederhana. Gadis seperti Wafa akan mempertahankan keyakinannya dan membuat pikiran Sadana menjadi buruk terhadap Wafa.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa mengambil Pak Bian dari Tuhannya. Jika Tuhan kalian saja berbeda, kenapa kamu masih memaksakan hubungan ini? Apa kamu mau membuat Putri Pak Bian satu-satunya menjadi bingung karena perbedaan agama dari orang tuanya?" Sadana pun mulai berkilah.
Wafa mengerutkan alisnya. Terus beristighfar karena dia telah mengatakan kebohongan tentang Bian yang menjadi calon suaminya. Padahal dalam sisi Bian sendiri, dia merasa senang karena Wafa menyebut dirinya sebagai calon suaminya.