Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Ferdian Insecure


__ADS_3

"Ferdian!"


"Kamu ini apa-apaan, sih? Cepat buka pintunya sekarang juga dan turunkan saya!" teriak Wafa.


"Bukannya aku sudah bilang kepada kamu, untuk menjauhi Dani dan Mayumi? Geng mereka ini tidak sembarangan, Wafa. Kenapa kamu tidak paham juga?" tutur Ferdian gemas.


Sebenarnya Ferdian ini sangat khawatir kepada Wafa. Takutnya ketika dirinya tidak ada, kemudian Wafa dibully maka dirinya nanti akan menyesal tidak bisa membantu wanita yang pernah ia sukai itu.


"Tunggu, apa aku tidak salah dengar tadi kamu memanggil namaku begitu saja?" Ferdian mulai percaya diri.


"Kamu juga memanggil nama saya, Senior. Lalu, peduli apa kamu dengan saya? Saya juga siapa kamu? Tolong cepat turunkan saya sekarang juga sebelum ada yang salah paham. Saya mau pulang, Senior yang terhormat!" Wafa terus saja berteriak meminta Ferdian untuk menurunkan dirinya.


"Memangnya siapa yang akan salah paham? bukankah semua orang kampus tahu kalau aku ini tidak memiliki cewek atau orang yang spesial?" Lanjut Ferdian. "Apa kamu yang memiliki orang spesial?" tanyanya.


Seketika Wafa langsung teringat dengan Bian yang belum juga ada tanda-tanda kabar akan pulang. Tapi Wafa sendiri juga tidak bisa berharap dengan seorang manusia karena harapan itu harus diterapkan untuk yang maha kuasa.


Jika kepada Ferdian juga, Wafa tidak mungkin menyebut dirinya sebagai saya karena mereka pernah bertemu dan pernah saling berhubungan satu sama lain. Meski itu adalah cerita lama, tetap saja Wafa merasa kesal karena Ferdian telah bersikap kurang ajar kepadanya.


"Aku antar kamu pulang. Diem dan duduk dengan santai di situ. Apa aku akan membuatmu menyesal!" sentak Ferdian.


Drtttt ... drtttt ... drtt....


Terdengar ada pesan masuk di ponsel milik Wafa. Di dalam pesan tersebut, Bian menginginkan Wafa untuk mengaji sebentar untuknya. Tidak tahu mengapa Bian meminta Wafa untuk mengaji sore itu, di mobil Ferdian juga. Tapi itu adalah hal positif dan Wafa pun akhirnya setuju untuk mengaji dan merekamnya kemudian dikirim ke Bian.


Sebenarnya Bian meminta Wafa untuk mengaji karena dirinya merasa tidak enak perasaannya. Sejak siang terus saja kepikiran dengan Wafa dan hal itu tidak seperti biasanya. Saat ini Bian memang sedang jauh dari Wafa. Hanya begitulah satu-satunya cara supaya bisa merasakan bahwa Wafa sedang dekat dengannya.


Wafa mulai memejamkan mata dan merekam saat ia mengaji. Wafa juga seorang hafidzah sejak dia tamat SMP, jadi dia sering mengaji tanpa membuka Al-Qur'an. Ferdian tersenyum mendengar lantunan ayat suci yang Wafa lantunkan dengan sangat merdu.


Membuat hati Ferdian sangat tenang, dan dia juga mengendarai mobilnya dengan sangat pelan, karena takut akan mengganggu Wafa yang mengaji. Selama semenit, Wafa mengaji dan mengirimkan rekaman tersebut kepada Bian.


Hati Wafa juga sangat tenang sekali ketika Bian memintanya untuk mengaji. Sungguh hal yang sangat langka dan tidak pernah terjadi kepada Bian mengapa dirinya meminta Wafa mengaji.

__ADS_1


"Kamu kirimkan siapa rekaman itu? Kok, kamu terus saja tersenyum seperti itu?" tanya Ferdian setelah Wafa selesai mengaji.


Namun, Wafa tidak menjawabnya. Wafa masih saja kesal.


"Di mana rumahmu?" tanya Ferdian lagi.


"Saya turun di sana aja. Rumah saya sudah dekat dari sini," jawab Wafa dengan ketus.


Tak tahan melihat wajah Wafa yang terus saja ditekuk, akhirnya Ferdian pun membuka pintu mobilnya. Wafa langsung turun dan Ferdian mengikuti kemana Wafa pergi tanpa sepengetahuan Wafa. Dia terus saja mengikuti langkah Wafa berjalan, hingga sampai di gapura besar pondok pesantren.


"Dia santri di sini?" gumam Ferdian dalam hati.


"Jangan-jangan ini Pesantren miliknya. Bukankah dulu pernah mengatakan bahwa dirinya ini adalah seorang Ning, ya?" lanjutnya.


"Lalu, Siapa orang yang dikirimi suara mengajinya Wafa tadi? Raut wajahnya langsung berubah drastis ketika dia mengirim suaranya mengaji." Ferdian pun merasa tidak suka jika orang itu adalah seorang pria.


Ferdian terus mengikuti Wafa sampai masuk pesantren. Dia melihat Wafa di salami santri-santri di dalam yang sedang menyapu halaman. Kemudian, Ferdian juga melihat Wafa masuk ke rumah yang lumayan besar dan ada beberapa mobil mewah terparkir di garasi rumah itu. Rumah itu sebenarnya milik Pak Kyai yang asli. Bukan yang ditinggali bersama dengan Sari dan Wafa sebelumnya.


"Ternyata benar dia adalah seorang anak Kyai. Tapi kenapa ketika berangkat ke kampus malah berdandan seperti orang tidak mampu?"


"Apa dia memang ingin sekali dibully?"


Ferdian juga melihat pak Kyai. Di mana saat itu Wafa mencium tangan Pak Kyai tersebut. Ferdian juga melihat ada dua perempuan yang sebaya dengan Wafa di sana. Yang kemungkinan, yang dilihat oleh Ferdian itu adalah Dian dan Zira.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf. Mas mau apa ya kesini?" tanya penjaga Pesantren.


"Oh, saya teman kampusnya Wafa, Pak," jawab Ferdian.


"Oh, temannya Mbak Wafa to. Tak kirain masih ini siapa. Apa mau bertemu dengan Mbak Wafa?" tanya penjaga tersebut.


"Kalau boleh tahu, Wafa itu santri di sini, ya?" Ferdian tidak tertarik untuk bertemu Wafa hari itu. Dia pun bertanya-tanya soal Wafa kepada penjaga di sana.

__ADS_1


"Wah Mas ini. Siapa bilang kalau Mbak Wafa itu santri. Beliau itu Putri bungsu pemilik pesantren ini malahan. Nah, itu tadi rumahnya, Bapaknya, Pak Kyai. Semua keluarganya juga terpandang. Hanya saja Mbak Wafa ini memang selalu terlihat sederhana," ungkap pak penjaga.


Penjaga di sana bahkan menceritakan jika Wafa memiliki yayasan dan juga beberapa usaha konveksi yang sudah mulai berkembang. Hal itu membuat Ferdian semakin pusing saja.


"Tapi ... kok, dia kuliah pakai beasiswa miskin, ya?" tanya Ferdian lagi.


"Bukan beasiswa miskin, tapi preostasi eh salah, pristunitri ah opo yo, Mas. Tapi yo emang gitu Mbak Wafa, sederhana orangnya hehehe ...."


"Prestasi maksudnya?" Ferdian membenarkan.


"Wah itu iya hehehe jan pintere!"


Ferdian pun tiba-tiba mengucapkan salam kepada penjaga Pesantren tersebut dan langsung pergi. Dia tidak menyangka saja jika selama ini yang dibicarakan oleh sahabatnya Wafa benar. Bahwa Wafa adalah seorang anak Kyai dan orang yang mampu.


"Lah dasar anak jaman now. Tidak ada unggah ungguh blas. Tobat!" keluh pak penjaga.


"Jamanku dulu, kalau mau pergi, ya ucapkan salam. Terus senyum, salim gitu. Ini apa? Pancen bocah jaman modern!" Pak penjaga malah ribut sendiri. Padahal Ferdian juga sudah mengucapkan salam, tapi pak penjaga tidak mendengarnya.


Ferdian semakin merasa kagum dengan sosok Wafa. Dia melihat hari ini Wafa dihina habis-habisan oleh Mayumi. Tapi Wafa tetap saja bisa tersenyum tenang dan membalas Mayumi dengan ucapan-ucapan yang bijak. Wafa sendiri juga terlihat tidak memperlihatkan atau menonjolkan jika dirinya adalah seorang anak Kyai. Kekaguman yang dimiliki oleh Ferdian ini membuatnya jatuh cinta lagi kepada Wafa.


Sayangnya, Wafa sendiri tidak pernah tertarik dengan Ferdian. Saat ini hanya Bian yang membuatnya nyaman karena adanya seorang gadis kecil di antara mereka yang membuat Wafa sendiri tenang hidupnya.


"Tapi, bagaimana cara menaklukkan gadis seperti Wafa, ya?"


"Dia seorang anak Kyai. Pasti sangat sulit untuk didekati. Hidupnya pasti fokus dengan pengajaran dan pelajaran saja. Pasti dia juga sudah dijodohkan,"


"Meskipun begitu, aku tidak harus menyerah. Aku pasti bisa mendapatkan Wafa. Sudah sangat lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Dia semakin cantik dan mengagumkan saja."


Sepertinya Ferdian memang benar-benar menyukai Wafa. Sejak pertemuan pertamanya ketika Wafa duduk di bangku SMP, Ferdian ini sudah jatuh cinta kepada Wafa. Selama beberapa bulan mereka juga pernah dekat dan sering bermain bersama meski saat itu bermainnya juga mengikutsertakan Inneke dan Qia.


Ferdian sebenarnya tidak mau mengikuti challenge yang diberikan kepada Dani. Tapi takut saja dari nekat dan malah merugikan Wafa. Hal itu tidak ingin Ferdian lihat menimpa Wafa. Maka dari itu dirinya mengikuti apa yang Dani mau. Yakni, berlomba mendapatkan hati Wafa dengan mengibaratkan jika Wafa ini adalah piala. Tapi siapa sangka, sudah ada ikatan yang penting diantara Wafa dengan Bian, dimana diantara keduanya juga ada Grietta dan pastinya Ferdian maupun Dani tidak akan pernah menjadi pemenang.

__ADS_1


__ADS_2