
Sesampainya di rumah, Wafa melihat kakaknya masih ada di sana sedang duduk berdua dengan suaminya, Ustadz Zamil. Sari yang tahu jika Wafa tidak tidur semalam di rumah langsung menghampirinya dan bertanya, "Kamu dari mana saja semalam, Wafa?"
"Kenapa tadi pagi yang mengambil tas kamu itu, Inneke? Semalam Abi mencarimu kemana-mana. Sekarang Abi sedang istirahat di kamarnya," ungkap Sari.
"Mbak tahu kamu sedang kecewa dengan Abi. Tapi tidak semestinya kamu keluar sampai tidak pulang. Apa begini, sifat putri sang seorang kyai?" Sari masih menahan amarah.
Wafa malah berpikir jika hari ini sengaja mengatakan semua itu di depan Ustadz Lana. Tidak mau berpikiran negatif dengan kakaknya sendiri, Wafa hanya diam saja dan memberikan gurame bakar serta bakso yang telah dibeli bersama dengan ustadz Lana.
"Dari Ustadz Lana. Kalian makan saja, aku tidak nafsu!" ketus Wafa, meninggalkan kakaknya tanpa mengucap salam.
Ketika melintasi Ustadz Zamil juga, Wafa tidak memandangnya atau menyapa. Dia cukup mengucapkan salam sebagaimana bahwa dirinya adalah seorang muslimah yang sudah seharusnya mengucapkan salam ketika bertemu dengan saudara muslim yang lain.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Wafa kepada Ustadz Zamil, kemudian masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ustadz Zamil. 'Ada apa dengannya hari ini? Dia terlihat kesal?' tanyanya dalam hati.
"Wafa, apapun yang terjadi kepadamu saat ini, semoga kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah subhanahu Wa Ta'ala, aamiin ...." doa Ustadz Zamil begitu tulus untuk Wafa.
Perasaan Ustadz Zamil kepada Wafa memang tidak bisa diungkapkan sebelumnya. Namun, doanya untuk gadis berusia dua puluh tahun itu tidak pernah berhenti meski dirinya sudah menikah dengan kakaknya, masih ada ternyaman sedikit cinta untuk Wafa.
"Memangnya semalam Wafa kemana, Mbak? Kenapa tidak tidur di rumah juga?" tanya Ustadz Lana kepada Sari. "Lalu, Wafa berdebat dengan Pak Kyai? Kenapa?" sambungnya.
Sari terdiam. Awalnya, dia hanya ingin memperlihatkan ketidak baikan adiknya di depan Ustadz Zamil yang dimana Ustadz Zamil ini masih selalu memikirkan Wafa. Kecemburuannya hampir saja membuat Sari menjadi kakak yang tidak baik.
"Um, semalam Wafa tidur di yayasan, ustadz. Dia memang sering seperti itu," jawab Sari. "Untuk berdebat ... Itu semua gara-gara saya. Saya salah paham dengannya dan seperti biasa Wafa mempertahankan harga dirinya sampai Abi turun tangan. Yah, hanya salah paham saja, kok." lanjut Sari dengan senyuman.
__ADS_1
Ustadz Lana mengangguk paham. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan memilih untuk tidak terus menggali daripada dirinya menyesal nantinya. Sari pun mempersilahkan Ustadz Lana masuk ke rumah.
Di kamar, Wafa terus saja menatap ponselnya. Antara sedih karena Ibunya dihina oleh anak kampusnya, tapi perasannya malah mengharap Bian memberikannya kabar. Wafa tak henti-hentinya memikirkan Bian saat itu.
"Aku baru mengenalnya sebulan ini, bahkan belum genap satu bulan. Tapi kenapa aku merasa jika Pak Bian adalah orang yang sudah aku kenal sejak lama?" gumamnya.
"Memang selama 18 hari kita tidak bertemu, lalu Pak Bian juga terkadang memberiku kabar. Memang sehari juga sampai mengirim pesan banyak sekali. Tapi bukankah setelah dua hari, kami tidak ada kabar? Ahhh, aku pusing dengan perkataanku sendiri!
"Mengapa aku terus memikirkannya?"
"Perasaan ini malah jauh lebih membingungkan daripada ketika aku mengagumi Ustadz Zamil dulu."
Wafa terus bertanya-tanya kepada hatinya sendiri tentang apa yang dirasakannya. Jatuh cinta bukan hal yang pertama bagi Wafa. Dia pernah jatuh cinta dengan Ustadz Zamil meski berawal dari rasa kagum.
"Aku bukan remaja yang baru jatuh cinta. Aku bahkan tahan mencintai dalam diam sampai bertahun-tahun. Apa ini ... aku sudah mulai tertarik dengan Pak Bian?"
"Wafa, kontrol hatimu itu. Jangan sampai kamu jatuh cinta dengan Pak Bian. Tembok kalian sangat tinggi dan ukurannya tebal sekali. Doamu ke kiri, doanya ke kanan. Tujuannya sama ke Tuhan, tapi Tuhan kalian berbeda, woy!"
"Eh, mungkin saja aku tidak jatuh cinta. Aku hanya kagum saja seperti kekagumanku pada Ustadz Zamil. Harus selalu kuingat, bahwa hubungan antara aku dan Pak Bian hanyalah kontrak saja."
Wafa terdiam sejenak.
Menyebut kata 'kontrak', Wafa baru ingat jika dirinya belum membaca semua isi kontrak yang Bian berikan padanya. "Kontrak? Iyah, hubunganku dengan Pak Bian hanya sebatas kontrak. Dimana kontrak itu? Aku harus membacanya supaya tertampar!"
Kontrak itu hanya ada empat lembar yang isinya paling utama membuat Grietta bahagia. Wafa segera mencarinya dan beruntung saja dia temukan di tempat yang aman. Wafa tidak bisa membayangkan jika sampai kontrak kerja tersebut diketahui atau ditemukan oleh Pak Kyai maupun Sari.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini dia ketemu. Beruntungnya kamu ada di sini, kontrak oh kontrak ..."
Segera Wafa membaca semua isi kontraknya dengan cermat dan teliti. Di bagian lembar pertama dan kedua masih aman karena hanya perlu membuat Grietta bahagia dan semua itu tertulis tentang Grietta dari makanan kesukaan, warna kesukaan dan juga pantangan apa saja untuk gadis kecil itu.
Tetapi, ketika di lembar ketiga dan keempat, Wafa sampai tidak percaya dengan apa yang dia baca. Di sana, tertuliskan sangat jelas jika dirinya saat ini adalah kekasihnya Bian Hutomo dan selalu datang tepat waktu ketika dibutuhkan. Wafa tidak boleh melanggar apapun di kontrak tersebut. Akan ada denda yang membuat Wafa tercengang ketika membacanya.
Di lembar keempat, Bian meminta Wafa untuk bekerja di perusahaannya. Pabrik kayu dan pabrik garmen, Wafa disuruh memilih dan harus segera menghadap Bian. Di catatan terakhir, Bian akan menjadi donatur tetap yayasan milik Grietta.
"Aku sudah menandatangani kontrak ini," Wafa masih tercengang.
"Bagaimana bisa aku tidak membaca dulu dengan teliti waktu itu? Pantas saja Pak Bian selalu mengingatkan kontrak ini padaku. Ahhhh ..."
"Kontrak ini berlaku lima tahun pula? Astaghfirullah hal'adzim, Allahu Akbar. Aku harus ottoke?"
Bian sudah mengingatkan berkali-kali tentang isi kontrak. Tapi Wafa saja yang tidak peka. Sebagai pelajaran, apapun itu hal baru yang ingin dijalani, memang harus diteliti dan dicermati lebih dulu sebelum salah langkah.
Dari siang, sore hingga menjelang malam, Wafa terus berusaha menelepon Bian. Tetap saja Bian tidak menjawabnya. Sampai Wafa tidak pergi ke yayasan karena memikirkan tentang kontrak itu.
Tidak ingin terus merasa pusing, setelah shalat maghrib, Wafa mengikuti diba'an di pesantren. Diba'an adalah kegiatan paling ampuh bagi Wafa menghilangkan stress. Bahkan, Wafa paling banyak membaca Al-Qur'an daripada menyimak. Tapi malam itu, dari selesai dzikir shalat maghrib, hingga mau isya, Wafa tidak mau bergilir diba'an. Sampai beberapa santri yang ikut menyimak, tidak kebagian waktu untuk diba'.
"Ada apa dengan Mbak Wafa? Kenapa semua diraup dia semua?" tanya salah satu santri saling berbisik.
"Pasti Mbak Wafa sedang ada masalah. Terakhir kali, Mbak Wafa ikut diba'an, tapi dua yang tadarus sendiri sampai pagi," bisiknya yang lain.
"Haduh, kasihan juga dengan Mbak Wafa ini. Ustadz Zamil menikah, terus tidak lama setelahnya, dijodohkan dengan pria yang tidak disukainya,"
__ADS_1
"Nasib Ning yang gitu. Bahkan kita nanti pasti begitu. Menikah sesuai pilihan Bapak."
Banyak santri yang saling berbisik membahas Wafa. Akan tetapi, mereka sudah terbiasa menghadapi Wafa yang seperti itu. Apakah Wafa akan membatalkan kontrak?