
"Kenapa dia marah? Jika ponselnya rusak, aku juga bisa menggantinya dengan yang baru. Dasar tukang marah, aku belum mengatakan apapun, dia sudah bilang bahwa aku tidak memiliki tata krama? Sangat menyebalkan! Jomblo karatan!" umpat gadis itu.
Inneke segera mengaktifkan kembali data internetnya. Barulah ia bisa menggunakan layanan internet yang bisa membuatnya tenang. Tapi baru semenit bermain game, ia teringat dengan ekspresi wajah Zaka Yang ketika ponselnya terjatuh karena dikejutkan olehnya.
"Hash, sialan!" umpatnya.
"Aku tidak bisa tenang karena pria itu. Hish!"
"Tapi apakah aku keterlaluan dengannya? Gara-gara aku berteriak dia jadi terkejut dan tidak sengaja melempar ponselnya ...."
"Bahkan raut wajahnya yang sedih itu, aku yakin jika ini bukan sekedar ponsel rusak. Jangan-jangan dia sedang mengirim pesan dengan kekasihnya, atau orang tuanya? Hash, aku merasa bersalah jika seperti ini."
Tak lama setelah itu, perut Inneke berbunyi. Para cacing di perutnya sedang demo. "Haih, baru selesai sarapan, jam segini sudah lapar lagi?" keluh gadis itu.
"Aplikasi apa yang bisa digunakan untuk memesan makanan waktu itu, ya? Ahhh, aku memesan menggunakan ponselnya si jomblo karatan itu, aku lupa nama aplikasinya,"
"Aghhrrrr! Aku merana!"
Inneke kesal sendiri karena ia tak bisa berkutik. Meski memiliki uang, tapi itu pertama kalinya ia pergi sendirian di negeri itu. Memang bersama dengan Wafa dan Bian, tapi tetap saja merasa sendiri karena mereka berdua malah pergi.
Sedang kesal-kesalnya, suara bel pintu berbunyi. Segera Inneke pergi ke pintu, berharap Wafa sudah kembali dan mengajaknya pergi bersama. Sayangnya, harapan itu tak jadi nyata.
"Kamu lagi? Untuk apa kamu balik ke sini lagi?" ketusnya Inneke bertanya.
"Bersiaplah, aku akan mengajakmu keluar. Cepat!" ajak Zaka Yang dengan sabar.
Mereka lama bertatap, sampai kemudian Inneke pun memutuskan untuk mengiyakan ajakan itu. Tidak ada kegiatan lain juga yang bisa ia lakukan. Jadi tidak ada salahnya jika gadis itu pun luluh dengan ajakan asisten profesional itu.
"Hm, baiklah!" seru Inneke. "Kamu masuklah dulu, aku akan bersiap." imbuhnya.
'Aku pasti sudah gila mengajaknya keluar. Gadis seperti dia, hanya bisa menyusahkan aku saja. Tapi mau bagaimana lagi? Tuan tidak akan mengampuniku jika sahabat dari gadis yang ia sukai sampai tidak senang berada di sini.' keluh Zaka Yang dalam hati.
Bahkan Zaka Yang saja paham dengan perasaan Tuannya. Hanya sang Tuan yang belum memantapkan isi hatinya pada Wafa. Meninggalkan Zaka Yang yang sedang menunggu Inneke bersiap, Bian membawa Wafa pergi ke sebuah butik yang gedungnya dari luar saja sudah sangat mewah.
__ADS_1
Ya, mobil mewah Bian berhenti tepat di depan gedung butik yang kemungkinan gedung tersebut dimiliki oleh seorang desainer ternama juga.
"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajak Bian. Tak lupa juga ia membukakan sabuk pengaman dari jok Wafa.
"Eh—terima kasih," ucap Wafa lirih karena gugup.
Bian hanya membalas dengan senyuman saja. Mereka pun turun dan jalan berdampingan masuk ke butik tersebut. Semua pelayan butik menyambut mereka dengan sangat baik, bahkan Wafa terkejut karena hampir saja seorang pelayan berjenis kelamin laki-laki tiba-tiba mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Wafa.
"Tidak perlu, di-dia ... istriku tidak bersentuhan langsung dengan lawan jenisnya," ucap Bian pada pelayan pria itu.
"Oh, maafkan saya, Tuan," pelayan pria itu tampak ramah sekali. "silahkan masuk, saya akan panggilkan Tuan Edrick. Anda bisa menunggu di sana," pelayan tersebut memandu dengan sangat baik.
"Terima kasih." ucap Bian dengan kegagahannya.
Wafa berjalan di Bian, tapi baru saja dua langkah mereka masuk, langkah Bian sudah terhenti. Wafa sampai menabrak punggungnya karena memang saat itu ia sedang melihat-lihat ke sekeliling.
"Aduh," lirih Wafa.
"Kenapa kamu jalannya di belakang saya?" tanya Bian.
'Allahu Akbar, kenapa aku jadi gugup seperti? Bahkan jantungku saja berdebar sangat kencang. Ada apa dengan tatapan Pak Bian ini? Tembus dalam hatiku, Ya Allah ...' batin Wafa.
"Saya ingin kamu berjalan beriringan dengan saya. Saya tidak akan menerima alasan apapun juga. Langkah kita, harus seiringan, hm?" pinta Bian lirih.
Wafa menunduk, kemudian mengangguk pelan. Ketika Bian berusaha menatap wajah Wafa, orang yang bernama Edrick turun dari lantai dua. "Wah, lihatlah siapa yang datang ini?" ucapnya dengan suaranya yang terdengar menggema.
"Tuan Huang Ji Xie, putra tunggal dari keluarga ternama Huang. Marilah, kita ngobrol saja di ruanganku," imbuhnya.
"Wafa, ayo—" ajak Bian lirih.
Mereka masuk ke ruang kerja perancang busana yang sudah sangat terkenal. Seorang berdarah Thailand itu telah lama berkarir di Tiongkok berkat berteman dengan Bian. Keduanya adalah sahabat lama ketika berada di sekolah.
"Baiklah Ji Xie, kali ini kau datang tidak sendirian. Siapakah di sini? Ya terlihat istimewa dalam pandanganku," tanya Edrick, memandang Wafa dengan tatapan yang nakal.
__ADS_1
Bian cemburu dengan tatapan itu. "Aku akan mencongkel kedua matamu jika berani menatapnya seperti itu, kriwil!" desisnya.
Setiap kali dipanggil dengan sebutan kriwil, Edrick merasa tidak senang. Sudah sangat lama ia meluruskan rambutnya, tetap saja Bian menyebutnya demikian. Hal itu membuat upayanya memiliki rambut lurus terlihat sia-sia.
"Bicaralah menggunakan bahasa Inggris, dia tidak paham bahasa Mandarin. Jaga juga matamu itu, aku tidak akan mentoleransi lagi jika kau main-main, mengerti?!" tegas Bian.
Edrick menyudutkan bibirnya, ia tersenyum tipis mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Baiklah, sekarang kita akan membahas kedatangan kalian kemari. Apakah ada yang bisa aku bantu?" akhirnya Edrick bicara menggunakan bahasa yang Wafa mengerti.
"Aku ingin kau membuatkannya gaun yang indah untuk malam ini. Tidak menerima penolakan dan tidak menerima protes dalam bentuk apapun!" Bian masih saja semaunya sendiri.
"Hish, kunyuk ini. Aku akan membuatmu ...." umpat Edrick lirih.
"Jika kau ingin membunuhku, sekarang juga saja, aku pasrah, Ji Xie. Tapi membuat gaun mewah yang ada di otakmu itu dalam waktu singkat, aku mana mampu?" Edrick hanya bisa protes. "Huft, aku tau kata mewah yang kamu maksud itu, Ji Xie!" serunya, sampai membuang muka.
"Um, Pa—maksudnya ... Mas Bian, saya tidak memerlukan gaun yang mewah, sederhana saja sudah cukup. Kita bisa memakai apa saja yang ada di sini. Lihatlah, bukankah banyak gaun yang indah di sini yang sudah siap pakai?" suara lembut Wafa membuat Edrick tertegun. Bahkan Bian sampai menganga mulutnya karena tersentuh dengan sebutan 'Mas'.
Wafa pun melanjutkan. "Tuan Edrick, gaun di sini apakah sudah bertuan semua?" tanyanya.
Edrick menggelengkan kepala, matanya masih tertegun dengan wajah ayu dan suara lembutnya Wafa. "Mas Bian ... Oh, lembutnya ...." sedikit meledek, tapi Edrick mengakui bahwa Wafa memang cantik.
"Ji Xie, bisakah kau menutup mulutmu? Aku terganggu dengan pemandangan itu."
Lamunan Bian terpecah karena ledekan Edrick. Kemudian baru menyahut ucapan Wafa sebelumnya.
"Wafa, gaun yang ada disini banyak yang tidak memiliki lengan. Bagaimana kamu bisa mengenakan gaunnya?" tanya Bian. "Saya akan memintanya untuk membuatkan gaun yang lebih indah nantinya," sambungnya.
Wafa menggeleng. "Saya akan memilih gaun mana yang belum bertuan dan belum pernah di sewa. Nanti, Mas bisa memberikannya untuk saya. Kemudian, minta perancang ini untuk mempercantik. Jadi tidak lwu membuat yang baru, bagaimana?" usulnya.
"Yah! Aku setuju dengan apa yang wanita cantik ini ucapkan!" seru Edrick mengejutkan Bian.
"Apa kau tahu yang dia katakan?" tanya Bian menahan kesal.
__ADS_1
Edrick menggeleng tentunya, dia tak paham apa yang Wafa ucapkan. Namun perancang busana yang suka dengan sesama jenis ini yakin sekali dengan ide Wafa akan membuatnya lebih mudah.