
Wafa mengatakan apa saja yang ia inginkan. Sungguh sangat sederhana keinginannya sampai membuat Edrick terpukau. Suaranya yang lembut membuat Edrick begitu nyaman bicara dengannya. Sampai membuat Bian cemburu meski Edrick penyuka sesama jenis.
"Cukup, kau gambar saja apa yang dikatakannya. Jangan sampai terlewat, untuk apa kau menatap wajahnya, hah!" kesal Bian, sampai harus meraup wajah tampan Edrick.
"Astaga, hentikan, Ji Xie! Alisku ini bernilai jutaan dolar. Aku baru merombaknya dua minggu lalu di US," Edrick menepis tangan Bian.
"Tuan Edrick, saya menyukai desain anda ini. Sangat indah dan sepertinya akan cocok jika saya pakai. Tidak banyak yang dirubah, tapi saya mohon ... tolong rubah yang ini, apakah bisa?" Wafa kembali mengucapkan kata-katanya dengan lembut.
Gadis itu meminta Edrick untuk merenggangkan jahitan di bagian pinggul. Wafa ingin gaun yang tidak tidak terlalu press body, tentu saja sang perancang menyetujuinya dengan mudah.
"Baiklah, masalah gaun sudah selesai," ucap Bian, sambil merapikan jasnya. "Wafa!" panggilnya.
"Iya?" suara lirih Wafa itu membuat Bian semakin meleleh. "Ada apa Mas?" lanjut Wafa. Panggilan itu menambah hati Bian yang meleleh semakin mencair.
"Um, itu ... kita bisa pergi sekarang? Sa-saya ingin membawamu memesan perhiasan juga," ajak Bian, menjadi gugup.
Wafa langsung menunduk ketika mata Bian terus menatapnya. Kemudian mengangguk setuju, ia hanya bisa pasrah karena tak tahu lagi harus bagaimana.
Edrick melihat keduanya dan bisa menebak jika mereka berdua memang sedang ada sesuatu. Pria yang berprofesi sebagai perancang busana ini hanya bisa tersenyum karena ikut bahagia jika benar hubungan mereka bisa menjadi nyata.
'Ji Xie, mungkin doaku tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan. Tapi aku sangat berharap jika gadis ini bisa menjadi cahaya dalam hidupmu yang selalu berada di dalam kegelapan.' batin Edrick.
Bian berpamitan pada Edrick, pria itu juga meminta sahabatnya untuk segera mengerjakan pemesanannya karena akan dikenakan malam itu juga. Bian menegaskan pada Edrick supaya bisa mengirim gaun tersebut sore itu dan memberikan alamat apartemen yang baru. Edrick yang senang karena dilibatkan dalam hubungan mereka pun menjadi semangat. Pria gemulai ini langsung permak gaun yang sudah dipilih Wafa saat itu juga.
Di perjalanan, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Bian masih meleleh dengan sebutan Mas dari Wafa, sementara Wafa masih gugup dan merasa tidak enak hati karena memanggil Bian dengan sebutan Mas.
"Wafa/Pak Bian ...." mereka sampai bersamaan ketika saling memanggil.
Mendengar sebutan Bapak lagi membuat Bian tidak menyukai. Dia menjadi tidak bisa melanjutkan apa yang hendak ia katakan pada Wafa.
__ADS_1
"Anda dulu ..." suara lirih Wafa membuat Bian tak tega jika kesal padanya.
"Sebenarnya saya lebih suka dibanding dengan sebutan tadi daripada sebutan yang barusan," celetuk Bian. "Sa-saya ingin kamu me-menyebut nama saya dengan imbuhan sebutan sebelumnya ..." imbuhnya gugup.
Deg!
"Um, maaf sebelumnya, Pak. Saya tidak bermaksud lancang memanggil Bapak dengan sebutan itu. Semuanya saya lakukan karena Bapak pernah berkata ... jika di depan orang lain, kita harus menjadi seperti pasangan, bukan?" ucap Wafa semakin gugup.
"Sa-saya hanya ta—"
Ciiitttt!!
Belum juga Wafa menyelesaikan ucapannya, Bian menghentikan mobilnya mendadak. Sudah berulang kali biar melakukan hal yang membahayakan seperti itu. Tentu saja membuat Wafa kesal padanya.
"Astaghfirullah hal'adzim, Pak Bian!"
"Kenapa harus selalu seperti ini? Beruntung saja di depan atau di belakang tidak ada kendaraan lain. Dan beruntungnya saja saya memakai seat belt. Kenapa harus selalu ngerem mendadak, Pak?!" protes Wafa.
Saat itu juga seperti terdengar suara musik dengan alunan lagu yang sangat indah dan romantis mengiringi keduanya yang sedang berkontak mata. Sadar jika berkontak mata secara langsung tidak dianjurkan dalam agamanya, Wafa langsung menundukkan pandangannya. Gadis itu memalingkan muka dan menjadikannya semakin gugup saja.
Tak ada kata terucap, Bian menyalakan mobilnya kembali dan melanjutkan perjalanan. Benar-benar hari itu membuat Bian malu sendiri karena bersikap sembrono.
'Sejujurnya, bibirku juga kelu ketika menyebut Pak Bian dengan sebutan Mas. Tidak kusangka jika pak biar malah menginginkan aku memanggilnya dengan sebutan itu.' batin Wafa mulai gelisah.
"Teruslah memanggil saya dengan sebutan Mas. Saya ingin kamu membiasakan diri, takutnya ... kamu akan keceplosan memanggil saya dengan panggilan Pak, Bapak atau Tuan di depan keluarga besar saya," Bian memecah keheningan.
"Bisakah?" lanjutnya, seperti memohon.
"Saya akan usahakan .... Pak Bian." jawab Wafa, menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Sekitar 5 menit mereka sampai di toko perhiasan. Lagi-lagi yang memiliki toko tersebut adalah kenalannya Bian. Kali itu pemilik dari tokoh tersebut adalah seorang wanita. Berpenampilan modis, kekinian dan juga terlihat anggun.
"Oh, hai! Siapa yang datang ini?" sambut wanita itu.
"Silahkan, Tuan muda Huang. Silahkan duduk disini, dan ...." Wanita itu berhenti bicara ketika melihat Wafa.
"Dia nyonya muda Huang." jelas Bian, melirik ke lawan arah Wafa.
Wafa sendiri tidak paham apa yang diucapkan oleh Bian, dia hanya mengangguk-angguk saja. Wanita itu langsung membulatkan matanya yang sipit, tak percaya dengan yang dikatakan oleh Bian.
"Wah, cantik sekali. Selamat atas pernikahan kalian. Eh, tapi kapan kalian menikahnya?" wanita perancang perhiasan itu jadi semakin penasaran.
"Tidak lama lagi, kami masih belum menikah. Bicaralah menggunakan bahasa Inggris padanya dan jangan membahas hal ini lagi," cetus Bian, masih bicara dengan melirik ke arah luar.
Wanita itu hanya tersenyum, ia paham sekali bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Bian itu.
"Baiklah, baiklah. Perkenalkan namaku A-Wei, aku aku owner dari jasmine jewelry shop," wanita itu mengulurkan tangannya
"Wafa, nama saya Wafa," sahut Wafa, membalas sambutan dari A-Wei. "Toko anda sangat indah, perhiasan yang dipajang disini semuanya juga indah, apa semua adalah rancangan anda sendiri?" sambung Wafa.
A-Wei tersenyum, ia mengangguk dan lagi-lagi satu orang meleleh dengan suara lembutnya Wafa.
"Selamat nona Wafa, kamu membuatku terkesan dipertemuan pertama kita. Mari, silahkan duduk dan kita bicarakan apa yang membuat kalian datang ke tokoku." A-Wei begitu ramah, sama seperti Edrick sebelumya.
Bian membantu Wafa memilih perhiasan mana yang cocok untuknya. Seperti biasa Wafa memilih perhiasan yang sederhana. Tapi siapa sangka, perhiasan sederhana yang Wafa pilih, ternyata harganya tidak sesederhana itu karena dalam setiap ukiran yang A-Wei buat dengan sangat hati-hati.
"Ji Xie, istrimu ini memiliki selera yang mahal. Bukan hanya dirinya yang terlihat mahal, dia bahkan bisa melihat bagaimana ukiran kasih sayang yang ada dalam setiap ukiran perhiasan yang dia pilih," bisik A-Wei, sekaligus menggoda Bian.
"Diamlah!" pipi Bian menjadi memerah karena tersipu.
__ADS_1
Hal yang mengganjal di hati Wafa tentang peringatan hari kematian membuatnya terhenti tangannya ketika memilih beberapa perhiasan yang ada di sana. Ia tidak tahu apa maksudnya Bian membelikan banyak barang mahal untuknya, padahal yang akan mereka hadiri adalah hari duka, hari kematian kakeknya.