
"Kenapa dengannya?" gumam Zaka Yang.
Di kamar, Bian merebahkan tubuhnya di sofa. Perutnya begitu begah dan masih membuatnya mual. Makanan yang semuanya dari bahan daging, ditambah juga nasi dan kentang membuat perutnya sudah melembung seperti hamil empat bulan.
"Huh, baru kali ini aku merasa tidak enak dengan seseorang, sampai tidak bisa menolak," gumamnya.
Bian mulai mengantuk, padahal ia sedang tidak memikirkan apapun. Matanya mulai berat, kantuknya juga sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya, secara perlahan Bian pun sudah menuju ke alam mimpi.
Pintu kamarnya juga terbuka, membuat Zaka Yang penasaran mengapa Tuannya tidak menutup pintu kembali ketika masuk. Padahal selalunya Bian akan marah jika pintu ruangan apapun tidak ditutup kembali.
"Tuan,"
"Tuan Jie Xi,"
Zaka Yang terpaksa masuk begitu saja karena tidak ada jawaban dari Bian. Asisten manis ini terus melihat ke arah ranjang, tapi tidak juga ia menemukan Tuannya.
"Kemana Tuan Jie Xi?" gumamnya.
"Apakah dia sedang mandi? Tapi kenapa tidak terdengar suara shower menyala, ya?"
Zaka Yang menggelengkan kepala. Memeriksa ke kamar mandi, tapi lihatnya terhenti karena takut mengganggu Bian. Zaka Yang ini masih selalu memanggil Bian dengan nama Chinesenya, pemikirannya supaya asalnya tidak terlupakan.
Ketika berbalik, Zaka Yang melihat Tuannya terkapar di sofa.
"Astaga!"
Pose Bian waktu itu juga menggelitik perasaan Zaka Yang. Asisten pribadi ini menertawakan Tuannya yang masih terlelap di sana.
'Apa ini Tuan Huang Jie Xi yang terkenal dengan ketua gangster di daratan Tiongkok' batin Zaka Yang menahan tawa.
Yah, sisi lain Bian adalah, dia seorang ketua gangster yang masih belum diketahui tujuan terbentuk gangster tersebut apa. Usianya yang sudah menginjak kepala tiga, sudah tidak membuatnya mudah lagi. Hadirnya Grietta membuat Bian perlahan menjauh dari dunia hitam, kemudian melangkah sedikit demi sedikit menjadi seorang pengusaha meski tidak ada dukungan dari Ibunya yang masih ada.
"Tuan tertidur tapi belum sempat mengganti pakaian?" gumam Zaka Yang. "Apa pekerjaannya begitu melelahkan hari ini, sehingga bisa sampai melelahkan seperti itu?"
Zaka Yang mengganti pakaian Bian dan membersihkan tubuhnya. Memang sudah menjadi hal biasa bagi sang asisten untuk melakukan hal tersebut. Kehidupan Dian ketika di Tiongkok sana juga tidak sederhana seperti saat ini. Hidup yang dipenuhi dengan bau alkohol dan juga kotornya darah sudah menjadi rutinitas sehari-hari pasangan tuan dan asisten ini.
__ADS_1
Satu malam dilewati dengan tenang. Wafa juga tidur lebih awal karena kekenyangan. Sementara Ustadz Lana Masih memikirkan tentang hubungan apa yang dimiliki oleh Wafa dan Bian.
"Jika hanya sebatas rekan kerja saja, mengapa Wafa sampai sedekat Itu adalah seorang pria. Pada sebelumnya dia belum pernah dekat dengan siapapun kecuali Ustadz Zamil, yang di mana beliau adalah guru mengajinya ketika Wafa masih kecil,"
Ustadz Lana mulai bergumam.
"Sudahlah. Tidak baik juga aku memikirkan hal yang tidak perlu aku ketahui. Bagaimanapun hubungan mereka, selagi Wafa belum dimiliki siapapun menjadi istri dari siapapun itu, semuanya berhak untuk berlomba mendapatkan hatinya."
Kekaguman yang Ustadz Lana tunjukkan kepada Wafa atau ternyata belum mendapatkan hasil. Sepertinya memang Ustadz Lana harus lebih berusaha lagi supaya bisa mendapatkan hatinya Wafa.
***
Rutinitas pagi seperti biasa. Setelah sarapan Wafa berangkat ke kampus. Kali itu, Wafa diantar oleh Zira ke kampusnya karena gadis heboh itu sekalian pulang ke rumah orang tuanya.
"Nanti pulangnya bagaimana?" tanya Zira begitu sampai depan kampus.
"Kendaraan umum banyak. Jangan khawatirkan aku, segeralah kami pulang," jawab Wafa.
Wafa membuka helmnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Lah, ini helmnya kenapa dikasih ke aku?" teriak Zira.
"Tolong kamu bawa saja, terima kasih!" seru Wafa sambil melambaikan tangannya.
Zira pun kesal karena merasa terbebani harus membawa helm milik Wafa bersamanya. Meski begitu, Zira tetap membawa helm itu pulang. Dia pergi sambil terus mengomel.
Di kampus, seperti biasa Wafa bertemu dengan Kristian dan Lastri. Keduanya memang sudah menjadi teman bagi Wafa. Kristian pun mengajak Wafa langsung ke kantin.
"Aku ada kelas pagi, itu sebabnya masuk pagi. Masa iya malah diajak ke kantin?"
Kristian terkekeh. "Hehe, tidak masalah. Jajan kan cuma sebentar," ucapnya. "Ayolah, Wafa. Kita jajan dulu, yuk!" desaknya.
"Kalau Wafa tidak mau, kenapa harus memaksa? Wafa juga punya hak menolak, tau!" sahut Lastri.
Lastri ini ternyata menyukai Kristian. Sedikit dan banyaknya Kristian memberikan perhatian kepada Wafa, mematik api cemburu dalam hatinya. Namun Kristian tidak melihat ketulusan yang Lastri miliki.
__ADS_1
Keduanya pun jadi berdebat.
"Haih, sudahlah. Kalian ini kenapa malah ribut, sih? Masih pagi juga ribut-ribut tidak baik," tegur Wafa.
"Tian, terima kasih karena kamu sudah mau mengajakku jajan. Tapi sungguh aku minta maaf, aku ada kelas pagi ini. Jadi ... sampai jumpa nanti siang," senyum Wafa semakin membuat Kristian meleleh.
Kemudian, Wafa menatap Lastri. "Lastri, aku duluan, ya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." pamitnya.
Lastri adalah seorang muslimah, itu sebabnya Wafa mengucapkan salam padanya. Berbeda ketika Wafa bersama dengan Bian atau Kristian.
***
Satu bulan berlalu. Tiba waktunya acara piknik atau rekreasi di sekolah Grietta. Selama sebulan itu, hubungan antara Wafa dengan Bian juga semakin akrab saja. Keduanya banyak sekali bercanda diiringi dengan janda dan tawa.
Sementara Ustadz Lana juga sering sekali ke pesantren karena ada urusan penting bersama dengan Pak Kyai dan juga Reyhan. Ustad Lana dan Wafa juga sering bertemu, namun tidak tahu pasti saat ini siapa yang menarik perhatian Wafa.
Antara Bian dan Ustadz Lana masing-masing memiliki daya tarik tersendiri bagi Wafa. Keduanya memperlakukan Wafa sama lembutnya dan juga sama baiknya. Namun waktu yang Wafa familiki kebanyakan dihabiskan bersama dengan Bian, itu karena ada Putri kecil yang manis diantara Bian dan Wafa, yakni Grietta.
Pagi hari, setelah beberes di rumahnya, Wafa segera mandi dan bersiap untuk menemani Grietta mengisi acara piknik tersebut. Wafa sampai sarapan sambil melihat isi tasnya, takut ada yang tertinggal.
"Kamu ini, makan kok sambil lihat-lihat tas begitu. Memangnya mau kemana, sih? Mandi cuma sebentar, sarapan juga cuma seiprit, terus pakaian juga cerah bersinar begitu. Mau kemana, sih?" tanya Dian.
"Mau tahu aja!" seru Wafa.
Setelah Sari menikah, dua sepupu perempuan Wafa yang bernama Dian dan Zira ini memang selalu menginap di rumah Pak Kyai. Kegiatan Dian dan Zira di pesantren juga banyak, jadi memang lebih memilih menginap daripada pulang.
"Hari ini aku mau menemani Grietta piknik. Jadi aku harus persiapan, takutnya ponsel atau dompetku ketinggalan kan, nggak enak," jelas Wafa.
"Oh, menemani calon anak toh," celetukan Dian mengarah ke menggoda.
Tatapan Wafa langsung tajam.
"Eh, bercanda, loh, canda. Iya, sana hati-hati," imbuh Dian kala menerima laser mata dari Wafa. "Hati-hati jatuh cinta sama bapaknya hahahaha."
Dian, Zira dan Reyhan memang selalu menggoda Wafa ketika membahas Bian. Entah ketiganya mendukung hubungan pura-pura Wafa dengan Bian atau memang suka bercanda saja, Wafa juga tidak tahu.
__ADS_1