Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kembali Tergores


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wafa? Ini Mbak Sari, Fa. Mbak boleh masuk tidak?" tanya Sari masih dalam kepanikan.


Klek~


Pintu terbuka.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mbak Sari kenapa ngangetin saja, sih? Ayo, masuk!" kata Zira dengan ketusnya.


"Maaf," ucap Sari lirih.


Tanpa mempedulikan Zira, Sari langsung mendekati adiknya yang saat itu sudah memakai gamis berwarna biru muda. Riasan tipisnya juga sudah selesai. Tidak perlu bermewah-mewahan, yang penting rapi dan luwes saja bertemu dengan orang penting.


"Ada apa, Mbak?" tanya Wafa.


Tidak mau Zira sampai mendengar, Sari pun berbisik kepada Wafa, bahwa acara yang diselenggarakan sore hari itu adalah acara lamaran. Sari juga mengatakan jika Pak Kyai lah yang memiliki ide lamaran tersebut. Setelah mendengar penjelasan Sari, Wafa menjadi terdiam. Dia menatap wajahnya sendiri di cermin dengan tatapan datarnya.


"Jadi, jawaban apa yang ingin kamu siapkan untuk lamaran ini? Siapkan segera, Mbak akan mengulur waktu sebentar, oke?" bisik Sari.


"Kalian sedang membicarakan apa, sih! Kok, berbisik-bisik?" tanya Zira mencegah keheningan kamar Wafa.


"Tidak, kami tidak membicarakan apapun," jawab Sari seketika. "Zira, bisakah Mbak minta tolong?" lanjut Sari dengan lembut.


Zira mengangguk pelan. Sari pun berbisik kepada Zira. Wafa tidak tahu apa yang Sari bisikkan kepada adik sepupunya itu. Setelah itu, Zira mengangguk dan keluar dari kamar tersebut. Tatapan datar Wafa masih tertuju kepada dirinya sendiri melalui cermin. Beberapa detik berlalu, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi wajah Bian yang sedang tersenyum hangat.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim!" ucap Wafa sampai beranjak dari kursi.


"Ada apa?" tanya Sari panik.


Wafa menggelengkan kepala. Kemudian berpikir sejenak tentang bayangan yang dia lihat. Terlihat Wafa seperti gugup saat itu. Bukan gugup karena mau dilamar orang lain, melainkan gugup memikirkan bayangan Bian yang tiba-tiba saja muncul.


Tidak lama kemudian, datanglah Pak Kyai bersama dengan Zira. Rupanya, tadi Sari meminta Zira untuk memanggil Pak Kyai supaya datang ke kamar Wafa. Setelah itu, Sari meminta Zira untuk keluar karena dirinya ingin mengobrol penting dengan Pak Kyai.


Setelah Zira pergi ....


"Sari, Wafa, kenapa kalian memanggil Abi?" tanya Pak Kyai.


Sari pun mempersilahkan Pak Kyai untuk duduk lebih dulu di tepi ranjang. Lalu, Wafa pun juga duduk di kursi tempat dirinya duduk sebelumnya. Sorot mata sayu dari Pak Kyai tak lagi mempan membuat kedua putrinya iba.


"Abi, kenapa Abi mengadakan acara lamaran seperti ini tanpa sepengetahuan dari Wafa?" tanya Sari.


"Yang Sari tanyakan, kenapa Abi mengadakan acara lamaran tapi tidak memberitahu Wafa. Bahkan Abi pun tidak memberitahu Sari," tanya Sari lagi. "Baiklah, tidak masalah jika Abi tidak memberitahu Sari tentang acara ini. Tapi setidaknya, Abi mendiskusikan dulu dengan Wafa, 'kan?" imbuhnya.


Pak Kyai diam saja. Terkadang, memang orang tua selalu seperti itu. Ada kalanya orang tua hanya memikirkan kebaikan untuk anaknya, tanpa tahu anaknya akan menerima kebaikan itu atau tidaknya.


"Kenapa Mbak Sari bertanya seperti itu? Sudah sangat jelas Abi memang tidak pernah menyayangiku. Bahkan percaya sedikit saja kepadaku saja tidak bisa," sahut Wafa.


"Wafa ...." sebut Sari lirih.


"Apa aku salah? Abi memang tidak pernah menganggap aku disampingnya. Hanya Mbak Sari yang terbaik bagi Abi. Sejak kecil pun Abi tidak pernah memberikan keadilan untukku. Aku bahkan belum siap untuk menikah, kenapa Abi mengadakan acara lamaran seperti ini? Tak bisakah Abi bertanya kepadaku, apa aku mau dilamar?" Wafa mulai emosi.

__ADS_1


"Abi, aku tidak pernah meminta apapun dari Abi. Aku memang anak Abi. Aku adalah Putri dari seorang Kyai, pemilik pesantren. Tapi aku selalu dicap sebagai gadis atau anak yang tidak pernah mencerminkan sebagai seorang Putri dari Kyai besar seperti Abi. Sedangkan Mbak Sari?" Wafa pun mulai membuka luka hatinya.


"Mbak Sari yang bukan anak kandung saja selalu disayang oleh Abi. Hanya karena Mbak Sari sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi, tapi tidak sepantasnya Abi memperlakukanku seperti ini,"


"Aku ini juga anak Abi ...." suara Wafa mulai bergetar, dia pun menangis.


Sari pun juga mulai menangis. Dia bahkan baru tahu bahwa dirinya bukan anak kandung dari Pak Kyai pas hari akadnya. Sari meminta maaf kepada Wafa karena dirinya lah kasih sayang Pak Kyai menjadi terbagi untuknya. Namun, Wafa tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena dirinya sudah terbiasa. Semua itu terpusat kepada Pak Kyai yang tidak pernah berlaku adil kepada kedua putrinya.


"Abi ingat, aku mengagumi Ustadz Zamil. Tapi Abi malah menjodohkan Mbak Sari dengan Ustadz Zamil. Tak Bisakah Abi menjodohkan Mbak Sari dengan orang lain? Kenapa harus Ustadz Zamil?" Wafa mulai memperdebatkan hal itu lagi.


"Setidaknya jangan membuat hati anak Abi ini terluka. Abi menyembuhkan luka Putri Abi yang lain, tapi Abi malah melukai Putri Abi yang lain,"


"Abi, sekarang memang aku sudah tidak pernah mempermasalahkan tentang perjodohan Mbak Sari dengan Ustadz Zamil. Tapi lamaran seperti ini, apa Abi tidak tahu kalau aku itu belum mau menikah? Apa—" ucapan Wafa terhenti karena Pak Kyai menyela ucapannya.


"Kamu sudah cukup umur untuk menikah, Wafa. Sejak tadi kamu terus saja menyudutkan Abi, apa kamu sudah tidak menghargai Abi!" tegas Pak Kyai.


Pak Kyai pun menceritakan kematian kedua orang tua Sari. Lalu kepergian anak pertama Pak Kyai yang masih kecil. Pak Kyai juga menceritakan sakitnya kehilangannya sang istri ketika Sari dan Wafa masih kecil. Sebenarnya tidak mudah juga bagi Pak Kyai harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua putrinya. Belum lagi anak-anak didiknya yang ada di pesantren.


Sore itu, adalah waktu dimana air mata banyak yang mengalir. Pagi hari pun meminta maaf kepada Sari dan Wafa karena telah memberikan kasih sayang yang tidak adil. Terutama kepada Wafa. Pak Kyai juga meminta maaf kepada Sari atas rahasia yang beliau simpan sampai Sari dewasa.


Tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, ketiganya sepakat untuk saling diam dan kemudian keluar menemui tamu setelah wajah sedih mereka berhasil disembunyikan.


"Entah kenapa hatiku masih sakit saja jika mengingat Abi bukanlah Ayah kandungku. Ketika melihat Wafa, hatiku jauh merasa sakit, karena aku merasa jika diriku telah merebut segalanya darinya, terutama pria yang dia sukai, Ustadz Zamil," batin Sari.


Batin Pak Kyai juga bergejolak sakit. "Maafkan Abi, Nduk. Gara-gara Abi yang selalu pilih kasih antara kamu dan Mbakmu, kamu tumbuh menjadi gadis yang lain daripada anak-anak Kyai yang lainnya," yang dimaksud Pak Kyai, Sholehah, lemah lembut dan juga paham ilmu agama yang dalam.

__ADS_1


"Aku malah kepikiran dengan Grietta. Gadis manis itu malah mampu membuat hatiku tenang. Sedang apa dia di sana, ya?" batin Wafa.


Ketiganya keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu untuk melanjutkan acara lamaran tersebut. Anak dari sahabat Pak Kyai ini sebenarnya juga tidak buruk karena seorang Ustadz juga. Hanya saja Wafa hanya pernah bertemu sekali dan itu pun ketika dirinya masih kecil. Jadi baginya masih terasa asing dan sulit menerima lamaran tersebut karena memang Wafa sendiri belum mau menikah. Lalu, bagaimana jawaban dari Wafa atas lamaran itu?


__ADS_2