Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kepikiran Mas Duda


__ADS_3

"Anda ini …."


"Nama saya Nur, temannya mbak Wafa. Meski saya terlihat seperti ibu-ibu, tapi saya masih seumuran dengan Mbak Wafa, kok," jawab Mbak Nur memperkenalkan diri, juga mengakui seumuran dengan Wafa.


Setelah mobil Wafa keluar dari area yayasan, Bian pun langsung tancap gas dan mengikutinya dari belakang. Selama di perjalanan, Mbak Nur selalu mengajak Bian mengobrol. Sampai-sampai Mbak Nur keceplosan mengatakan semua hal tentang Wafa.


"Jadi, Wafa itu masih berusia 20 tahun. Seorang mahasiswi jurusan pendidikan agama, dan sudah memiliki banyak sekali anak asuh?" tanya Bian.


"Benar sekali. Mbak Wafa ini kasihan, loh, Mas. Jadinya adalah anak kandung tapi selalu mengalah dengan Kakak sepupunya yang diangkat anak oleh Ayahnya," celetuk Mbak Nur.


"Andai saja ada seorang pangeran yang baik hati bisa menyayangi dan mencintai Mbak Wafa. Pasti itu akan menjadi kado terindah bagi Mbak Wafa karena sudah selalu mengalah dengan keadaan," Mbak Nur memang ember.


Bian menjadi takjub kepada Wafa karena kisah-kisah yang diceritakan oleh Mbak Nur. Bian jadi tidak heran Lagi mengapa putrinya bisa sedekat itu dengan Wafa meski pertama kali berjumpa. Mendirikan yayasan di waktu yang sangat muda dan memiliki banyak asuh, tentu saja akan mudah dipercaya oleh anak-anak.


"Ternyata ada orang seperti gadis ini. Aku pikir, semua itu hanya ada di dongeng yang selalu pengasuhnya Grietta ceritakan," batin Bian.


Tak lama kemudian, sampailah di depan komplek perumahan Bian tinggal. Ban turun dan mengucapkan terima kasih kepada Wafa karena sudah mau mengantarnya pulang meski dirinya masih sedikit malu.


"Saya sangat malu jadinya kalau seperti ini. Seharusnya saya mengantar kamu pulang, eh, malah saya juga diantar pulang kembali karena tidak tahu jalanan daerah sini," ucap Bian.


"Jika Tuan mencari sopir atau ya ... pengasuh buat Grietta ... saya bersedia melamar jadi karyawan Tuan," ucap Wafa dengan senyum manisnya.


"Mbak Wafa!" sentil Mbak Nur.


"Hehehe bercanda, Tuan. Sudahlah, lupakan saja! Lain kali, bilang kepada putri Tuan untuk main saja ke yayasan saya daripada harus main di jalanan sendirian. Takutnya malah ada hal-hal yang tidak kita inginkan saja," ucap Wafa dengan lembut.


"Apa kamu tidak merasa keberatan, jika Putri saya mampir ke yayasan kamu?" tanya Bian.

__ADS_1


"Oh, tentu tidak, Tuan. Bagaimana mungkin saya keberatan, karena saya sendiri juga memiliki anak-anak banyak," ujar Wafa. "Saya malah senang jika ada anak yang mau bermain di yayasan saya. Grietta sangat manis, jadi saya pasti akan selalu merindukannya,"


Bian tidak maksud apa yang diucapkan oleh Wafa. Tapi Bian menangkap perkataan Wafa itu suatu hal yang positif. Setelah berbincang-bincang cukup lama, dan waktu juga semakin larut, mereka pun akhirnya berpisah.


Itulah pertemuan antara pengusaha duda muda yang pendiam dan tenang, dengan gadis yang dulunya adalah gadis aktif meski saat ini gadis itu sedang cosplay jadi putri solo.


"Mbak, saat aku tadi berbincang-bincang dengan Tuan tampan itu, aku merasa masih seperti polos deh!" Mbak Nur mulai menggosip.


"Mbak Nur, saya tidak mau mendengar apapun tentang cerita orang lain. Saya ingin fokus nyetir dan pulang segera terus istirahat. Besok saya ada kuliah pagi," sahut Wafa.


Wafa memang susah diajak menggosipkan orang lain. Baginya, hal itu kurang berfaedah saja dan hanya akan menambah dosa. Tapi, tidak semunafik itu Wafa ini. Kadang kalanya, dia juga mau mendengarkan orang bergosip.


***


Malam yang sunyi, Bian tidak bisa tidur. Masih teringat dengan cerita yang Mbak Nur ceritakan padanya tentang kisahnya Wafa. Bian merasa jika Wafa ini adalah gadis yang tangguh, tapi tidak mudah didapatkan.


"Kenapa aku sampai berpikiran ingin mendapatkannya? Pasti pria yang dia idamkan juga seperti sejenisnya," gumam Bian.


Malam Wafa juga, dia tidur sedikit tidak tenang karena terus kepikiran tentang kalung yang saat itu ia pakai. Wafa was-was karena kalung itu bernilai miliaran dan yang pasti adalah sebuah warisan. Membuatnya harus berhati-hati dan terus memastikan jika kalung itu masih melingkar di lehernya.


"Haduh, pengen aku tinggal juga di rumah. Tapi takut hilang. Jika dipakai terus-menerus, takutnya juga hilang," kata Wafa bingung.


"Ini kenapa anak dan bapak masih kalung seharga milyaran ini kepadaku secara cuma-cuma. Aku sampai takut jika orang berbuat baik kepadaku,"


"Wallahu'alam, apapun yang terjadi pikir besok saja. Aku harus tidur malam ini."


Wafa juga mulai memejamkan matanya. Sebuah takdir itu memang selalu melekat pada kehidupan. Setiap manusia telah membawa takdirnya masing-masing. Tapi pertemuan antara Wafa dan juga Bian, dirasa bukanlah sebuah kebetulan saja.

__ADS_1


***


Setelah shalat subuh, Wafa bersiap hendak pulang ke pesantren. Dia masih harus menyiapkan apa yang hendak ia bawa ke kampus nanti.


"Mbak, Mbak Wafa yakin tidak mau sarapan?" tanya Vita.


"Tidak. Aku harus cepat-cepat pulang dulu ke rumah," jawab Wafa, dengan tangannya yang sibuk merapikan jilbabnya. "Oh, ya. Mbak Vita bisa saya minta tolong panggilkan Mbak Nur sebentar, nggak? Saya ada perlu, nih!" pinta Wafa.


"Baik, Mbak. Sebentar ya ...."


Sebelum pulang, seperti biasa Wafa memberikan beberapa lembar uang seratusan untuk dibelanjakan kepada Mbak Nur. Kebetulan juga hari itu beberapa persediaan makanan sudah habis. Jadi memang harus memberikan uang belanjaan lagi kepada Mbak Nur.


"Ini uangnya. Jangan lupa nanti terima beras dari Pak Pri. Sudah saya bayar semuanya. Tinggal nanti mbak Nur minta pegawainya Pak Pri buat masukin saja ke gudang," ucap Wafa, sembari memberikan uang tersebut.


"Iya, mbak. Um, Mbak Nur jangan lupa buka rekening, ya. Biar saya nggak repot harus ambil uang cash seperti ini. Kan enak nantinya juga, jika ada kebutuhan apapun saya tinggal transfer gitu," lanjut Wafa.


"Iya, pasti buat, kok, nanti. Mbak Wafa tenang saja," jawab Mbak Nur.


"Ih, Mbak Nur mah tenang-tenang mulu, tapi nggak segera dilaksanakan. Harus dilaksanakan dong. 'Kan itu juga penting, jadinya Mbak Nur tidak terlalu waspada lagi karena tidak membawa uang cash dalam jumlah yang banyak,"


"Begitu ini sudah jam enam juga. Saya pamit dulu, ya. Jangan lupa katakan sama Mbak Vita untuk mengikat rambutnya Desfi. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati mbak!"


Wafa mengangkat dua jempolnya ke atas. Iya sudah memanggil Pak Imin sebagai tukang ojek langganannya untuk mengantar ke pesantren terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Wafa juga menanyakan ke mana Pak Imin pergi semalam. Sudah seharusnya Pak Imin tetap menunggu apa di depan pos komplek meskipun diusir dari dalam komplek.


"Maaf, Mbak Wafa. Mau bagaimana lagi, Pak Imin takut, loh, sama satpam di sana. Tapi Mbak Wafa baik-baik saja, to?" ujar Pak Imin.

__ADS_1


"Seperti yang Pak Imin lihat. Wafa sampai sekarang masih baik-baik saja, 'kan?" Wafa sedikit kesal.


Meski Wafa kesal tetap saja dia tidak pernah cemberut ataupun menunjukkan jika dirinya sedang kesal. Bagaimanapun Wafa selalu menghormati orang tua.


__ADS_2