
"Grietta, kamu bisa bicara?" Zira pun sampai menganga tak menyangka. "Wafa!" teriaknya.
Wafa sendiri juga sedang memandangi Grietta dengan tatapan bangga, tak terasa air matanya membasahi pipinya saat itu. Dian dan Zira juga terharu bisa mendengar Grietta bicara sebanyak itu. Melihat wanita yang menyayanginya tanpa syarat itu menangis, Grietta langsung menghampiri serta memeluknya.
Wafa membalas pelukannya. "Terima kasih, terima kasih, Grietta. Kamu sudah berusaha sebanyak ini. Kakak bangga padamu, terima kasih." bisik Wafa, seraya memeluk gadis kecil itu dengan erat-erat.
"Mama .... Ja-jangan menangis," Grietta melepaskan pelukannya, kemudian menggunakan tangan kecilnya, ia menghapus air mata yang sedari tadi terus membanjiri pipinya Wafa.
"Iya, Kakak nggak akan nangis. Kakak bahagia sekali kali sudah bisa mulai percaya diri berbicara di depan semua orang," ucap Wafa. "Grietta, pertahankan apa yang saat ini kamu miliki, ya. Jika suatu saat nanti kakak tidak bersamamu lagi, kamu jangan pernah takut untuk mengatakan dan mengungkapkan isi hatimu," lanjutnya.
"Wafa, kenapa kamu ngomongnya kayak gitu. Seakan-akan kalian berdua tidak akan bersama lagi. Bukankah kalian ditakdirkan bertemu itu juga untuk bersama?" sahut Dian.
Zira mengangguk saja. Wafa sendiri merasa jika suatu saat nanti, akan ada hal yang memisahkan dirinya dari Grietta. Ia pun kembali memeluk erat gadis kecil yang membuat hari-harinya bermakna.
***
Siang hari setelah berhasil menidurkan Grietta, Wafa duduk bersama dengan pak kyai dan juga lainnya. Wafa memasang wajah murung setelah keluar dari kamarnya.
"Kenapa wajahmu murung seperti itu, Nduk? Apa ada hal yang membuatmu sedih?" tanya pak kyai, sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Wafa duduk di samping pak kyai.
"Iya, kamu kenapa murung seperti itu, Wafa? Apakah Grietta tidak bicara lagi?" timpal Sari.
Wafa menggelengkan kepalanya. "Semalam, Grietta bicara banyak sekali. Dia menceritakan bagaimana keluarganya memperlakukan dirinya, bercerita betapa bahagianya bersama kita di sini, kemudian juga cerita tentang kerinduannya kepada Papanya," ungkapnya.
"Tidak bisa dipungkir juga karena Grietta disini sudah sekitar hampir 1 bulan. Apakah Pak Bian belum menelpon atau mempertanyakan keadaan Grietta sampai saat ini?" tanya Ustadz Zamil.
Wafa menundukkan pandangannya. Gadis ini juga bingung dengan sikap Bian terhadap putrinya sendiri. Sebentar diberikan kasih sayang, sebentar lagi diabaikan. Wafa menjadi teringat dengan masa kecilnya yang kurang mendapatkan kasih sayang dari Abi-nya.
"Seharusnya sebagai seorang ayah, Pak Bian harus mempertanyakan bagaimana kabar putrinya, kan? Mengapa ini malah—" ucapan Ustadz Zamil terhenti.
"Sebenarnya aku sudah berusaha untuk menghubungi beliau. Tapi pesannya saya gitu itu hanya direspon oleh asisten pribadinya saja. Entah apa yang terjadi kepada Pak Bian—aku sendiri juga tidak tahu," jelas Wafa.
__ADS_1
"Ya, semoga saja pak biar selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Siapa tahu memang sedang sibuk dan memang membutuhkan waktu untuk konsentrasi penuh dalam pekerjaan," sahut pak kyai. "Lagipula Abi juga suka dengan keberadaan Grietta disini, jadi kamu jangan khawatir, Wafa." sambungnya.
Perasaan Wafa beberapa hari terakhir memang seperti tidak enak saja. Seperti ada sesuatu hal yang akan membuatnya sedih dalam beberapa hari kemudian. Wafa tidak tahu apa itu, tapi merasa jika ia akan jauh dari Grietta.
'Ya Allah, kenapa hatiku selalu berkata bahwa aku dan Grietta kita akan berpisah. Grietta dan anak-anak lain dia yayasan memang bukan anak kandungku. Tapi aku sangat menyayangi Grietta lebih dari apapun. Perasaan apa ini, Ya Allah.' batin Wafa.
Menjelang sore, Grietta sudah bangun dari tidur siangnya. Gadis kecil itu berlarian dari dalam menuju taman kecil di samping rumah Wafa, kemudian langsung memeluk gadis yang ia panggil sebagai Mama itu.
"Mama!"
"Eh, Grietta?"
Wafa membalas pelukan gadis kecil itu. "Kamu sudah bangun?" tanyanya membelai rambut lurus putri Bian itu. "Eh, apa ini? Apa kamu tidur dengan menangis lagi? Kantung matanya semakin besar," ucapnya.
"Coba lihat," Sari memeriksa kantung mata Grietta yang membengkak.
Setelah diperiksa, memang itu diakibatkan dari menangis. Sari pun menanyakan mengapa Grietta tidur sambil menangis. "Apa kamu bermimpi buruk?" tanyanya.
"Aku tidak mau berpisah dengan Mama. Aku tidak mau ikut Papa pulang lagi. Aku mau ada di sini." celetuk gadis bermata sipit itu.
"Sayang, kenapa kamu bicaranya seperti ini? Alangkah baiknya kamu bicara yang baik-baik saja. Bukankah kamu sudah mulai bicara lagi? Pelan-pelan saja, ya ..." tutur Wafa menghapus air mata Grietta yang membasahi pipinya.
"Aku tidak mau pulang!"
Bug!
Grietta menabrak Ustadz Lana ketika berlari. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya, "Nana?" ucapnya, ketika memanggil ustadz Lana.
"Nana?" Ustadz muda itu pun menjadi bingung.
"Nana, aku tidak mau pulang. Papa, sudah mau pulang. Aku, mau di sini." kata gadis kecil itu dengan sedikit tertatih-tatih ketika mengucapkan kata itu.
'Apa Grietta sedang menyebut namaku? Nana? MasyaAllah, dia sudah bicara lagi?' batin Ustadz Lana.
__ADS_1
Wafa dan Sari menghampiri Ustadz Lana. "Ustadz Lana, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas salam Ustadz Lana dengan senyuman, sementara Grietta masih memeluk dirinya saat itu.
"Grietta, kenapa kamu lari? Boleh saja yang kamu tabrak ini adalah Ustadz Lana. Bagaimana jika kamu tersandung atau menabrak pohon, Apa kamu tidak kasihan dengan kakak yang akan mengkhawatirkanmu?" tegur Wafa.
"Maaf—" ucap Grietta lirih.
Ustadz Lana masih saja ngeblank. Baru saja dia mendengar kata-kata dari mulut Grietta. Pria ini langsung menggendong gadis kecil yang sedari tadi memeluknya.
"Huft, MasyaAllah. Grietta menambah berat badan, kah? Seminggu tidak bertemu, sudah semakin berat saja!" seru Ustadz Lana.
Grietta hanya memandang Wafa dengan tatapan murung lagi.
"Ada apa ini?" tanya Ustadz Lana.
"Nana, Mama tidak ... mau aku lagi. Nana, boleh aku ikut Nana pulang saja? Nana, tidak mau pulang bersama dengan Papa!" ucapan itu terus saja Grietta katakan.
Tentu saja tiga orang dewasa yang ada didepan Grietta menjadi bingung. Belum ada kabar Bian akan pulang, tapi Grietta terus mengatakan jika dirinya akan berpisah dengan semua orang yang ada di sana.
"Grietta, Sayang. Dengarkan kakak du—" ucapan Wafa terhenti.
"Mama!" sela Grietta.
Grietta tampak kesal karena Wafa terus saja menyebut dirinya Kakak di hadapannya. Padahal gadis kecil itu sudah berusaha semaksimal mungkin supaya membuat Grietta menjadi Mamanya.
"Okay, Mama!" jelas Wafa.
"Griatta, Mama tidak tahu apa yang kamu katakan ini. Siapa yang sudah tidak mau dirimu lagi? Mama tidak pernah mengatakan itu. Lalu kenapa kamu harus pulang bersama dengan Papamu? Bukankah Papamu belum pulang dari luar negeri?"
"Grietta, kami semua sangat menyayangimu. Tentu saja kami akan selalu ada untuk kamu. Mama, Ustadz Lana, Kak Sari, Kak Zira, Kak Dian, bahkan Yeye ... akan selalu ada untukmu, kenapa kamu ma—"
Lagi-lagi ucapan Wafa belum selesai, terhenti karena melihat Grietta mulai menangis. Wafa sendiri juga bingung menyikapi tingkahnya Grietta yang tidak diketahui sebabnya gadis kecil ini menangis, bahkan terus mengatakan jika dirinya tidak mau pulang.
__ADS_1