
Begitu mendengar pengakuan Jia Mee, semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk kedua orang tuanya yang saat itu juga menghadiri acara pertemuan para pengusaha. Mereka juga langsung menghampiri dimana putrinya berdiri.
"Apa katamu?" tanya Bian santai.
"Aku hamil, aku hamil!" jelas Jia Mee, sengaja bicara bahasa Inggris supaya Wafa mengerti.
Wafa juga langsung memasang wajah iba begitu mendengar pengakuan Jia Mee. Gadis itu merasa bersalah tanpa alasan.
"Apa hubungannya denganku?" Bian tetap bersikap dingin.
"Aku hamil anakmu, JiJi, kenapa kau masih bertanya!" Jia Mee bersikeras untuk kedudukannya sebagai Nyonya muda Huang.
Zaka Yang menghampiri Bian, "Tuan, suasana menjadi kacau. Apakah saya harus membubarkan acara dan meminta para pengusaha ini pulang?" bisiknya.
"Tidak perlu," jawab Bian. "Kau hanya perlu memanggil Edrick saja. Minta dia kemari," perintahnya.
"Baik, Tuan."
Zaka Yang pergi setelah menerima perintah, begitu juga dengan Wafa yang hendak menjauh dari sisi Bian.
"Kamu tidak boleh pergi!" ucap Bian. Langkah Wafa pun terhenti. Bian menoleh ke arah gadis itu. "Tetaplah bersama saya disini," pintanya lirih, wajahnya yang sebelumnya terlihat dingin, menjadi hangat saat meminta pada Wafa.
"Tapi—" Wafa melihat ke sekitar.
Bian menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia merogoh saku celananya dan memakai sarung tangan tipis. Lalu mendekati Wafa.
"Saya tidak tahu ini dosa atau tidak dalam agamamu. Tapi saya hanya tidak ingin kamu pergi dan saya ingin seluruh dunia tahu bahwa kita tidak main-main, Wafa," begitu mengucapkan kata itu, Bian menggenggam tangan Wafa.
Deg!
Jantungnya berdebar kencang, Wafa tak tahu antara kebenaran dan kesalahan karena terbuai dengan perasaannya. 'Jika keluargaku ada disini, mereka akan kecewa dengan apa yang aku lakukan.' batinnya.
__ADS_1
Melihat Bian menggenggam tangan Wafa membuat Jia Mee semakin membenci Wafa. Sebelum banyak orang yang bertanya mengapa Bian harus memakai sarung tangan, dia pun mengungkapkan alasannya tidak bisa menyentuh kulit Wafa secara langsung dan Bian mengatakan itu dengan lantang.
'Ini salah. Ini sangat salah. Meski tidak saling bersentuhan, tapi dengan bergandengan tangan yang bukan mahramnya juga salah. Tapi aku harus bagaimana, jika aku melepaskannya ... maka aku akan mempermalukan Pak Bian, bukan? Ya Allah, tolong hambamu ini, Ya Allah ....' Wafa semakin resah.
Edrick datang setelah itu. Siapa sangka, desainer penyuka sesama jenis ini rupanya juga seorang dokter spesialis kandungan. Menjadi seorang desainer adalah cita-citanya, tapi menjadi dokter adalah tuntutan dari keluarganya.
"Kalian mengenal siapa dia, bukan? Dia adalah dokter sekaligus desainer ternama. Malam ini juga, kita akan menyaksikan, apakah perempuan ini benar-benar hamil atau tidak, lalu ... jika dia hamil, aku juga siap untuk melakukan tes DNA dengannya," kata Bian dengan tegas.
Orang kaya bebas melakukan apapun. Bahkan Zaka Yang sudah menyiapkan peralatan medis yang dibutuhkan oleh Edrick. Orang tua Edrick juga pemilik dari rumah sakit ternama di Thailand dan juga Tiongkok, jadi hal itu akan semakin mempermudah dalam pembuktian Jia Mee.
Jia Mee dan adik tiri Bian panik, mereka mulai berkeringat. Tapi dengan bodohnya, kedua orang tua Jia Mee yang sudah bahagia karena putrinya mengandung pewaris Huang, malah memaksanya.
"Tuan muda Huang, perjodohan kalian telah terjadi sejak kalian kecil. Jika memang Jia Mee mengandung anakmu, maka apa yang perlu dibuktikan? Kalian sudah melakukan yang terbaik," ucap Tuan Hui.
Bian masih mencengkram erat tangan Wafa. "Kita lihat saja bagaimana pemeriksaannya," sahutnya.
'Pak Bian sedang tidak baik-baik saja. Dia mencengkram tanganku sangat kencang, apakah dia sedang menenangkan diri?' batin Wafa.
"Jia Mee, cepat kau berbaringlah. Kamu buktikan saja bahwa kamu sedang mengandung pewaris keluarga Huang!" tegas Tuan Hui.
"Ayah, aku tidak mau!" Jia Mee menolak sambil memegangi perutnya, seolah dia benar-benar sedang hamil.
"Edrick!" panggil Bian, memberi perintah supaya Jia Mee mau diperiksa.
Edrick mengerti dan memerintahkan beberapa orangnya untuk mengaturnya, memaksa tubuh Jia Mee untuk dibaringkan di tempat yang sudah disiapkan. Tentu saja Bian masih memiliki rasa hormat, ketika Jia Mee diperiksa, akan ada kelambu yang menutupinya.
"Tidak! Aku tidak mau!" Jia Mee meronta.
"Tuan muda Huang, kenapa anda begitu keras kepala. Jika memang putriku mengandung anakmu, maka itu akan baik. Untuk apa kamu tetap menggenggam tangan wanita lain? Pikirkan perasaan putriku," Nyonya Hui pun ikut ambil andil.
"Mamaku milik Papa, untuk apa Papa melepaskan Mamaku?" Grietta yang masih ada di sana senantiasa membela Wafa.
__ADS_1
"Cih, anak sampah ini," Nyonya Hui menggerutu lirih, takut terdengar oleh Bian. "Nak, cucuku. Namamu adalah Mama Jia Mee, bukan wanita ini," katanya sambil membungkuk pada Grietta.
"Mamaku hanya Mama Wafa, tidak ada yang lain!" Grietta sampai membentak Nyonya Hui.
Ketika Wafa hendak menasihatinya, Bian menahan tangannya. Sangat jelas jika Bian membiarkan Grietta melawan orang dewasa demi membelanya. Wafa pun semakin sedih karena tidak mengerti apa yang semua orang katakan di depannya.
"Lihatlah hasilnya!" seru Edrick.
Semuanya menatap pada layar monitor.
"Nona Hui tidak hamil, tidak ada apapun di dalam sini. Bahkan ketika tes urin saja hasilnya negatif," ungkap Edrick. 'Oh, Tuan muda Huang, diberkatilah kau." imbuhnya.
Semua mulai berbisik tentang pernyataan palsu Jia Mee. Kedua orang tuanya pun hanya bisa diam, mereka tentunya sangat malu, putrinya bagai melempar kotoran di wajahnya.
"JiJi, aku lakukan ini karena aku tidak ingin kehilanganmu. Kita sudah berjodoh sejak kecil dan sebelumnya kamu tidak masalah dengan ini. Tapi kenapa sekarang ...?" akting dimulai.
"Aku akan batalkan juga kontrak dengan keluarga Hui. Maaf, Nona Hui. Tapi aku sama sekali tidak pernah mengakui adanya perjodohan ini sedikitpun!" tegas Bian, tanpa menatap Jia Mee.
Jia Mee marah, dia memandang Wafa dengan kemarahannya dan tiba-tiba menjambak jilbab gadis itu.
"Ah!" teriak Wafa.
"Apa kau sudah gila? Berhenti menyentuhnya!" Bian menepis tangan Jia Mee.
"Kenapa JiJi? Kita selalu bersama sejak dulu, perjodohan itu juga sudah ada sejak kita belum sama-sama lahir. Ketika kecil kamu selalu menjagaku dengan baik. Hadirnya wanita ini membuatmu berubah seketika, aku membencinya!"
Di posisi Jia Mee memang sangat menyakitkan. Sejak kecil, ia dan Bian selalu bersama. Di sekolah pun mereka selalu berdua. Tapi ketika Bian dikirim ke luar negeri, segalanya berubah sejak saat itu. Hanya saja Jia Mee yang tidak mau menyadari.
"Nona, kau seorang peelacur! Kau merebutnya dariku. Kenapa kau lakukan ini? Kita sesama perempuan, kau tak punya hati, kau sangat rendahan, rendahan!" Jia Mee menunjuk wajah Wafa.
Tentu saja Wafa mengerti dengan ucapan Jia Mee karena dia mengatakan dengan bahasa yang Wafa ketahui. Dituduh serendah itu membuat hati gadis yang sebelumnya tak pernah berurusan dengan orang-orang seperti Bian membuatnya kecil hati.
__ADS_1