
Klek~
Suara pintu dari toilet sebelah juga terbuka. Wafa melihat Sadana keluar dengan wajah sangarnya. Terlihat seperti dia baru saja mengamuk karena pipinya juga mengembang.
'Dia ... oh, kenapa mukanya semengerikan itu? Jadi takut deh. Huft, bikin deg-degan aja!' batin Wafa pura-pura cuci tangan, kemudian pergi.
"Tunggu!" sayang langkahnya dihentikan Sadana.
Wafa menoleh, kemudian memasang senyum keterpaksaan. "Iya, ada apa?" tanyanya. "Um, ada masalah?"
"Apa benar, kamu adalah calon istrinya Pak Bian?" tanya Sadana. "Jika benar, aku hanya ingin mengingatkan saja. Nyonya Flanella, ibu dari putrinya yang bisu itu masih selalu mengganggu. Dia bukan tandingan bagi kamu. Jadi ... waspadalah!" Sadana menepuk bahu Wafa.
Wafa tersenyum, "Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi alhamdulilah saya juga sudah bertemu dengan ibunya Grietta. Beliau sangat baik sekali." jawabnya.
Tatapan Sadana langsung tajam. "Maksudnya apa? Kamu sudah bertemu dengan mantan istri Pak Bian, bagaimana bisa?" tanyanya. "Perlu kamu ketahui, mantan istrinya itu sangat sulit ditemui. Kamu tidak berbohong 'kan?" imbuhnya.
Wafa menggelengkan kepala. Ia bahkan mengatakan jika pertemuannya dengan ibunya Grietta juga di gereja ketiak Flanella menikah. Wafa juga mengatakan jika dirinya berkenalan dengan Flanella sebagai calon ibunya Grietta. Sadana tercengang mendengarnya. Wanita itu mengira jika Wafa benar-benar calon istri dari Bian.
"Oh, begitu. Tapi aku juga mau mengingatkan saja. Bahwa calon istri yang sebelumnya menyerah sebelum hari pernikahan terjadi. Pak Bian, suka sekali mengamuk tanpa alasan, hati-hati ...." begitu ucapan Sadana sebelum dia pergi meninggalkan Wafa.
Kata 'mengamuk' bagi Wafa sangat tidak bisa dipercaya. Memang Wafa pernah juga melihat Bian memarahi asistennya dengan tegas. Namun ketika berdebat dengannya, pasti Bian selalu diam dan kalah dari Wafa.
Wanita berusia dua puluh tahun ini tidak ingin sampai berburuk sangka. Ia mengingat Grietta dan kontrak itu, membuat Wafa tak lagi memikirkan apa yang dikatakan oleh Sadana.
Ketika Wafa keluar, dia mengalami kebingungan karena lupa jalan menuju ke kantor pabrik tersebut. Tak disangka ketika terus berjalan, ia bertabrakan dengan Zaka Yang, assistant Bian.
BRUAK!!
"Aduh, maaf ya ... Saya ti—eh, Pak Zaka? Anda disini juga?"
__ADS_1
"Nona Wafa?"
Wafa segera membantu Zaka Yang memungut karton yang jatuh karena bertabrakan dengannya. Wafa juga bertanya kabar tentang pria itu karena memang sudah lama tidak bertemu.
"Kalau boleh tahu, kantornya di sebelah mana, ya? Seharusnya tadi saya dari sana, tapi kok ..." Wafa melihat ada banyak sekali karyawan laki-laki yang berkumpul di jalan arah kantor.
"Kebetulan saya juga akan ke kantor. Tuan Bian disana, bukan? Mari, kita bersama-sama saja," ajak Zaka Yang, lebih peka.
Wafa mengangguk semangat, kemudian memberikan beberapa karton yang ada di tangannya pada Zaka Yang. Sambil berjalan, Wafa berniat hati ingin bertanya tentang apa yang dikatakan Sadana padanya.
"Um, itu ... saya boleh bertanya, tidak?" tanya Wafa ragu-ragu.
"Boleh saja, Nona. Apa yang ingin Nona Wafa tanyakan?" sahut Zaka Yang.
"Calon istri Pak Bian sebelumnya memangnya siapa? Kata wanita yang berambut panjang hitam lebat, terus bibirnya maaf, sedikit tebal, bulu matanya juga yang sebelah hampir lepas, me—"
"Sadana. Pasti dia Sadana, Nona. Memangnya apa yang dia katakan?" tanya Zaka Yang langsung menebak dengan benar.
"Hei, maksudnya apa, Nona? Memangnya siapa calon istri Tuan yang sebelumnya? Lalu, Sadana juga mengatakan bahwa Tuan sangat kasar, saya tidak mengerti," sahut Zaka Yang.
"Iya, dia mengatakan bahwa calon istri Pak Bian sebelumnya sebelum saya, tidak jadi menikah karena Pak Bian memperlakukan calon istrinya itu dengan kasar. Sadana juga mengingatkan saya untuk berhati-hati jika sudah menjadi calon istrinya Pak Bian," celetuk Wafa.
Zaka Yang mengangguk-angguk. "Eh, tunggu! Apa? Pak Bian memperkenalkan Nona pada Sadana sebagai calon istri?" tanyanya terkejut.
"A-apa maksud dari reaksi wajahmu itu, Pak Zaka?" Wafa menjadi bingung.
Pria yang telah lama bekerja bersama dengan Bian itu menjelaskan bahwa setelah berpisah dengan istrinya, Bian sama sekali tidak dekat dengan wanita manapun. Bahkan setiap kali ada yang mencoba mendekatinya, Grietta tidak pernah suka pada wanita itu. Jadi, Bian akan mengambil langkah cepat jika suatu saat Grietta menyukai seorang wanita untuk ayahnya.
"Maksud wanita pilihan Grietta itu ...." ucapan Wafa terhenti karena ingin memastikan.
__ADS_1
"Benar. Anda, Nona." jawab Zaka Yang menegakkan tubuhnya.
Masih stuck disitu saja, Wafa merasa bingung. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan saja dan mulai menjauh dari Sadana karena Wafa yakin sekali bahwa Sadana bukan wanita yang baik.
"Tuan, saya datang mem—"
"Kau keluar, dan kau masuk!"
Baru saja Zaka Yang ingin menyampaikan sesuatu, Bian mendorong tubuhnya dan menarik tangan Wafa. Pintu juga ditutup rapat sampai kening Zaka Yang saja terkena pintu akibat mau masuk malah ditutup oleh Bian.
"Pak, ada apa?" tanya Wafa bingung.
"Ada apa, ada apa. Kamu pergi tanpa alasan, selama itu juga, kamu mau buat saya mengkhawatirkanmu, begitu?" Bian bertanya dengan ketusnya.
"Um, mohon maaf tapi Pak Bian sa—"
"Apa? Mau apa? Kamu mau beralasan apa? Kamu mau membuat saya menunggu, ha? Ini sudah jam berapa, kamu belum beribadah, Wafa!" tegas Bian, lagi-lagi menyela ucapan Wafa.
Bian terus mengomel seperti ibu tiri yang kejam, sedangkan Wafa hanya diam menatap pria dewasa yang katanya dingin itu dengan tatapan aneh. Wafa sendiri tidak yakin dengan rumor di luaran sana yang mengatakan Bian adalah pria yang sulit di senangi.
Omelan Bian itu membuat Sadana dan karyawan yang lainnya mengintip karena penasaran. Sadana merasa jika Wafa pasti akan mundur menjadi calon istri Bian karena Bian sendiri sedang memarahi Wafa.
"Hum, dia sudah tidak bisa sombong lagi. Pasti Pak Bian juga enggan memiliki istri seperti dia," gumam Sadana.
"Tapi, Bu Sadana. Apa yakin jika Pak Bian memarahi calon istrinya karena membenci? Saya dengar, Pak Bian hanya mengingatkan calon istrinya beribadah dan memintanya untuk tidak jauh-jauh darinya," sahut salah satu HRD yang baru saja masuk.
"Kalian lihat saja, gadis itu sungguh malang. Dia diam saja dan terlihat ketakutan. Nyalinya sungguh besar mau menjadi Nyonya Huang," cetus Sadana dengan kebenciannya.
"Hei, kalian sedang apa?" Zaka Yang datang dan membuat Sadana, juga yang lainnya terkejut.
__ADS_1
BRUAK!
Wafa menggebrak meja. Zaka Yang, Sadana dan yang lainnya semakin terkejut. Mereka langsung mengintip dan ingin tahu siapa yang menggebrak meja. Sadana tercengang ketika mengetahui siapa yang menggebrak meja di salam sana.