Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kebodohan Ferdian


__ADS_3

Ferdian yang mendengar kabar itu langsung menyangkal. Dia pergi mencari Wafa yang saat itu sedang dipojokkan di kelasnya. Ferdian menarik tangan Wafa dan membuat semua mahasiswa salah paham tentang mereka.


"Wafa!" teriak Ferdian.


Melihat Wafa duduk di pojokan sana, Ferdian langsung menariknya. Tentu saja perlakuan Ferdian itu membuat wafat terkejut karena ia menyentuh langsung tangan kulitnya.


"Eh?" Wafa terkejut.


"Lihatlah, jangan-jangan rumor itu benar kalau Wafa hamil anaknya Kak Ferdian,"


"Aku juga melihatnya seperti itu. Jika tidak ... Kenapa Kak Ferdian menarik tangannya seperti itu. Pasti Kak Ferdian sendiri sudah mendengar berita mengenai Wafa yang sedang hamil,"


"Tapi entah kenapa aku tidak percaya jika Wafa hamil anaknya Kak Ferdian. Maksudku—Wafa itu kan gadis yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak tidak seperti itu." ada salah satu dari mereka yang menyangkal.


Mahasiswa yang ada di ruang kelas saling berbisik. Mereka terus membicarakan tentang kehamilannya Wafa. Kini, berita tersebarnya kehamilan Wafa juga dibumbui oleh Wafa hamil anaknya Ferdian.


"Lepaskan!" Wafa menepis tangan Ferdian.


Mereka berhenti di sebuah lorong yang di mana kelasnya memang sudah sepi.


"Apakah aku sadar, apa yang kamu lakukan ini? Kamu menyentuhku!" tegas Wafa. "Kamu boleh saja menarik aku, tapi usahakan jangan sampai menyentuh kulit seperti ini, itu sama saja kamu tidak menghargaiku sebagai seorang muslimah, Ferdian!"


Wafa kesal kepada Ferdian karena perilakunya yang semakin lama dinilai semakin buruk saja terhadapnya. Sebelum menemui Wafa, Ferdian ini bertemu dengan Mayumi terlebih dahulu untuk membahas tentang rumor kehamilan yang sedang heboh di kampus.


Beberapa menit yang lalu ketika Ferdian bertemu dengan Mayumi.


"Apa katamu? Wafa hamil? Kamu yang benar saja?" Ferdian terlihat syok.


"Kak, semua orang di kampus ini juga sudah tahu berita kehamilannya Wafa. Orang tadi wafat sendiri yang memegang tespek di tangannya. Aku jadi penasaran siapa bapak dari anak yang dia kandung, Mayumi mulai membumbui fitnahnya pada Wafa.


"Tidak, tidak mungkin Wafa sampai melakukan hal negatif seperti itu. Wafa ini adalah gadis baik-baik, dia bahkan adalah putrinya seorang Kyai, mana mungkin dia melakukan hal seperti itu, Mayumi!"


Awalnya Ferdian menyangkal dengan keras, tapi setelah menerima hasutan dari Mayumi.

__ADS_1


"Aku tahu kamu mencintai Wafa. Jadi mengapa kamu tidak memanfaatkan keadaan ini untuk merebut hatinya, Kak Ferdian!" seru Mayumi. "Kenapa kamu bodoh seperti itu?" imbuhnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Ferdian.


Tentu saja Mayumi menyarankan supaya Ferdian mau menikahi Wafa. Dengan seperti itu maka fitnah yang disebarkan di kampus seolah-olah akan menjadi suatu kebenaran bahwa Wafa hamil anaknya Ferdian.


"Kami gila!" seru Ferdian. "Bagaimana mungkin aku menjadi ayah dari seorang anak yang bukan darah dagingku sendiri. Gila kamu!" jelasnya.


"Bodoh!" caci Mayumi.


"Kamu ini benar-benar bodoh, Kak Ferdian," kata Mayumi diperjelas ketika menyebut kaya bodoh. "Huft, bagaimana bisa kamu tidak memikirkan tentang dirimu sendiri?" desis Mayumi.


Ferdian memutar bola matanya. "Bicaralah dengan jelas atau aku akan membunuhmu, Mayumi!"


Kembali Mayumi menjelaskan supaya Ferdian mau menikahi Wafa dengan alasan untuk membantu Wafa membersihkan nama baiknya di kampus.


'Jika pria tol*l ini menikahi Wafa, maka umur kehamilan gadis menyebarkan itu akan selalu dicap sebagai kebenaran. Hm, sangat mudah sekali menjatuhkan gadis itu.' gumam Mayumi dalam hati.


"Iya, bagaimana jika kamu mengiyakan tuduhan itu, Wafa. Aku berjanji, aku akan menikahimu supaya kamu tidak lagi merasa malu dalam pandangan masyarakat," ucap Ferdian.


"Wafa, jika pun kamu hamil aku te—" pernyataan dari Ferdian terhenti ketika tangan Wafa melayangkan sentuhan mautnya.


Plak!


Ferdian mendapatkan tamparan dari Wafa.


"Tidak tahu malu!" desis gadis itu.


"Kamu memintaku untuk mengakui sebuah kebohongan?" tanya Wafa lirih, tapi jelas. "Ferdian, Kak Ferdian, xpa kamu sudah gila?" sambungnya.


"Bagaimana kamu memikirkan hal buruk itu. Atau jangan-jangan pemikiran kamu itu sama seperti orang lain, yang percaya begitu saja tentang rumor, RUMOR, Ferdian, suatu hal yang belum tentu kepastiannya!" Wafa mulai marah.


"Aku tidak menyangka saja jika kamu orangnya seperti itu. Aku jadi yakin jika penilaianmu terhadapku itu ... Ah, astaghfirullah hal'adzim, lupakan saja! Aku malas membahas ini." tukas Wafa, masih berusaha untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Wafa menegaskan kepada Ferdian bahwa sampai kapanpun dia tetap akan menegakkan suatu keadilan dan ingin mencari bukti bahwa aspek itu bukanlah miliknya tetapi milik Mayumi.


"Aku pergi," pamit Wafa.


"Wafa aku minta maaf jika perkataanku telah menyinggungmu. Aku benar-benar khilaf dan tidak tahu lagi harus bagaimana cara membantumu keluar dari masalah ini," jelas Ferdian memaksa Wafa berhenti.


"Tolong jawablah dariku, itu malah sudah membantuku dan aku sangat berterima kasih atas itu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Wafa benar-benar pergi dari Ferdian.


Ketika Wafa sedang kesal-kesalnya, ia menghubungi Inneke tentang fitnah yang telah menimpanya. Sudah panjang lebar Ia menceritakan tentang kekesalannya karena difitnah oleh Mayumi sehina itu, rupanya yang ia telepon bukanlah sahabatnya, melainkan Bian.


"Astaghfirullah hal'adzim, bisa-bisanya Mayumi memfitnah-ku secara terang-terangan seperti ini," gumam Wafa.


"Ya Allah, Allahu Akbar, semoga saja hambamu ini bisa mencari jalan keluarnya,"


"Sepertinya aku harus menelpon Inneke. Dia pasti bisa membantuku menyelesaikan fitnah ini. Jangan sampai berita tidak benar ini sampai terdengar di lingkungan rumahku."


Wafa segera menelepon Inneke, sayangnya yang wafat telepon adalah kontaknya Bian. Tanpa gadis itu melihat Siapa yang ia telepon, Ia langsung menceritakan segalanya secara detail.


Tentu saja Bian mengamuk karena wanitanya (proses) telah difitnah habis-habisan di kampusnya sampai di olok-olok banyak mahasiswa karena sebagai seseorang dengan latar belakang putri dari Kyai pemilik pesantren ternyata melakukan zina.


'Kamu tenang saja, saya akan bantu bereskan semuanya, Wafa,' ucap Bian.


"Eh, kenapa suaranya cowok? Aku kan ha—astaghfirullah, Pak Bian?" gumam Wafa lirih. 'Ya Allah, bagaimana bisa aku menelpon Pak Bian? Beliau sudah mendengar semuanya, bagaimana ini?' batinnya.


'Wafa, apa kamu masih di sana?'


Wafa langsung meminta maaf kepada Bian karena sudah cerita banyak tentang fitnah yang ia alami saat itu. Dia juga menjelaskan bahwa dirinya hendak curhat kepada sahabatnya tapi malah nelpon kepada Bian.


"Pak Bian, saya minta maaf karena telah mengganggu waktu anda. Tapi sebenarnya saya mau menelpon sahabat saya, sekali saya minta maaf, Pak," ucap Wafa menyesal.


'Mengapa kamu harus meminta maaf pada saya? Saya akan membantu, tidak akan lama lagi pasti semuanya akan terbongkar dan namamu akan terbebas dari fitnah itu.'


Bian tidak mau tahu apa alasan Wafa ketika dirinya menelpon. Tapi ia yakin sekali bahwa Tuhan sudah mentakdirkan dirinya untuk membantu Wafa. Belum juga Wafa menjawab, teleponnya sudah dimatikan oleh Bian.

__ADS_1


__ADS_2