
Wafa menoleh ke arah Bian. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku kemari untuk tujuan tertentu tahun ini. Bersama dengan wanitaku, aku akan membuktikan pada dunia. Jika hartamu akan menjadi milikku seutuhnya berkat kehadirannya, hari ini keadilan akan berpihak padamu—ibu."
Ketika mengucapkan itu, Bian terus menatap foto mendiang ayahnya. Bergantian dengan melirik ke arah Wafa, kemudian lanjut memandang foto mendiang ibunya yang ia tempelkan di sisi foto ayahnya.
Ibu yang dimaksud adalah, ibu angkatnya Bian. Diketahui memang Bian tidak pernah dianggap ada oleh ibu kandungnya sendiri. Sebelum menikahi sang ibu tiri, ayah Bian menikah dengan seorang wanita yang hidupnya dihabiskan mengurus Bian dan ayahnya. Tapi ia meninggal secara tragis di tangan ibu tiri Bian yang sekarang.
Lalu, kemana ibu kandungnya? Ibunya masih hidup di Indonesia. Hidup bahagia bersama keluarganya sendiri. Perkataan Bian diucapkan dalam bahasa Mandarin, jadi Wafa tidak mengerti.
Gadis itu malah bergumam dalam hati, 'Aku bingung harus bagaimana, tapi tolong Engkau kabulkan semua doa Pak Bian.'
Bian meminta Wafa memberikan penghormatan. Dituntun Bian, Wafa meletakkan satu tangkai mawar putih di depan foto mendiang ayah Bian.
"Semoga beristirahat dalam damai," ucap Wafa lirih.
"Terima kasih," ucap Bian. "Untuk apa? Sudah seharusnya saya mengucapkan itu untuk ayah anda, Pak Bian," sahut Wafa.
Mereka berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut, Wafa menunduk memikirkan sesuatu. Sejak keluar dari ruang khusus itu, Wafa terus memikirkan mengapa Bian menyebut nama ibu pada potret wanita yang tertempel di bingkai mendiang ayahnya.
"Setelah ini kita bertemu dengan seluruh keluarga ayah saya. Semoga saja kamu bisa beradaptasi dengan mereka. Tapi jika tidak, kamu tenang saja, jamu tetaplah bersamaku, jangan jauh-jauh dariku. Apa kamu mengerti?" tutur Bian.
Sayangnya, apa yang dikatakan Bian dengan panjang kali lebar itu tak didengar oleh Wafa. Gadis itu sejak tadi masih memikirkan tentang sebutan ibu di potret itu, padahal jelas yakin jika dia tahu siapa ibu kandung Bian.
"Wafa," panggil Bian.
"Wafa~"
__ADS_1
"Wafa!"
Begitu sedikit di sentak, Wafa baru mendengar panggilan Bian. "Eh, iya Pak? Kenapa?" tanyanya.
Sepasang mata yang indah itu membuat Bian semakin terbuai. Bulu mata yang sudah lentik itu mempercantik sepasang kelopak mata Wafa.
"Pak, ada apa?" Wafa kembali bertanya.
Kini giliran Bian yang melamun. "Um, kenapa kamu diam saja? Saya mengatakan hal dengan panjang lebar, kenapa kamu tidak merespon saya? Dimana fokusmu itu?"
Wafa langsung menunduk. Hati dan pikirannya tak sejalan, keingintahuannya tentang orang tua Bian semakin meningkat.
"Wafa," panggil Bian lirih.
Gadis itu menghela nafas kasar. "Sejak tadi hal ini mengganggu pikiran saya, Pak Bian!" serunya.
"Maksudnya?" tanya Bian heran.
Bian menyudutkan bibirnya, senyum manisnya menandakan jika dirinya tidak keberatan dengan pertanyaan dari gadis yang dinilai sangat berharga baginya itu.
"Marilah, kita duduk sebentar disini. Saya akan ceritakan sedetail mungkin padamu," ajak Bian, berjalan ke kursi panjang yang berada di sudut lorong menuju halaman rumah mewahnya.
"Jadi cerita ini dimulai ketika ayah dan ibu saya yang ada di Indonesia jatuh cinta. Mereka melakukan sumpah pernikahan di gereja dan tidak lama lahirlah saya," ungkap Bian.
"Ini kisah yang saya dapatkan dari mereka. Ketika saya berusia 1 bulan, Ibu memilih untuk menyetujui pernikahan yang sudah dibuat oleh keluarganya dan meninggalkan ayah,"
"Begitu juga dengan ayah yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Sebagai seorang pewaris tunggal, dia juga tidak bisa lari dari yang namanya perjodohan bisnis,"
__ADS_1
"Ayah saya membawa saya kemari. Dia menikahi seorang wanita yang sangat baik. Saya mengenal sosok Ibu dari dirinya. Dia tidak pernah meninggalkan saya sedikitpun dalam hidupnya ketika saya masih kecil dulu,"
"Hidup kami bertiga sangat bahagia. Sampai saya sendiri tidak sadar jika ibu yang merawat saya sejak kecil bukanlah ibu yang melahirkan saya. Namun keberhasilan saya saat ini ... lahir dari didikannya,"
"Ketika usia saya berusia 10 tahun, Ibu meninggalkan saya untuk selama-lamanya dengan kondisi yang sangat tragis. Sampai saat ini masih belum ada bukti tentang pembunuhan itu, jadi pelakunya belum menerima hukuman. Dimana yang sebenarnya—pembunuh itu adalah ibu tiri saya saat ini. Kamu nanti akan berjumpa dengannya,"
"Tidak sampai disitu saja. Dia telah sukses membunuh ibu angkat, tidak lama setelah itu ... dia juga membunuh ayah. Aku hidup tanpa kedua orang tua dari usia 12 tahun,"
"Saya sangat bersyukur karena anak buah ayah memegang janji setia mereka. Bahkan pengacara pribadi ayah saja masih berpihak pada saya. Intinya, Ibu kandung saya tidak pernah terlibat apapun dalam setiap kehidupan saya. Itu sebabnya saya belum bisa memberikan penghormatan yang lebih padanya,"
"Tapi saya tetap menganggapnya sebagai ibu karena dialah yang telah melahirkan saya. Bentuk penghormatan saya yaitu, saya sering bolak-balik Tiongkok-Indonesia hanya untuk menyambung ikatan ibu dan anak antara saya dengannya,"
"Inti dari kisahnya seperti itu. Tapi perlu kamu ketahui Wafa ... meski saya sejak kecil berkeliling harta, tapi saya tidak pernah mendapatkan kedamaian dalam hidup saya. Sejak usia saya 12 tahun, kematian, kemalangan, dan juga hal buruk sekali menyertai saya karena ibu tiri itu." tukas Bian.
Mendengar kisah pilu dari Bian membuat Wafa lebih bersyukur meski dirinya juga seorang piatu sejak kecil. Hidup apa juga selalu dibandingkan dengan kakaknya angkatnya, apalagi itu dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Hal itu membuat Wafa sedih dan masih terlalu teringat sampai saat itu.
Akan tetapi, mendengar kisah Bian membuat Wafa membuang jauh-jauh kenangan buruk di masa lalu. Bahkan Wafa ingin sekali memeluk ayahnya dan mengucapkan terima kasih setelah ia pulang dari sana.
"Jadi kisahnya sedikit mirip dengan Grietta," ujar Wafa.
"Maksudnya?" tanya Bian.
"Gadis kecil itu juga tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya. Di usianya sangat kecil dia harus mendapatkan ketidakadilan meski dia hidup bergelimang harta," lanjut Wafa. "Saya berharap dia bisa menjadi seperti anda, Pak Bian." senyum Wafa seperti obat bagi Bian.
Kesedihan yang menyelimuti hati Bian ketika membicarakan tentang masa lalunya terhempas oleh senyuman Wafa. Membuatnya berpikir sejenak dan mengatakan, "Sepertinya kamu tidak perlu khawatir tentangnya. (Grietta) Dia memiliki Ibu angkat sebaik dirimu. Saya sangat berterima kasih dan bersyukur karena kamu telah hadir dalam hidup kami. Terima kasih, Wafa."
Ketika sedang asik mengobrol, Wafa menerima telepon dari Inneke. Bian yang membaca nama kontak penelpon jadi kesal. Melihat ekspresi Bian, Wafa jadi enggan untuk menjawab telepon dari Inneke, dan memilih untuk mengirimnya besar singkat.
__ADS_1
pesan dari Wafa.
Bagaimana reaksi Inneke setelah mendapat pesan itu?