
Wafa mengendarai mobilnya dengan pelan, kemudian berhenti di tepi jalan. Ia pun mulai berpikir, apa yang membuat Bian bisa semarah itu, sampai-sampai melepaskan Grietta begitu saja.
"Hanya satu minggu kita tidak bertemu. Hanya karena aku tidak menjemput Grietta, Apakah itu penyebabnya?"
"Astaghfirullah hal'adzim,"
Drrttt ... drrttt ...
Telepon mode getar Wafa bergetar. Telepon dari Inneke.
'Wafa, kau ada di mana? Cepat datang ke rumahku, ada berita penting! Kuy!'
Setelah mengatakan itu, Inneke langsung menutup teleponnya. Wafa yang masih sedih menyalakan mesin mobil pick up miliknya, segera meluncur ke rumah sahabatnya.
***
Sementara itu, Grietta masih diam saja ketika Flanella membawanya pergi bersama suaminya. Gadis kecil itu terlihat sedang menahan amarah dan memilih untuk tetap diam.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Papi dan Mami akan membawamu ke suatu tempat yang sangat indah, apa kamu setuju?" tanya Flanella dengan manis.
Grietta masih diam. Flanella sendiri masih berusaha sabar dan membujuk putrinya supaya mau bicara padanya.
"Grietta, jangan seperti ini. Mami akan sedih jika kamu mengabaikan Mami," Flanella mencoba mengusap kepala putrinya, sayangnya tangannya ditepis oleh gadis kecilnya
"Grietta, cukup! Kenapa kamu bertingkah kurang ajar seperti ini!" Flanella tersulut emosi.
Tentu saja bentakan Flanella membuat putrinya ketakutan. Tuan Sidharta—suami Flanella sampai menegurnya. "Kamu ini apa-apaan, Flanella? Putri kita menjadi ketakutan seperti ini, tolong bicara lembutlah padanya,"
'Putri kita? Kenapa Paman ini menyebutku menjadi putri kita? Aku memang putrinya Mami Flanella, tapi aku ini adalah anaknya Papa Ji Xie. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi putri mereka? Paman ini ... aku tidak menyukainya!' protes Grietta dalam hati.
"Grietta, perlu kamu ketahui, Nak. Kami juga tidak ingin membuatmu sedih. Sudah cukup 6 tahun ini kamu bersama dengan keluarga Huang, kami juga ingin menyaksikan tumbuh kembangmu, Sayang ..." Flanella masih bersikap manis.
Tapi sayangnya, lagi-lagi tangan Flanella ditepis oleh Grietta. Flanella masih bersabar, dia tidak ingin sampai membuat putrinya membencinya. Jadi ia pun mengalah dan memilih diam. Sebenarnya bisa saja Grietta meronta, tapi alasannya adalah Wafa, jadi dia akan patuh untuk sementara waktu.
'Tunggu Papa bisa bersama dengan Mama Wafa, aku akan ikut tinggal bersama mereka sementara waktu.' batin Grietta.
Kembali pada Wafa yang sudah sampai di rumah Inneke. Sama halnya Inneke, Wafa juga langsung masuk ke rumah Inneke karena sudah terbiasa. Ia segera pergi ke luar Inneke yang pintunya terbuka lebar.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
Tangan lembut Wafa mengetuk pintu.
"Kamu? Masuklah, cepat!" Inneke segera turun dari ranjangnya, mempersilahkan Wafa duduk di sisinya.
Wafa pun duduk. "Ada apa?" tanyanya.
Inneke memberikan pesan singkat yang telah dikirimkan oleh admin dari grup yang mereka ikuti. Sebenarnya Wafa juga ada dalam grup tersebut, tapi karena Wafa juga tidak bisa menyimak akhirnya dia menyembunyikan pesan itu.
"Reuni SMA akan diadakan sekaligus buka bersama di hotel berbintang. Kita pergi ya ...." Inneke menunjukkan pesan itu.
Wafa melihatnya, kemudian memberikan ponsel Inneke kembali. "Tidak, aku tidak mau hadir dalam acara-acara seperti itu," tolaknya.
"Yah, kenapa tidak mau? Come on, Wafa. I would love to attend the reunion. Bahkan ini juga buka bersama, loh!" seru Inneke lagi.
"Tidak, aku tidak mau," Wafa masih menolak.
Inneke pun merajuk. "Jahat sekali kamu. Seharusnya kamu mau kita bisa sharing-sharing di sana bersama dengan teman-teman lama kita. Siapa tahu saja kamu bisa melupakan sejenak permasalahan yang saat ini kamu hadapi," celetuknya.
Inneke membalikkan badan, memandang sahabatnya dan menyentuh bahu sahabatnya itu. "Wafa, semua yang terjadi ini tidak benar. Ada sesuatu yang menimbulkan kesalahpahaman di antara kamu dan juga Pak Bian. Maafkan aku, kali ini aku tidak bisa mengatakannya," Inneke rupanya memanfaatkan keadaan.
Berharap besar jika Wafa mau menghadiri reuni sekaligus buka bersama itu dan Inneke akan menceritakan segalanya padanya.
"Beri aku waktu. Nanti malam aku kasih kabar padamu. Kapan acara reuni ini?" tanya Wafa lirih.
"Seminggu lagi. Seminggu lagi acaranya akan dimulai. Tolong kamu pikirkan matang-matang, okay?" Inneke nampak sekali girangnya.
***
Malam yang dingin, dua insan yang sedang ada kesalahpahaman itu saling memandang langit melalui jendela kamarnya. Wafa sangat sedih karena Grietta dibawa pergi oleh ibunya dan Bian tiba-tiba mengakhiri kontrak kerja dengannya.
Begitu juga dengan Bian yang sedih karena perasaannya yang mulai tumbuh, bahkan hampir saja ingin ia ungkapkan, malah terhalang dengan suatu hal. Sehingga dia harus membuat Wafa terluka supaya membencinya.
"Maafkan aku, Wafa. Semoga kebencianmu, membuat kemudahan bagiku untuk melupakan dirimu," ucap Bian, tak terasa air matanya menetes.
"Bodoh sekali aku. Aku bahkan belum memulai, tapi sudah mengakhiri segalanya," imbuhnya menyentuh dadanya.
__ADS_1
Di lain sisi, Wafa yang saat itu masih memegang sobekan lembaran kertas kontrak kerja, juga mengatakan bahwa dirinya terluka ketika Bian membentaknya siang tadi
"Mas Bian, apakah kamu tahu? Hatiku kenapa jadi sakit sekali ketika kamu ingin mengakhiri hubungannya denganku. Aku tahu semua ini hanya kontrak belaka, tapi apakah selama ini kamu tidak pernah merasakan apa yang ... aku rasakan?" gumamnya lirih.
"Aku harus mulai dari mana mencari tentang kebenaran ini. Grietta, alasan kita membentuk kontrak perjanjian itu juga sudah dibawa pergi oleh ibu kandungnya,"
"Hatiku terluka karena kepergiannya. Aku menyayangi dia seperti putriku sendiri, aku juga selalu memanjakannya. Dia lah yang selalu membuat hatiku damai, kenapa kamu membiarkan Grietta diambil oleh ibunya, Mas?"
"Aku membencimu!"
Tanpa sadar Wafa mengatakan itu sebagai tanda luapan perasaan. Air matanya berderai, membasahi pipinya yang baru saja memakai krim malam.
**
**
**
Di lain tempat juga, Grietta sedang menggambar dirinya, Wafa dan juga Bian dengan tambahan bunga-bunga dan awan yang indah
"Grietta, kamu menggambar apa?" tanya Flanella, masuk membawakan secangkir coklat hangat. "Wah, sedang menggambar gambar keluarga, ya?" wanita itu memandangi lukisan tangan putrinya
"Tunggu, apa ini? Kenapa rambut mama bentuknya seperti ini? Memangnya rambut mama berbentuk kerucut terbalik seperti ini, ya?" Flanella masih percaya diri jika putrinya sedang menggambar dirinya.
"Ini bukan kerucut terbalik," ketus Grietta.
Flanella tetap.sabar menghadapinya ketusnya sikap putrinya.
"Jika bukan kerucut, lalu ini apa?" tanya Flanella lagi.
Grietta awalnya tidak mau menjawab. Akan tetapi dia teringat dengan Wafa yang selalu mengajarkan kebaikan padanya.
"Ini adalah jilbab, bukan kerucut. Aku menggambar Mama Wafa, bukan Mami," jelas Grietta.
"Ini Papa Ji Xie, aku dan juga Mama Wafa. Aku tidak menggambar Mami dan juga Paman itu," imbuh Grietta dengan tatapan tajamnya.
Bagaimana reaksi Flanella.
__ADS_1