
Sesampainya di kampus, mereka langsung masuk ke kelasnya masing-masing. Tanpa basa-basi lagi, Wafa langsung meninggalkan Inneke di parkiran. Nasi uduk yang ia beli juga ia makan di dalam mobil karena mendesak.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah, semoga saja pak … hadeh, beliau sudah ada di kelas," Wafa langsung mleyot.
"Bagaimana cara aku masuk? Masa iya, telat mulu pas tuh dosen ada. Mana kalau ngasih tugas nggak kira-kira pula!" Wafa malah menggerutu.
Di dalam, ada salah satu temannya yang selalu baik kepada Wafa. Dia memberi instruksi kepada Wafa supaya bisa masuk dengan aman tanpa diketahui oleh dosen killer menurut mahasiswa di sana.
Sayangnya usaha Wafa sia-sia. Sudah berusaha payah untuk masuk perlahan-lahan tetap saja ketahuan oleh dosen killer tersebut.
"WAFA THAHIRAH!"
Suara dosen itu begitu menggelegar sampai jantung Wafa saja berdegup kencang karena gugup. Sebenarnya dosen itu masih bisa dibilang muda, karena usianya baru menginjak kepala tiga. Tapi perawakannya begitu sangar dan membuat mahasiswa di kampus itu menjadi takut padanya.
"Kamu ngapain di sana? Ayo, keluar dari kelas saya, dan jangan pernah masuk jika kamu terlambat!" tegasnya.
Dosen itu bernama Dendi Syailendra. Seorang pria Cina-Indonesia yang membimbing bahasa Inggris. Wafa ini tidak pernah serius untuk kuliah di bidang tersebut. Dia masuk kuliah hanya karena tidak ingin kegiatan di rumah semakin banyak.
"Tidak bisakah sekali saja kamu ini datang tepat waktu di kelas saya?" tanya Dendi.
"Masalahnya, Pak …." belum juga selesai memberi alasan dan penjelasan, ucapan Wafa sudah disela oleh Dendi.
"Kamu di luar saat jam saya mengajar, setelah itu ikut saya ke ruangan saya. Paham?" tegas Dendi.
Wafa hanya mengangguk. Tidak mungkin baginya melawan seorang dosen yang banyak sekali tidak disukai oleh mahasiswa di sana. Dengan perasaan yang biasa saja itu Wafa keluar dan duduk merenung di kursi yang ada di sana.
"Pengen banget bisa udahan kuliahnya. Tapi ngapain juga aku nganggur di rumah," gumam Wafa.
"Kali saja ada pekerjaan itu yang cocok buat aku. Tapi di mana carinya?" Wafa malah kebingungan sendiri.
"Sudahlah, aku masih ngantuk sekali. Sebaiknya aku tidur saja dulu sembari menunggu dosen menyebalkan itu selesai--"
Baru saja menggerutu, Wafa sudah langsung tepar. Semalam kurang tidur karena tidak terbiasa menginap di yayasan. Jadi, tidak bisa tidur lelap. Sampai waktunya jam Dendi mengajar selesai, Wafa masih tidur manis lesehan di lantai.
__ADS_1
"Astaga, anak ini benar-benar … Wafa, Wafa, bangun!"
"Wafa bangun!"
"Iya, saya bangun!" Wafa langsung bangkit tapi malah sempoyongan karena tidak seimbang, nyawa baru terkumpul. Beruntung saja Dendi sigap, langsung menahan tangan Wafa dan menariknya.
Kini, mereka saling menatap satu sama lain. Wafa berada dalam pelukan Dendi yang membuat beberapa mahasiswa menjadi heboh sendiri.
"Wahhh, tinggi Pak dindingnya,"
"Wafa ingat, kau muslim!"
"Wafa, jangan caper kamu!"
Wafa langsung melepaskan diri dari Dendi dengan kasar. Hadirlah Inneke yang juga baru saja keluar dari kelasnya, langsung mendatangi Wafa.
"Ada apa ini?" tanya Inneke bingung.
"Ka-kamu ... ke ruangan saya!" sentak Dendi, sedikit gugup.
Inneke membeli bertanya, dan Wafa juga tidak tahu harus jawab apa. Akhirnya, Wafa meminta Inneke untuk menunggunya di parkiran sementara dirinya harus menghadiri undangan Dendi ke ruangannya.
Seperti biasa hukuman demi hukuman Wafa terima dari dosen killer seperti Dendi. Meski begitu, Wafa tidak pernah yang namanya kapok atau semakin rajin dalam mengenyam pendidikan bahasa Inggris. Dia bisa percayakan bahasa Inggris, tapi jika sudah masuk pelajaran apalagi harus mengerjakan tugas-tugas, Wafa pasti tidak semangat.
***
1 jam kemudian.
"Lah, tidur kamu?" tanya Wafa.
"Lama banget, sih? Kemarin-kemarin cuma beberapa menit doang, kenapa kali ini lebih parah?" tanya Inneke balik.
Wafa hanya diam dan menatap layar ponselnya. Ada pesan dari Mbak Nur, yang mengatakan jika Vita masuk ke rumah sakit. Kemungkinan akan melahirkan secara prematur karena belum genap 9 bulan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, mbak Nur. Untuk masalah mbak Vita, apakah mbak Nur bisa tangani sendiri dulu? Saya sedang pusing hari ini," ucap Wafa.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, mbak. Jika memang keberatan, saya tambahin pakai uang tabungan saya saja, bagaimana?" tanya Mbak Nur.
"Itu tidak perlu, mbak. Sudah kewajiban saya menjaga anak-anak dan orang yang ada di yayasan. Mbak Nur tenang saja, jangan khawatirkan masalah biayanya. Biar saya yang pikirkan, tagihannya nanti bisa mbak kirim ke saya, ya ...."
" ... katakan permohonan maaf saya ke Mbak Vita karena saya tidak bisa menemaninya lahiran. Saya tutup dulu, ya, mbak. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah menutup telepon, Wafa merebahkan tubuhnya di jok mobil berwarna cream itu dan menghela napas panjang.
"Ada apa? Siapa Mbak Vita itu?" tanya Inneke.
"Dia seorang ibu hamil yang masih remaja tapi kedua orang tuanya tidak menginginkan bayi itu. Sekarang dia ada di rumah sakit yang sedang menjalani operasi caesar," jawab Wafa.
"Maksudnya—kedua orang tuanya itu, kedua orang tua dari ibu hamil ini?" tanya Inneke lagi.
Wafa mengangguk. "Jelasnya ... Ya, orang tua dari kedua belah pihak tidak menginginkan bayi itu karena ibu hamil dan si Ayah bayi ini masih sekolah SMA kalau nggak salah," jelasnya.
"Buset, dah! Bocil jaman sekarang ngeri bener pacarannya!" Inneke si tukang kesal itu di buat kesal lagi karena kehamilan seorang remaja.
"Hust, jangan seperti itu. Siapa tahu dengan adanya kejadian seperti ini, menjadikan si Mbak Vita ini jauh lebih baik lagi," tutur Wafa.
"Tapi operasi caesar juga nggak murah, Wafa, cantik. Tabunganmu apa cukup untuk bayar semuanya? Belum lagi, dagangan kamu dan peternakan milikmu juga belum ada hasil, 'kan?" ucap Inneke. "Konveksi milikmu juga mulai sepi," lanjut Inneke lirih.
"Fa, berhenti deh buat bantu orang-orang seperti ini. Masa depanmu ini masih panjang, lagian jika kamu kuliah juga tidak niat, buat apa kamu lanjutkan? Takut dijodohkan?" imbuh Inneke.
Wafa hanya diam ketika Inneke memberinya petuah seperti orang tua. Kemudian, Inneke juga menyinggung masalah sebelah tanah milik Wafa yang saat ini katanya ada yang mau bangun sebuah pabrik.
"Kenapa kamu tidak minta si pengusaha itu buat sewa tanah kamu juga?" usul Inneke.
"Kata Abi, sudah ada sih, orang yang mau sewa tanah itu. Kebetulan juga orang yang sama dari penyewa pemilik tanah sebelah tanah milikku. Tapi tidak tahu juga jadi atau tidaknya. Aku berharap, pengusaha itu jadi menyewa tanah milikku." Wafa kembali merebahkan tubuhnya.
Inneke memang anak orang berada. Akan tetapi, bantuan dari Inneke selalu Wafa tolak karena memang hal itu tidak diperlukan. Beda jika Inneke mau berdonasi ke yayasan, pasti Wafa akan senang hati menerimanya.
__ADS_1