Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Perkara Kabur


__ADS_3

Suasana menjadi hening seketika begitu Ustadz Lana mengakhiri kisah ceritanya. Apa yang diceritakan olehnya, memang suatu kenyataan dalam hidupnya. Sehingga membuat Grietta menjadi luluh.


"Nana," panggil Grietta lirih dari mulutnya.


"Iya, Sayang?" sahut pria itu.


"Aku mau pulang ke rumah Nana saja. Nanti jika aku sudah tidak sedih lagi, Nana bisa telepon Papa atau Mama Wafa, tapi tidak sekarang teleponnya, bagaimana?" gadis kecil itu semakin cerdas saja. Dia sampai membuat pernyataan seperti itu karena memang ingin sekali menenangkan diri.


Di usianya yang mau menginjak usia 7 tahun, tentunya membuatnya terlihat seperti gadis dewasa sekali pemikirannya. Gadi kecil itu juga memiliki harapan meminta dukungan pada Ustadz Lana, pria yang 4x lipat usianya lebih tua darinya.


"Hmm, bagaimana, ya?" Ustadz Lana seolah memikirkan keinginan Grietta.


"Boleh, ya? Aku ingin pulang dulu dengan Nana, baru bangun Nana boleh menelepon Papa dan Mama Wafa, kumohon ...." Grietta sampai memohon, menyatukan tangannya dan memasang wajah memelas.


Tak ada alasan lain lagi, Ustadz Lana menuruti kemauan gadis kecilnya. Ia membawa Grietta pulang ke pesantren dimana ia tinggal. Selama perjalanan, Grietta mengantuk, jadi ia tertidur begitu lelap.


Ustadz Lana melirik, 'Dia sudah tidur? Alangkah baiknya jika aku memberi pesan pada Wafa dan Pak Bian. Pasti mereka nanti akan kebingungan mencari Grietta,' batinnya.


Belum sempat terkirim, lampu sudah kembali hijau. Segera ustadz Lana meletakkan ponselnya dan kembali menyetir.


***


Sementara itu, Zaka Yang pergi ke ruang kerja Bian dan memberitahukan bahwa Grietta tidak ada di kamarnya.


"Tuan, Tuan!"


"Tuan!"


BLAM!


Pintu terbuka begitu keras sampai membuat Bian terkejut. Pria ini sedang fokus bekerja, tapi malah terganggu dengan kedatangan asistennya. "Ada apa? Kenapa kau ini?" tanyanya, memasang wajah serius.


"Tuan, Nona ... Nona muda tidak ada di kamarnya, Tuan," kata Zaka Yang, menunjuk ke luar ruangan, kamar Grietta.


"Maksudnya apa?" tanya Bian, auranya yang dingin itu menandakan jika dirinya kesal karena sudah diganggu kala bekerja.

__ADS_1


"Nona muda tidak ada di kamarnya. Dia ... Dia ... Dia meninggalkan ini," Zaka Yang membawa kertas yang sudah Grietta gambari.


Bian menerima kertas tersebut. "Dimana ponselku?" tanyanya.


Zaka Yang memberikan ponsel Bian yang ada di sebelah meja kerjanya. Bian mencari kontak Wafa dan memotret gambar Grietta di kertas tersebut.



Tak kunjung mendapat balasan dari Wafa, Bian mengutus Zaka Yang untuk mencari keberadaan Grietta. Dibantu dengan beberapa orang-orangnya Bian, semua mencari gadis kecil yang sedang bersama dengan Ustadz Lana itu.


"Sudah satu jam Wafa tidak membalas pesanku. Sedang apa dia?" gumam Bian.


"Bagaimana? Apa sudah menemukan putriku?" tanyanya melalui telepon.


'Belum, Tuan. Kami masih mencari,'


"Segera cari, ini sudah sangat larut. Kalian tidak boleh pulang sebelum putriku kembali, mengerti!" tegas Bian.


Meski Bian tidak pernah menunjukkan rasa kasihnya pada putrinya. Tetap saja Bian tidak ingin kehilangan Grietta. Bagaimanapun juga, sejak ditinggalkan oleh ibunya, Grietta memang ikut bersamanya. Rasanya begitu menyakitkan jika putrinya hilang.


'Hah? Kenapa Pak Bian mengirim gambar?' batinnya.


Begitu sudah dibuka, mata Wafa langsung membulat besar. Dari gambar tersebut, Wafa mengetahui jika Grietta kabur dari rumah karena tidak ingin dikembalikan pada ibunya. Bahkan di dalam gambar tersebut, Grietta juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk Wafa.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa Grietta ti ..." ucapan Wafa terhenti ketika melihat Sari duduk di sebelahnya.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Sari.


"Mbak ..." Wafa jadi bimbang.


Sudah menjadi rutinitasnya sebagai putri dari Kyai pemilik pesantren, setiap malam Ramadhan setelah selesai shalat tarawih, pasti Wafa akan membuka tadarus lebih dulu jika tidak sedang halangan. Tapi kini, kaburnya Grietta membuat Wafa jadi bingung.


"Ada apa?" Dian pula bertanya.


"Entah, tadi aku juga sudah bertanya tapi tidak dijawab," sahut Sari.

__ADS_1


Wafa pun menunjukkan gambar yang dikirim oleh Bian. Tanpa dijelaskan oleh Wafa, para saudarinya langsung paham apa yang digambar oleh Grietta.


"Terus gimana?" tanya Zira.


"Aku juga tidak tahu. Gambar ini dikirim satu setengah jam yang lalu," jawab Wafa


"Astaghfirullah hal'adzim ..."


Sari, Dian dan juga Zira terlanjur menyayangi Grietta. Tentunya mereka ikut khawatir dengan gadis kecil yang telah mengisi hari-hari mereka beberapa waktu yang lalu.


"Wafa, sepertinya kamu harus telpon, Pak Bian. Tanyakan apakah gadis kecil kita sudah ditemukan atau belum," usul Sari.


"Tapi tadarusannya sebentar lagi akan dimulai, Mbak. Biasanya aku yang akan mulai pembukaannya. Bagaimana mungkin mereka ..."


"Santri-santri di sini pasti akan menunggumu. Ayo, kamu segera telepon Pak Bian dan tanyakan keadaannya Grietta sekarang," belum juga Wafa selesai bicara, Sari sudah memotong.


Mendapat dukungan dari kedua sepupunya juga, akhirnya wafat keluar dari aula dan segera menelpon Bian. Gadis ini sebenarnya jauh lebih panik dibandingkan dengan kakaknya dan para sepupunya.


'Akhirnya kamu merespon saya juga, Wafa. Katakan, Apakah kamu bisa memberikan petunjuk tentang gambar yang Grietta gambar?'


"Saat ini Grietta sedang marah pada kita berdua, Mas. Memangnya apa yang sudah terjadi padanya? Mengapa dia sampai marah pada kita?" Wafa menjadi kesal karena Bian dianggap alasan Grietta kabur dari rumah.


'Loh, mana saya tahu? Dia sangat menyayangimu, bagaimana bisa dia marah padamu. Apa kamu sudah memperhatikan dengan jelas setiap lukisan tangannya?'


"Apa ini? Maksud Mas Bian, Mas meragukan saya, begitu? Mas, saya juga bahkan tidak tahu mengapa di dalam gambar ini jelas sekali jika Grietta itu marah pada kita berdua," Wafa tidak mau disalahkan juga.


"Seharusnya Mas harus lebih introspeksi diri dong. Bagaimana bisa gadis kecil berusia 6 tahun seperti Grietta bisa kabur dari rumah. Ini juga sudah sangat larut, apakah dia sudah ditemukan?"


Wafa marah-marah di depan ketiga saudarinya.


"Sejak kapan Wafa manggil Pak Bian dengan sebutan Mas? Mesra sekali," ujar Zira, mulai kompor.


"Bahkan mereka sedang berdebat seperti layaknya suami istri. Memang kita tidak bisa mendengar apa yang Pak Bian katakan, tapi ini sangat jelas sekali. Apa kalian berdua memikirkan apa yang aku pikirkan?" Bahkan Dian saja yang tidak pernah mengomentari orang lain, sampai memahami betul ekspresi dan mimik wajah Wafa yang berbeda.


Dari sana Sari pun sangat yakin jika adiknya tidak hanya sekedar menjadi mitra bisnis dengan Bian. Sari tidak pernah mempermasalahkan jika Wafa memiliki hubungan yang lebih dengan Bian. Hanya saja, Sari tidak ingin hubungan Wafa dan juga Bian yang berlebihan itu menimbulkan masalah di antara Wafa dengan ayahnya.

__ADS_1


'Aku harap semuanya baik-baik saja. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal saja dihatiku.' batin Sari.


__ADS_2