
"Hei, kenapa kamu diam saja sejak tadi? Apa yang diucapkan para pengasuh tadi sudah menyinggungmu? Jika iya, aku akan menegur majikannya," Bian sudah berdiri saja.
"Eh, jangan!" reflek, Wafa menahan lengan Bian.
Bian melihat ke arah lengannya, Wafa langsung melepaskannya.
"Saya diam aja sedang berpikiran saja tentang sahabat saya yang—" ucapan Wafa terhenti.
"Yang apa?" tanya Bian penasaran.
"Inneke! Astaghfirullah hal'adzim. Ya Allah, bagaimana bisa aku melupakannya? Hari ini adalah ... astaghfirullah hal'adzim, laa ilaaha Illallah." Wafa malah membingungkan sendiri.
Wafa mencoba menelepon Inneke. Tapi tidak ada jawaban sama sekali, karena ponselnya tidak aktif. Wafa kembali menelepon sampai berkali-kali, tetap saja hasilnya sama. Kemudian Wafa menelepon ke rumah Inneke, mendapatkan jawaban dari asisten rumah tangganya kalau Inneke belum sampai rumah.
Bian yang ikut bingung malah menjadi panik juga. Dia berusaha menenangkan Wafa dan memintanya untuk cerita. "Wafa, tenanglah!" sentak Bian. Terpaksa Bian membentak karena Wafa tidak mau tenang.
"Ceritakan, apa yang terjadi sehingga kamu sepanik ini?" tanya Bian.
"Sebenarnya saya hari ini harus menjemput Inneke ke Bandara. Saya lupa memberitahukan jika saya ikut piknik ini," suara Wafa jadi lirih.
Tatapan Bian yang dalam itu memang sulit untuk tidak membuat seseorang jatuh cinta padanya. Bian berusaha membuat Wafa tenang dengan tanpa menyentuhnya. "Kamu tenang saja. Saya akan meminta Zaka Yang untuk menjemput temanmu itu." katanya.
Sebelum Wafa menanggapi, Bain sudah menelepon Zaka Yang dulu.
'Iya, Tuan. Ada perintah apa?' tanyanya.
"Kau sedang apa?"
'Baru saja selesai meeting, Tuan. Kemudian setengah jam lagi ada meeting lagi dengan Tuan Lee. Bagaimana?'
__ADS_1
"Siapa nama temanmu, Wafa?" tanya Bian.
"Inneke," jawab Wafa.
"Apa dia sudah terbang dari tempat awalnya?" tanya Bian lagi.
"Seharusnya sudah." jawab Wafa.
Setelah menanyakan di Bandara mana Inneke tiba, Bian kembali berbicara dengan Zaka Yang. Kali itu Bian bicara dengan asistennya menggunakan bahasa Mandarin. Membuat Wafa tidak mengerti apa yang dikatakan oleh duda satu anak itu.
Bian memerintahkan Zaka Yang menjemput Inneke di Bandara sesuai dengan informasi yang Wafa berikan. Awalnya Zaka Yang menolak karena dia masih harus melakukan rapat lagi dan juga ada mesin yang baru datang dari Kendal.
"Tuan, sekitar 1 jam mendatang, agar ada kontainer dengan membawa mesin yang sudah kita pesan sekitar dua minggu yang lalu dari Kendal. Bagaimana jika saya tidak ada di pabrik, siapa yang akan menerima kontainer tersebut?"
"Bukankah ada asistennya juga atau pengelola pabrik yang lainnya di sana? Segera kau datang ke Bandara, atau aku akan aku kirim ke Thailand bersama dengan wanita itu!" ancam Bian.
Perintah Bian memang tidak bisa ditolak oleh Zaka Yang. Pria yang sudah lama mengabdi diri dengan Bian itu akhirnya menyetujui saja. Zaka Yang meminta sekretaris kantor pabrik kayu untuk menemui Tuan Lee dan juga meminta HRD untuk turun tangan dalam pembongkaran kontainer berisikan mesin-mesin besar.
"Kamu tenang saja, asisten saya akan menjemput temanmu di Bandara. Dia sudah berangkat sekarang," ujar Bian, kala selesai menelepon.
"Itu, ... sebenarnya gen akan lebih lama sedikit bagi asisten Pak Bian menunggu Inneke," kata Wafa sedikit gugup.
"Soalnya, Inneke terbang dari luar negeri. Bukan dari liat pulang maupun provinsi," imbuhnya.
Bian langsung memalingkan wajahnya. Kemudian tersenyum tipis, meledek Zaka Yang yang nantinya pasti akan menunggu sedikit lebih lama. Wafa pun ikut tertawa, seolah bebannya hilang begitu saja, padahal dia juga harus meminta maaf pada Inneke karena tidak memberikan kabar selama beberapa hari.
"Sebelumnya saya berterima kasih karena Bapak sudah membantu saya menyelesaikan masalah saya dengan sahabat saya," ucap Wafa. "Tapi saya tidak paham dengan ucapan Bapak dengan Pak Zaka. Sepertinya asisten pribadi Pak Bian itu sedang mengalami kesulitan."
Mendengar itu, Bian pun terkekeh. Baru kali itu juga Wafa melihat Bian tertawa sampai kelihatan giginya. Bisanya Bian hanya tersenyum manis dengan tatapan yang begitu dalam sehingga membuat wanita manapun akan meleleh.
__ADS_1
"Zaka Yang adalah orang yang sangat saya percaya. Kami saling bergantung satu sama lain. Kesetiaannya yang sampai saat ini belum pernah mencintai seorang wanita, membuat saya terlihat begitu buruk," ungkap Bian.
"Tapi Pak Bian tidak memaksa Pak Zaka untuk menjemput Inneke 'kan?" tanya Wafa lagi.
Bian mengerutkan alisnya. "Apakah saya terlihat seperti orang yang begitu?" tanyanya. "Begitu burukkah saya dalam pandanganmu?"
"Eh, bukan seperti itu maksudnya. Tapi—" Wafa langsung menyahut, tapi dia tidak tahu mau menjelaskan bagaimana.
"Saya tidak menyangka jika kamu berpikiran seperti itu tentang saya. Jika saya terlalu buruk, mengapa kamu mau menemani saya dan Grietta hari ini? Apa semua ini karena Grietta juga?" Bian terlihat lucu sekali jika sedang merajuk.
Wajah yang berekspresi seperti anak kecil itu membuat Wafa kebingungan. Dia sudah minta maaf berulang-ulang kali tapi Bian tetap mengabaikannya. Kini malah berbalik Wafa yang merajuk.
"Sudahlah, Pak Bian begitu. Saya kan tidak mengatakan apapun, kenapa Pak Bian langsung ngejudge saya begitu? Menyebalkan!" kesal Wafa.
"Wafa sa—" baru saja Bian mau membujuk, Wafa malah memalingkan tubuhnya.
Kini, posisinya Wafa sedang membelakangi Bian. Wafa melipat tangannya dan benar-benar sedang kesal dengan pria bermata sipit itu. Beberapa pengasuh yang tadi bergosip melihatnya dan membuat mereka memiliki gosip baru lagi.
"Eh, bukankah itu Tuan Hutomo dan istrinya? Kenapa mereka berduaan disana?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya biarkan saja. Mereka juga kan suami istri, jadi tidak ada salahnya jika berduaan. Siapa tahu memang karena ingin menghabiskan waktu untuk berfoto atau berbicara gitu,"
"Benar. Lebih baik kamu kurang-kurangi iri dengan kebahagiaan orang lain. Kami tahu kalau kamu mengagumi Tuan Hutomo. Tapi kan beliau juga sudah punya pawangnya. Jadi untuk apa kamu berharap lagi?"
Mereka menertawakan pengasuh yang memiliki perasaan terhadap Bian. Meski dia tertawakan, pengasuh yang menyukai Bian itu tetap tidak terima jika Bian telah memiliki pendamping.
"Tapi aku yakin sekali kalau mereka belum menikah. Jika mereka sudah menikah, tidak mungkin kegiatan-kegiatan sebelumnya di sekolah, mereka tidak pernah hadir," ujar pengasuh itu.
"Bagaimana jika mereka sibuk? Siapa tahu, mereka baru saja menikah. Bukankah kita semua tahu, bahwa mulanya Papanya Grietta adalah seorang duda?" sahut pengasuh disampingnya.
__ADS_1
Tatapan penuh dengan kebencian itu terpancar dari mata pengasuh tersebut. Tak hanya pengasuh itu saja, bahkan Miss Tammy juga melihat kebersamaan Bian dan Wafa jadi cemburu.